Pernahkah kita membayangkan apa yang akan terjadi ketika seseorang yang telah bersekolah selama bertahun-tahun tidak diberikan tanda bukti atas kelulusannya? Lalu bagaimana dan apa yang akan terjadi ketika sebuah peraturan dan kebijakan baru muncul atas dasar kepentingan masyarakat yang tidak disetujui dan tidak mendapatkan bubuhan tanda tangan atas selembaran yang telah diajukan oleh pejabat terkait?

Ya, benar. Semua tidak akan pernah bisa lepas dari peran sebuah kertas. Kertas akan selalu menjadi sarana penting sebagai bukti atau sebagai sebuah penyampaian informasi. Tanpa kertas, pena tidak akan pernah muncul. Tanpa kertas pula, Johann Gutenberg tidak akan membuang waktu berharganya hanya demi memikirkan betapa sulitnya menciptakan sebuah mesin cetak.

Sama halnya ketika kita berbicara tentang ilmu pengetahuan. Seseorang yang ingin mendapatkan transfer ilmu yang baik tentu akan membaca buku. Buku yang sebagai media penyampaian informasi tersebut tentu terbuat dari kertas. Artinya, kertas secara tidak langsung telah memiliki peran yang begitu penting terhadap kemajuan ilmu pengetahuan di dunia dan dengan segala peradaban-peradaban di dalamnya.

Kertas pertama kali ditemukan oleh seorang yang berasal dari negeri “Tirai Bambu”, tepatnya pada tahun 101 M oleh seorang pria bernama Tsai Lun. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kertas berarti bermakna sebagai barang lembaran dibuat dari bubur rumput, jerami, kayu, dan sebagainya yang bisa ditulisi atau untuk pembungkus dan sebagainya.

Lantas, mengapa kita perlu mengaitkannya dengan industri sebagai pihak pengelolanya? Kemudian apa korelasi dari keberlangsungan kertas, industri, dan keberlanjutan pembangunan dalam aspek ekonomi?

Menurut Todaro (1981: 2) mendefinisikan pembangunan ekonomi sebagai suatu proses multidimensional yang mencakup perubahan struktur, sikap hidup, dan kelembagaan. Itu berarti pembangunan ekonomi akan membuat suatu perubahan dalam bentuk sikap hidup, lembaga (industri) terkait perumusan strategi pengelolaan kayu untuk keperluan pembuatan kertas. Maka secara tidak langsung ini memiliki korelasi dengan peran industri.

Sebagai salah satu pengelola dalam bidang perindustrian kertas, pihak perusahaan kertas tentu akan memikirkan berbagai aspek terkait usahanya dalam memproduksi kertas. Ketika mereka memproduksi kertas tanpa aturan yang semestinya, tentu itu akan menimbulkan dampak yang kurang disetujui oleh berbagai kalangan. Mubazir? Bisa jadi. Kertas akan terbuang secara cuma-cuma ketika produksinya tidak berdasarkan kebutuhan.

Maka di sinilah peran pemerintah sebagai pemangku kepentingan yang diharuskan untuk membuat beberapa solusi dan kebijkan terkait keberlanjutan pembangunan ekonomi yang diharapkan oleh semua kalangan. Dari segi kacamata ekonomi, ketika suatu barang itu dapat diproduksi banyak, namun tidak bisa memakainya secara efektif dan efisien, yang terjadi adalah kerugian berupa double cost yang terjadi, serta percaya atau tidak jika sebatang pohon membutuhkan puluhan tahun untuk tumbuh menjadi pohon yang benar-benar berfungsi sebagai pemanfaatan kebutuhan hidup manusia.

Bandingkan dengan teknologi zaman sekarang yang kian canggih dalam memproduksi suatu barang, dan dalam sekejap barang tersebut akan cepat terbentuk dan bisa digunakan oleh berbagai kalangan. Namun, apakah alam dapat secepat itu dalam meregenarasi sumber daya yang akan ia hasilkan? Tentu tidak. Semua membutuhkan waktu yang panjang.

Mengutip data Kementerian Perindustrian tahun lalu kapasistas terpasang pabrik pulp di Indonesia mencapai 7,9 juta ton. Tahun 2017 nanti, kapasitas terpasang pabrik pulp diproyeksi meningkat 26,5% menjadi sekitar 10 juta ton.

Peningkatan kapasitas terpasang disektor produksi pulp tersebut tentu saja akan berdampak terhadap kebutuhan bahan kayu. Pada tahun 2017, kebutuhan bahan baku akan mencapai 45 juta meter kubik (m3), naik 27,5% ketimbang tahun lalu yang mencapai 35,3 juta m3. Maka yang tidak kita inginkan atas kondisi tersebut ialah tentu saja peradaban manusia yang semakin membutuhkan dan ketergantungan pada pada produksi kayu, karena mengingat akan timbul dampak yang merugikan ketika kondisi tersebut tidak dibarengi dengan recovery yang tepat.

Lebih parahnya lagi adalah ketika bahasa ekonomi dalam artian eksternalitas negatif itu muncul dan menimbulkan dampak berupa adanya  double cost sebagai ganti rugi atas kondisi kerusakan tatanan lingkungan dan berbagai masalah sosial lainnya. Kita sama sekali tidak menginginkan hal tersebut terjadi.

Maka secara tidak langsung, ekonomi sangat memiliki peran yang amat vital terhadap kondisi tersebut. Industri-industri besar sudah lama muncul di Indonesia sejak zaman kolonialisme sampai sekarang. Industri selalu identik dengan kapitalisme. Dimana kapital-lah yang memiliki, menguasai, dan mendapat keuntungan yang paling besar.

Layaknya sebuah pasar, dimana disitu akan selalu ada merk yang ditawarkan untuk sekedar memenuhi kebutuhan atau memang benar-benar sebagai cara untuk mengatasi situasi “trade off” yang ada. Namun, nilai-nilai penting dari ilmu ekonomi tidak cukup ditelaah hanya sampai disitu saja. 2015, konsep dasar baru pun muncul untuk membahas dan mengira-ngira metode-metode yang yang kiranya tepat untuk mengatasi permasalahan tersebut, yaitu dengan konsep dasar Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan atau sering disebut dengan SDG’s (Sustainable Development Goals).

Menarik ketika kita berbicara tentang konsep “Berkelanjutan”. Industri memiliki peranan penting ketika konsep berkelanjutan menjadi topik utamanya. Konsep berkelanjutan disini berarti sebuah konsep yang menyatakan bahwa harus ada sesuatu pembaharu dan pembaharu ini akan terus bisa digunakan serta memiliki nilai baik itu nilai ekonomisnya, nilai fungsinya, dan nilai kegunaannya.

Namun disisi lain, sebuah konsep yang berlabelkan berkelanjutan berarti juga harus tetap menjaga lingkungan, tanpa harus merusaknya dalam bentuk sekecil apapun. Lalu apa arti dari konsep berkelanjutan dalam hal ekonomi?

Ekonomi selalu menawarkan ide unik dan realistis ketika terjadi sebuah perdebatan. Layaknya sebuah produk, produsen akan selalu berinovasi agar produknya bisa digunakan dalam waktu lama dan tidak menimbulkan kerusakan lingkungan serta produknya tersebut mudah untuk diperbaharui.

Satu poin penting yang ingin diperjuangkan oleh penulis adalah sudah tiba saatnya dimana harus ada kerjasama yang terus berkelanjutan dari pihak industri pengelola, pemerintah, dan juga masyarakat, agar selalu menimbang segala unsur penting dari aspek ekonomi dan keramahan lingkungan, untuk meminimalisir timbulnya cost recovery yang besar dan double cost yang tentu tidak diinginkan oleh semua pihak yang berkepentingan guna menciptakan ekosistem lingkungan yang teratur dan masih memiliki nilai guna ekonomi yang berkelanjutan di masa yang akan datang.

Maka dari itu, dalam rangka menanggapi berbagai masalah di atas terkait beberapa permasalahan yang terjadi berupa produksi kertas yang kian bertambah dari tahun ke tahun, serta belum adanya sebuah konsep atau metode yang sesuai dengan permasalahan yang ada, penulis bermaksud ingin memaparkan beberapa inovasi dan metode terkait menjaga dan melestarikan ekosistem alam khususnya pada sektor kayu dan kehutanan dari segi industri pengelolanya dan nilai ekonominya dari segi keberlanjutannya, karena kurang lengkap rasanya jika argumentasi yang berdasarkan data dan permasalahan yang ada, tidak dibarengi dengan penawaran, strategi dan inovasi terbarukan dalam rangka keberlanjutan pembangunan ekonomi demi menjaga kearifan dan kelestarian alam.

Adapun beberapa metode dan inovasi pembaharuan yang mungkin perlu digunakan oleh semua kalangan khususnya industri pengelola yang memiliki kepentingan dan pemerintah sebagai perumus kebijakan. Metode dan inovasi tersebut ialah yang telah terangkum dalam E-KEEP Method sebagai berikut :

Edukasi

Dengan cara pemberian penyuluhan kepada masyarakat yang dilakukan oleh pihak pemerintah sebagai lembaga perumus kebijakan, juga sosialisai kepada para pelaku pemanfaatan pohon yang akan diproduksi menjadi kertas, serta kepada para pemangku kepentingan yang lainnya, diharapkan mampu memberikan kesadaran bagi masyarakat luas tentang bagaimana pentingnya tanah hijau dan kelestarian alam, dan dengan cara penerapan nilai-nilai berperilaku yang bijak terhadap lingkungan tentang pentingnya alam.

Penyuluhan dan sosialisai tersebut dapat dilakukan dengan cara membuat setiap unit dan kantor pelayanan di seluruh kecamatan yang memiliki potensi di bidang kehutanan, khususnya bidang sumber daya alam perkayuan.

Kegunaan dan Fungsi

Memproduksi tanpa menggunakannya dengan bijak akan kurang tepat ketika produk yang telah dihasilkan tidak terpakai dan terbuang secara cuma-cuma. Inilah salah satu peran yang harus dilakukan oleh pemerintah selaku pemangku kepentingan, yang harus memperhatikan kemanfaatan dan kegunanan serta fungsinya dalam mendapatkan nilai guna dan utility yang pas dan tidak merugikan lingkungan dan semua kalangan yang terlibat.

Kita harus benar-benar menelaahnya dengan baik, mana kiranya yang memang harus  dibutuhkan, atau hanya sebagai sarana yang kurang begitu penting. Sudah saatnya masyarakat bisa berpikir dan bekerja cerdas.

Efektivitas dan Efisiensi

Tidak jauh berbeda dengan metode sebelumnya. Hanya saja disini implementasi dari ilmu ekonomi sudah saatnya digunakan. Ekonomi selalu mengajarkan bagaimana caranya mengalokasikan biaya (cost) yang sedemikian kecil, untuk hasil (output) yang sebesar mungkin. Dan yang paling penting pada poin ini adalah nilai guna.

Kurang lengkap rasanya jika efektivitas yang sudah maksimal tidak dibarengi dengan efisiensi yang baik. Sebuah bus yang besar dan megah tidak akan terlihat menghasilkan uang yang banyak tanpa penumpang didalamnya. Artinya, dengan pengalokasian yang tepat tentang untuk siapa dan untuk apa kertas tersebut dibuat, maka akan menciptakan siklus yang lebih teratur dari segi tatanan ekonomi, berupa biaya, kegunaan, dan tujuan utamanya untuk apa.

Electronic Paper Using

Poin ini merupakan poin yang paling penting ketika kita berbicara tentang strategi dan kebijakan yang melibatkan kemajuan teknologi seperti pada zaman yang telah terjadi saat ini. Abad ke-21 ini adalah merupakan era dimana era tersebut sangat tergantung dengan perangkat digital. Semua kalangan harus aware atas kondisi ini. Penyampaian informasi sudah banyak yang menggunakan media elektronik.

Ketika problematikanya adalah terkait dengan kondisi dan kelestarian lingkungan, sudah sepantasnya semua pihak yang berkepentingan sadar dan peka serta mampu berlaku bijak atas kondisi ini, dan bisa memilah-milah mana yang kiranya perlu menggunakan elektronik sebagai sarana penunjang kebutuhan mereka serta mana yang kiranya perlu menggunakan media yang melibatkan unsur kegunaan dan fungsi kertas dalam upaya keorisinilitasan sebuah penyampaian informasi dan karya.

Kita bisa ambil contoh pada sebuah ijazah dan dokumen-dokumen penting lainnya. Ijazah tidak bisa hanya diperlihatkan begitu saja melalui media elektronik. Karena ini akan berpengaruh sekali terhadap orisinilitas dan keasliannya. Bisa saja ketika hanya ditunjukan melalui media elektronik, ijazah tersebut akan dan telah di manipulasi dan diubah sedemikian rupa yang kemudian akan memunculkan tindakan yang tidak benar.

Maka kita butuh kertas sebagai unsur penunjang  keorisinilitasnya. Berbeda dengan proses penyampaian informasi. Konten website dan sejenisnya sudah banyak yang beredar di internet sebagai media penyampaian informasi. Nah, pada posisi itulah kita bisa menggunakan fungsi kertas sebagaimana mestinya sesuai dengan efektivitas dan efisiensi agar lebih memiliki nilai guna yang maksimal dari waktu kewaktu tanpa merugikan pihak manapun.

Penanaman atau Pemberdayaan kembali

Sebuah peribahasa mengatakan, “Mati satu tumbuh seribu”. Artinya, ketika sebuah pohon ditebang, maka harus ditanami kembali. Akan tetapi tidak cukup hanya ketika menebang satu pohon dan kemudian menanamnya satu pohon juga, karena pada poin ini yang diharuskan adalah ketika menghilangkan satu pohon berarti menanam 10 pohon dengan jenis yang sama.

Namun, jika masih ada pihak yang dianggap tidak bertanggungjawab atas hal ini, harus ada sanksi yang tegas agar tidak terjadi kecemburuan sosial antar sesama pelaku yang memiliki kepentingan atas hal tersebut. Dengan demikian kita tetap menjaga kelestarian alam tersebut agar tetap bisa tumbuh dan tidak menyebabkan gundulnya hutan serta tetap bisa hidup berdampingan dan bersahabat dengan alam. Dan ini sudah sepantasnya menjadi tugas dan tanggungjawab bersama.

Dalam 50-100 tahun mendatang, kondisi keseimbangan lingkungan akan sangat dipengaruhi oleh pola manusia dan tingkah manusia dalam upaya pemenuhan kebutuhannya. Kita juga tidak akan pernah tahu apakah pilihan dan kebijakan yang telah dibuat oleh manusia itu sendiri akan berhasil atau tidak atau malah akan semakin membuat sahabat kita yaitu lingkungan akan semakin menderita akibat ulah manusia itu sendiri.

Tanpa masalah, kebijakan dan solusi tidak akan pernah dibuat. Tanpa data yang relevan pula, kita tidak akan pernah tau apa yang seharusnya kita lakukan. Sehingga dengan adanya pemaparan metode-metode diatas yang berupa metode “E-KEEP Method” yakni Edukasi, Kegunaan dan Fungsi, Efektivitas dan Efisiensi, Electronic Paper Using, serta Penanaman dan Pemberdayaan pohon kembali, diharapkan mampu menjawab tantangan-tantangan yang ada, membantu mengurai permasalahan yang ada.

Sehingga konsep E-Keep Method: Tentang Kertas dalam 5 Inovasi, Industri, dan Keberlanjutan Pembangunan Ekonomi benar-benar mampu memberikan kontribusinya terhadap keberlangsungan dan peran kertas dalam kehidupan manusia, serta tetap menjaga nilai dan fungsi kertas pada kemanfaatan yang seharusnya digunakan serta mendukung manusia untuk lebih memajukan peradabannya tanpa harus memperdebatkan keberadaan kertas.

Dan yang paling terpenting adalah bisa bermanfaat bagi para pembaca, yang kemudian nilai-nilainya bisa diimplementasikan atas dasar kepentingan sosisal, karena pada dasarnya tujuan utama dari adanya konsep “Keberlanjutan” adalah untuk Social Welfare atau Kesejahteraan Sosial.

SEPERTI CERITA KERTAS, GUNAKAN FUNGSI KERTAS, UNTUK BEKERJA CERDAS!

Semoga bermanfaat.

 

DAFTAR PUSTAKA