ex-Policy Maker
2 bulan lalu · 201 view · 10 min baca menit baca · Ekonomi 75282_62637.jpg
Teknologi Blockchain

Inovasi Teknologi Blockchain sebagai Masa Depan Industri Kertas dan Logistik

Studi Kasus APP Sinarmas Sustainability Roadmap Vision 2020

Teringat jelas pertama kali perjumpaan penulis dengan serial komedi Amerika Serikat “Dundler Mifflin” pada tahun 2011. Salah satu kutipan yang penulis ingat adalah milik Michael Scott yang diperankan Steve Carell: 

“Would I rather be feared or loved? Easy. Both. I want people to be afraid of how much they love me.”

Lucunya, serial drama ini menggambarkan bagaimana masyarakat kelas pekerja di Amerika Serikat berinteraksi satu sama lain di sebuah perusahaan penjualan kertas bernama Dundler Mifflin Scranton, Pennsylvania. 

Kutipan dari Scott di atas jika dipikir-pikir justru menggambarkan industri kertas Amerika Serikat yang serba salah: ditinggalkan konsumen sekaligus juga dirindukan.

Fenomena Industri Kertas Dunia

Industri kertas di Amerika Serikat jelas sedang mengalami tahap saturasi sekarang dimana konsumen sangat sensitif dengan harga, dan inovasi menjadi semakin langka. Pada tahun 2019, terdapat trend penurunan industri kertas di negara Paman Sam sebanyak 4.9% lebih rendah dari tahun sebelumnya, yang berdampak dengan dipecatnya sekitar 54.000 orang pekerja[1].  

Hal ini juga diperparah dengan kebutuhan kertas pasar dalam negeri yang semakin tergusur oleh budaya paperless yang digaungkan oleh masyarakatnya sendiri. Untuk kebutuhan sehari-hari yang terkait dengan literasi seperti pencatatan atau akademik, mereka sedapat mungkin memanfaatkan alat elektronik seperti tablet elektronik atau handphone

Namun, di sisi lain terjadi kebangkitan dalam industri kemasan barang. Perihal bungkus-membungkus, plastik menjadi musuh yang lebih ditakuti daripada kertas. Hal ini tercermin dari web blog Asia Pulp & Paper (APP) Sinarmas tanggal 24 Januari 2019 berjudul 2018 Paper & Packaging Consumer Trends Report[2] yang menunjukkan 65% dari sampling penduduk Amerika Serikat menganggap aspek sustainability dari kemasan makanan lebih penting dibandingkan hal yang sama 5 tahun lalu. 

Masih dari data yang sama, 64% responden mengindikasikan mereka cenderung menggunakan bahan ramah lingkungan sebagai pembungkus dan 55% nya bahkan bersedia membayar lebih untuk bahan ramah lingkungan tersebut. 

Data-data di atas menunjukkan bahwa memang terdapat prospek yang sangat cerah pada industri kertas. Yang ada pada market bukanlah penurunan tetapi pergeseran cita rasa. Kertas yang semula banyak dibuat menjadi buku bergeser ke horizon pasar yang lebih menguntungkan yaitu: industri kemasan

Opini penulis ini diperkuat oleh laporan terbaru dari www.environtmentalpaper.org yang membuka fakta bahwa konsumsi kertas dunia didominasi oleh kebutuhan akan kemasan sebanyak 55% dari total volume hampir 400 juta ton per tahun[3]

Dengan demikian, kesimpulan sementara adalah dibutuhkan inovasi terhadap produk kertas agar dapat memenuhi kebutuhan konsumsi dunia akan kemasan yang lebih eco-friendly sekaligus efektif. Grafik di bawah adalah ilustrasi dari argumen.

APP Sinarmas dan Sustainability Roadmap Vision 2020

Beruntung Indonesia punya Asian Pulp & Paper (APP) Group, sebuah perusahaan kertas skala internasional yang memahami pentingnya keberlangsungan lingkungan hidup. Melalui inisiatif Sustainability Roadmap 2020, APP Sinarmas telah memenuhi hampir seluruh target di bidang kehutanan (Forestry) dan pabrik pengolahan (Mills). 

Kesuksesan dari pengimplementasian roadmap ini melahirkan upaya tindak lanjut yaitu Forest Conversation Policy yang bertujuan mengeliminasi semua bahan baku kertas yang diambil dari hutan alam pada tahun 2020. 

Dari pelaporan terakhir tahun 2019, inisiatif terbaru ini telah memenuhi komitmennya untuk menyuplai bahan baku 100% hanya dari hutan buatan bersertifikasi milik perusahaan dan tidak lagi menerima bahan baku dari hutan alam[4]

Bagi penulis, prestasi tersebut diatas sangat penting karena tidak hanya menegaskan komitmen perusahaan terhadap lingkungan tetapi juga ada aspek bisnis yang bisa dikembangkan lebih lanjut dalam mengikuti trend industri kertas dunia yang bergeser ke industri kemasan. Penulis berasumsi APP Sinarmas mampu mengkontrol kualitas dan kuantitas dari bahan baku yang nantinya dapat digunakan untuk mengembangkan industri kemasan.

Kebangkitan Industri Kemasan dan Logistik

Seperti telah disebutkan di atas, demand kertas dan produk turunannya tidaklah berkurang melainkan hanya bergeser (shifting). Cita rasa masyarakat dipengaruhi oleh semakin dewasanya cara pandang terhadap kertas sehingga seolah – olah masyarakat meninggalkan kertas dan beralih ke alat elektronik. 

Kenyataanya, inovasi teknologi membuat bisnis kertas menjadi primadona karena kemampuannya melakukan diversifikasi produk sebagai contoh dalam bisnis e-commerce.

Di dalam dunia ­e-commerce kita menjumpai perusahaan raksasa Amazon dan Alibaba dengan skala internasional, dan juga Tokopedia dan Bukalapak yang berskala nasional. Perusahaan – perusahaan ini mempunyai porsi market share yang signifikan. 

Misalnya Amazon yang mempunyai market share 49% terhadap USD 258 milyar pasar e-commerce di Amerika Serikat atau juga Alibaba dengan porsi 58.2% dari USD 192 milyar pasar belanja online di China[5]

Dalam negeri juga punya juara lokal seperti Tokopedia dan Bukalapak yang mendominasi USD 11 milyar keseluruhan belanja online[6]. Kedigdayaan e-commerce ini memang kritikal karena “mengganggu” industri belanja tradisional yang memerlukan perantara (middleman) seperti pasar fisik. 

Ciri khas disruptive yang menonjol adalah peranan teknologi yang memangkas perantara dan ongkosnya sehingga penjual dan pembeli dipertemukan langsung dalam platform online yang hemat biaya. Padahal, perantara ini tidaklah benar-benar hilang, fungsinya digantikan oleh perusahan logistik

Kita tentu masih ingat ketika industri logistik dan pengangkutan yang hampir mati suri tetapi kembali mekar ketika masyarakat mengalihkan seleranya untuk belanja online.

Langkah nyata mendorong tumbuhnya usaha logistik dimulai oleh Amazon melalui inisiatif Amazon Delivery Business. Amazon memberikan bantuan modal sebesar $300.000 kepada siapa saja pengusaha kecil yang mau merintis bisnis logistik. 

Hal ini dilakukan karena Amazon ingin memenuhi standar kualitas service-nya, termasuk di dalamnya pelayanan kemasan dimana hampir semua kemasan kertas dari barang yang dibeli via Amazon sama kualitasnya. 

Dengan perumpamaan volume transaksi Amazon yang mencapai jutaan dalam sehari, pasti dibutuhkan kotak kemasan yang banyak. Dari sini kita bisa melihat peluang industri kemasan yang timbul hanya dari bisnis belanja online. Indonesia pun memiliki gelagat serupa.

Indonesia yang mempunyai penduduk terbesar ke empat di dunia adalah pasar yang sangat menggiurkan untuk tumbuhnya industri logistik sebagai konsekuensi populernya e-commerce. Konsultan internasional McKinsey memperkirakan bahwa e-commerce di Indonesia akan tumbuh menjadi USD 65 milyar pada tahun 2022 dan berdampak pada terciptanya 26 juta lapangan kerja baru atau sekitar 20% dari total lapangan kerja[7]. 

Fakta ini seharusnya membuka mata kita bahwa peluang industri kemasan barang (corrugated/kardus) dan bisnis logistik di Indonesia sangat terbuka lebar.

Teknologi Blockchain dalam Kemasan Berbahan Kertas

Jauh dari pemberitaan bukan berarti inovasi produk industri kertas tidak ada. Inovasi kertas membutuhkan waktu yang lebih panjang sebelum diterapkan dalam real business environtment

Padahal industri kertas sekarang dalam posisi yang hampir genting karena menurunnya inovasi, isu lingkungan, dan perubahan pola konsumsi masyarakat. Berkaitan dengan hal tersebut, penulis mendapatkan sebuah solusi untuk mengefisienkan kebutuhan bahan baku kertas, sekaligus memenuhi kebutuhan masyarakat akan produk kemasan berbahan kertas yang menggantikan plastik. Solusi itu adalah kombinasi teknologi blockchain dan kertas elektronik dalam bisnis logistik.

Teknologi Blockchain pertama kali diperkenalkan oleh sebuah nama pseudonym Satoshi Nakamoto, yang tidak diketahui keberadaannya sampai sekarang. Asal mula teknik blockchain digunakan ketika cryptocurrency diperkenalkan sebagai alternatif mata uang konvensional yang diterbitkan oleh Bank Sentral di dunia. 

Ide dari blockchain ini adalah distribusi nilai suatu produk non fisik pada jaringan produk itu sendiri yang dikunci dengan enkripsi rumit dan terikat satu sama lain. Blockchain memungkinkan pencatatan nilai suatu benda juga tercatat pada benda lainnya sehingga tidak diperlukan suatu induk data seperti layaknya server komputer[8]. 

Dengan demikian, jika nilai suatu benda berubah atau dipaksa berubah maka perubahan itu harus terjadi atau harus dipaksa terjadi pada setiap benda lainnya pada jaringan. Penerapan blockchain di bidang lainnya seperti bisnis digital file sharing. Dalam bisnis itu, blockchain dapat digunakan dalam aplikasi apapun seperti streaming musik dan film online, kantor dunia maya seperti Google Docs dan Microsoft 365, atau perusahaan penyedia jasa Data Analytics/Business Analytics. Lalu bagaimana dengan industri kertas?

Permasalah kritikal dari produk berbahan baku kertas adalah bagaimana mengetahui ketepatan prediksi permintaan konsumen. Jika permintaan konsumen dapat diprediksi, maka perusahaan dapat memperkirakan jumlah bahan baku yang tepat serta strategi apa yang digunakan untuk mendistribusikan produk untuk sampai ke tangan konsumen. 

Solusinya, teknik blockchain dapat diterapkan pada produk kemasan kertas yang dipasangi chip RFID. Kertas yang digunakan pun dibuat dari bahan yang dapat difungsikan sebagai electronic board sebagai contoh hasil penemuan dari  InnPaper[9]

Namun, jangan bayangkan produk berbahan kertas ini layaknya alat elektronik umumnya. Konsumen tidak akan merasa ada perbedaan secara fisik antara kemasan kertas biasa dengan kemasan kertas berkemampuan elektronik. Berikut ilustrasi kemasan kertas penemuan InnPaper yang berfungsi sebagai electronic board.

Secara ringkas cara kerja teknik blockchain kemasan kertas dalam sirkulasi logistik sampainya barang ke konsumen adalah sebagai berikut. Pertama-tama konsumen membeli barang secara online. Barang tersebut dibungkus dengan kemasan kertas yang telah dipasangkan chip RFID. 

Chip ini akan berfungsi mencatat setiap aktifitas yang terjadi seperti perpindahan antar gudang, jenis kendaraan pengangkut barang, perpindahan dari pembeli ke kendaraan pengantar barang, dan perpindahan dari pengantar barang ke tangan konsumen. Setiap aktifitas yang dilakukan mempunyai time stamp yang mengukur seberapa lama sebuah produk kemasan berdiam di suatu pos (produsen, transporter, atau konsumen). 

Data yang tersimpan dalam memori produk ditransfer ketika perangkat RFID melewati pos pemeriksaan seperti kendaraan pengangkut, gudang penyimpan sementara, dan petugas pengantar. Alat perekam data pada pos pemeriksaan juga dapat secara real-time menyimpan seluruh data dari chip ketika keduanya berinteraksi. 

Dengan demikian, ketika suatu barang sampai ke tangan konsumen, jaringan alat perekam data pada pos-pos pemeriksaan dan chip yang tertanam berhasil menyimpan keterangan berupa lamanya waktu dan informasi pelaku yang menjalankan aktifitas. 

Pada tahap akhir, konsumen mengembalikan kemasan kertas kepada petugas atau unit logistik lainnya dan kembali time stamp yang ada pada chip diupdate sesuai waktu terbaru. Jika konsumen tidak mengembalikan kemasan, maka sampai waktu tertentu data pada pos pemeriksaan akan diupdate otomatis dengan asumsi kemasan kertas tidak akan didaur ulang lagi. Berikut gambar ilustrasi perjalanan kemasan kertas ber-RFID didalam jaringan distribusi blockchain logistik.

Dari gambaran di atas, teknik blockchain dapat bekerja optimal pada industri logistik dengan produk kemasan berbahan dasar kertas sebab distribusi data tersebar pada jaringan. Proses itu tidak memerlukan komputer server induk sama sekali karena data terdesentralisasi ke berbagai tempat dan sulit untuk dimodifikasi secara individual. 

Keuntungan lain dari teknik ini adalah kemasan kertas tidak memerlukan koneksi internet untuk menyimpan data, dan jika seseorang berhasil mengubah data pada kemasan maka time stamp nya akan sangat berbeda dengan data pada pos pemeriksaan karena enkripsi yang ketat. Informasi yang disimpan oleh teknik blockchain akan sangat berguna dalam memprediksi tingkah laku bisnis dan operasional.

Manfaat Teknik Blockchain dalam Prediksi Bisnis

Masuknya teknologi blockchain dalam kemasan ber-RFID akan menguntungkan perusahaan kertas dan juga perusahaan logistik. Keuntungan tersebut didapat dari kemampuan memanen data dengan tingkat akurasi sampai dengan 99%. Data berupa informasi pergerakan individual tiap kemasan akan memudahkan pengambil keputusan untuk menentukan sikap dan strategi.

Sebagai contoh pertama adalah benefit dari Just In Time (JIT) inventory. JIT yang pertama kali dipopulerkan oleh Toyota pada prinsipnya menyamakan quantitas permintaan dengan produksi sehingga tidak ada limbah bahan baku yang terbuang. 

Dengan kualitas data dari teknik blockchain yang optimal dalam memprediksi jumlah demand konsumen, Pengambil keputusan seperti manajer operasional dan supply chain akan mudah memprediksi jumlah pasti bahan baku kertas yang dibutuhkan. 

Hal ini penting karena APP Sinarmas mempunyai hutan produksi yang mesti menyuplai bahan baku berkesinambungan dalam koridor Roadmap Sustainability 2020. Limbah bahan baku yang tidak perlu adalah kerugian waktu dan biaya produksi yang sangat besar karena bahan baku kayu memerlukan waktu yang lama untuk tumbuh di alam.

Benefit kedua bagi manajer marketing dan product manager dalam menentukan strategi bisnis. Kedua peran ini memanfaatkan data blockchain untuk menyasar konsumen dengan trik marketing yang tepat. Lamanya suatu produk sampai ke tangan konsumen dapat digunakan untuk menebak strategi marketing jitu demi merangsang perusahaan e-commerce menggunakan packaging kertas lebih banyak. 

Product manager memanfaatkan data untuk membuat produk yang tepat bagi konsumen. APP Sinarmas dapat mengembangkan produk turunan dari yang tiga jenis yang telah ada seperti Brown Grade, White Grade, dan Food Packaging. Pengembangan produk juga dapat dilakukan melalui modifikasi fitur daya tahan produk atas dasar data lamanya kemasan sampai ke konsumen. 

Keuntungan terakhir adalah berkembangnya sharing economy. Inilah adalah konsep baru dimana teknik blockchain merangsang konsumen untuk mengembalikan kemasan kertas ber-chip. Kemasan ini dapat digunakan kembali sehingga sumber daya yang ada dapat dimaksimalkan. 

Konsep inilah yang diharapkan karena konsumen berbagi manfaat suatu produk sampai dengan habis daya gunanya. Semakin lama suatu produk dimanfaatkan, informasi time-stamp yang tersimpan juga semakin kaya. Informasi ini yang nantinya membantu product manager untuk merancang daya tahan kemasan kertas.

Sebagai kesimpulan, teknologi blockchain dapat digunakan sebagai solusi holistik untuk inovasi produk industri kertas. Selain minim biaya transaksional, teknologi blockchain mampu menjaga akurasi data. Informasi dari data ini sangat bermanfaat untuk menentukan strategi bisnis perusahaan kertas di masa yang akan datang.

Referensi:

[1] https://www.ibisworld.com/industry-trends/market-research-reports/manufacturing/paper/paper-mills.html

[2] https://www.asiapulppaper.com/news-media/blog/2018-paper-packaging-consumer-trends-report

[3]https://environmentalpaper.org/wp-content/uploads/2018/04/StateOfTheGlobalPaperIndustry2018_FullReport-Final-1.pdf

[4] https://www.asiapulppaper.com/system/files/fcp_february_2019.pdf

[5]https://techcrunch.com/2018/07/13/amazons-share-of-the-us-e-commerce-market-is-now-49-or-5-of-all-retail-spend/

[6] https://katadata.co.id/berita/2018/10/22/tokopedia-dan-bukalapak-dominasi-pasar-e-commerce-indonesia

[7]https://www.mckinsey.com/featured-insights/asia-pacific/the-digital-archipelago-how-online-commerce-is-driving-indonesias-economic-development

[8] https://blockgeeks.com/guides/what-is-blockchain-technology/

[9] http://innpaper.eu/wp-content/uploads/2018/06/INNPAPERInfographics.pdf

Artikel Terkait