Mahasiswa
1 bulan lalu · 58 view · 5 min baca menit baca · Lingkungan 80033_33384.jpg

Inovasi Kertas dan Plastik Terbarukan

Dewasa ini limbah kertas dan plastik menjadi salah satu momok besar yang perlu untuk diperhatikan dalam hal penggunaan dan penanggulangannya. Permasalahan ini semakin diperburuk karena kurangnya kesadaran masyarakat untuk mengurangi pemakaian keetas dan plastik sebagai bahan pembungkus untuk setiap jenis produk makanan, minuman, dan seluruh peralatan lainnya. 

Dalam lingkup masyarakat pada umumnya limbah kertas dan plastik dapat menimbulkan berbagai macam dampak negatif seperti penyakit yang mewabah dan dapat mengakibatkan banjir karena kurangnya kesadaran dalam penempatan ketika sudah tidak dipakai.

Penguraian limbah plastik di dalam tanah memerlukan waktu jutaan tahun lamanya, sehingga apabila dibiarkan begitu saja limbah sampah plastik dapat menyebabkan kerusakan pada profil tanah. Berkurangnya produktivitas dikarenakan tanah yang digunakan sebagai areal lahan pertanian tercemar dengan bahan kimia.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menilai persoalan sampah sudah meresahkan di Indonesia bahkan masuk dalam peringkat ke dua didunia sebagai penghasil sampah plastik setelah negara Tiongkok, hal itu berkaitan dengan data dari KLHK bulan 2 tahun 2016 yang lalu menyebutkan bahwa plastik hasil dari 100 toko dalam waktu  1 tahun saja sudah mencapai 10,95 jt lembar sampah kantong plastik. Jumlah itu ternyata setara denga luasan 65,7 Ha kantong plastik / sekitar 60 x luas lapangan sepak bola.[1]

Kebanyakan masyarakat di Indonesia hanya mengurangi limbah kertas dan plastik dengan cara membakarnya, namun dari proses pembakaran tersebut dapat menghasilkan gas CO yang dapat menyebabkan kanker pada paru-paru juga menaikkan efek gas rumah kaca. Sebagaian masyarakat lebih memilih menguburnya namun kebanyakan masyarakat juga tidak tahu dampak yang dihasilkan oleh limbah tersebut, karena limbah plastik tidak dapat terurai seperti limbah organik lainnya. 

Beberapa masyarakat memilih membuangnya ke sungai oleh karena itu masalah banjir di negara kita ini sangat susah untuk diselesaikan, hanya sedikit orang yang bisa berpikir untuk membawa limbah plastik tersebut ketempat daur ulang namun perlu diketahui ada beberapa batasan untuk daur ulang plastik dan jika sudah mencapai akhirnya plastik tersebut tidak boleh lagi dipergunakan oleh manusia.

Pengolahan limbah kertas dan plastik pada saat ini sudah mulai dilirik masyarakat Indonesia karena cukup meresahkan bagi warga. Dibalik efisiensi dan efektifitas dalam pemakaiannya limbah kertas dan plastik juga menyimpan segudang dampak negatif yang dapat dihasilkan, namun jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda limbah plastik juga bisa diolah menjadi sebuah produk daur ulang yang dapat termanfaatkan dengan prinsip meminimalisir dampak negatif yang dihasilkan.


Banyak cara untuk mengambil sisi positif limbah plastik tersebut, dan jika dilihat secara umum bentuk konversi limbah plastik kebanyakan dibuat menjadi produk kerajinan tangan seperti tas, keranjang, bunga dan sebagainya.

Dalam permasalahan ini mengangkat limbah plastik untuk dikonversikan kembali bukan sebagai plastik yang bisa dipakai atau juga sebagai produk kerajinan tangan, namun pemanfaatan limbah plastik menjadi sebuah sumber energi terbarukan dalam bentuk penanggulangan pencemaran lingkungan yang bisa menjadi solusi alternatif di era yang sedang hangat memperbincangkan tentang kelangkaan BBM saat ini.

Untuk itu hasil pengolahan limbah plastik ini hadir menjadi sebuah produk inovasi berupa BBMPOLITIK (Bahan Bakar Minyak Polybag dan Plastik) yang sifatnya ramah lingkungan dan bisa menjadi solusi terbaru guna mengurangi limbah plastik yang ada.

Pembuatan BBMPOLITIK dilakukan melalui proses destilasi. Proses destilasi BBMPOLITIK ini membutuhkan proses pembakaran dengan suhu optimum dan stabil yaitu ± 190-200o C, untuk mendidihkan limbah polybag dan plastik yang sudah dimasukkan kedalam tabung (hydrokabon) yang telah dirakit sebelumnya. 

Tabung terbuat dari besi/alumunium yang tertutup rapat dan terdapat sambungan pipa besi sepanjang ± 1,5 m pada salah satu sisi tabung bagian atas tempat untuk  mengeluarkan uap dan mengubahnya menjadi tetesan minyak. 

Meskipun belum diketahui secara pasti berapa nilai oktan dari bahan bakar minyak tersebut namun bahan bakar minyak tersebut dapat digunakan dan dikonversikan menjadi sumber energi terbarukan. 

Untuk kertas sendiri inovasi terbarukan telah diciptakan  sebagai salah satu bentuk pemanfaatan limbah dengan nama Paper of Saccarum (PAPERUM). PAPERUM adalah inovasi  pembuatan  kertas dengan bahan dasar limbah ampas tebu, yang diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan sebuah kertas. 

Dalam rangka penanggulangan limbah ampas tebu menjadikannya sebagai kertas yang dpaat difunngsikan kembali merupakan sebuah inovasi yang bermanfaat  tertutama bagi lingkungan.Diversifikasi kertas dengan bahan dasar ampas tebu juga dapat mengurangi eksploitasi pohon secara terus-menerus dikarenakan tuntutan yang terus meningkat.

Diversifikasi produk plastik saat ini juga sedang gencar-gencar di perbincangkan, dengan berbagai bahan dasar dalam rangka pembuatan bioplastik dapat menjadi salah satu solusi penngganti penggunaan plastik dengan bahan dasar kimia yang sangat sulit untuk teruraikan.

Beberapa bahan dasar pembuatan bioplastik yang dapat menggantikan peran plastik sintetik seperti limbah kulit durian, limbah kulit pisang, limbah kulit singkong dll. Bahan – bahan tersebut dipilih dengan beberapa  pertimbangan kandungan zat yang terkandung didalamnya salah satunya adalah zat pati.  

Zat pati / Amilum terdapat dalam berbagai jenis tumbuh-tumbuhan yang disimpan dalam akar, batang buah, dan sebagai cadangan makanan. Pati adalah polimer Glukosa dan ditemukan sebagai karbohidrat simpanan dalam tumbuh-tumbuhan, misalnya ketela pohon, pisang, jagung dan lain-lain. 

Proses pembuatan bioplastik melibatkan proses hidrolisis. Hidrolisis adalah reaksi kimia antara air dengan suatu zat lain yang menghasilkan satu zat baru atau lebih dan juga dekomposisi suatu larutan dengan menggunakan air. Proses ini melibatkan pengionan molekul air ataupun peruraian senyawa yang lain.


Proses pembuatan bioplastik dilaksanakan dengan berbagai proses pertama cuci bersih beberapa bahan dasar yang telah dijelaskan diatas, kemudian rendam dengan air garam kurang lebih 12 jam lalu dihaluskan dengan penambahan air secukupnya menggunakan blender. Setelah itu, bahan yang telah halus disaring untuk diambil air sari patinya.

Sari Pati sebanyak 100 mL lalu dicampur 2 sdt asam cuka dan 2 sdt gliserin. Selanjutnya dipanaskan di atas api dan setelah kurang lebih 2 menit ditambahkan 2 sdt tepung maizena dan dipanaskan kembali selama 15 menit sambil terus diaduk. Hasilnya akan seperti gel berwarna putih dan dicetak kedalam nampan dan diratakan, kemudian dikeringkan sehingga terbentuklah plastik lembaran. [2]

Beberapa inovasi tersebut diolah dengan bahan dasar organik yang dapat diaplikasikan dan bisa terurai oleh alam sehingga tidak menimbulkan dampak negatif yang berujung kepada pencemarah atau limbah yang mewabah. Sehingga dapat terus digunakan dan diimplementasikan sebagai pengganti kertas dan plastik sintetis. inovasi berikut dapat menjadi solusi alternatif untuk menghadapi polemik dari penggunaan kertas dan plastik selama ini.

Sudah saatnya Indonesia berbenah dengan segala kondisi yang ada pada saat ini, merubah ancaman jadi kekuatan dengan menghasilkan uang dari yang terbuang. Back to Nature seperti itulah seharusnya gambaran dari konsep pemikiran masyarakat Indonesia saat ini, agar Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga tetap tercermin dari lingkungannya yang indah, bersih, dan hijau tanpa tercemar oleh sampah kertas dan plastik.

Referensi:

  1. Try Wahyuni, Indonesia Penyumbang Sampah Plastik Terbesar Ke-dua Dunia
  2. Muktafakri, Pembuatan Bioplastik dari kulit Pisang

Artikel Terkait