Student
2 tahun lalu · 1998 view · 4 min baca menit baca · Agama eow_1.png
Wade (James Badge Dale) dalam Echoes of War. Gambar ini diambil dari truthoncinema.com

Intan dan Kebodohan yang Dirawat

Senin pagi ini, menyapa dengan sedikit emosional. Intan Olivia (2) korban ledakan bom di Gereja Oikumene, Samarinda berpulang ke tempat yang jauh lebih damai, mendahului bapak ibunya. Fisiknya akhirnya takluk pada luka bakar yang menjejali tubuh mungilnya.

Ingatan saya tiba-tiba melanglang buana menuju adik angkat saya, Intan dan Nanda, sewaktu tinggal kurang lebih sebulan di Miangas sana. Ada beberapa Minggu yang saya lewati di tempat ini. Di rumah Mama Tina, Papa Kamurahan, Intan dan Nanda saya “menumpang hidup”. Keempatnya adalah Kristiani.

Mayoritas masyarakat Miangas memang beragama Kristen. Yang Islam di pulau ini hanyalah beberapa masyarakat asli Miangas yang menikah dengan tentara atau penduduk luar pulau yang beragama Islam, sehingga harus mengikuti suaminya. 

Kembali ke Intan dan Nanda. Karena melewati beberapa minggu di pulau ini, saya pun melewati beberapa waktu untuk melihat Intan bangun sangat pagi, mandi, dan bersiap. Intan mau ke mana?” tanya saya di awal-awal. “Mo sekolah minggu nooohh,” kata mama Tina dengan lincah dan logat Manado yang khas sambil menyisir rambut Intan. Intan pun hanya menjawab saya dengan senyum renyah khas anak-anak yang mendamaikan, paling tidak untuk sebagian orang.

Perhatian saya beralih ke Nanda. Nanda, adik Intan. Mama Tina dan Papa Kamurahan sebenarnya memiliki empat orang anak. Namun waktu itu, anak pertama perempuannya sedang bersekolah di Makassar dan menumpang hidup di rumah tantenya yang sudah memeluk Islam semenjak memutuskan untuk menikah dan pindah ke Makassar. Sedang seorang lagi, yang lahir setelah Intan, sejak bayi telah diasuh oleh saudara Papa Kamurahan di Miangas sana.

Jadilah, hanya Intan dan Nanda yang menemani Mama Tina dan Papa Kamurahan di rumah kecil ini. 

Iya, di rumah itu. Rumah dengan jendela namun tanpa kaca, rumah dengan anjing yang bisa dengan leluasa mengintip masuk ke dalam rumah, rumah dengan seekor babi besar hitam di belakang rumah. Namun di rumah itu, kekhawatiran akan kepercayaan saya sebagai seorang muslim, tidak cukup membuat saya uring-uringan.

Mama Tina seakan sudah memberi batas, di mana anjing boleh berkeliaran, di mana babi hanya boleh kedengaran suaranya namun tidak terlihat wujudnya. Walhasil, saya memang hanya sekali melihat babi hitam besar itu di belakang rumah. Itu pun sewaktu hari pertama sampai di rumah itu, kaki saya melangkah menuju belakang rumah, dan jreng, pintu berbunyi keras!

Oh iya, Nanda. Jika Intan bisa dengan senang hati mengikuti sekolah minggu, maka lain halnya dengan Nanda. Nanda, adik kecil yang umurnya sekitaran 6 atau 7 tahun ini, masih sangat berat meninggalkan pulau kapuknya. Wajahnya manyun sambil menunggu Mama Tina selesai dengan rambut Intan. Intan selesai, giliran Nanda. Tidak ada “permakan” yang berarti pada Nanda.

Rambut Nanda memang cepak, ia hanya butuh disisir saja, tak perlu dikepang seperti rambut Intan. Oh iya, tak lupa wajah mereka berdua ditaburi bedak. 

“Nanda ini, anak laki-lakinya mama,” kata Papa Kamurahan di pagi itu. Wajar saja, semua anak mama Tina dan Papa Kamurahan adalah perempuan. Nah, Nanda hadir dengan potongan bak laki-laki. Rambut cepak, baju kaos bergambar Power Rangers jadi andalan. Namun bagaimanapun hari minggu itu dimulai, bagi anak-anak ini, sekolah minggu adalah tempat “bermain” terbaik. Dan di saat yang sama, alam raya pastinya sedang bersuka.

*****

Saya membayangkan, betapa keceriaan dan renyahnya percakapan di pagi hari sebelum berangkat ke Gereja mewarnai keluarga Intan Olivia.

Orang tua Intan tentunya masih bisa memilihkan baju terbaik untuk anaknya, anak yang dilahirkan dan dirawat dengan penuh kasih. Sedang Intan yang masih sangat kecil itu, masih bisa riang karena diselimuti ketulusan, dari selembar baju terbaik, dari tangan dan mulut baik yang selalu menuntunnya ke dalam satu sistem besar yang mereka yakini. Dan Intan Olivia, kepadanyalah mimpi-mimpi besar orang tuanya dititipkan.

Namun apa daya, tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan terjadi beberapa waktu kemudian. Tidak ada seorang pun yang tahu dimana dan kapan saatnya tiba untuk berpisah raga dengan dunia ini. Tubuh mungil Intan jadi satu dari beberapa manusia yang datang dengan suka cita menuju Gereja namun berujung pada duka.

Laku yang menjunjung tinggi nilai kebenaran versi individu ini, merenggut nyawanya. Ia yang belum tahu apa-apa, bahkan hanya untuk sekadar mengeja kata Benci sekalipun. Saya bingung, kebenaran macam apa yang banyak orang gemakan? Kebenaran yang mengganggap orang lain yang berbeda adalah kesalahan? Kebenaran bersumbu kebencian atau kebenaran yang memaku leher kita pada nilai-nilai kemanusiaan?

Maafkan saya yang fakir ilmu ini, hanya saja, saya membayangkan betapa orang tua Intan Olivia saat ini benar-benar sakit. Meski ikhlas adalah kewajiban yang senantiasa dikhotbahkan, namun untuk sebuah kehilangan, ikhlas tak seringan tangan melemparkan bom. Intan telah damai sekarang. Ia bahkan bisa bermain-main tanpa rasa takut lagi. Tapi bagaimana dengan anak-anak lain yang juga menjadi korban?

Belum lama ini, saya sempat menonton Echoes of War. Film ini mengisahkan seorang veteran perang bernama Wade (James Badge Dale), yang berharap mendapatkan kedamaian saat kembali ke rumahnya. Namun di luar dugaannya, Wade justru tak benar-benar bisa menghilangkan ingatannya tentang masa lalunya, ia justru kembali terlibat konflik dengan keluarganya dan tetangga yang kerap mengganggunya.

Echoes of War menurut saya lebih dari sekadar film yang menggambarkan seorang veteran yang mencari kedamaian, namun film ini juga telah mengirimkan pesan bahwa kebencian yang tidak berkesudahan adalah kebodohan yang dirawat. Hasilnya? Air mata, darah, nisan.

Artikel Terkait