Swadaya
1 bulan lalu · 101 view · 3 min baca menit baca · Saintek 17087_52718.jpg
https://www.3vgreeneagle.com/en/industries/oil-gas-industry

Inilah Cara Efektif Menggenjot Produksi Minyak Bumi Kita

Pada tahapan primer, metode eksploitasi minyak bumi dapat dilakukan secara alami (natural flow) dengan memanfaatkan tekanan reservoir yang masih tinggi. Namun kondisi ini sudah jarang ditemui di lapangan minyak di Indonesia, khususnya lapangan-lapangan yang telah Mature. 

Minyak bumi tidak dapat secara alami lagi diproduksikan ke permukaan karena tekanan reservoir yang telah turun selama periode produksi yang telah dilakukan sebelumnya.

Pada tahapan selanjutya yaitu tahapan sekunder, minyak bumi diproduksikan menggunakan beberapa peralatan seperti Sucker Rod (Pompa Angguk), Electric Submersible Pump (Pompa Benam) atau menggunakan injeksi gas melalui tubing (Gas Lift). Metode produksi dengan menggunakan beberapa peralatan tersebut sering disebut sebagai metode pengangkatan buatan (Artificial Lift).

Metode Artificial Lift telah berhasil meningkatkan perolehan minyak di beberapa lapangan. Dilakukan juga sebuah usaha lain yaitu dengan injeksi air (Waterflooding) dan pressure maintenance.

Kedua metode ini memiliki kesamaan dengan melakukan injeksi air namun pada zona yang berbeda. Bila injeksi air (Waterflooding) dilakukan pada batuan reservoir yang terisi minyak untuk menyapu minyak, pressure maintenance dilakukan pada zona aquifer untuk mempertahankan tekanan agar tetap tinggi.

Pada tahapan ini metode yang digunakan masih tidak mampu menguras minyak yang tersisa di pori-pori batuan reservoir atau sering disebut sebagai Irreducible Oil Saturation/Swir. Swir tidak dapat bergerak karena sifat fisik batuan dan sifat fisik fluida yang mempengaruhinya,

Demi sebuah usaha untuk terus meningkatkan produksi minyak, selanjutnya adalah tahapan tersier. Tahapan ini sering disebut sebagai tahapan perolehan minyak tahap lanjut (Enhanced Oil Recovery/EOR). Metode EOR dilakukan sebagai usaha untuk mempengaruhi sifat fisik fluida antara lain viskositas dan tegangan antar muka antar fluida


Ada beberapa jenis EOR yang cukup komersil untuk diaplikasikan di lapangan antara lain

  • Thermal Injection, yaitu injeksi yang dilakukan untuk mempengaruhi sifat fisik fluida reservoir terhadap suhu khususnya viskositas. Metode yang sering dilakukan adalah, injeksi uap panas (Steam Flood).
  • Gas Injection, yaitu injeksi yang dilakukan dengan menggunakan non-condensable gas (Nitrogen dan Karbondioksida). Metode juga dilakukan untuk mempengaruhi sifat fisik fluida reservoir terhadap khususnya viskositas
  • Chemical Injection, yaitu injeksi yang dilakukan dengan menggunakan cairan zat kimia (biasanya polymer & surfaktan) untuk mempengaruhi tegangan antarmuka fluida reservoir. Sehingga minyak lebih mudah bergerak di reservoir.

Ketiga jenis EOR ini tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Seperti penggunaan Gas Injection dan Thermal Injection meskipun secara teknis mampu diaplikasikan pada kondisi reservoir tertentu, faktor seperti ketersediaan gas ketersediaan peralatan juga patut dipertimbangkan.

Pastinya, sebuah usaha perolehan minyak tetap harus menguntungkan secara ekonomi. Belum lagi ketika kita mempertimbangkan ketersediaan peralatan di permukaan (Surface Facility) yang harus dipersiapkan apabila kita menggunakan salah satunya. Ini juga berlaku untuk jenis EOR yang lain.

Mengingat resiko cost yang cukup besar maka sebelumnya diperlukan studi yang matang. Studi GGRP (Geology, Geophysic, Reservoir & Production) untuk mengetahu karakteristik reservoir secara lebih detail, dilanjutkan dengan POFD (Plan of Future Development) diharapkan mampu menjadi kajian yang memadai.

Di awali pembuatan model geologi terintegrasi dengan analisa geologi, geofisika dan petrofisika, diharapkan mampu menghasilkan output model geologi yang representatif, untuk selanjutnya dilakukan simulasi reservoir secara dinamik.

Simulasi reservoir pada tahapan history matching, akan mempengaruhi production forecast selanjutnya. Kecepatan dan ketepatan proses ini sangat dipengaruhi oleh model geologi yang dibuat berlandaskan studi-studi sebelumnya. Berdasarkan production forecast, kita dapat membuat scheduling kapan waktu EOR perlu dilakukan.

Dengan perangkat lunak simulasi reservoir, performa produksi sebelum dan setelah dilakukan EOR akan dapat dilihat dan dibandingkan hasilnya. Sehingga kita dapat melihat selisih perolehan minyak (Cummulative Recovery Factor) dengan metode yang telah dilakukan sebelumnya.


Diharapkan dengan EOR dapat memberikan Cummulative Recovery Factor yang cukup besar. Sehingga ketika dilakukan perhitungan secara keekonomian, biaya investasi yang diperlukan, sebanding dengan perolehan minyaknya.

Namun sebelum simulasi EOR dilakukan perlu dilakukan screening criteria untuk menentukan jenis EOR yang akan digunakan dan mungkin dilakukan secara teknis terhadap kondisi reservoir tertentu. Parameter kriteria ini berdasarkan analisa dan kajian teknis karakteristik reservoir dan telah disepakati secara umum.

Bisanya dalam skala lapangan, dilakukan EOR pilot project terlebih dahulu untuk kemudian hasilnya akan dikaji lebih lanjut. Sukses atau tidaknya sebuah pilot project akan menjadi pertimbangan untuk dilanjutkan atau tidaknya EOR yang akan dilakukan.

Beberapa jenis EOR telah dilakukan di beberapa lapangan minyak di Indonesia. Baik dalam skala pilot project atau telah diaplikasikan di lapangan. Dengan hasil-hasil dari lapangan yang telah melakukan EOR, diharapkan menjadi basis studi untuk kemungkinan dilakukan EOR di lapangan yang lain.

Mengingat kebutuhan minyak bumi masyarakat di Indonesia yang terus meningkat dengan usaha eksplorasi menemukan cadangan baru yang masih minim. Metode ini diharapkan mampu menggenjot produksi minyak dari lapangan yang telah ada.

Sebuah usaha mengais minyak bumi yang semoga dapat memenuhi kebutuhan minyak bumi masyarakat di Indonesia.

Artikel Terkait