Aku menemukan masa depan, tetapi dengan mimpi yang tak bisa kusampaikan atau kujelaskan kepadanya. Tentang sosok mimpi dari hal-hal yang merundung sepinya. Atau kekesalan yang membawanya berpangku dalam doa.

Aku datang membawa kabar. Kematian menjadi hari lain. Atau sosok asing yang berusaha mendekatmu. 

Menjadi kanvas kosong di pikiranku. Engkau memercik warna; lembut. dan menyatu dengan kerumitanku. 

Kita kembali bertautan. Tetapi kita juga saling berjauhan. Petantang-petenteng tak saling kabar. Seperti air matamu. Yang cemas; dan jatuh di halaman depanku.

Sekali lagi; Aku kembali. Aku menjelma menjadi sosok yang hilang. Aku tidak ada di mana-mana, tetapi aku juga ada di mana-mana; di pikiranmu, atau di keningmu. Kita tersenyum bisu. Tersesat; tetapi menikmatinya dalam diam. 

Bukankah tersesat bersama menjadi hal yang patut kita coba? Barangkali sepanjang perjalanan kita menemukan sebuah potret yang indah? Lalu berdiri merancang kata-kata dan melepas seluruh emosinya.

Bukankah tersesat bersama menjadi hal yang patut kita tanyakan? Barangkali bersama-sama;  kesepianmu dan kerumitanku, menjadi waktu yang tidak mengenal waktu. (non-identity).

Sayangku, hari ini tidur sedang mencium bunga kita. esok dan selamanya..

Memeluk Tubuh, Memeluk Bisu

Ya, hujan ini mengingatkanku tentang tubuhmu kembali. Aku tidak bisa berpaling; hening.

Apa kabar dirimu? Semoga baik-baik saja di sana. Aku sedang menyusun sepi di sini – dari kumpulan-kumpulan bahasa yang merekam ucapanmu. Dari tepi senyummu yang merah merona di bibirku.

Ya, hujan kian reda, biar dulu aku terjaga, dari gigir angin utara. Aku tidak bisa berlama-lama sayang, kemarin udara menghempaskan kata-kata di ketinggian. Jauh ia tidak jatuh; seperti harapan kita di penghulu sana.

Apa kabar dirimu? di sekelilingku bersandiwara menjadi sosokmu. Aku tidak bisa berpaling; menjinjing.

Ah! aku lebih baik pulang sayang, kuledakkan seluruh kata-kata dalam kepala, kini mendiang seluruh bahasa yang menyala-nyala. 

Ya, aku lebih baik pulang sayang, di sini kedinginan. Aku hening; memeluk tubuhku, aku bising; memeluk bisumu. 

"Hari ini, mimpi siapa yang hamil dari dadaku?"

Mimpi Membawa Cinta

Ting! Ada surat cinta di beranda rumah. Hari ini dan selamanya aku bersemayam di bunga tidurmu.

Tertegun; melamun. Membatu; membisu. Kesekian kali nama itu mampir mengalamatkan, mampir menyenakkan.

"Hai sayang, aku di sini baik-baik saja" katamu.

Aku terisak, rupanya cinta kita benar-benar belum usang. Sayang, tunggu aku! aku akan menjemputmu kembali. Di sini, di mimpi-mimpi yang sepi. Abadi membawa kita ke dalam surgawi.

Hidup Tanpa Notifikasi

"Seperti mencium bau kematian". Empat tahun yang lalu kita berselisih

Ah! Aku ingin sendiri! tiba-tiba kota berlarian mengejar mulutku. 

"Mengapa hidup mengharuskan kita untuk berkabar?"

Jika Tuhan telah bersimpuh, aku tidak ingin mengabari sebuah hati. Mati, enggan peduli. 

Yang Hilang, Sayang

Sudahlah sayang, kita akan hilang dengan sendirinya. Di sini atau nanti; Jalan-jalan yang selalu kita lalui seperti nama-nama pahlawan dan bahasa tubuh mereka yang hilang.

Sudahlah sayang, sudah. Buah mahoni di tepi jalan sudah kita nikmati bersama-sama.

Pergilah dengannya. Aku belum mengusir siapa pun, belum merebut puisi siapa pun.

Bukan salahku, jika aku hidup dan bernapas. Takdir itu tidak menjawab doa-doa kita di setiap malam. Sudahlah..

Puisi Bersama Emoji Kesedihan

Aku membalas cintamu dari sini:

Tandailah dirimu ada di mana?
karena tidak ada siapa-siapa di sini
karena merasa bukan siapa-siapa di sini

Tandailah diriku ada di mana? Karena merenggut hati di sini, menghempas dendammu di sini

Tetapi aku berdoa; barangkali Tuhan menjenguk batinmu.

Tahun Baru Penuh Cinta

Tahun baru sudah aku rasakan, mulutku berlepotan jagung bakar, tahun baru sudah kita lewatkan, malam jum'at ranjang berserakan.

Sara Bara

Mata hujan tidak setampak di ujung langit, mereka berlari ke arah yang tepat. menembus konstelasi awan, menyebar semu korona, mengusung argo navis menjadi kian padu.

Kali logika beresolusi dalam hati, memintai jiwa untuk beraksi dari hal-hal nyata. aku bersenggang tuk damai dalam mimpi yang kemarin kian terasa kabut - membawa prasangka buruk.

Lalu biarlah sampar menyebar ke belantara kehidupan. kesakitan yang tiada tara, yang membawa kekuatan untuk terus belajar berkuasa. bersitabik dengan hangat agar luluh dengan lembut, memaksa reda agar tidak saling menyesal.

Barangkali nyawaku terancam, nyawamu punah dirayap tular,  barangkali jiwaku membeku, tubuhmu mengendap di celah palung yang jauh ke bawah permukaan bumi. 

Lalu kita mengarungi kegugupan, dan bersikukuh pada keyakinan.

Bandung

Tapi kenapa tiba-tiba aku adalah sebuah kota yang memeluk sunyi, sementara pelik dan bising saling memerangi dirinya sendiri. tapi kenapa tiba-tiba aku menyetubuhi kota Bandung?

Januari Yang Basah

Januari pulang
melipat kemarau
langkah-langkah yang ringkih
menapaki belantara kenang.

Ia akan menggenang di kepala
dan memecah riak pada dada
satu persatu, abjad jatuh
dari kening, ke mata teduhmu.

Lalu lahir sebuah rindu
dengan Januari
yang basah tanpa bulan
ia dilumat jelaga; bersama hujan dan kenanganmu.

Bunga Mawar 

Gugup aku; berjalan, melewati iringan dan kesunyian. gugup kita menghadap, mawar -mawar merah; rekah-meronta

Tubuh-tubuh kita, kini saling pergi. Atau bersebrangan dari kematian yang membawa bungamu kembali.

Tubuh-tubuh kita, kini saling berdiri, atau berkencan dari dua dunia yang lain.

Aku pergi dulu sayang, kuburanmu sudah kubersihkan, sudah kusisih-sisihkan dari jalang lalu-lalang.

Aku pergi dulu sayang, mata air ini menyirami berulang-ulang kesedihanmu.

Aku pergi dulu sayang, bunga tidur ini sudah memetik kita untuk bertemu dan bertamu kembali.