Sejak virus corona varian delta dari India masuk ke Indonesia pada bulan Mei, kasus corona virus meningkat dengan sangat cepat. Peningkatan jumlah kasus disertai dengan peningkatan jumlah kematian. Pada data dari Kemenkes maupun dari Worldometer tercatat sejak awal Juli angka kematian akibat corona virus menembus seribu per hari dan bertahan di angka tersebut hingga saat ini. Angka ini belum termasuk orang yang meninggal tanpa adanya pemeriksaan sebelumnya.

Angka-angka kematian tersebut bukan hanya data statistika dan epidemiologi tetapi angka-angka berapa banyak anak yang kehilangan orang tua, atau orang tua yang kehilangan anak. Berapa banyak orang yang kehilangan keluarga dan sanak saudara. Kemungkinan semua orang pernah mengalami kehilangan dan duka cita akibat kematian selama pandemic ini. Mulai dari tetangga, kenalan, keluarga, teman dan sahabat, bahkan banyak yang kehilangan pasangan hidup. Berita sedih berturut-turut masuk dan terpendam di alam sadar maupun bawah sadar.

Kematian terjadi di depan mata serasa menonton film End Game dimana Thanos hanya dengan menjentikkan jari saja separuh penduduk dunia lenyap. Thanos yang namanya diambil dari nama dewa kematian: Thanatos. Yang dalam mitologi Yunani digambarkan sebagai sosok kejam yang tidak punya belas kasihan dan tidak pandang bulu. Thanatos anak dari Nyx (Malam) dan Erebos (Kegelapan). Saudara kembar dari Hypnos (Tidur) dan saudara kandung dari Umur Tua, Penderitaan, Malapetaka, Penipuan dan masih ada beberapa saudaranya yang sifatnya sama: tidak diharapkan dan tidak diinginkan.

Thanatos juga yang menjadi asal kata thanatology yakni ilmu yang mempelajari kematian. Ilmu yang mempelajari kapan seseorang meninggal, apa yang terjadi sebelumnya, apa yang terjadi sesudahnya, penyebab kematiannya apa dan apapun yang berhubungan dengan kematian. Termasuk mempelajari umur belatung yang ditemukan pada jenazah untuk menentukan perkiraan waktu kematian. Bahkan jika yang tersisa tinggal tulang belulang pun masih bisa diperkirakan penyebab kematiannya apa dan perkiraan waktu kematiannya kapan.

Thanatos juga yang menjadi asal kata euthanasia yang secara harafiah berarti kematian yang baik. Dimana seseorang diakhiri hidupnya dengan tujuan yang "baik" yakni untuk mengurangi atau mengakhiri penderitaannya. Berbeda dengan pembunuhan, euthanasia didasari dengan belas kasihan. Dimana secara etik masih menjadi perdebatan tetapi di Indonesia sendiri masih illegal.

Thanos, Thanatos, Dewa Kematian apapun itu yang tadinya hanya ada dalam film dan dalam mitologi tapi sekarang serasa terjadi di depan mata. Entah film dan mitologi yang masuk ke dunia nyata atau dunia nyata yang menjadi serasa film dan mitos. Setiap membicarakan kematian di pikiran kita terlintas apa yang terjadi setelah kematian. Umumnya pikiran akan membawa kita ke hal-hal spiritual yang terjadi setelah kita mati. Tentang after life, dunia akhirat, surga dan neraka. Namun pernahkah kita berpikir tentang hal-hal fisik dan duniawi seperti apa yang terjadi pada tubuh kita setelah kematian.

Sesaat setelah seseorang meninggal terjadi penurunan suhu tubuh (algor mortis). Suhu tubuh yang normalnya sekitar 37°C akan turun perlahan mendekati suhu lingkungan. Penurunan suhu tubuh ini yang membuat jenazah terasa dingin jika diraba. Merupakan indikator kematian yang paling sering dipergunakan selain berhentinya nafas dan berhentinya detak jantung.

Kurang lebih setengah jam setelah meninggal akan muncul lebam mayat (livor mortis). Kulit pada bagian yang paling rendah akan berwarna kebiruan yang sering disalahartikan sebagai memar akibat kekerasan. Lebam ini muncul karena darah bergerak ke bagian tubuh yang paling rendah mengikuti gravitasi. Jika jenazah meninggal dalam posisi telentang maka lebamnya akan tampak pada bagian punggung. Sementara jika jenazah meninggal dalam posisi miring ke arah kanan maka lebamnya akan tampak pada badan bagian sisi kanan, begitu pula sebaliknya. Lebam mayat ini kalau kita amati lebih dalam sebenarnya berwarna biru keunguan akibat dari adanya eritrosit atau sel darah merah.

Lebam mayat ini ada yang menetap dan ada yang masih hilang dengan penekanan. Yang dimaksud dengan hilang dengan penekanan adalah warna kebiruan ini akan hilang jika ditekan dengan jari-jari, daerah yang kebiruan ini akan kembali sewarna dengan kulit di sekitarnya. Hal ini masih dapat terjadi sekitar 6 jam setelah kematian. Setelah 8 jam lebam mayat akan menetap, yakni warnanya akan tetap kebiruan meskipun ditekan dengan jari-jari. Hal ini selain dapat dijadikan petunjuk waktu kematian, juga dapat menjadi petunjuk apabila jenazah tersebut pernah dipindahkan atau posisinya dirubah dari posisi awal sewaktu meninggal.

Kurang lebih 2 jam setelah meninggal akan mucul kaku mayat (rigor mortis). Mayat menjadi kaku dan sulit untuk digerakkan. Kekakuan ini muncul perlahan-lahan dimulai dari otot-otot kecil pada wajah, tangan dan kaki. Setelah 12 jam seluruh tubuh menjadi kaku kemudian perlahan-lahan menjadi lemas kembali. Otot jadi kaku karena kehabisan sumber energi yakni ATP (adenosin trifosfat). Otot yang kaku menyebabkan sendi-sendi jadi sulit digerakkan.

Dua puluh jam setelah meninggal, kaku mayat menghilang sehingga tubuh menjadi lemas kembali dan mulailah terjadi proses pembusukan. Pembusukan dimulai dari perut akibat adanya bakteri di dalam usus. Kemudian perlahan-lahan seluruh badan bengkak, mata melotot, lidah menjulur keluar, bahkan kemaluan juga membengkak, kulit ari terlepas, dan keluar darah dari mulut dan hidung. Proses pembusukan ini menghasilkan gas yang menyebabkan badan membengkak dan mengeluarkan bau yang khas. Bau yang khas inilah yang kadang menjadi petunjuk saat seseorang meninggal dunia sendiri tanpa ada keluarga atau orang lain yang melihat, kadang mulai tercium sekitar 3-5 hari setelah meninggal.

Pada tahap pembusukan ini sering ditemukan belatung. Sebenarnya belatung ini adalah larva dari lalat yang hinggap pada tubuh jenazah. Bukan dari dalam jenazah itu sendiri. Lalat yang hinggap akan meninggalkan telur yang kemudian bermetamorfosis menjadi larva, pupa, dan akhirnya menjadi lalat. Dari adanya belatung ini dapat diperkirakan kapan waktu kematian dengan mengukur umur belatung sesuai dengan jenis lalat dan siklus metamorfosisnya.

Selain belatung sering ditemukan serangga-serangga lainnya. Belatung dan serangga-serangga ini mempercepat proses pembusukan. Serangga-serangga ini akan berhenti mengerubungi jenazah setelah daging dan organ dalam habis terurai menyisakan kulit,  rambut, dan tulang belulang. Bahkan setelah tinggal tulang belulangpun proses perubahan masih berlanjut.

Lima bulan setelah kematian tulang masih berbau busuk. Kemudian perlahan-lahan terjadi perubahan warna dari warna kuning menjadi putih setelah sekitar 7 bulan. Setelah 1 tahun tulang mulai berpori perlahan-lahan sampai sekitar 3 tahun pori-pori sudah merata dan tulang mulai rapuh. Tulang yang tadinya berat, tebal dan keras perlahan-lahan akan keropos dan hancur. Proses ini akan terjadi perlahan-lahan selama belasan sampai puluhan tahun.

Jadi kira-kira inilah yang akan terjadi pada tubuh kita setelah kematian, sejak pernapasan dan jantung berhenti sampai tinggal tulang-belulang.