Harga-harga kafe makin nggak keruan. Kampung kota jadi warna-warni unfaedah dan warnanya menyakitkan. Tempat wisata jadi berorientasi "ala-ala", terkadang tanpa referensi yang oke, dan akhirnya berujung kenorakan. Kata "instagrammable" ini racun seracun-racunnya dalam kehidupan. ~ @rizkidwika, 22 Oktober 2019, 04.12

Thread warganet @rizkidwika dengan tagarnya #julidtektur cukup mewakili perasaan saya akan fenomena tren instagrammable sebagai seracun-racunnya kehidupan. Kondisi ini tak hanya terjadi di satu-dua kota saja, tapi virusnya juga telah menyebar tanpa sadar.

Kamu bisa membayangkan sebuah lokasi pemandian dengan cat warna-warni berada di area sejuk pegunungan. Terus lokasi itu dilihat dari kamera drone. Akan kamu dapati warna lokasi itu tak selaras dengan sekitarnya, yang udik, norak, dan menyakitkan mata.

Saya sepakat jika tempat itu diibaratkan lembah pegunungan yang ketumpahan cat basah.

Saat ini, di Semarang tempat saya merantau pun persis seperti yang digambarkan Dwika. Tak ada seminggu yang lalu saya berjalan-jalan ke Kota Lama menikmati arsitektur bangunan-bangunan tua yang meski radha berbau kolonial masih sedap buat dipandang mata.

Anehnya, pas saya sampai di sekitar Taman Sri Gunting dan Gedung Marba, di sana ada semacam Telephone Box warna merah ala-ala London nggak jelas. Di dalamnya tetap ada cewek gaol minta dijepret sambil pura-pura nelepon Major Tom sama David Bowie di planet Mars.

Baca Juga: Puasa Instagram

Saya mikir sejenak, ada beginian juga ya di Semarang? Saya yang lihat jadi kontras saja sih. Ini lagi di mana? Terus yang dipasang apa?

Terkait Kampung Pelangi juga yang ada di pusat Kota Semarang. Dwika mengatakan dalam twitnya jika Kampung Pelangi sebagai "ketumpahan adonan rainbow cake".

Sebagai orang yang lumayan sering lewat daerah situ, jiwa saya langsung maktratap. Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi pun menanggapi dan membalas cuitan Dwika itu pada hari yang sama. Katanya, Kampung Pelangi yang disebut Dwika "unfaedah" tersebut telah meningkatkan ekonomi warga setempat.

Serupa Kampung Code di Yogyakarta, Kampung Pelangi adalah hasil keringat masyarakat lokal yang mengubah citra dari kampung yang kesannya kumuh menjadi lebih memiliki nilai. Bagi Hendi, tujuan didirikannya kampung hasil gotong royong masyarakat tersebut untuk memutar roda ekonomi di wilayah itu. Semarang tengah membentuk konsep Kampung Tematik dan menjadi bottom-up pembangunan.

Dwika yang juga membalas bahwa dirinya tak sedang menyerang secara pribadi Hendi. Dia hanya berbagi kegelisahan—sama seperti saya sebagai pendatang. Orang tua Dwika yang kampungnya ada di Semarang itu menulis, Kota Atlas dengan loenpia-nya yang tenar seantero Indonesia itu harusnya bisa punya identitas yang kuat.

Identitas yang dimiliki Semarang lewat budayanya pun saya pikir tak main-main. Apalagi Semarang adalah laboratorium keberagaman paling damai yang pernah saya kunjungi.

Beragam agama, suku, etnis, dan aliran keyakinan rasa-rasanya ada di Semarang. Bayi-bayi yang lahir di sana saya kira juga sudah toleran sejak dalam kandungan, karena sejarahnya yang panjang. Isu-isu agama sulit terbakar di sana.

Identitas kuat tersebut tercermin pada tempat-tempat seperti Sam Poo Kong, Gereja Blenduk, Puri Maerokoco, hingga Masjid Agung Jawa Tengah. Tempat-tempat tersebut tak hanya tujuan wisata saja, tapi juga memiliki filosofi dan sejarah khasnya sendiri, baik dilihat dari arstitektur bangunan hingga nilai-nilai luhur penuh pembelajaran yang dikandungnya.

Saya teringat dengan Denys Lombard dalam bukunya Taman-Taman di Jawa (Komunitas Bambu, 2019). Taman ternyata yang berfungsi tidak hanya sebatas hiasan publik, tapi lebih dari itu. Taman memiliki sejarah yang sama tuanya dengan agama. Perannya sakral, baik dari bentuk, fungsi, dan pemaknaan taman.

Taman berhubungan dengan budaya partikular yang terpengaruh beragam peradaban dunia. Taman di Jawa dalam keraton, semisal, terpengaruh akan peradaban India, Cina, Islam, dan Eropa. Taman memiliki peran integral dalam struktur bangunan wilayah-wilayah tertentu.

Lombard mengulas fungsi taman di Jawa yang memiliki hubungan erat dengan kehidupan keraton. Taman bukan tempat sembarangan. Ia tempat khusus yang diperuntukkan untuk status sosial tertentu. Taman adalah tempat di mana raja bisa asoy-asoy layaknya dewa. Dalam pewayangan, itu tercermin dalam lakon Sudamala dan Rangga Lawe.

Selain itu, taman juga berfungsi sebagai simbol keagungan sebuah keraton. Semisal keraton yang ada di Cirebon: Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan. Taman menjadi persaingan kejayaan masing-masing keraton. Bahkan juga menjadi representasi relasi antara yang kosmos dengan yang mikrokosmos. Semisal Taman Air Gua Sunyaragi, taman batu milik Sultan Sepuh Cirebon yang digunakan untuk meditasi raja-raja.

Bertolak dari itu, melihat fungsi ruang publik saat ini, ia tak lagi berperan sebagaimana fungsinya diciptakan, tapi berubah menjadi komoditas Instagram yang pro pamer atau sekadar selfie factories. Masalah ruang publik tidak sekadar mempercantik dengan kelir cat semata. Namun sekali lagi menyoal fungsi dan substansi bagi masyarakat di sekitar tempat tersebut.

Instagramable sendiri berarti layak tampil di media sosial khususnya Instagram. Diksi ini kian marak seiring dengan popularitas Instagram dan mengubah dinamika ruang diri, ruang eksis, dan ruang kota. Disayangkan, dengan dalih instagramable, banyak wisata dibangun dengan konsep ngawur. Sebab tak seirama dengan nomenklatur dan local wisdom tempat itu sendiri.

Instagramable tak sekadar kamu foto-foto di plang wisata segede gaban atau foto-foto di ayunan love tak jelas dekat pantai atau foto-foto di fitur imitasi luar negeri yang apalah-apalah atau foto duck face di kafe dan restoran mewah demi like hina standar warganet ngehek yang tak seberapa. Di tempat mana pun rasanya mau replikasi itu lagi, itu lagi.

Instagramable yang lebih anggun dan bermartabat adalah ketika kamu mengunggah foto-foto yang memiliki pengaruh buat hajat hidup orang banyak atau foto-foto yang membuat orang dari semangatnya ambyar jadi bugar atau foto-foto yang bisa mengubah pikiran orang dalam melihat kenyataan.

Atau saya mulai halusinasi dengan ideal-ideal macam ini? Ya, saya paham ini susah. Kamu punya trendsetter sendiri bagaimana mengisi feed.

Bukankah birunya laut, jernihnya gemericik air terjun, hijaunya daun-daun pegunungan, cokelatnya tanah, abu-abunya bebatuan ciptaan-Nya lebih instagramble? Ketimbang sayap-sayap imitasi atau warna-warni bundaran yang fana itu. ‘Instagramable apanya? Ngrusak iya.’ Oh tidak, mungkin saat ini Dwika benar, "selamat datang era sakit mata!"