Regionalisme telah menjadi salah satu topik yang dikaji secara luas oleh banyak pakar dalam kajian hubungan internasional. Ia mencakup diskursus yang berkaitan dengan intensifikasi kerja sama pada bidang sosial, politik, ekonomi, dan keamanan. 

Secara kontekstual, kerja sama ekonomi regional dan kesepakatan perdagangan bebas mengarah pada pembentukan kawasan perdagangan bebas yang pada akhirnya merujuk pada penggunaan mata uang tunggal.

Association of South East Asian Nations (ASEAN) dan European Union (EU) menjadi platform dalam pengembangan kerja sama regional yang didasarkan pada tujuan ekonomis. Melalui ASEAN, wilayah Asia Tenggara telah menyepakati untuk membangun kesepakatan perdaagangan bebas: ASEAN Free Trade Area (AFTA). 

Kesepakatan tersebut diperkuat kembali melalui konsep ASEAN Economic Community (AEC) yang dibangun untuk memberikan kebebasan pada perputaran barang, jasa, modal, dan tenaga kerja ahli guna mendorong pasar tunggal di wilayah tersebut. Sehingga harapan untuk menciptakan ekonomi kawasan yang kompetitif dan terintegrasi dengan pasar global dapat diwujudkan. 

Di sisi lain, EU juga telah melakukan langkah tersebut, bahkan boleh dikatakan lebih maju dibanding ASEAN. Liberalisasi perdagangan intra-regional mendorong penguatan ekonomi kawasan yang didukung dengan penggunaan sistem mata uang tunggal.

Integrasi Kawasan Asia Tenggara 

Pembentukan ASEAN dilatarbelakangi oleh semangat dalam meningkatkan kerja sama ekonomi, sosial, dan budaya di wilayah Asia Tenggara yang didirikan pada 8 Agustus 1967. Saat ini, ASEAN beranggotakan 10 negara: Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand, Brunei Darussalam, Vietnam, Laos, Kamboja, dan Myanmar.

Pada tahun 1997, ASEAN Vision 2020 disepakati guna mendorong integrasi kawasan melalui liberalisasi perdagangan dan investasi. Visi ini diperkuat melalui komitmen bersama untuk membangun komunitas ASEAN 2015 yang mencakup 3 pilar utama: ASEAN Political-Community, ASEAN Economic Community, dan ASEAN Socio-Cultural Community. 

Secara kontekstual, ASEAN Economic Community (AEC) dibangun guna meningkatkan arus perpindahan barang, jasa, dan modal di antara sesama anggota ASEAN. Selain itu, semangat untuk mengembangkan kerja sama ekonomi intra-regional didorong melalui kerja sama perdagangan bebas, seperti ASEAN Free Trade Area (AFTA), ASEAN-Japan Free Trade Area, ASEAN India-Free Trade Area, ASEAN-China Free Trade Area, dan ASEAN Australia New Zealand Free Trade Area.

Tentu saja ASEAN juga terus melakukan upaya maksimal dalam proses integrasi kawasan. Pun termasuk untuk menciptakan sistem mata uang tunggal. 

Arah terhadap penciptaan sistem mata uang regional hanyalah persoalan waktu. Akan tetapi, proses integrasi ekonomi kawasan ASEAN lebih difokuskan pada harmonisasi dan peningkatan volume perdagangan di antara sesama anggota ASEAN. 

Secara garis besar, upaya integral tersebut telah memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi regional. Negara-negara anggota ASEAN seperti Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, dan Vietnam mampu menarik keuntungan dari proses yang tengah dilakukan oleh organisasi. 

Hanya saja, tantangan bagi ASEAN bukan hanya menciptakan sistem keuangan tunggal di kawasan, namun bagaimana pula mendorong pertumbuhan ekonomi negara-negara seperti Laos, Myanmar, dan Kamboja. Karena itulah upaya liberalisasi perdagangan dan harmonisasi kerja sama antaranggota ASEAN menjadi lebih penting pada konteks saat ini.

Uni Eropa sebagai Unit Tunggal

Sebagaimana diketahui, European Union (EU) atau Uni Eropa telah mencapai titik kemajuan dalam proses integrasi kawasan melalui penciptaan mata uang regional Euro. Bagi EU, mitra global seperti ASEAN sangatlah penting guna menjaga stabilitas nilai mata uang Euro. 

Nilai perdagangan yang cukup tinggi antara EU dan ASEAN telah memberikan dampak pertumbuhan terhadap ekonomi regional Eropa yang secara serta-merta menguatkan nilai tukar Euro di pasar valuta global.

Meskipun begitu, integrasi regional EU tidak berhenti pada titik tersebut. Melalui European Central Bank (ECB), EU terus mengupayakan penguatan regional melalui peningkatan kerja sama ekspor-impor di wilayah pengguna mata uang Euro yang mengarah pada integrasi finansial. 

Data yang dikeluarkan oleh ECB menunjukkan bahwa integrasi finansial di kawasan Uni Eropa memberikan efek terhadap pertumbuhan ekonomi kawasan dengan potensi nilai tambahan GDP lebih dari 100 triliun Euro. Dengan kata lain, sistem keuangan yang sudah terintegrasi memberikan kemudahan bagi EU untuk menyusun kebijakan moneter tunggal serta penyesuaian terhadap dinamika ekonomi global melalui mekanisme ekonomi yang transisional, integral, dan prospektif.

Dengan demikian, sudah jelas bahwa proses integrasi kawasan yang dilakukan oleh EU lebih maju dibandingkan dengan ASEAN. Faktor penggunaan mata uang Euro menempatkan EU pada tingkat daya saing yang tinggi dalam perekonomian global. 

Instrumen kebijakan moneter yang tunggal telah memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan daya saing perdagangan negara-negara anggota Uni Eropa.

Tantangan Global

Baik ASEAN maupun EU harus mampu menjawab tantangan di tengah situasi ekonomi global yang sedang tidak menentu. Perang dagang antara Amerika Serikat dengan Cina telah memberikan dampak tambahan di tengah penurunan pertumbuhan ekonomi dunia. 

Akan tetapi, di sisi lain, negara-negara industri berkembang anggota ASEAN, seperti Vietnam (7,9% dari GDP) dan Malaysia (1,3% dari GDP), memperoleh keuntungan dari perang dagang yang terjadi di antara kedua negara adikuasa.

Keadaan sebaliknya justru dirasakan oleh EU. Sepertiga dari total perusahaan EU yang beroperasi di Cina memperoleh dampak buruk dari peningkatan tarif perdagangan yang diterapkan oleh Presiden Trump terhadap produk-produk yang berasal dari negara yang dipimpin oleh Xi Jinping. Dibandingkan ASEAN, negara-negara EU memperoleh ekses negatif dari perang dagang.

Kondisi kontradiktif di antara kedua kawasan itu menjadi peluang sekaligus tantangan bagi masing-masing organisasi guna meningkatkan integrasi ekonomi regional. Perdagangan intra dan ekstra regional yang mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan harus terus dilaksanakan agar proses integrasi ekonomi di kawasan-kawasan tersebut dapat berjalan dengan lancar.

Terutama bagi ASEAN. Meskipun menjadi kawasan dengan intensitas perdagangan yang tinggi, namun volume perdagangan intra-regional masih lebih kecil. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi ASEAN bila menilik keuntungan yang diperoleh dari perang dagang saja tidak dirasakan merata oleh negara-negara anggota.  

Peranan Indonesia 

Pada akhirnya, proses integrasi ekonomi, baik di ASEAN maupun Uni Eropa, merupakan sebuah keniscayaan. Apalagi di era terbuka seperti saat ini, liberalisasi perdagangan dan penggunaan mata uang tunggal menjadi proses yang tak terelakkan.

Proses integrasi regional ASEAN dan EU yang ditumpukan pada integrasi ekonomi dan perdagangan di masing-masing kawasan menyajikan dinamika pertumbuhan yang progresif. ASEAN dengan fokusnya terhadap liberalisasi perdagangan dan peningkatan pertumbuhan ekonomi regional memperoleh manfaat penting dari proses tersebut dengan adanya kenaikan nilai ekonomi terhadap masing-masing anggotanya. 

Tentu saja tantangan untuk melahirkan kebijakan tunggal melalui instumen keuangan menjadi tugas lanjutan bagi para anggota ASEAN di mana EU telah selangkah lebih maju dalam proses tersebut.

Secara khusus, proses politik di Indonesia yang sudah hampir mencapai garis akhir memberikan ruang bagi presiden terpilih nantinya untuk lebih aktif berdiplomasi di ASEAN. Ekses perang dagang antara AS dan Cina secara sistemik diyakini berdampak secara global. 

Sebagai pemimpin natural di ASEAN, Indonesia harus mampu berperan aktif mendorong integrasi kawasan guna menghadapi tantangan tersebut. Peningkatan volume perdagangan intra-regional antaranggota ASEAN serta penguatan kerja sama inter-regional bersama Uni Eropa, disamping memenuhi kebutuhan ekonomi regional, mampu menopang laju ASEAN dalam menghadapi tantangan global di bawah ancaman perang dagang dalam lingkup kawasan.