Pandemi COVID-19 varian Delta yang mencapai puncaknya pada bulan Juli-Agustus 2021 menyisakan banyak duka dan air mata. Saya sempat terseret ke dalam pusaran tersebut. Tegak diagnosa dengan hasil tes swab positif dengan gejala ringan sebenarnya disarankan untuk bisa isolasi mandiri. Tetapi kondisi suami yang meminta rawat inap membuat kami pergi ke RSUD dan melihat berbagai macam kejadian yang membuat mental semakin drop down. 

Peristiwa demi peristiwa terekam dalam alam bawah sadar saya. Membuat saya tidak bisa tidur berhari-hari selama di rumah sehat dan berlanjut saat isolasi mandiri. Saya menjadi murung, tidak mindful dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Pikiran saya sakit. Saya yakin hal ini juga dialami sebagian besar "alumni" covid. Ketakutan, keadaan mencekam, kematian orang-orang yang dikenal, merasakan dunia kiamat.

Saya menjadi paranoid melihat berita di tv, membaca grup wa, mendengar raungan sirine ataupun siaran megaphone RW setempat. Saya putus asa tetapi tidak tahu harus bagaimana. Hari-hari saya lalui dengan begitu panjang dan melelahkan. Apalagi saat matahari terbenam, pikiran saya seketika berubah kelam. Perjuangan melawan diri sendiri memang perang yang paling berat. Saya butuh pertolongan tapi pada siapa saya mengadu, saya tidak tahu.

Dzikir dan shalat tak cukup menjadi obat. Berbagai macam doapun tak luput saya baca dan rapal. Hati dan jiwa ini masih saja tak tenang. Ditambah dengan kepribadian introvert, saya susah mengungkapkan perasaan dengan berbicara. Pikiran negatif yang tertumpuk menjadi sampah, menggerogoti jiwa saya perlahan tapi pasti.

Tidur sebentar dan gelisah. Mimpi buruk tentang ambulance, isak tangis orang berduka, datang hampir setiap saya memejamkan mata. Rasanya ingin menangis dan berteriak tetapi saya tahan, saya harus kuat, sugesti saya berkali-kali.

Salah satu usaha instan saya adalah mencoba mengonsumsi obat tidur. Berbagai macam merk saya tenggak, baik herbal, resep dokter maupun suplemen makanan. Tetap saja nihil, tak berbuah hasil.

Suatu malam saya tertidur dan bermimpi tentang mantan saya. Terbangun tengah malam dan menganggapnya bunga tidur semata dan mencoba melupakannya. Saya mencoba kembali tidur. Anehnya, saya memimpikan orang yang sama lagi. Dua kali. Dia, yang namanya tak boleh disebut. Saya merasa janggal dan terganggu.

Dengan pergulatan batin luar biasa, tanpa ijin, saya mencoba menghubungi mantan saya yang nomornya sudah saya blok itu. Tentang dia, ibarat file yg sudah dihapus, recycle bin saya sudah empty. Delete permanent. Sebagai seorang istri, yang saya lakukan tentu saja salah. Waktu itu dalam keadaan putus asa, tak ada pertimbangan panjang. Mencoba tidur berbagai cara tak berhasil, siapa tau mantan saya punya amalan tertentu. Dia memang terobsesi dengan ilmu kebatinan sejak dulu.

Seperti bisa diduga, sarannya hanya abang-abang lambe alias klise. Saya blok lagi dan hapus percakapannya, betapa bodoh dan konyolnya perbuatan saya. Saya jadi manusia brengsek yang menyakiti hati suami saya. Saya berdalih, toh tidak ada niat selingkuh. Tetap saja hal tersebut memicu konflik dalam rumah tangga kami. Saya berdosa besar.

Saya mengadukan masalah insomnia ini kepada bapak mertua, yang kebetulan juga punya ilmu kebatinan. Sebagai saran awal, beliau menyuruh untuk nyekar ke makam almarhumah ibu mertua. Siapa tau kesandingan karena memang sejak pandemi kami jarang nyekar. 

Dengan penglihatan mata bathin bapak, tidak ada makhluk halus di sekitar saya. Entah kalau ilmu kebatinan lain, begitu tutur beliau. Hati saya langsung mak deg. Siapa lagi pelakunya kalau bukan dia yang sebelumnya hadir dalam mimpi.

Seumur hidup, baru pertama kali saya mengalami ini. Saya hanya orang biasa, tidak punya indra keenam juga tidak tertarik untuk mendalami dunia lain dan sejenisnya. Menurut saya ini bukan takhayul karena keberadaan makhluk halus harus diimani. 

Mereka yang bisa "melihat" adalah yang dianugerahi makrifat atau yang dengan sengaja mempelajari ilmu tertentu untuk membuka mata bathin. Untuk masalah saya, tentu membutuhkan pertolongan "orang pinter", yang lebih paham tentang masalah demikian. Dan saya pikir bapak mertua bisa mengatasi, walau ternyata beliau belum mumpuni.

Selama 2 minggu, saya masih tetap berkutat pada masalah yang sama. Yang ajaibnya walaupun tak tidur, saya tak mengeluh pusing atau merasa lemes. Tak ada rasa kantuk sama sekali. Berat badan saya turun drastis, padahal nafsu makan saya normal. Aneh, tapi nyata.

Satu sisi saya bersemangat untuk sembuh. Untuk mengalihkan pikiran, mulailah saya menyibukkan diri. Kali ini dengan mindful, mulai dari olahraga senam zumba korea, berkebun, melakukan pekerjaan rumah, mengasuh anak, dll. Saya juga mulai  mempelajari meditasi dengan teknik nafas, hypnosleep, afirmasi positif, dll. Tetapi tetap tak kunjung terlelap seperti yang saya harap.

Melihat keadaan saya, mama jatuh iba. Dibawanya saya ke pak ustad yang selama ini menjadi penasihat spiritual beliau. Dibawakanlah saya air doa. Tetap saja, mata saya terbuka sepanjang malam. 

"Konsultasi" sebagai salah satu jalan ikhtiar saya berlanjut karena "yang membidik" saya terus naik level. Selama kurun waktu kurang lebih sebulan, kami bertahan dengan serangan "kiriman" penyakit ghaib yang saya alami. Saya melakukan selamatan jenang (sandingan) yang tujuannya untuk mendoakan sedulur papat kelimo pancer kakang kawah adhi ari-ari. 

Menurut kepercayaan Jawa yang dibawa oleh Sunan Kalijaga, keberadaan kita di dunia ini didampingi oleh saudara empat, untuk melindungi kita. Empat saudara lima pancer itu antara lain air ketuban (kakang kawah), plasenta (adhi ari-ari), getih (darah), puser (tali pusat), dan diri sendiri (pancer).

Dahulu, para leluhur selalu melakukan selamatan ini setiap hari kelahiran, atau untuk mendoakan putranya yang sedang merantau. Sekarang ini sudah jarang dilakukan karena modernisasi dan menganggap ritual tersebut perbuatan musyrik. 

Sebagai puncak dari segala upaya, maka pak ustad menyarankan untuk menyembelih ayam hitam sebagai tumbal untuk penolak ilmu hitam. Hal ini menandakan yang dilakukan terhadap saya sudah keterlaluan. Kalau misal si pengirim masih tetep ngeyel, maka apa yang dikirim nanti insyaallah akan kembali kepadanya, wallahua'lam bissshowab.

Ada perasaan lega dan sekaligus cemas berharap semoga ujian ini segera berlalu. Awalnya saya berpikir betapa tega dan jahat perbuatannya terhadap saya. Tetapi, semua yang telah terjadi adalah atas ijinNya. Urusan saya hanyalah sebatas mengoreksi sikap dan pemahaman saya yang salah selama ini tentang hikmah.

Trauma psikologi berkepanjangan juga membuat saya lebih sadar diri untuk mengelola overthinking dan pemicunya. Lebih nggak grasa grusu lagi. Sehat secara holistik, lahir maupun bathin, mental dan spiritual bisa diupayakan maksimal jika kita menjadi pribadi yang terus memperbaiki diri menuju insan kamil yang rahmatan lil alamin.