Konsep ilmu pengetahuan di dalam Alquran sebenarnya sudah sedemikian lengkap. Hanya saja dalam pengembangannya untuk kemaslahatan umat manusia, sejak awal umat Islam memang masih sangat jauh tertinggal dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain, seperti Yunani, Romawi, Persia, dan Cina.

Sebagai upaya untuk memahami konsep-konsep ilmu pengetahuan di dalam Alquran, para intelektual muslim klasik mencoba menggali hasil-hasil kajian dari bangsa-bangsa yang sudah maju itu untuk kemudian diselaraskan dengan konsep-konsep Alquran. Salah satu bentuk dari upaya penggalian itu adalah melalui gerakan penerjemahan terhadap karya-karya intelektual non-muslim yang diadopsi dari bangsa-bangsa yang telah maju.

Sebagai hasilnya, muncullah kemudian karya-karya para intelektual muslim klasik yang sangat banyak dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan sehingga mengntarkan Islam kala itu mencapai titik puncak kejayaan peradabannya.

Gerakan penerjemahan merupakan salah satu jalan utama menuju arah kemajuan umat Islam di bidang ilmu pengetahuan. Dari gerakan penerjemahan itulah umat Islam kemudian mengenal berbagai ragam ilmu pengetahuan yang selanjutnya dapat dikembangkan dengan lebih maju.

Dalam beberapa catatan sejarah menyatakan bahwa gerakan penerjemahan terbukti menjadi suatu gerakan alternatif yang memainkan peranan penting dalam menjadikan Islam sebagai pusat pengetahuan. Dalam artian, gerakan penerjemahan telah secara menentukan menstimulasi kebangkitan intelektualisme Islam kala itu.

Hanya saja, perjalanan panjang sejarah umat Islam yang sebelumnya begitu semangat dan gencar dalam mengejar ilmu pengetahuan ke segala penjuru dunia tiba-tiba mengalami kemandekan dan praktis berhenti begitu saja.

Mandeknya sebagian besar aktivitas umat Islam dalam upaya membangun kemajuan ilmu pengetahuan selanjutnya berdampak pada menganggurnya berjuta-juta khazanah yang ditinggalkan generasi sebelumnya. Khazanah ilmu pengetahuan yang cukup kaya dan banyak kemudian hanya menjadi barang pajangan di lemari-lemari dan rak-rak kitab perpustakaan yang tersebar di berbagai kota-kota Islam.

Ketika umat Islam asyik dalam kemundurannya, tiba-tiba bangsa Barat menggeliat dan mengalami pencerahan, bahkan bertahan hingga sampai saat ini. 

Belajar dari pengalaman umat Islam yang sukses membangun kemajuannya yang salah satunya melalui gerakan penerjemahan kemudian ditiru oleh bangsa Barat. Bangsa Barat kemudian semakin bersemangat melakukan gerakan penerjemahan secara besar-besaran terhadap khazanah pengetahuan milik umat Islam.

Hasil dari gerakan bangsa Barat itu, kemudian hampir dari tiga seperempat dari khazanah ilmu pengetahuan umat Islam jatuh ke tangan mereka. Nama-nama ilmuan muslim yang cukup masyhur nan sohor seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, al-Farabi, al-Kindi, al-Khawarizmi, al-Razi, dan sebagainya lebih dikenal oleh bangsa Barat dengan nama yang dibaratkan dibandingkan oleh umat Islam.

Bahkan, teori-teori keilmuan mereka lebih banyak dikuasai dan diadopsi oleh bangsa Barat dibandingkan oleh umat Islam sendiri. Sehingga menyebabkan superioritas umat Islam di bidang pengetahuan jatuh terjerembab ke jurang yang terendah dibandingkan dengan bangsa Barat.

Menyadari lamanya masa disintegrasi peradaban umat Islam di bidang ilmu pengetahuan yang hingga sekarang masih belum juga mengalami kebangkitan, tidak dapat dimungkiri, salah satu penyebabnya adalah karena adanya keterlambatan akan kesadaran untuk memilikinya kembali. Khususnya gerakan penerjemahan.

Upaya pembangkitan intelektualisme Islam melalui gerakan penerjemahan telah terbukti menjadi bagian integral dari perjalanan sejarah peradaban Islam. Di tambah dengan adanya semangat keterbukaan dan kedinamisan yang dimiliki umat Islam kala itu semakin menambah khazanah intelektual yang menakjubkan.

Harapan kita dengan adanya “api” Islam itu, pada abad sekarang ini yang telah digadang-gadang sebagai abad kebangkitan Islam, gerakan penerjemahan adalah salah satu yang mesti dihidupkan dan disulutkan kembali. Namun adakah harapan untuk itu, khususnya pada kebangkitan intelektual Islam di Indonesia?

Dalam sebuah pepatah Arab mengatakan, “Alangkah sempitnya hidup kalau tidak karena lapangnya harapan.” Agama Islam sendiri mengajarkan bahwa putus harapan hanyalah menjadi watak orang yang tidak percaya kepada Tuhan. Dan alasan untuk adanya harapan bagi masa depan intelektual Islam itu cukup banyak.

Jika apa yang telah terjadi dalam sejarah itu bisa dijadikan petunjuk, maka cukup beralasan untuk berharap bahwa intelektualisme Islam di Indonesia akan tumbuh dengan subur, apalagi melihat saat ini, di Indonesia, gerakan penerjemahan dan penerbitan buku-buku dari luar makin disemarakkan. Tentu gejala ini akan banyak memengaruhi kehidupan bangsa secara amat menentukan.

Harapan kita selanjutnya adalah gerakan penerjemahan dan penerbitan tersebut akan diikuti dengan kegiatan pengkajian dan pengembangannya secara masif, kritis, dan kreatif, seperti yang pernah terjadi dalam perjalanan sejarah peradaban Islam. Semoga.