Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita menjumpai kutipan-kutipan menarik yang memotivasi. Baik di televisi, media daring, koran, atau bahkan di media sosial seperti Facebook. 

Tidak bisa dimungkiri, dengan berkembangnya teknologi informasi, kita makin dimanjakan oleh berbagai konten menarik dari berbagai pengunggah di seluruh dunia.

Salah satu konten informasi yang tidak sedikit peminatnya di media sosial adalah kutipan bijak. Tidak salah memang jika terinspirasi kutipan indah memesona kala hati membacanya. Tapi tak jarang, kutipan-kutipan tersebut justru membuat kita terlena sampai terjerumus ke dalam jurang angan-angan hingga lupa sedang berada di dunia realitas. 

Harus digaris-bawahi bahwa dunia ini tak seindah bayangan. Dunia kita tidak semanis kisah novel fiksi. Kita bukan seorang tokoh utama dalam serial novel yang selalu mendapat keberuntungan lebih—begitu kira-kira.

Menurut pengalamanku yang tidak seberapa ini, aku telah melihat banyak kenyataan pahit dalam alur hidup memilukan. Mulai dari sempat putus sekolah gara-gara pindah sekolah tanpa perencanaan matang ketika berada di sekolah menengah.

Namun berkat usaha dari keluarga, akhirnya aku berhasil mendaftar di sebuah sekolah menengah hingga lulus, meskipun karena hal itu aku harus memulai jenjang pendidikanku dari awal lagi, padahal saat putus sekolah sudah berada di kelas delapan.

Sampai puncaknya ketika kelas sebelas semester satu, aku kembali menelan kekecewaan lantaran mengulang kejadian yang sama lima tahun lalu—putus sekolah dan terpaksa mengubur cita-citaku untuk menjadi seorang guru. 

Saat itu, selama berbulan-bulan mengurung diri di kamar karena merasa gagal, aku mengecewakan guru-guru yang telah berusaha membuatku tetap bersekolah walau dalam kondisi sakit-sakitan. Aku merasa tidak berguna.

Dalam artikel ini, aku akan membagi sedikit pengalamanku menemukan sesuatu yang mungkin bisa kita sebut sebagai “Kebenaran Dunia”. Harapanku, semoga teman-teman tidak terlalu memandang dunia ini sebagai taman fiksi nan indah hanya untuk menghibur diri dengan kata-kata semanis tinta novel.

Usaha yang besar tidak menjamin keberhasilan

Di antara sekian banyak kalimat motivasi paling sering terdengar di media sosial adalah “Usaha tidak akan mengkhianati hasil”. 

Konon, jika seseorang melakukan semua usaha yang kita bisa, maka hasilnya akan selalu berbuah manis. Kenyataannya, usaha yang hanya mengandalkan usaha keras justru tidak akan menghasilkan apa pun, karena sejatinya keberhasilan membutuhkan lebih dari sekadar usaha keras.

Namun, benarkah kalimat dalam kutipan di atas? 

Untuk menjawab pertanyaan itu, sebaiknya kamu tanyakan pertanyaan itu kembali. Pernahkah melakukan usaha keras tapi tidak membuahkan hasil sesuai harapan? Coba ingat-ingat kapan terakhir kali merencanakan sebuah perjalanan bersama teman namun berhenti di tengah jalan, sudah berusaha keras belajar demi bisa bersekolah di sekolah favorit, eh tahu-tahu keburu ada sistem zonasi? 

Jika ya, maka selamat! Setidaknya walaupun melahirkan pengalaman pahit seperti yang kualami gara-gara terlalu idealis memandang dunia, kamu sudah menemukan jawabannya. Benar, usaha besar tidak menjamin kesuksesan. Usaha besar hanya memperbesar peluang meraih kesuksesan.

Usaha besar hanya salah satu faktor pendukung, sedangkan faktor penunjang lainnya adalah peluang, keberuntungan, rencana matang, atau bahkan yang jauh lebih ekstrem—pengorbanan.

Meski begitu, bukan sebuah alasan jika berhenti di tengah jalan hanya karena merasa takut gagal. Ingatlah, makin besar usahamu, makin besar pula kesempatanmu untuk berhasil. Lagi pula, kegagalan itu bukanlah sebuah aib, kok. Kegagalan justru menjadi sarana untuk berjuang lebih keras dengan cara lain yang lebih baik tentunya.

Jangan pernah berpikir bahwa ketika menemui kegagalan berarti kamu tak mendapat apa pun. Tidak. Kamu mendapat hal yang lebih baik, yaitu pengalaman.

Baca Juga: Nilai Hidup

Kebohongan mungkin akan menyelamatkanmu selamnya

Kapan terakhir kamu berbohong? Dan apakah kebohonganmu terbongkar? 

Sering beredar sebuah kutipan tentang kebohongan yang bagaimana pun caranya akan terbongkar di kemudian hari. Ini nasihat yang amat bijak, tetapi menurutku sama sekali tidak realistis. 

Maksudku begini. Jika seseorang dikatakan berbohong adalah karena perbuatannya terbongkar, maka jika seandainya perbuatannya tetap tak terbongkar sama sekali, dari mana kita tahu seseorang sedang berbohong atau tidak? 

Kita tak akan pernah tahu, karena satu-satunya cara mengetahui kebohongan adalah dengan cara membuktikan lawan bicaramu sedang berbohong. Dan malangnya, jika tidak bisa membuktikannya, berarti hal yang dianggap sebagai kebohongan tadi akan tetap dianggap kejujuran.

Di sini aku tidak bermaksud sedikit pun mengajari teman-teman untuk berbohong. Mencoba membagi pengalamanku akibat terlalu percaya dengan kutipan di atas adalah tujuanku. Dan, ya, kita tidak akan membahas pengalaman itu. Hanya saja, teman-teman harus lebih berhati-hati menaruh kepercayaan terhadap orang lain. 

Ingatlah bahwa setiap orang punya prioritas masing-masing. Tidak ada yang bisa lebih dipercaya dibanding dirimu sendiri. Jadi tetap percaya diri. Jaga pergaulan. Jangan terlalu mengandalkan orang lain.

Kamu bisa lebih mudah menyelesaikan masalah jika mengenal dirimu sendiri

Saat mengalami masalah berat, apa tindakan paling masuk akal untuk dilakukan? Setiap orang punya caranya sendiri untuk mengatasinya, benar. Membaca buku, curhat pada teman dekat, makan cokelat, jalan-jalan. Inilah biasanya hal pertama kali dilakukan sebelum mulai menyelesaikan cobaan hidup.

Ada kalanya kita merasa bingung, tindakan apa yang harus diambil? Mencari jawaban melalui buku motivasi mungkin pilihan bagus untuk dilakukan mengingat motivator biasanya sangat berpengalaman dalam menghadapi masalah-masalah itu. 

Namun, pernahkah kamu merasa bahwa saran sang motivator tidak berdampak apa pun terhadap keadaanmu? Tidak apa, kamu tidak boleh menganggap dirimu sulit dimotivasi. Bisa saja, pengalaman kalian sama sekali berbeda, makanya anjuran dari buku motivasi termutakhir sekali pun tidak berpengaruh.

Kamu harus mengenal dirimu sendiri, temanku! Cara termudah untuk melakukannya adalah dengan metode “mencoba dan mencatat”, yaitu mencoba semua hal yang mungkin bisa dilakukan kemudian catat dari skala 1—10 kegiatan mana yang paling memberi efek baik, dan kegiatan mana yang saat kamu lakukan merasa biasa saja. 

Selalu lakukan kegiatan saat kamu merasa sedang stres. Kemudian, jangan lupa mencatat tingkat kesenangannya pada buku catatan. Itu akan membantumu mengambil langkah pertama ketika mengalami kejadian sama di kemudian hari.

Satu hal yang benar-benar bisa dikontrol adalah dirimu sendiri

Bagaimana jika aku selalu berbuat baik pada temanku, tetapi ternyata ketika sedang membutuhkannya, dia tidak mau membantu dengan 1001 alasan? Hmm, kupikir ini sering terjadi di kehidupan sehari-hari. Jadi demi alasan itu, aku masukan ke daftar ini.

Seperti namanya “Satu hal yang benar-benar bisa dikontrol adalah dirimu sendiri”, dalam daftar ini aku akan mengajak kalian untuk tidak terlalu mengandalkan orang lain. Kenapa?

Pertama, karena satu-satunya hal yang bisa dikontrol adalah dirimu sendiri. Kedua, orang lain punya prioritas masing-masing. Ketiga, tidak ada yang menjamin bahwa jika berbuat kebaikan kepada orang lain, maka ia akan membantumu esok hari. Keempat, orang lain—termasuk temanmu, tidak akan selalu ada di dekatmu.

Di dunia ini, kita hanya bisa mengandalkan diri kita sendiri. Tidak, aku tidak mengajak kalian untuk menjadi seorang individualis. Bukan. Aku justru mengajak kalian untuk mempelajari ilmu-ilmu dasar dalam bertahan hidup, mulai dari yang sederhana.

Ya, seperti memasak (lupakan stereotip kuno bahwa memasak hanya untuk gender tertentu), pertolongan pertama saat terjadi kecelakaan, memilah makanan yang beracun atau tidak, bela diri, dan lain-lain, sampai hal-hal rumit yang ada hubungannya dengan pekerjaanmu.

Dunia tidak akan berjalan selurus kabel listrik di depan rumah. Alur kisah kehidupan sering kali mengandung banyak putaran alur (plot twist) yang mengejutkan. Jadi, tidak ada salahnya mulai dari sekarang bersiap untuk itu. Karena satu-satunya kesamaan kehidupan kita dengan kehidupan dalam novel fiksi adalah mengandung banyak putaran alur.