Dokter Adi adalah seorang dosen di salah satu universitas negeri. Dia adalah seorang dokter yang banyak dikagumi oleh Mahasiswa. Integritas dan moral yang dia pegang selama ini, membuat ia menjadi salah satu tokoh idola para mahasiswa.

Selain kedua sifat itu, ia juga dikagumi karena motivasi yang terus diberikannya kepada para mahasiswa agar terus dan terus menyuarakan suara mereka atas ketidakadilan yang ada di universitas itu, tanpa harus takut. Walaupun pada kenyataannya begitu banyak mahasiswa yang apatis, meski sudah terus menerus digesek dengan dukungan moral itu.

Dari semua sifat dan sikap yang ia miliki, ada satu yang membuat para mahasiswa sangat kagum namun tertawa. Yaitu seorang dosen dengan gelar S2, yang sampai saat ini ia masih tinggal di kos-kosan yang dia tempati sejak dia duduk di bangku kuliah dulu. Padahal, ia memiliki banyak sekali uang, jika ia mau membeli rumah. Namun hal itu tidak dilakukannya.

Dia juga sebenarnya tidak hanya mengajar di satu Universitas sja, tetapi dia juga mengajar di tiga universitas lainnya. Dia juga sangat di kagumi akan kualitas dan kapasitasnya sebagai seorang dosen. Sehingga, banyak Universitas yang sangat menginginkan jasanya.

Kita pasti tahu, bahwa seseorang yang banyak dikagumi, pastilah punya banyak pembenci juga. Seperti yang dialami dokter Adi, karena integritas dan moral yang dia miliki, membuat dosen-dosen lain yang tidak memiliki integritas dan moral  membencinya.

Banyak para mahasiwa yang berpikir bahwa suatu saat dia akan mengikuti arus dosen-dosen lain. Tapi pada kenyataannya, sampai saat ini, dia masih bertahan dalam komitmen yang selama ini dia pegang. Tentulah itu menjadi tambahan nilai baginya, di mata para Mahasiswa.

Di universitas di mana dokter Adi mengajar, begitu banyak tiku-tikus berkeliaran (para pembuat korupsi, kolusi, nepotisme dan gratifikasi), sehingga membuat universitas itu menjadi salah satu universitas terburuk di mata universitas-universitas lain yang ada di Indonesia.

Skripsi bisa di bayar, nilai bisa di bayar (baik dengan uang bahkan dengan harga diri), dan bahkan tidak sedikit yang menjadi penjilat utuk mengejar sebuah nilai. Sungguh sengat menyedihkan apa yang terjadi di universitas itu. 

Walaupun dengan keadaan universitas yang seperti itu, dokter Adi tidak berhenti berjuang untuk menyuarakan kepada mahasiswa tentang hak-hak asasi yang seharusnya mereka miliki. Mahasiswa adalah penyambung lidah rakyat, jika penghubungnya mati, maka gelaplah rumah-rumah mereka.

Dalam komitmen yang ia miliki, setiap kali ada rapat di fakultas di mana ia mengajar, dia selalu menyuarakan tentang hak-hak mahasiswa dan memberikan cara untuk memperbaiki sistem yang bobrok itu.

Tapi apalah daya, dia hanyalah seorang pemain tunggal. Kita bisa membayangkan, sebuah pertandingan sepak bola, jika pertandingannya dilakukan 1 orang melawan 12 orang, pastilah yang 1 orang itu terus kebobolan gawangnya.

Maka itulah yang terjadi pada dokter Adi, suaranya tidak pernah didengarkan.

Sebenarnya, tidak hanya dokter Adi saja yang mempunyai integritas dan moral di universitas itu, ada beberapa dosen juga yang seperti dia. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, kapal yang mereka nahkodai terpaksa mengikuti arus yang deras itu. Setiap tahun, hal itu terus terjadi, kertas putih yang datang menjadi kotor dengan tinta-tinta yang tertumpah.

Universitas itu, sebenarnya pada era 70an sampai 80an, merupakan salah satu universitas yang sangat diperhitungkan, dan bahkan mampu bersaing dengan universitas-universitas besar lainnya di Indonesia. Tapi itulah yang terjadi saat ini, nahkoda dan para ABK-nya banyak yang mabuk air laut.