Content Strategist
1 bulan lalu · 20 view · 6 min baca menit baca · Seni 51396_81637.jpg
Foto: Unsplash.com

Inspirasi Tak Berhingga dari Kertas dalam Industri Fesyen dan Arsitektur

Kertas menawarkan dunia dengan imajinasi serta kreativitas yang tak terbatas dan tak berhingga. Terutama dalam seni visual. Sudah banyak karya seni yang menggunakan kertas sebagai materialnya. Mulai dari patung hingga instalasi. 

Lebih dari itu, kertas juga merambah ke dunia fesyen dan arsitektur. Pengolahan kertas dalam bidang ini bisa meningkatkan nilai kertas, karena hasilnya bukan sekadar melahirkan karya yang sarat fungsi melainkan juga memuat nilai artistik dan estetika yang tinggi.

Gaun dari Kertas

Menarik jika kita melihat betapa banyak desainer mode yang bereksperimen dengan kertas untuk menciptakan karya-karya yang memukau, mulai dari pakaian hingga tas.

Tahun 2013, desainer asal Jerman, Jule Waibel membuat 25 gaun kertas yang dipajang di toko fesyen Bershka di beberapa negara seperti London, Paris, Milan, Istanbul, Osaka dan Mexico City. Untuk satu gaun kertas origami itu, dibutuhkan waktu lebih dari 10 jam untuk menyelesaikannya.

Waibel tampaknya memang punya ketertarikan dengan kertas origami. Tidak berbeda dengan gaun yang ia buat untuk Bershka, ia juga pernah membuat gaun yang bisa menyesuaikan bentuk tubuh ketika bergerak. Karyanya ini ia namai “Entfaltung”. Menurutnya, struktur lipatan dalam karya gaunnya itu mencerminkan bagaimana dunia ini terus berubah.

Perhiasan dari Kertas


Di industri fesyen, selain untuk pakaian dan tas, kertas juga digunakan untuk bahan perhiasan seperti gelang, kalung dan cincin. Salah satu desainer perhiasan kertas yang sudah berkarya cukup lama adalah Ana Hagopian. 

Ia merupakan lulusan dari jurusan jurusan Seni Rupa juga Desain Interior dari University of Buenos Aires. Tahun 1994, ia memulai membuat koleksi perhiasan kertas pertamanya.

Pameran perhiasan kertas juga telah beberapa kali diadakan. Tahun 2018, di pameran The Carte Preziose Exhibition, dipamerkan perhiasan kertas dari 24 seniman. Seniman yang berpartisipasi di antaranya Noemi Gera, Michela Boschetto, Zoe Kerame, dan lain-lain. Mereka mengeksplorasi kertas menjadi bentuk perhiasan yang elegan dan tidak terbayangkan.

Seorang sejarawan perhiasan yaitu Bianca Cappello, pernah menulis buku berjudul Precious Paper: Paper Jewellery Design (2018). Baginya, semua aspek dari sebuah perhiasan begitu menarik, mulai dari bahan, teknik pembuatan, fungsi praktis, bentuk dan desain, serta keterampilan artistik hingga aspek antropologis.

Dalam buku tersebut, ia menjabarkan bagaimana kertas telah menggantikan berlian dan emas di bidang perhiasan kontemporer karena fungsinya yang serbaguna. Dalam wawancara khusus dengan Paper Industry World, ia mengatakan bahwa keinginan untuk bicara tentang kertas yang ia tuangkan dalam bukunya merupakan keinginan yang datang secara alamiah.

Pada tahun 2009 ia pernah terlibat dalam pameran perhiasan di Milan. Dari sana, ia merasa ada kisah-kisah lain yang perlu diceritakan, mengenai perhiasan kertas yang berkaitan dengan proses daur ulang kertas serta keberlanjutan pembuatan kertas. Karena itulah, dosen yang  yang mengajar History of Antique Jewellery di IED (European Institute of Design) di Milan, Italia ini memutuskan untuk menulis buku tersebut.

Bahan Bangunan dan Furnitur dari Kertas

Kertas termasuk material yang mudah didaur ulang dan dapat digunakan kembali untuk fungsi yang tak terbatas. Walau kita tahu, kertas punya usia yang pendek dan kualitasnya terus menurun. Akan tetapi, kertas juga bisa berumur lebih panjang, terutama ketika dia menjadi material pendukung yang menyusun sebuah bangunan.

Seorang desainer yang tinggal di Belanda bernama WooJai Lee membuat batu bata yang terbuat dari kertas atau yang disebut “PaperBricks”. Ide ini datang ketika ia menyadari betapa sangat banyaknya sampah kertas, terutama koran.

Proses yang dilakukan untuk membuat batu bata ini adalah dengan mengubah koran menjadi bubur kertas terlebih dulu. Bubur kertas tersebut kemudian dikombinasikan dengan lem kayu dan dicetak menjadi bentuk yang tepat. Hasilnya, batu bata kertas ini memiliki tampilan seperti marmer, daya sekuat batu bata asli, dan tekstur yang lembut seperti tekstil.

Ia pun mengembangkan contoh bagaimana bata ini bisa berfungsi. Ia membuat furnitur dengan metode yang sama dan ia menyebutnya “PaperBrick Pallets”, yang berupa dua coffee table dan bench. Karyanya ini dipamerkan di Dutch Design Week pada tahun 2016. Ia juga berencana untuk membuat lebih banyak furnitur lagi dari kertas.


Selain Lee, desainer lain yang juga pernah membuat furnitur fungsional dari kertas adalah Jasna Sokolovic dan Noel O'Connell dari studio kreatif Dear Human yang berbasis di Montreal, Kanada. Mereka membuat beragam furnitur mulai dari bangku, meja, kubah lampu, hingga ubin yang mereka namai “Paperscapes”. Mereka menggunakan kertas daur ulang yang berasal dari situs limbah industri lokal dan merekayasa kertas menjadi bahan yang seperti tanah liat.

Sementara itu, perusahaan yang berbasis di Amerika Serikat bernama BetR-Block yang didirikan oleh Chris Frettoloso dan Barry Fuller juga telah mengembangkan batu bata yang terbuat dari kertas dan dapat digunakan dalam konstruksi bangunan. Mereka menguji daya tahan, efektivitas serta keamanan batu bata ini dengan membuat rumah pertama yang mereka bangun dan disebut “Paper Palace One”.

Rumah tersebut dibuat menggunakan lebih dari 2.000 batu bata. Batu bata tersebut terdiri dari berbagai kombinasi kertas daur ulang dan bahan limbah termasuk tanah liat, pecahan kaca, dan kardus. Mereka menemukan bahwa material batu bata kertas tersebut punya daya mengisolasi dua kali lebih baik dari bahan bangunan konvensional serta tahan air, api dan rayap. 

Dari segi biaya tentunya juga lebih murah. Bahkan bisa menghemat 12 - 15 persen dibanding bahan konstruksi lainnya.

Arsitektur Origami

Jika di atas kita telah melihat bagaimana kertas menjadi penyusun bahan baku untuk bangunan, kini kita melihat konsep kreativitas dari kertas yang menjadi inspirasi dalam karya arsitektur. 

Contohnya, seni melipat kertas yang disebut origami. Origami tidak hanya menjadi inspirasi di industri fesyen seperti yang gaun yang dibuat oleh Jule Waibel, tapi tentunya juga arsitektur.

Anda pernah melihat bangunan-bangunan yang bentuknya seperti lipatan kertas origami? Ya, di dunia ini banyak sekali bangunan yang dibangun dengan gaya seperti ini. Di Indonesia, salah satu contoh yang bisa dilihat adalah masjid Al-Safar di Jawa Barat yang dirancang oleh Ridwan Kamil. 

Beberapa waktu lalu di berbagai media, ia menjelaskan tentang desain masjid tersebut yang ia katakan merupakan hasil riset dari Folding Architecture yang hasilnya seperti origami.

Arsitektur origami bagi saya tidak hanya memperlihatkan perkembangan desain dari arsitektur dalam hal bentuk semata, tapi lebih dari itu. 

Dalam tiap-tiap lipatan tersebut mencipta ruang-ruang baru, yang bersekat sekaligus menyatu, yang menyudut sekaligus merongga. Yang merekat sekaligus merenggang. Terikat sekaligus terlepas. Meringkas sekaligus meluaskan. Sederhana sekaligus rumit. Lipatan-lipatan yang menghasilkan banyak belokan; saling menghubungkan, bukan untuk saling meniadakan.

Origami dengan pola-pola yang serupa seolah mencerminkan pengulangan dan juga perubahan. Ada bentuk-bentuk yang mengarah pada bentuk asal. Ada garis-garis yang berujung pada titik awal. 

Seperti cerita tentang dunia yang penuh repetisi tapi juga tidak tertebak. Yang kadang statis tapi juga senantiasa dinamis. Dalam arsitektur, origami yang tampak punya garis-garis tegas nan kaku, menjadi punya keluwesan, setidaknya dalam interpretasi penikmatnya.

Kertas dan Dunia Imajinasi yang Tidak Berhingga


Kertas bukan sekadar tempat menulis, atau pembungkus makanan yang mungkin nilainya tak seberapa. Melalui imajinasi manusia, kertas bisa bertransformasi menjadi beraneka bentuk dan fungsi yang tak terbayangkan. Mulai dari yang sekadar indah dipandang mata, hingga yang bernilai jual tinggi.

Tulisan ini hanya menuangkan sedikit dari peran kertas di industri kreatif fesyen dan arsitektur. Bahkan, ini hanya merangkum sebagian kecil dari begitu banyaknya contoh kertas yang telah menjelma beragam benda baru.

Kertas tidak selalu berarti sesuatu yang usang tertinggal zaman. Ia justru akan terus relevan sesuai perkembangan zaman. Menarik melihat bagaimana kertas bisa punya peranan lebih dalam arsitektur dan mode selain sebagai medium untuk menorehkan gambaran desain dan rancangan. 

Kertas bukan hanya menjadi medium perekam dan pencatat ide, tapi bahkan bisa menjadi material serta inspirasi utama yang menopang gagasan para desainer dan arsitek.

Melihat bagaimana tidak terkiranya wujud transformasi kertas, maka sudah sejatinya kita menyadari betapa berharganya kertas dan betapa penting untuk mendaur ulangnya. Karena hasil daur ulang kertas, tidak melulu hanya sekadar melahirkan kertas baru saja.

Kertas tidak selalu identik dengan hal-hal yang tradisional dan konvensional. Kertas bukan hanya sekadar penyusun buku tulis, majalah, atau koran yang perannya sudah banyak tergilas teknologi. Dengan sedikit imajinasi, kertas bisa berubah bentuk menjadi sesuatu yang sangat modern; bahkan futuristik.

Sumber foto: lostinjewels.com, dezeen.com, dan design-milk.com

Referensi

Artikel Terkait