“Tidak semua hal bisa diukur dengan uang”. Itulah pepatah klise yang sering kita dengar. Namun uang bisa mengukur sesuatu, kok. Di antaranya: pembelajaran dan rasa tanggung jawab. Bisa belajar dan mengajari anak kita akan rasa tanggung jawab bisa lewat duit. Lha kok? Matre sih..

Betul, menurut saya, ada kaitan erat antara uang, pembelajaran dan rasa tanggung jawab. Yup. Ini saya tangkap dari kebiasaan anak saya saat duduk di bangku Taman Kanak-Kanak dulu. Tepatnya lima tahun yang lalu. Anak saya, Maysha, setiap hari selalu minta diberi uang saku tujuh belas ribu rupiah ke sekolah. Tanggung toh, gak sekalian dua puluh ribu?

Setiap pagi bukan pusing karena harus masak sarapan apa atau membangunkannya, tapi lebih ke penukaran uang. Tujuh belas ribu rupiah. Entah angka unik dari mana dia dapatkan. Satu lembar sepuluh ribuan, satu lembar lima ribuan dan satu lembar uang dua ribuan.

Mesti pas selembar uang sepuluh ribuan, lima ribuan, dan dua ribuan. Jika salah satunya tidak ada, wah, bisa mogok sekolah. Pernah saya kasih dia dengan uang lima ribuan tiga lembar dan dua ribuan. Walhasil, hampir ngamuk.

Sebenarnya lahir batin saya ikhlas kok. Lha wong walaupun dia minta uang segitu, paling habis buat jajan cuma tiga ribu rupiah, paling mentok lima ribu rupiah. Jadi, buat apa dia minta uang segitu tetapi gak habis semua? Entahlah, mungkin dia terinspirasi dari lagu balonku, kalau lagu balonku balonnya yang rupa-rupa, lha ini uangnya yang rupa-rupa.

Sekarang, saya memberi dia uang jajan sehari dua puluh ribu rupiah. Sekarang dia kelas empat SD. Habis tidak habis silakan pergunakan, saya kasih jatah sekian. Mau beli kuota internet atau tidak saya tetap kasih dia nominal segitu. Melatih rasa tanggung jawab sih intinya. Hasilnya, sekarang saya malah lihat dia punya celengan sudah lumayan berat di kamarnya.

***

Namun belakangan, saya seperti tertegun. Waktu itu ketika saya masih mengajar di salah satu sekolah dasar di dekat rumah--menjadi seorang wali kelas juga. Entah kelas 2 atau kelas 3, saya lupa persisnya. Pada saat saya mengajar--kebetulan mengajar matematika, materinya tentang penjumlahan ratusan dan ribuan. Pas sekali waktu itu saya bawa media pembelajarannya adalah uang.

Saya tanyakan kepada siswa masing-masing uang yang saya bawa. Sebagian anak tahu nominal uang-uang tersebut, namun ada sebagian kecil merasa kesulitan, bahkan ada satu anak yang sama sekali tidak tahu nominal uang berapa yang saya tunjukkan. Yang dia tahu ya cuma nominal uang dua ribuan tok.

Susah sekali, saya tunjukkan uang lima ribuan dia tidak tahu, sepuluh ribuan pun tidak, apalagi dua puluh ribuan dan lima puluh ribuan. Kebetulan waktu itu saya tidak membawa uang seratus ribuan—lha wong tanggal tua.

Lebih susah lagi pada saat menyuruh dia untuk menjumlahkan antara nominal uang satu dan yang lain, angkat tangan deh. Setelah ditelisik, ternyata dia sama sekali tidak pernah pegang duit! Lha kok? Iya, dia hanya dapat uang saku dua ribuan dari ibunya. Ibunya hanya memperbolehkan dia bawa uang saku sekian dengan dalih takut si anak jajan terus dan tidak memikirkan pembelajaran. 

Terus bagaimana? Apa cukup uang segitu buat jajan anak? Ternyata ibunya berpesan--misal ingin jajan lagi dia pulang dan minta lagi, dan ibunya pun memberinya dua ribuan lagi. Alhasil dari situlah uang yang dia tahu cuma dua ribuan!

Akhirnya saya membuat garis linear mengenai kebiasaan anak saya yang minta macam-macam uang sebagai uang sakuya. Oh, ternyata ada manfaatnya juga saya pikir. Dari situ anak tahu nominal uang, tanpa sengaja dia pun jadi mengerti penjumlahan dan pengurangan nominal uang angka ratusan dan ribuan.

Lha maksudnya? Ya, pada saat dia jajan makanan di sekolah. Misal, makanan yang hendak dia beli yang seharga dua ribu rupiah dan dia kasih uang ke mbak penjual dengan uang sepuluh ribuan dari kantongnya—dari situ dia belajar pengurangan angka ribuan, bahwa sepuluh ribu dikurangi dua ribu sama dengan delapan ribu rupiah.

***

Dari situlah mengapa ada korelasi menakjubkan antara uang dan pembelajaran anak di sekolah serta penanaman rasa tanggungjawab. Jangan lagi kita ragu memberikan uang saku ke anak, positifkan pikiran kita, jangan beranggapan si anak akan boros apalagi matre.

Bukan perkara berat dan berlebihan pikir saya—anak pasti akan mulai berpikir tentang arti menghargai. Menghargai apa yang telah diberikan dan ada sesuatu yang dipercayakan kepadanya. Akan sangat berguna untuk pembelajaran di sekolah dan untuk jangka panjang kehidupannya.