Pada 20 Mei lalu, bangsa Indonesia tengah memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Ketika menyoal Hari Kebangkitan Nasional, pikiran kita akan bergerak untuk mengingat sebuah organisasi: Boedi Oetomo. Karena memang, peringatan hari itu pun didasarkan atas berdirinya Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908.

Akan tetapi, pada masa pergerakan nasional (1900-1942), ada satu organisasi yang mungkin kurang akrab di telinga kita, yakni Insulinde. Meskipun didirikan oleh orang Indo (campuran), kiprahnya dalam dunia pergerakan tidak bisa dikesampingkan.   

Dalam The Idea of Indonesia, Robert Elson menyebutkan bahwa kata ‘Insulinde’ tersebut muncul untuk menyebut kepulauan Nusantara serta penduduknya. Insulinde dicetuskan oleh Eduard Douwes Dekker (Multatuli), dalam roman terkenal, Max Havelaar (1860).

Penggunaan kata Insulinde mendapat dukungan dari van Deventer, Abendanon bahkan Noto Soeroto. Namun, kata itu tidak banyak disukai di kalangan orang Indonesia. Mengutip pendapat Elson, ketidaksukaan itu mungkin dikarenakan ‘Insulinde’ berasal dari bahasa Jerman, serta lebih mungkin karena kesulitan membuat kata benda dan kata sifat untuk menjabarkan bangsa (‘Insulindier’) serta kegiatannya.

Selanjutnya, sebagai suatu identitas, kata Insulinde digunakan sebagai nama organisasi. Dari buku Douwes Dekker Sang Inspirator Revolusi, dapat diketahui bahwa organisasi Insulinde berdiri pada 1907 di Bandung. Setelah itu, Kecik (2009) menyebutkan bahwa pada 1911, Pengurus Besar Insulinde memindahkan markasnya ke Semarang.

Perihal kebangkitan Insulinde juga diungkap oleh Yudi Latif dalam buku Negara Paripurna. Menurutnya, Insulinde merupakan perhimpunan yang berorientasi Indo-Eropa (Eurasian). Salah satu penyebab munculnya Insulinde adalah perasaan dislokasi sosial komunitas Indo sebagai akibat segregasi sosial yang ada dalam struktur kolonial.

Kemudian dalam perkembangannya, Insulinde menginspirasi lahirnya Indische Partij, yang digagas tiga serangkai (Ernest Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoemo, dan Soewardi Soerjaningrat, yang kemudian dikenal Ki Hajar Dewantara).

Pagi hari, 15 September 1912, Douwes Dekker yang ditemani Van der Poel dan Brunsveld van Hulten tiba di Stasiun Bandung. Hari itu mereka hendak memulai lawatan politik ke beberapa daerah di Jawa. Tujuan dari tur ini untuk mengenalkan gagasan pembentukan Indische Partij (Partai Hindia). Karena itu, ada pula yang menyebut jika Indisce Partij berdiri pada September 1912.

Ketika kereta membawa ketiga orang itu ke Yogyakarta, mereka disambut hangat anggota Insulinde, Boedi Oetomo, dan Sarekat Islam. Lalu, malam itu juga digelar pertemuan politik. Dalam acara itu, kesetaraan ras menjadi topik pembicaraan. Mereka menyoroti diskriminasi pemerintah kolonial terhadap warga negara.     

Kesuksesan tur propaganda itu dibuktikan dengan berdirinya Indische Partij (IP), pada Desember 1912. Selanjutnya, Douwes Dekker, Tjipto, dan Soewardi yang diwadahi IP membentuk kolaborasi radikal yang keras melawan pemerintah kolonial. Karena itulah, sebelum IP menginjak usia satu tahun, IP sudah dibubarkan dengan alasan berbahaya bagi rust en orde (keamanan dan ketertiban).

Dikarenakan waktu pembubaran IP berdekatan dengan peringatan 100 tahun kemerdekaan Belanda, tiga serangkai membentuk Komite Bumiputera. Pembentukan komite itu tidak dimaksudkan sebagai bentuk partisipasi terhadap kemerdekaan Belanda. Malah sebaliknya.

Melalui tulisan “Als ik een Nederlander was..” (Seandainya aku seorang Belanda), Soewardi Soerjaningrat mengkritik kolonialis Belanda. Lantaran itulah, tiga serangkai diasingkan ke Belanda.

Penangkapan dan pengasingan tiga serangkai tidak menghentikan jalannya pergerakan. Pringgodigdo dalam Sedjarah Pergerakan Rakjat Indonesia (1964) menyebutkan bahwa anggota IP melanjutkan perjuangan di bawah panji Insulinde. Dengan begitu, tak heran jika sejarawan mengatakan bahwa Insulinde adalah pengganti IP.

Setelah sekitar satu tahun menjalani pengasingan di negeri Kincir Angin, Tjipto dipulangkan lebih dahulu ke tanah air dengan alasan kesehatan. Setibanya pada pertengahan 1914, ia kembali bergabung dengan Insulinde, yang bermarkas di Semarang.

Makin hari, pergerakan Insulinde makin berkembang. Insulinde tidak hanya dihuni golongan Indo, tetapi juga Tionghoa peranakan serta intelektual bumiputera. Kemajuan ini ditunjukkan dengan berdirinya berbagai cabang Insulinde di kota-kota di Jawa.

Bahkan, pada 1916, Insulinde mendirikan cabangnya di Sumatra Barat. Pendirian cabang Sumatra Barat itu diprakarsai Marah Sutan, ketua Insulinde cabang Batavia.

Dari sekian banyak cabang Insulinde, yang berkembang dengan pesat adalah cabang Surakarta. Berdasarkan catatan Shiraishi (1997), pada 1919, cabang Surakarta sudah beranggotakan lebih dari sepuluh ribu orang. Perkembangan cabang Surakarta ini bukan hanya tampak dari segi jumlah anggota saja, tetapi juga dalam pergerakannya.

Dalam upaya melebarkan pengaruh Insulinde, Tjipto menggagas penerbitan Penggoegah (surat kabar berbahasa Jawa) serta berdirinya komite untuk menyelidiki kegelisahan penduduk Surakarta.

Di samping itu, sejak bergabungnya Misbach ke tubuh Insulinde pada Maret 1918, gerakan Insulinde Surakarta makin menjadi-jadi. Duet maut Tjipto dan Haji ‘Merah’ Misbach mendorong mobilisasi petani yang memicu radikalisasi kaum tani. Hal ini dibuktikan dengan masifnya gerakan perlawanan kaum tani pada 1918.

Selanjutnya, gerak-gerik Insulinde Surakarta yang militan mendorong penggantian nama Insulinde menjadi Nationaal Indische Partij (NIP) atau yang disebut juga Sarekat Hindia (SH). Berdasarkan catatan Shiraishi (1997), pengantian nama itu terjadi pada Juni 1919 saat dilaksanakannya Kongres Hindia di Semarang.   

Sekitar satu minggu setelah penggantian nama, meletus peristiwa di Polanharjo yang dimotori oleh NIP. Peristiwa itu merupakan aksi mogok yang dilakukan buruh perkebunan tembakau.

Aksi tersebut telah mengakibatkan kekacauan dan membuat Harloff, Residen Surakarta Berang. Sebagai tindakan pengamanan, Harloff memerintahkan polisi membubarkan aksi serta melarang rapat yang digelar NIP di Surakarta.  

Karena tindak-tanduk orang-orang NIP yang keras melawan pemerintah kolonial, pada 1921, NIP resmi dibubarkan pemerintah Hindia Belanda dengan dalih bahwa perhimpunan itu membahayakan keamanan dan ketenteraman umum. Meskipun NIP telah tamat, pergerakan melawan kolonialisme Belanda nyatanya tidak pernah padam.

Referensi

  • Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1978). Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Sumatera Barat. Jakarta: Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  • Kecik, Hario. (2009). Pemikiran Militer 1: Sepanjang Masa Bangsa Indoensia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
  • Latif, Yudi. (2011). Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas dan Aktualitas Pancasila. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 
  • Muljana, Slamet. (2012). Kesadaran Nasional: Dari Kolonialisme sampai Kemerdekaan (Jiid 1). Yogyakarta: LkiS.
  • Shiraishi, Takashi. (1997). Zaman Bergerak: Radikalisme di Jawa 1912-1926. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
  • Tempo. (2012). Douwes Dekker Sang Inspirator Revolusi. Jakarta: Majalah Tempo dan Kepustakaan Populer Gramedia.