Anda dan saya mungkin pernah menjadi peneliti atau setidaknya masuk dalam tim peneliti sebuah masalah. Ketika memulai sebuah penelitian ada kekhwatiran yang muncul sebagai stimulus kegiatan penelitian. 

Kekhawatiran ini nampak dalam sederet pertanyaan berikut: Apa yang kita dilakukan saat penelitian? Prospek apa yang kita hadiahkan untuk siapa/apa yang diteliti? Mungkinkan sebuah penelitian disebut hasil atau diapresiasi jika hanya menguntungkan si peneliti?

Berbagai macam cara dilakukan oleh banyak pakar dan ilmuwan – tidak kalah juga beberapa mahasiswa/i – untuk membuat sebuah gebrakan baru dalam dunia kehidupan. Salah satunya adalah dengan membuat sebuah observasi atau penelitian. 

Hal ini dilakukan dengan mengambil sampel yang tak tersentuh (sesuai lahan kajian pengetahuan masing-masing), di mana si peneliti akan menggali berbagai potensi yang tersembunyi pada objek yang diteliti atau berusaha mengekspos objek atau hasil penelitiannya ke ruang publik. Mengumpulkan, menganalisis dan mengekspos hasil penelitian di ruang publik, tentunya belumlah cukup.

Beberapa pakar dunia penelitian, seperti halnya B Aubrey Fisher, mengatakan bahwa sasaran sebuah penelitian tidak hanya invention (penemuan baru), tetapi lebih dari itu, yakni sebuah transformation (perubahan). Perubahan yang dimaksud, tidaklah sebatas pada meningkatnya daya akademis dan upaya kritis si peneliti, tetapi juga dampak real bagi sampel yang menjadi sasaran penelitian. Dengan kata lain, tujuan penelitian itu sendiri mau menunjukkan kepada publik sebuah langkah konkret pemecahan masalah yang melingkupi objek yang diteliti.

Apa yang digenggam dan harta hasil penelitian si peneliti adalah bongkahan harapan “mereka” yang diteliti – katakanlah siapa/apa yang diteliti mendapat hal baru, keluar dari lingkup masalah, dll. Di Indonesia misalnya, muncul Organisasi ICW (Institution Corruption Watch), yang berusaha mengamati fenomena janggal dalam tubuh birokrat, dengan terus membantu KPK untuk memukat para koruptor, atau Organisasi FORMAPI (Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia), Pak Sebastian Salang. Apakah forum/lembaga/organisasi seperti ini sudah mencapai target dari penelitian yang sebenarnya?

Target yang dikejar dalam sebuah penelitian sejatinya adalah sebuah transformasi yang radikal. Transformasi radikal artinya sebuah penelitian harus mampu mengubah secara total kondisi objek penelitian sekaligus memberi harapan baru. Paling tidak, yang diteliti merasa “terusik,” dibantu, dibopong keluar dari zona (yang banyak ter-nya: termiskin, terbelakang, terpinggirkan) dan si peneliti merasa karakter humanisnya disalurkan ke sesamanya.

Dalam hal ini, penelitian itu bergerak seperti seorang nabi yang berkoar-koar, mengumpulkan data, mendampingi, mengelola-analisis dan membantu menyerukan sesuatu yang sengaja diredupkan oleh publik alih-alih penetapan struktur yang ballance dalam masyarakat. Sayangnya, prospek ini selalu berhenti di ruang persentasi di mana si peneliti mendulang banyak pujian. Banyak peneliti yang menggunakan hasil penelitiannya, sekedar untuk mengetatkan saku dan menambah isi celengannya.

Banyak peneliti menjadi hits, terkenal, disanjung-sanjung, menulis buku, diundang ke mana-mana untuk seminar dan lupa akan tugas pokoknya, yakni bagaimana harapan/kondisi yang diteliti. Sering yang terjadi bahwa hasil penelitian si peneliti dipajang di etalase pasar akademis dan mendapat standing applause dari banyak orang, sedang mereka yang bersedia diteliti (katakanlah orang miskin) tidak mengalami perubahan apa-apa.

Seharusnya relasi dalam mata rantai penelitian mengangkat sebuah model komunikasi yang mengarah pada unsur – setidaknya – simboisis mutualisme (saling menguntungkan), bukan sebaliknya magnet parasitisme (menguntungkan satu pihak). 

Tapi, toh kenyataanya banyak peneliti dewasa ini, cendrung menggunakan pola interaksi simbiosis parasitisme – menyerap makanan dari yang ditumpanginya atau yang ditelitinya untuk kemakmurannya sendiri. Inilah kebohongan yang paling sistematis dan terstruktur karena kebohangan jenis ini justru dinstitusionalisasikan atau dilembagakan.

Nah, pada umumnya, objek penelitian yang paling laris mendapat tender kontrak adalah orang miskin. Orang miskin adalah lahan subur, di mana tesis-tesis tentang transformasi para pakar mendarat. Yang menarik adalah, orang miskin merasa menaruh trust terhadap para peneliti ini – apalagi kalau yang meneliti adalah seorang elite, pakar/ahli tertentu atau bahkan seorang mahasiswa/i. Seperti benalu, para peneliti ini menguras habis data personal (baca: keluhan) dan harapan si miskin. 

Dengan menggunakan pendekatan ala perempuan kulit putih dalam film The Server – yang mengisahkan seorang wanita kulit putih yang berjuang mengekspos kekhawatiran para pembantu kulit hitam di Amerika – para peneliti berlagak sok tahu. Semua data private (ya demi akurasi hasil penelitian si peneliti), orang miskin (objek penelitian) tak tanggung-tanggung mengekspos semua hal private mengenai hidupnya.

Lalu apa hasilnya? Adakah sesuatu yang baru datang dari hasil pengumpulan data si peneliti terutama bagi mereka yang diteliti? Umumnya tidak. Kalau bagi si peneliti, memang ia mendapat banyak income dari hasil marketing observasinya, tapi bagi yang diteliti sama sekali nihil. Dan, ironisnya lagi, setelah sepuluh tahun kegiatan penelitian, si peneliti semakin kaya dan yang diteliti tetap seperti sedia kala (miskin). 

Si peneliti diundang ke mana-mana, yang diteliti tidak pernah diundang; si peneliti berpindah tempat tinggal, yang diteliti ditinggal meninggal; si peneliti menulis buku, yang diteliti menulis kebuntuhan hidup, si peneliti mendapat standing applause dan disanjung-sanjung di ruang persentasi atau newsroom, yang diteliti mendapat celekikan dan tawa ria para hadirin yang mendengar cerita si peneliti.

Ya itulah mafia – mafia di bidang akademis. Orang miskin pun menjadi objek bernilai jutaan rupiah bagi si peneliti. Seperti halnya dunia bisnis, si calo selalu mendapat banyak nilai lebih dan extra keuntungan karena daya obralnya sangat kuat. 

Begitupun juga dalam penelitian, si peneliti mendapat keuntungan besar karena kekuatan data-data yang diobralnya. Bertahun-tahun si miskin yang diteliti menanti hasil penelitian para pakar itu (mudah-mudahan ada perubahan), sampai rambut ujung beruban pun, si peneliti tidak akan menoleh ke sampel penelitiannya.

Maka, prospeknya masyarakat harus menekankan suatu proyek persetujuan jika mau membuat penelitian. Caranya, adalah dengan membuat sebuah kontrak perjanjian atau konsensus. Inilah asuransi kehidupan mereka yang diteliti agar sewaktu-waktu tidak ada kebohongan yang dilembagakan dalam kegiatan penelitian tersebut.