Aku dan Lisensi Puitika


Ah sudah bosan aku menempelkan kesan:
Beberapa puisi ku adalah anak haram dari harum nan ranum rahim jiwa!
Menjadi kabar buruk bagi setiap tanda dan penanda ortodoksi kultus gramatika
Tapi kabar baiknya, setidaknya ia bernafas penuh gairah cinta akan kebebasan!

Ku kira kau sudah tahu bahwa secara psikoanalisis:
Ekspresi kebebasan aksara ku adalah buah klimaks dari ereksi psikotraumatis
Dan majas-majas litotes di dalamnya, hanyalah perihal adiksi psikotropika
Dan tetes-tetes metafora yang menggumpal kental, hanyalah embrio psikosomatika

Nyatanya, kau antipati dengan segala tragedi aborsi yang tak sengaja
Menutup mata dan telinga pada puisi ku yang terlahir banal juga prematur
Menadah binal hingga jalang, sehingga menuduhku terlalu sibuk melantur
Seraya memuji anakku yang lain, yang rapih, yang tertib, yang sesuai tradisi sastra

Sial memang, merasakan masa kecilku yang ganjil bertambah genap
Sialnya lagi, anakku semakin bertumbuh besar dan menggigil dalam gelap
Oh sungguh betapa sialnya aku, dan betapa dangkalnya dialektika mu
Menganggap bahwa gugusan luka dalam, akan kering di haribaan waktu

Ah lupakan soal nisan di kuburan masa lalu
Aku akan menjawabnya dengan selimut di ranjang masa kini!
Peduli setan aku dengan para malaikat penata bahasa, beserta sayap-sayapnya yang kaku!
Dan masa bodoh dengan masa depan yang terbelakang, bersama kefanaan pinata janji-janji kepada abadi!


Sambat Kesumat yang Sempat Tersumbat


Dewasa ini, manusia semakin tak dewasa
Ciptaan ingin naik pangkat, menjadi pencipta
Pencipta bingung dalam bengong, menyaksikannya
Dan anak-anak berteriak, menolak masa tua

Manusia lupa mengeja manuskrip:
Sibuk menitip ambisi pada langit
Dan sabuk-sabuk suntuk, mengencangkan gosip-gosip
Gorong-gorong penuh sesak, sumpah serapah adalah obat segala sakit

Burung-burung merakit sayap, lalu terbang melaung bimbang
Ikan-ikan memasang sayup iklan, lalu berlatih memanjat pohon
Beton-beton mempecundangi tanah, tempat binatang berpulang
Bintang-bintang tak berkedip, hanya tertatih menonton monoton

Bunga-bunga gagal fotosintesa, putik dan benang sari jangan bercinta
Jangan-jangan cinta hanyalah topeng, mewadahi nafsu tak terkendali
Koma-koma membenci titik, kata tanda tanya titik koma itu anomali
Anonim-anonim bersembunyi, sembari memaki-maki dengan segenap nista

Genap-genap menindas ganjil, berbeda adalah dosa
Doa-doa harus sama, sama-sama ke hadapan Tuhan yang sama
Tuhan-tuhan baru tak tertahankan, mungkin konspirasi alam semesta
Konser-konser kedunguan ada dimana-mana, sementara yang waras di rumah sakit jiwa

Rumah-rumah semakin banyak, tapi penghuninya sepi sendiri
Sendiri-sendiri harus bersama-sama, sebelum akhirnya mendua
Satu-satu kebahagian layu, biasanya dua kali dalam sehari
Tiga-tiga kita berdua, pada akhirnya aku sembilu dalam dunia

Dan dunia-dunia baru ditata, dunia lama terlupakan begitu saja
Lupa-lupa ingatku, setelah sesuatu hampir membunuhku
Igau mengigau mereka, membangun kursi bekerja
Mengapa mereka tak pernah duduk di meja, atau etalase rindu?

Eskalasi populasi, bertambah tumbuh serupa benci yang buta
Sedang kemana pun kau pergi, bumi punya luka yang sama
Namun doktrin dan dogma sukses semakin di depan
Oh apakah iman adalah imun paling aman?

Dan dunia tak pernah peduli
Pada nasib para warna hitam, ungu dan biru
Buru-buru waktu mengakhiri hidup, detak detik yang tak terhenti
Dan lari berlari semua meraih juara, lalu selesai dan membeku

Selesai dengan itu, memburu para pembuat jalan pintas
Dan pantas saja mereka menatapku dengan nanar yang lugas
Oh betapa kacau nalarmu yang tercalar-calar bahasa
Sebab akulah sang pengacau, pengicau, peracau karir kemapanan yang sama


G30S/IPK


Wahai dosen-dosen, yang tak pernah absen: Menjejali mahasiswa, tugas-tugas yang memiskinkan kekayaan waktu semasa muda

Oh sungguh tegas dan lugas berwajah satuan kredit semester, seakan-akan indeks prestasi adalah mahakarya inteligensia

Apa kabar nasakom? Nasib satu koma, yang hanya bisa Cum Shot tanpa Cum Laude, semoga kesehatan mereka terjaga di tempat kerja yang terpenjara

Namun, apa kabar para tapol yang telah mengabdi dalam keabadian korporasi? Lalu, dimanakah lokasi Magnum Opus manusia, yang terepresentasikan dalam setiap tanda tanya

Apakah mutiara ilmu-ilmu itu telah terkudeta oleh cangkang para congkak, yang memiliki barikade gelar di depan dan belakang nama mereka?

Pendidikan yang membebaskan hanyalah omong kosong! Keanekaragaman kompetensi telah mati! Dalam satu kompetisi, yang pemenangnya adalah penjilat pantat paling semangat menghamba

Favorit mereka yang setia berceramah hingga mulutnya penuh busa! Orang-orang tua yang berisi tapi hampa, yang beranggapan bahwa mereka adalah sumber pengetahuan segala-galanya

Oh dimanakah logika para penempa kebijakan kurikulum yang tak bijak, sampai-sampai kebajikan dan kebaikan tak lebih dari gimik untuk meraih nilai yang paripurna

Dan mahasiswa hanyalah anak bodoh yang mau dijejali apa saja, malang sekali nasib jalur-jalur akademisi hanyalah sarana dan prasarana mencari kerja

Tidakkah kau mengerti, wahai jenderal bergelar sarjana, magister dan doktoral yang menuhankan oral di depan kelas, bahwa ilmu tak bisa dipaksakan bersama rasa jemawa

Oh tidakkah kau sadar, bahwa kemuliaan ilmu hanya untuk mereka yang dapat melepaskan diri dari jeratan nilai, mereka yang berdikari nan merdeka atas semua penjajahan intelektual khas negara dunia ketiga

Ah, sudahlah lupakan! Lagipula aku bukan siapa-siapa, selamat sukses dan semoga semua mahasiswa berbahagia!