PISA (Programme for International Student Assessment) adalah studi internasional tentang prestasi literasi membaca, matematika, dan sains siswa sekolah berusia 15 tahun. PISA tidak hanya memberikan informasi tentang benchmark internasional tetapi juga informasi mengenai kelemahan serta kekuatan siswa beserta faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Sebuah tamparan keras menghujam wajah Negeri ketika hasil PISA 2012 menunjukan bahwa mayoritas siswa usia 15 tahun di negeri ini belum memiliki standar literasi dasar. Literasi tersebut berupa kecakapan dalam bidang membaca, metematika dan sains. 

Bukannya membaik, pada tahun 2018 Indonesia malah menduduki urutan ke 73 dari 79 negara yang dipantau oleh PISA. Lalu apa yang terjadi dengan dunia pendidikan kita selama ini?

Ibarat bercermin, Asesmen Nasional - solusi permasalahan ini - ditujukan untuk refleksi mutu pendidikan kita. Intinya adalah perbaikan pada tiga bidang diatas.

Fokus Asesmen Nasional teruju pada tiga instrumen utama;  Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter (SK), dan Survey Lingkungan Belajar (SLB). 

Dalam AKM literasi membaca dan numerasi adalah dua kompetensi minimum yang digaungkan. Hal ini didasarkan pada rendahnya tingkat literasi siswa Indonesia. Siswa cenderung menganut “faham” copy dan paste di mesin pencari. Enggan membaca dan sangat senang meniru apa yang sedang viral atau yang menjadi trending saat ini. 

Dalam Survey Karakter, telah dimunculkan Profil Pelajar Pancasila. Fokusnya terdiri dari enam hal berikut; beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, serta berahlak mulia, berkebinekaan global, mandiri, bergotong royong, serta bernalar kritis dan kreatif. Hal ini bertujuan menyeimbangkan ranah kognitif dan ranah karakter agar berkembang sejalan dengan nilai - nilai Pancasila.

Program Merdeka Belajar merupakan cerminan Survey Lingkungan Belajar (SLB) dalam Asesmen Nasional. Melalui program ini diharapkan lingkungan belajar menjadi lebih efektif, menyenangkan, inovatif dan kreatif. 

Secara teoritis inilah elemen - elemen yang dibutuhkan oleh peserta didik, guru dan orangtua murid. Elemen - elemen yang selama ini kurang mendapatkan perhatian cukup dalam kurikulum.

Baiklah, secara teoritis Asesmen Nasional ini sangat mendasar dan disesuiakan dengan kebutuhan yang diperlukan oleh para pemangku kepentingan pendidikan di Indonesia. Lalu, bagaimakah pelaksanaanya?

Perubahan sudah sering kali digaungkan. Sepanjang sejarah kurikulum pendidikan di negeri ini telah berganti sebanyak 11 kali yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, 2006, 2013, dan 2015 sebelum akhirnya ide Assesmen Nasional ini muncul ke permukaaan. 

Saat diperkenalkan, masing - masing kurikulum tersebut dipercaya merupakan solusi atas kebutuhan pendidikan yang ada, namun akhirnya digantikan dengan yang baru. Pada dasarnya perubahan ini mengacu pada perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi, dan iptek dalam masyarakat.

Namun fokus akan lebih kita arahkan pada era 2004 sampai sekarang didasarkan relevansinya terhadap perkembangan sistem nilai pada abad ke - 21.  Ada KBK, KBK yang disempurnakan melalui KTSP, dan KBK yang disempurnakan melalui Kurikulum 2013. Namun dalam pelaksanaanya semua produk kurikulum ini belum menunjukan hasil yang memuaskan.

Mengapa KBK tergantikan? Secara gamblang KBK mempunyai ekses terhadap prilaku. Fokus pada kompetensi pengetahuan membuat pendidikan karakter terasa terabaikan. UN sebagai muaranya telah membuat fokus tertuju pada pengetahuan. Jujur saja intoleransi, kekerasan seksual, dan perundungan serasa mulai kurang terkendali.

Desentralisasi pendidikan dalam KTSP memang memberikan keleluasan dalam pengaturan materi pelajaran, namun harus tetap mengacu pada standar yang ditetapkan oleh pusat. 

Kemampuan pengajar yang tidak merata dalam menyusun kurikulum juga menjadi batu sandungan kurikulum ini. Admistrasi yang banyak membuat pengajar harus ekstra keras membagi waktu antara pengerjaan administrasi dan waktu mengajar. Belum lagi, UN masih menentukan segalanya.

Kurikulum 2013 memberikan perubahan yang merupakan ide penyempurnaan masalah diatas. Administrasi guru bukan lagi hal sangat dominan, pendidikan karakter secara gamblang telah dipraktikan sebagai bagian integral yang nyata. UN juga bukan lagi penentu segalanya. Namun lagi - lagi hasil PISA menunjukan bahwa semua itu belum cukup untuk membuat kita sejajar dengan bangsa - bangsa lain khususnya dalam dunia pendidikan.

Sitem sudah sering berganti. Ibarat peningkatan hasil padi, varietas unggul sudah sering tercipta, namun yang belum ditemukan adalah varietas unggul yang tahan terhadap segala jenis cuaca. 

Sebenarnya semua kurikulum yang pernah berlaku memiliki keunggulan masing - masing, namun yang sejatinya kita nantikan adalah racikan kurikulum yang bisa menyesuaikan dengan tuntutan dunia global. Sehingga kita bisa fokus dalam penerapannya, bukan malah fokus ke perubahan kurikulum itu sendiri.  

Akankah Asesmen Nasional kembali dianggap gagal seperti Ujian Nasional? Kondisi ke arah itu sangat terbuka lebar. Ini mengingat AN sementara ini langsung fokus di level nasional, buka pada akar rumput di tingkat sekolah. 

Dengan pemahaman yang masih beragam, AN mungkin saja dianggap high stakes bagi guru dan sekolah. Apalagi dengan penggunaan soal- soal HOTS yang masih sering diasumsikan soal - soal dengan kesulitan tinggi.

Selain itu, pembelajaran berfokus pada bidang membaca, metematika dan sains. Ini memungkinkan ada beberapa mata pelajaran yang kurang relevan dengan AN akan mendapat perlakuan berbeda karena dianggap kurang penting.

Jangan sampai dengan kesalahpahaman ini, guru dan sekolah berlomba - lomba mengejar prestasi tinggi untuk anak didiknya. Apalagi jika orangtua juga mempunyai hasrat yang sama. 

Bimbingan belajar sebagai salah satu alternatif akan menjamur bak cendawan di musim hujan. Bukan pemikiran kritis yang akan tercipta, tetapi tehnik mendapatkan jawaban yang akan menjadi senjata.

Sebaiknya AN diawali dengan asesmen sejenis yang dapat digunakan oleh guru dalam pengajaran sehari - hari. Biarkan asesmen ini memperkenalkan dirinya pada akar rumput sehingga dapat dinikmati dan dicintai. 

Jika AN telah dilaksanakan berdasarkan cinta, maka hasilnya akan jauh lebih baik. Pembiasaan akan menyajikan hasil yang jauh lebih baik.  Jangan terburu - buru mengejar hasil seperti asesmen pedahulunya (UN).

Ide AN ini diakui sangat brilian dan sesuai dengan tuntutan pendidikan generasi z. Namun yang perlu penekanan adalah sebuah persiapan yang matang. Perubahan itu lebih baik sewajarnya, pelan namun pasti. 

Kebutuhan hasil memang sangat mendesak mengingat kegagalan UN sebagai asesmen pendidikan sebelumnya. Namun jangan sampai kita mengorbankan siswa untuk pelaksanaan suatu program. Asesmen itu ada demi peningkatan kualitas siswa, bukan sebaliknya.