Klaim kebenaran mutlak memang menjadi bagian terpenting dari keyakinan agama. Hal ini menunjukkan bahwa potensi keyakinan terhadap agama memang menjustifikasi terhadap kebenaran mutlak di tengah jenis keyakinan lain yang serupa.

Tidak peduli seberapa benar keyakinan agama-agama lain, agama yang diyakini oleh seseorang selalu saja yang paling benar. Ada indikasi bahwa kemurnian cara pandang terhadap keyakinan agama adalah alami dan ada dalam dirinya sendiri.

Dalam hal ini, yang akan menjadi perhatian terhadap permasalahan keyakinan agama adalah tentang Kristen yang berkaitan dengan teologi. Pertama-tama, harus dikatakan bahwa agama Kristen membuat beberapa jenis pernyataan.

Misalnya, Injil bicara tentang Kristologi, di mana Yesus Kristus menjadi bagian penting dari mekanisme ketuhanan orang-orang Kristen dan betapa pun Yesus adalah Anak Tuhan, tetapi ia diyakini sebagai manusia yang mati dan dikubur, hingga pada hari ketiga ia dibangkitkan kembali.

Di sisi yang lain, Injil juga bicara tentang masalah antropologi dan hamartiologi, hal ini dimaksudkan sebagai peristiwa di mana Yesus mati dengan mengorbankan dirinya dalam penebusan dosa, yakni dosa asal yang dapat menghapuskan seluruh dosa-dosa umat manusia yang mengikuti ajaran-ajaran-Nya. Seperti yang tertuang dalam Injil, kematian Yesus diperuntukkan sebagai penebusan atas dosa-dosa manusia yang sebelumnya dosa-dosa itu tidak dapat dihapuskan.

Menurut James Borland (1998), ada banyak indikasi yang mengarah pada pemaknaan terhadap kematian Yesus. Seperti pembenaran, penebusan, rekonsiliasi, pengampunan, persatuan dengan Kristus, aspek pemilihan, kecukupan dan keamanan, serta yang lebih penting lagi adalah keunikan dan pesan-pesan eksklusif yang coba dituangkan dalam peristiwa itu.

Dalam keyakinan Kristen, selain sifat-sifat Tuhan yang maha bijaksana, hal yang perlu dipertimbangkan juga adalah masalah kekudusan dan cinta kasih dalam diri Tuhan yang secara emanasi, berwujud dan menjelma dalam kedirian Yesus sang Tuhan anak yang diberkati. Meskipun secara eksplisif Injil tidak memberikan banyak penjelasan yang jelas dan gamblang, namun implikasinya sangat jelas dalam hal-hal yang bersifat supranatural.

Paulus pernah mengatakan bahwa Injil Kristus adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan siapapun dan setiap orang yang percaya. Tanpa pada saat yang sama memandang ras, suku, jenis kelamin, atau jenis perbedaan-perbedaan yang lainnya. Hal ini terjadi dalam pluralitas kehidupan.

Beberapa klarifikasi dan penkategorian secara teologis perlu dilakukan dan dirumuskan, serta secara khusus membandingkan ajaran-ajaran Kristiani dengan pesan-pesan dari agama yang berkembang dan muncul di dunia yang paling menonjol dan penting.

Pertama, dalam kaitannya dengan sifat-sifat Tuhan, Kristen secara umum dikenal telah mengajarkan keyakinan bahwa Tuhan Allah adalah Tritunggal yang maha bijaksana dan masing-masih wujud dari Tritunggal, yakni tiga dalam satu adalah kekal abadi selama-lamanya.

Kekudusan Allah menunjukkan dan menuntun kebenaran ciptaannya, dan Tuhan memiliki kebebasan untuk memilih dan menentukan apakah hamba-hambanya akan diselamatkan atau jatuh dalam jurang penuh dosa.

Kebenaran manusia adalah bahwa ia tidak bisa dalam keadaan apapun untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Dengan karunia kasih Allah, kebenaran-kebenaran disampaikan secara bebas dan penuh kebijaksanaan dan Allah bebas menunjuk dan melepas dosa-dosa atau keyakinan-keyakinan.

Namun demikian, tak satu pun jenis teologi ini yang menyentuh hati dan perasaan kaum Muslim, penganut Hindu, atau Budha. Dalam konteks ini, Allah Islam jauh berbeda dengan Kristen, karena dalam Islam tidak ada Trinitas. Dan ketentuan penebusan dosa semata-mata ada dalam genggaman dan kekuasaan Allah, keadilannya, dan determinisme yang ajaib.

Ajaran dalam agama Hindu dan Budha tidak melihat dosa dalam hal hubungannya dengan Tuhan sebagai pribadi, itu semata-mata hanya masalah moralitas. Untuk agama Hindu misalnya, keselamatan yang utama adalah “pemisahan jiwa yang kekal dan abadi dari dunia fenomenal yang nyata”, ini tidak sama sebagaimana dalam ketuhanan Kristen.

Dalam konteks Budha, yang dicari adalah dunia spiritualitas tertinggi yang mereka sebuat dengan Nirwana, yakni dunia kekosongan, alam tanpa arti, dan hilangnya semua jenis kesadaran individu atau personal dan lenyapnya eksistensi dalam suatu penyerapan ke dalam hal-hal yang bersifat impersonal.

Ajaran Kristen adalah sebuah misi keselamatan yang menjadi antitesis bagi semua agama-agama yang ada di dunia. Tapi bagi saya yang Muslim ini, Islam adalah agama yang dikecualikan dari antitesis itu, karena datangnya lebih akhir. Ajaran Islam sendiri banyak mengulas masalah Kristologi yang agak berbeda dengan apa yang diyakini oleh orang-orang Kristen.

Baca Juga: Trinitas Islami

Dalam keyakinan terdalam ajaran Kristen, ada suatu pertanyaan, apakah mungkin keselamatan itu ada di luar ajaran Injil Kristus? Dapatkan misalnya orang Hindu menjadi bagian penting dari sistem keyakinan orang-orang Kristen. Apakah ada sebuah keyakinan yang menyatakan bahwa semua agama adalah benaran dan secara bersama-sama akan menuju kepada tangga surga.

Dapatkah agama-agama di luar Kristen disebut sebagai sebuah misi gabungan yang masuk ke dalam keyakinan Kristen melalu Yesus, yang sejauh ini diyakini bahwa hal itu tidak pernah menjadi mungkin karena suatu alasan doktiner dan teologis. Hal penting ini menjadi perlu dipertanyakan mengingat struktur metafisik dalam keyakinan Kristen berbeda dengan agama-agama yang lain.

Lagi pula, firman Tuhan telah menunjukkan penolakan-penolakan dari berbagai macam aspek. Yesus dalam hal ini telah dengan tegas menyatakan “tidak ada kebenan mutlak dan keselamatana tanpa melalui dirinya yang maha diberkati”. Seperti yang tertuang secara jelas dalam Injil Yohanen di mana Yesus berkata bahwa “Akulah jalan keselamatan, kebenaran, dan yang hidup. Tidak ada yang datang kepad Bapa kecuali melalui Aku”.

Yesus berkata dengan sebuah misi dakwah bahwa orang-orang Kristen agar pergi keseluruh dunia dan memberikan injil kepada semua mahluk. Siapapun yang percaya dan mau dibaptis, akan diselamatkan. Namun barang siapa yang tidak percaya maka akan dihukum dengan hukuman yang berat.

Dan lagi, Yesus telah dibangkitkan dari kematiannya setelah tiga hari dan kebangkitannya adalah menuju surta Bapa, sebagai sang juru selamat yang menjadi tonggak dan memiliki arti penting bagi seluruh keyakinan Kristen di mana pun mereka berada.