A. Latar Belakang

Kata 'kertas' berasal dari kata papyrus (bahasa Yunani Kuno) untuk menyebut tanaman Cyperus Papyrus. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kertas adalah barang lembaran dibuat dari bubur rumput, jerami, kayu, dan sebagainya yang biasa ditulisi atau dijadikan pembungkus dan sebagainya.

Dalam sejarahnya, kertas mengalami perkembangan yang sangat signifikan, sehingga memiliki kegunaan yang beranekaragam. Penggunaan papirus sebagai media tulis menulis ini digunakan pada peradaban Mesir Kuno pada masa Wangsa Firaun kemudian menyebar ke seluruh Timur Tengah sampai Romawi di Laut Tengah dan menyebar ke bagian Eropa.

Dari kata papirus  itulah dikenal sebagai paper dalam bahasa Inggris yang berarti kertas. Pada masa Tsai Lun, dia menemukan kertas dari bahan bambu yang mudah didapat di kawasan China pada tahun 101 Masehi. Selanjutnya kertas mulai berkembang dan dikenal diberbagai wilayah.

Eksistensi kertas masih dirasakan sampai sekarang, kertas sangat bermanfaat untuk keperluan manusia seperti untuk menulis, pembungkus, pembuatan karya seni, dan lain lain. Seiring berkembangnya zaman, kebutuhan akan kertas juga semakin meningkat. Ironisnya, kertas yang terbuat dari pulp pohon ini mengakibatkan pohon ditebang setiap tahunnya.

Menurut Prof. Dr. Sudjarwadi, 1 rim kertas setara dengan 1 pohon berumur 5 tahun. Maka dari itu penulis memiliki ide untuk membuat kertas dengan menggunakan bahan-bahan alternatif berupa sabut kelapa, sehingga kertas tetap dapat memberikan manfaatnya bagi masyarakat. Selain itu juga untuk melindungi dan melestarikan alam.

Dengan pembuatan kertas dari sabut kelapa ini diharapkan, penebangan pohon dapat berkurang, dan juga untuk menambah nilai jual serta nilai guna dari sabut kelapa sendiri, sehingga industri kertas dapat terus berjalan tanpa merusak alam dan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

B. Peran Kertas dalam Peradaban Indonesia

Kertas memberikan banyak manfaat bagi kehidupan kita saat ini. Bahkan kertas memiliki peran yang sangat berguna dari zaman dahulu. Kertas yang kita kenal sekarang tidak serta merta lahir begitu saja seperti sekarang.

Sejarah mencatat bahwa pada masa awal abad kedua Masehi, seorang yang bernama Tsai Lun menemukan kayu yang mampu dijadikan mata uang kertas setelah koin. Ini membuktikan kertas memegang peranan penting bagi kegiatan ekonomi pada saat itu. Bahkan, eksistensi kertas sebagai alat tukar juga masih dirasakan dunia hingga sekarang.

Setelah peradaban China yang menyumbangkan kertas sebagai media tulis, banyak bangsa-bangsa besar diluar China akhirnya juga menggunakan kertas sebagai media tulis. Mereka menceritakan peristiwa dimasa itu dengan menggunakan kertas, walaupun kita tahu bahwa bentuk kertas dahulu tidak semodern dibandingkan sekarang.

Dengan adanya kertas, kita bisa tahu tentang kejadian-kejadian yang terjadi pada masa lalu. Hal ini menggambarkan betapa pentingnya peranan kertas dalam sejarah manusia.

Di tanah air kita sendiri, penggunaan kertas dimulai sejak zaman Kerajaan Sriwijaya, dimana kertas dimanfaatkan sebagai media untuk menuliskan ajaran - ajaran Buddha oleh para biksu. Penggunaannya sendiri menggantikan benda - benda seperti prasasti, batu yang dijadikan media untuk menuliskan kisah masa lalu.

Dari pemaparan diatas dapat dilihat bahwa kertas memiliki peranan yang penting untuk media tulis. Walaupun peranan kertas selalu bermetamorfosa dari setiap zaman, namun kertas tetap berpengaruh besar dalam peradaban sejarah.

C. Kertas di Era Globalisasi dan Modernisasi 

Peranan kertas pada masa awal kemunculannya, sungguh berbeda dengan peranannya pada masa sekarang ini. Kertas yang dahulunya hanya menjadi media menulis, kini digunakan untuk berbagai hal. Walaupun demikian, kertas tetap digunakan untuk media menulis.

Peranan kertas pada era globalisasi ini diantaranya: alat tukar, media menulis, media menyampaikan berita berupa koran, majalah, media manusia untuk berekspresi mengungkapkan karyanya, pembungkus makanan, bahan pembuatan karya seni seperti origami, dan masih banyak yang lainnya. Itu adalah berbagai macam manfaat yang kita dapatkan dari adanya kertas.

Namun sayangnya, pada era globalisasi ini penggunaan kertas sebagai media tulis mulai digantikan dengan teknologi yang lebih canggih. Contoh konkretnya yaitu anak-anak muda pada zaman sekarang lebih memilih menuangkan ide dan gagasannya di dalam komputer, dibanding menuliskannya di selembar kertas.

Contoh lainnya, di zaman digital sekarang ini banyak orang yang menggunakan smartphone, tablet, maupun laptop untuk membuat catatan sekolah. Bahkan kita hanya memfoto alias memotret catatan guru di papan tulis dengan menggunakan smartphone. Seakan - akan menulis diatas kertas sudah dianggap kuno.

Walaupun hal tersebut berdampak baik untuk lingkungan, karena dengan memfoto penggunaan kertas akan berkurang, sehingga banyak pohon diselamatkan. Namun perlu diingat, bahwa masih banyak orang yang menggunakan kertas sebagai media untuk menulis. Mengapa demikian? Sebuah research dilakukan oleh dua orang ilmuwan Psikologi, Pam Mueller dari Princeton University dan Dabiel Oppenheimer dari University of California Los Angeles.

Mereka membuktikan bahwa menulis dengan menggunakan kertas dan pena mampu meningkatkan memori dan kemampuan untuk mempertahankan dan memahami konsep - konsep pelajaran. Studi lain yang dilakukan oleh Intech menyebutkan bahwa menulis dengan tangan membuat otak menjadi lebih sehat. Pasalnya, gerakan yang terlibat ketika menulis tangan dapat membantu otak mengenali huruf, dan membuat otak bekerja menjadi lebih efektif.

D. Pelestarian Alam dengan Menggunakan Kertas

Berdasarkan catatan Kementrian Kehutanan Republik Indonesia, sedikitnya 1,1 juta hektar atau 2% dari hutan Indonesia menyusut tiap tahunnya. Data Kementerian Kehutanan menyebutkan dari sekitar 130 juta hektar hutan yang tersisa di Indonesia, 42 juta hektar diantaranya sudah habis ditebang.

Dengan melihat betapa pentingnya peranan kertas dalam kehidupan kita, maka kita perlu untuk merawat pohon yang merupakan sumber pembuatan kertas. Ada berbagai macam cara untuk melestarikan pohon yang ada disekitar kita. Cara - cara tersebut dapat kita mulai dari diri kita sendiri. Langkah kecil yang kita lakukan untuk alam tentu akan sangat berarti bagi kelangsungan kehidupan.

Cara yang bisa dilakukan untuk merawat pohon dengan menggunakan kertas diantaranya: pertama, menggunakan kertas secara bijak artinya memakai kertas seperlunya saja. Kedua usahakan ketika mengetik, lebih diteliti lagi sehingga kertas yang digunakan untuk mencetak tidak terbuang sia-sia. Ketiga, ketika menulis untuk kepentingan non-formal usahakan memakai kertas daur ulang.

Disini penulis juga menekankan pentingnya mendaur ulang kertas yang sudah dipakai, agar memberikan manfaat yang lebih berguna. Selain itu, cara yang bisa digunakan adalah mengganti bahan kertas dengan menggunakan bahan alternatif seperti sabut kelapa. Ide penulis tentang penyelamatan pohon dengan menggunakan kertas sabut kelapa ini, akan dibahas di bagian selanjutnya.

E. Pentingnya Industri Kertas dalam Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia.

Dari paparan sebelumnya, kita tahu bahwa kertas memegang peranan penting bagi kehidupan masyarakat.

Selain itu disisi lain, dengan adanya kertas pertumbuhan ekonomi Indonesia juga meningkat. "Pada tahun 2016, industri pulp dan kertas menyumbang 3,79 miliar dolar AS pada pendapatan nasional, serta menyerap lebih dari 260.000 tenaga kerja Indonesia," kata Kepala Unit Bisnis Konsumen Perusahaan produsen kertas Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas, Sovan K Ganguly dalam acara peluncuran kertas Sinar Dunia (Sidu) terbaru di Gedung Arsip Nasional, Jakarta, Selasa (21/3/2017).

Dia juga menuturkan bahwa kertas telah memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia, yaitu sebagai kontributor devisa ke-7 dari sektor non-migas di Indonesia.

Industri kertas memang membawa pengaruh yang besar bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia, Riyanto mengatakan, berdasarkan data tahun 2016 setidaknya industri pulp dan kertas menyerap 1,49 juta orang.

Dia mengatakan, 1,49 juta orang ini menjadi tumpuan 4 hingga 5 orang anggota keluarga. Menurutnya, jika industri ini terganggu maka sekitar 6 juta orang terganggu kehidupannya.

Namun dengan adanya industri kertas tersebut, pasti luas lahan pepohonan berkurang. Maka dari itu pemerintah Indonesia mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut. Peraturan ini dikeluarkan karena lebih dari 40% luas lahan Hutan Tanaman Industri (HTI) yang menjadi bahan baku industri kertas dan pulp berada diatas lahan gambut.

Berdasarkan acuan Peraturan Pemerintah tersebut, penulis memiliki ide untuk memanfaatkan bahan alternatif berupa sabut kelapa untuk dijadikan bahan baku pembuatan kertas dan pulp. Guna melestarikan alam di Indonesia dan tetap meningkatkan pertumbuhan ekonomi, penulis memiliki ide untuk menerapkan inovasi yang dibuat oleh para mahasiswa Fakultas Teknik Kimia Universitas Katholik Widya Mandala yaitu membuat kertas berbahan dasar sabut kelapa.

F. Inovasi Kertas dengan Menggunakan Sabut Kelapa 

‌Dengan adanya industri kertas yang mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia, kita juga perlu menjaga Hutan Tanaman Indonesia (HTI) yang merupakan bahan dasar pembuatan kertas. Cara yang dapat dilakukan salah satunya adalah menggunakan bahan dasar alternatif dalam pembuatan kertas dan pulp.

Ide yang berhasil ditemukan oleh para mahasiswa Fakultas Teknik Kimia Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya bisa menjadi alternatif yaitu membuat kertas dari sabut kelapa. Ide tersebut bisa dijadikan gerbang untuk menyelamatkan Hutan Tanaman Indonesia (HTI), namun tetap dapat mengembangkan industri kertas.

Karena pasalnya ide ini hanya mengganti bahan dasar kertas dari pohon ke sabut kelapa. Penelitian ini juga menggunakan kertas bekas sebagai bahan pendukung dalam pembuatan kertas berbahan dasar sabut kelapa.

‌Proses pembuatan kertas sabut kelapa ini, mencakup 3 tahapan diantaranya: pembuatan pulp sabut kelapa, pembuatan pulp kertas bekas, dan pencampuran pulp sabut kelapa dan pulp kertas bekas.

Pada tahap pembuatan pulp sabut kelapa, mula-mula terhadap bahan baku sabut kelapa dilakukan proses hidrolisis dengan menggunakan variasi konsentrasi NaOH sebesar 3, 6, dan 9% serta variasi waktu pemasakan sebesar 2, 3, 4, 5, dan 6 jam pada suhu 100O Celcius. Pulp hasil hidrolisis kemudian dianalisis kadar alfa selulosa serta bilangan Kappa. Pulp dengan kadar alfa selulosa tertinggi akan diproses lebih lanjut.

Gambar Alat Hidrolisis Sabut Kelapa

Selanjutnya tahapan pembuatan pulp kertas bekas dilakukan dengan proses deinking dengan menggunakan larutan NaOH. Proses deinking dimaksudkan untuk menghilangkan tinta yang terdapat pada kertas bekas. Terakhir tahap pencampuran pulp sabut kelapa dan pulp kertas bekas.

Pulp sabut kelapa (yang memiliki KAS yang tertinggi) dengan pulp dari kertas bekas dicampur dengan perbandingan variasi 80:20, 60:40, 40:60, 20:80, dan 0:100 dan dicampur dengan air tepung kanji. Kemudian dicetak dengan menggunakan kertas saringan kasa. Selanjutnya dikeringkan dengan cara dijemur. Kertas komposit hasil cetakan kemudian diuji karakteristiknya antara lain: kuat tarik, daya serap, sifat tulis, dan ketahanan hapusnya.

Paparan penulis tadi merupakan salah satu ide untuk mengolah kertas dengan bahan baku lain, yang tujuannya untuk menyelamatkan Hutan Tanaman Indonesia (HTI) dan tetap memajukan industri kertas di Indonesia. Diharapkan dengan adanya ide tersebut, industri kertas di Indonesia akan terus berkembang dan membawa pengaruh yang signifikan pada kelanjutan ekonomi tanah air.