Prolog

Dewasa ini dengan segala pemberitaan media sosial yang kian tidak terbendung membuat beberapa idealisme yang eksis belasan abad lamanya mulai terkikis. Seperti mirisnya dengan kegilaan yang terjadi pada generasi kita saat ini ketika berbicara tentang konsep ketuhanan yang menyoal sisi religiusitas seseorang.

Mereka tergerus oleh liarnya arus pemberitaan media mengenai kelompok yang baru-baru ini eksis dalam beberapa dekade terakhir. Kegemarannya tidaklah sederhana melainkan merekonstruksi pondasi akidah seperti mempertanyakan kebertempatan Tuhan yang dalam pandangan ini sangat bernuansa antropomorfis jika dinisbatkan kepada dzat yang tidak termporal. 

Bukankah kita sedari kecil sudah sangat familiar dengan konsep ketuhanan yang dikenalkan kepada kita mengenai sifat-sifat Allah yang 20? Yang di sana kita mempelajari salah satu sifat Tuhan yang berbeda dengan ciptaannya (mukhalafatul lil hawadits).

Sebagai pemegang status quo hegemoni kelompok Islam, tentu Ahlusunnah sudah sangat tuntas menjalankan tugasnya untuk bagaimana kita bisa mengenal Allah dengan konsep-konsep ketuhanannya sedari kecil. Tetapi, lihatlah apa yang terjadi saat ini. 

Karna dengan arus media sosial, idealisme Ahlusunnah dalam rangka menjaga eksistensinya menyebarkan paham konsep ketuhanan seakan dirobohkan. Konsep-konsep ketuhanan khas Ahlusunnah sudah mulai ditinggalkan, dikatakan bahwa paham tersebut tidak berasal dari generasi masa primordial Islam, atau bahkan dihukumi kafir dan lain sebagainya.

Mirisnya bagaimana kita melihat generasi ini sudah mulai dirobohkan dari bangunan yang sedari kecil dibuat untuk mengokohkan paham keislamannya, tetapi disisi yang sama tidak ada yang bisa kita perbuat selain bertengkar dan beradu argumen yang hanya berakhir pada adu ego semata.

Ini hanya sebagian kecil dari dinamika kemajemukan ragam corak keberagamaan dalam kelompok Islam, seharusnya kemajemukan ini jika disikapi lebih bijak akan bisa menjadi sebuah pembendaharaan keislaman tentang bagaimana berwarna dan indahnya bersama walau berbeda pendapat.

Bukankah itu yang dilakukan oleh para ulama fiqh kita? Dan bukankah itu yang dilakukan para ulama dan pemikir muslim lainnya? Sampai dalam kasus familiar soal pengkafiran Al-Ghazali terhadap para filsuf- pun banyak dihukumi para ulama dan pemikir Islam kita hanya sebagai salah satu dari ragam macam dialektika rasionalis yang terjadi di antara mereka, bukan sebagai penghukuman kafir secara syar’i yang menyebabkan objek sasaran Al-Ghazali keluar dari agama Islam.

Lebih kompleks jika kita merefleksikan pengantar sebelumnya dalam skala yang lebih luas. Yaitu, bagaimana kita bersikap dengan pemahaman yang berasal dari produk pemikirian di luar Islam? Apakah bisa kita adopsi? Jika iya, akankah berdampak pada kesejahteraan intelektual dalam paradigma kontemporer guna menghadapi wacana-wacana kekinian dan menjawab tantangan global?

Agar lebih terarah, dalam tulisan ini kita tidak akan keluar dari konteks dan pertanyaan-pertanyaan sebelumnya. Tentu, jauh sebelum berbicara mengenai agama. 

Kita sebaiknya berbicara mengenai sejarah tentang bagaimana kilas balik historik dari peradaban Timur dan Barat yang saling mendominasi satu sama lain dalam kurun waktu berabad-abad lamanya. 

Bagaimana dunia Timur mempunyai peran dalam perkembangan peradaban manusia dari sisi spiritualitas dan bagaimana dunia Barat mempunyai peran dalam perkembangan peradaban manusia dari sisi moralitas.

Timur dan Barat

Pertanyaan menarik untuk mengawali sub-bab ini adalah “Bagaimana kita dapat mengklasifikasikan antara dunia Barat dan dunia Timur? Apakah dibatasi secara geografis atau dibatasi oleh ciri khas dari corak produk pemikiran tertentu?” Secara umum pemisah antara dunia Barat dan dunia Timur tentu dibatasi secara geografis. 

Seperti bagian barat bisa kita kategorikan yaitu negara- negara bagian benua Eropa, dan kemudian bagian timur bisa kita kategorikan yaitu negara-negara bagian benua Asia dan sebagian benua Afrika. 

Sedangkan secara khusus pemisah antara dunia Barat dan Timur adalah corak produk pemikiran yang tidak terbatasi oleh sisi personalitas seseorang dari peradaban dan budaya mana dia berasal.

Lebih jauh lagi pembicaraan klasifikasi secara khusus ini dapat kita uraikan setelah kita membahas mengenai definisi dari Orientalis dan Oksidentalis. Siapa mereka? Dan dari mana mereka berasal?

Menurut Edward Said Orientalisme adalah studi keilmuan yang menghantarkan kita kepada gagasan-gagasan dari paradigma dunia Timur dengan gambaran yang terorganisir guna keperluan penelitian dalam ranah teori ataupun praksis. Begitupun dengan Oksidentalis mereka adalah orang-orang yang mengkaji gagasan dunia Barat dalam ranah yang sama.

Dari kedua definisi di atas yang membedakan di antara keduanya hanyalah siapa yang menjadikan dirinya sebagai subjek dan menjadikan yang lainnya sebagai objek. Maka siapapun dan dari manapun dia berasal baik dari Barat ataupun Timur kemudian menjadikan dunia Timur sebagai objek kajiannya maka dia disebut sebagai Orientalis.

Dan sebaliknya, siapapun dan dari manapun dia berasal kemudian menjadikan dunia Barat sebagai objek kajiannya maka dia disebut sebagai Oksidentalis. Tokoh terkemuka yang banyak dijuluki sebagai seorang Oksidentalis adalah Hasan Hanafi filsuf terkemuka berasal dari Mesir.

Dalam fase perkembangannya Orientalisme tidak berkembang dari sebuah dialog ruang kosong. Beberapa pakar menyebutkan mereka berkembang semenjak munculnya 3 agama samawi (Abrahamic religion), terkhusus dalam konteks keislaman mereka semakin berkembang pasca perang salib yang terjadi di antara kaum muslim dan kaum kristiani.

Semenjak masa Renainsans yang menjadi gerbang perdaban modern hingga masa kontemporer saat ini mereka masih tetap eksis mengembangkan produk pemikirannya dari hasil kajian mereka terhadap dunia timur Islam. 

Mengkritik adalah kegiatan umum mereka dalam bagaimana akhirnya dunia timur Islam harus tunduk dalam hegemoni Barat sebagaimana objek yang didudukan di hadapan sebuah subjek.

Melanjutkan kilas balik historik, dalam beberapa kali pusat peradaban sempat berpindah antara dunia Timur dan Barat. Dalam konteks ini dunia ketimuran sempat mendominasi kejayaan peradaban dan menjadi pusat ilmu pengetahuan pada masa abad keemasan Islam. Begitupun sebelumnya yang sempat berpusat di dunia Barat pada kejayaan ilmu pengetahuan dimasa Yunani kuno.

Periode Postmodern yang sedang kita alami saat ini menjadi puncak masa kejayaan peradaban Barat. Mengkaji dan mempelajari Barat melalu sumber-sumber barat adalah kesempatan yang tidak bisa dilewatkan. 

Mempelajari alasan mengapa mereka sampai saat ini menjadi bangsa dengan peradaban yang sangat maju dan menjadi pusat ilmu pengetahuan adalah pertanyaan yang hanya dapat kita temukan jawabannya melalui sumber-sumber mereka. 

Mirisnya dari beberapa kalangan pada beberapa dasawarsa terakhir justru mengkampanyekan ke-alergian mereka terhadap sesuatu yang berasal dari Barat. Seperti mengenai diskusi-diskusi yang berujung pada wacana islamisasi ilmu atau dekonstruksi syari’at islam adalah contohnya.

Baiknya kita tidak memandang sebelah mata fakta historik mengapa dunia Timur dahulu sempat menjadi pusat peradaban dan ilmu pengetahuan. Kerap beberapa kali sejarah menampilkan kepada kita bagaimana kerajaan-kerajaan islam pada saat itu tanpa malu-malu banyak menggunakan jasa orang-orang di luar Islam sebagai rujukan untuk membangun peradaban sosial seperti penerapan hukum serta birokrasi ketatanegaraan.

Kisah populer Al-Makmun yang bermimpi bertemu dengan Aristoteles adalah awal dari titik tolak peradaban timur Islam dapat membuka diri dari produk pemikiran luar serta menjadikannya sebagai pemegang status quo dalam memimpin peradaban dunia walau Al-Jabiri menyimpulkan mimpi tersebut hanya siasat politis Al-Makmun untuk menghabisi lawan politiknya. 

Berawal dari penerjemahan karya-karya populer Aristoteles hingga akhirnya melahirkan para filsuf muslim yang banyak mempengaruhi majunya peradaban Barat saat ini adalah bukti dari keterbukaan dunia Islam disaat itu.

Ibnu Sina yang mempunya magnum opus berjudul “Al- Shifa” menjadi rujukan medis dunia Barat modern. Tanpa malu- malu Barat sangat terbuka terhadap sesuatu yang bukan berasal darinya terlebih yang berasal dari Islam, karna beberapa pakar menyebutkan bahwa spirit Renainsans pada saat itu adalah bagaimana caranya peradaban Barat dapat berkembang seperti peradaban Timur Islam sebelumnya. 

Sampai di sini, apakah kita masih harus alergi dan phobia terhadap produk-produk pemikiran Barat? Bukankah Rasul pernah berpesan “Hikmah adalah sesuatu yang hilang dari muslim maka dimanapun kamu mendapatkannya, ambilah!”

Lantas bagaimana perkembangan dunia Timur Islam saat ini dalam konteks kajian Barat studi komparasi ataupun kontemplasi? Jika kita melihat pada diskursus ini, banyak pimikir- pemikir muslim yang sudah mencanangkan wacana Islam kekininan seperti Rekonstruksi pemikiran Islam, hingga mengkritik nalar Arab. Lagi-lagi diskusi dan dialog ini tidak berasal dari ruang kosong. 

Beberapa wacana tersebut menjadi alternatif kajian Islam Barat dalam mengadopsi beberapa konsep teori hingga praksis untuk mengembangkan Islam yang maju, kritis dan dinamis.

Islam Pasca Kolonialisme

Era baru muncul pasca kekalahan kerajaan Islam terakhir yaitu Turki Utsmani pada perang dunia pertama. Dampak dari kekalahan tersebut menjadikan daerah kekuasaan wilayah Turki Utsmani berada di bawah kekuasaan pemenang perang. Dengan semangat kemenangan tersebut Barat mulai melakukan ekspansinya dalam hal dominasi Timur dengan mendudukannya sebagai objek.

Eksploitasi atas kebebasan manusia sangat mengkhawatirkan kala itu. Kesenjangan intelektual mulai terasa, dunia Timur semakin jauh tertinggal dan masa-masa kejayaan di era keemasan Islam hanya tinggal cerita sejarah yang beberapa kalangan masih berharap untuk dapat me-reka ulang adegan di setiap kepingan sejarah indah yang saat itu hanya terukir di dalam buku-buku.

Jika berbicara masa pos-kolonialisme maka kita berbicara tentang kemerdekaan negara-negara di dunia Timur setelah masa penjajahan mereka pasca perang dunia pertama dan kedua. 

Barat tidak serta merta meninggalkan Timur dalam konteks jajahan perang saat itu tanpa berambisi untuk tetap menancapkan hegemoninya dengan gaya baru yang kemudian melahirkan sebuah negara yang kita sebut saat ini sebagai negara Israel. 

Barat mengetahui bahwa gaya penjajahan ala perang dan senjata sudah tidak relevan lagi. Maka mereka membuat strategi Israel ini agar bagaimana caranya dunia Timur terpecah belah dari dalam dan berperang satu sama lain. Alhasil semuanya berjalan sesuai skenario mereka, dunia Timur semakin tertinggal dan Barat semakin maju.

Tetapi siapa sangka senjata yang ditanam oleh mereka ini yang suatu saat akan menjadi bumerang bagi mereka itu sendiri. Kekalahan dunia timur Islam terhadap Israel pada tahun 1948 membawakan kita kepada wacana-wacana baru tentang keislaman yang memberikan banyak sumbangsih ilmu pengatahuan yang dikaji melalui barat. 

Pada masa kekalahan saat itu terjadi dilema di kalangan dunia Timur khususnya Arab Islam. Koalisi Arab saat itu tidak dapat mengalahkan Israel. Apa yang terjadi? Apa penyebabnya? Apakah benar kita mengalami kemunduran? Dari pergolakan api pertanyaan tersebut maka kemudian lahirlah tokoh- tokoh pemikir Islam pembaharu yang kita kenal saat ini seperti Al- Jabiri, Hasan Hanafi, Ahmad Amin, Arkoun dan lain-lain.

Mereka berpendapat ada satu sudut pandang kemunduran yang terjadi di dunia Timur Arab Islam saat itu. Mereka mengkritik beberapa gagasan-gagasan Islam yang sudah mapan dan menggantinya dengan gagasan yang lebih relevan dan segar. 

Tentu dengan hasil studi kajian Barat sebagai instrumen pengantarnya. Salah satu contoh kritik dari tokoh-tokoh pembaharu Islam ini adalah menyoal tentang konsep Tasawuf yang justru menjadi biang keladi mundurnya peradaban dunia Timur Arab Islam.

Menurut pendapat mereka konsep tasawuf yang sudah usang ini menjadikan setiap penganutnya sebagai seseorang yang dominan bersifat stagnan. Kita sangat familiar bahwa konsep Tasawuf ini banyak mengajarkan agar setiap Muslim selalu bersabar dan menerima segala sesuatu dengan tabah, qona’ah serta ridha. Sedangkan konsep ini tidak dapat di aplikasikan pada ranah praksis saat dalam keadaan penindasan kaum Muslim dari kediktatoran penguasa.

Lebih jauh lagi Hasan Hanafi menegaskan bahwa Tasawuf tidak berdampak secara signifikan terhadap kesejahteraan sosial masyararakat. Jika konsep usang tersebut diterapkan kepada masyarakat kelas bawah yang tidak mempunyai kekuatan untuk melawan ketidakadilan bagi mereka, justru hanya akan semakin membuat mereka terbelenggu atas penderitaannya. 

Alih-alih untuk melawan kepada penindasan atas penguasa yang diktator justru hanya membuat mereka diam dan tidak berbuat apa-apa, karna menurut mereka bahwa segalanya adalah ketetapan dan takdir Allah semata. Maka dari itu pun kita harus selalu bersabar dan ridha untuk menjalani ujian dari-Nya.

Ini titik tolak yang membawa beberapa para pemikir muslim untuk bergerak dan memperbaharui konsep-konsep keislaman yang sudah usang dan tidak lagi relevan. Tentu kajian ini menggunakan instrument pengantar Barat. 

Tokoh seperti Hasan Hanafi ini di samping banyak mengkaji dan mempelajari Barat untuk menjadikan Islam sebagai agama yang transformatif dan kontekstual (tajdid at- turast ad-diny), dia sangat rutin dan sering pula mengkritik Barat dengan hasil kajian-kajiannya tersebut.

Mengkaji Gagasan yang Mapan

Gagasan-gagasan dalam diskursus keislaman merupakan produk pemikiran yang lahir dari para pemikir dan ulama muslim. Gagasan yang lahir dalam tradisi Islam umumnya dikategorikan sebagai sesuatu yang konseptual dan aktual dari sisi teori seperti ketuhanan kemudian dari sisi praksis seperti hukum, moral dan etika.

Dalam literatur-literatur Islam untuk mencapai sebuah gagasan yang mapan diperlukan berbagai klasifikasi personal dari hal keilmuan. Pengklasifikasian ini terbilang cukup ketat karna dalam beberapa tradisi keilmuan Islam tidaklah seseorang dapat melahirkan sebuah gagasan atau berijtihad kecuali telah menguasai 12 bidang keilmuan sebagai instrument dasar pengantar terhadap dunia turats Islam.

Pun untuk menyelami dunia klasik Islam di masa sekarang setidaknya seseorang dituntut untuk dapat menguasai beberapa bidang keilmuan tadi. Pembaharu pemikir Islam di saat menyelami dunia Islam klasik di masa primordialnya di samping membawa intrument Barat sudahlah dia pun selesai dan menguasai pengantar tradisi turats Islam. 

Maka di saat gagasan yang sudah mapan dikritik dan dikoreksi tidaklah hal tersebut terjadi kecuali setelah melalui analisis intelektual yang matang hingga berbuah menjadi gagasan yang baru, relevan dan segar.

Cara pandang yang terjadi di antara para pemikir muslim saat ini kepada pemikir muslim dimasa klasik bukanlah persoalan etika dan moral, tetapi justru lebih kepada perjalanan diskursus keislaman yang secara intelektual dikaji dan diperbaharui dengan mengikuti alur kehidupan yang terus terjadi agar wacana keislaman ini selalu relevan dan hadir di berbagai keadaan dan situasi.

Keterbukaan adalah instrument wajib bagi siapapun yang ingin merasakan kemajuan. Jika tolak ukur antara kajian Barat dan Islam terlalu besar dan kompleks setidaknya kita bisa kecilkan skalanya pada konteks keragaman corak beragama Islam kita khususnya Ahlusunnah wal jama’ah.

Dalam tradisi Ahlusunnah kita mengenal 3 konsep pilar yang menjadikan Islam sebagai agama yang paripurna. Pertama dalam Tauhid yang menghantarkan kita kedalam Ilmu Aqidah, kedua dalam Syari’at yang menghantarkan kita ke dalam Ilmu Fiqh, dan ketiga dalam Tasawuf yang menghantarkan kita ke dalam Ilmu Akhlaq. 

Pada setiap konsep pilarnya tentu kita mempunya penggagas metodologi dari setiap rujukan masing-masing dalam bidangnya. Seperti dalam ber-aqidah kita menggunakan metodologi Al-Asy’ari, dalam ber-fiqh menggunakan metodologi Imam empat madzhab yang di-akui, kemudian dalam ber-tasawuf menggunakan metodologi Al-Ghazali.

Gagasan dari ketiga konsep pilar keislaman ini sudah mapan dan matang dibawa oleh masing-masing penggasan dimasanya. Kita mengenal konsep Tuhan dalam aqidah yang dikenalkan melalui metodologi Asy’ari yang sangat kental akan transendentalisitasnya, hal tersebut terkadang justru mencitrakan kita sebagai seorang hamba yang justru sangat jauh dari sang pencipta. 

Tetapi sebaliknya ketika mengenali konsep tajalli dalam Tasawuf adalah bagaimana kita dapat merasakan nuansa yang harmonis tentang penggambaran Tuhan yang sangat dekat dengan hamba-Nya.

Seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa Tuhan dalam konsep Asy’ari sangat bersifat transenden, ini obsesi yang kuat di kalangan Asya’irah untuk selalu menjadikan Tuhan yang maha sempurna dan agar tidak sama seperti manusia yang serba memiliki kekuarangan. 

Konsep ini setidaknya yang mendapatkan kritikan sekaligus menjadikan kelemahan dalam aqidah Asy’ari. Seperti yang dikatakan oleh Hasan Hanafi bahwa ketidak setujuannya dengan konsep ketuhanan ala Asy’ari ini membuat manusia terpinggirkan perannya dalam rangka membangun peradaban alam.

Masih bernada sama seorang Sufi besar Ibnu ‘Arabi ingin berusaha menjabarkan konsep-konsep Tuhan melalu pendekatan intuisi-mistis. Kiranya agar manusia bisa mendapatkan perannya tanpa merasa terpinggirkan, secara Tasawuf ciptaan-Nya seperti manusia dan alam adalah bagian dari pancaran bagaimana Tuhan dapat menyingkapkan wujud-Nya. 

Tuhan bermanifestasi pada ciptaan-ciptaannya, selaras dengan perkataan Ibnu Atha’illah dalam Hikamnya bahwa seluruh alam semesta berada dalam kegelapan dan yang memberikan cahaya adalah dzat Allah SWT.

Konsep seperti ini adalah angin segar yang perlu dikampanyekan oleh kita disaat maraknya eksploitas dan kerusakan alam yang berdampak pada krisis iklim dan pemanasan global yang terjadi semenjak revolusi industri abad ke-18. 

Dengan wacana keislaman seperti di atas agaknya dapat membuka mata hati manusia bahwa barang siapa yang menyakiti alam maka dia telah menyakiti Tuhannya.

Epilog

Sebagai manusia beragama yang tidak akan terlepas dari dimensi sosial-masyarakat, perlulah bagi kita untuk terus bisa menggaungkan wacana-wacana keislaman yang kekinian sebagai solusi dari problematika kontemporer yang sedang terjadi di dunia saat ini.

Berdebat dengan mereka yang berbeda dengan kita bukanlah bentuk dari penyelesaian masalah sosial kemasyarakatan saat ini, di samping kita berdebat di sana masih banyak jutaan orang menderita karena kelaparan akibat kesenjangan ekonomi yang terjadi di antara mereka, di samping kita berdebat di sana masih banyak ancaman yang akan terjadi akibat dari krisis iklim dan pemanasan global yang akan menimpa generasi umat manusia kedepannya.

Jadikanlah perbedaan sebagai warna bagaimana agama Islam tumbuh sebagai pembendaharan sejarah dan keilmuan yang sangat kaya tanpa harus dibenturkan satu dan lainnya. 

Beragama tanpa menghakimi adalah corak keagamaan yang sangat relevan untuk saat ini. Tanpa harus berdebat dan menyalahkan baiknya kita gunakan sisi spiritualitas kita dalam konteks ini Islam sebagai agama yang dapat menjadi solusi bagi kesenjangan ekonomi yang terjadi di kalangan masyarakat, menghapus kelas-kelas dalam tatanan sosial serta menjaga kelestarian alam dengan tidak mengeksploitasinya, untuk kehidupan peradaban manusia yang lebih baik dan maju kedepannya.