Di balik manisnya unggahan foto ibu-ibu kantoran bersama teman-temannya di kafe kopi, ada baby sitter atau mungkin kakek-nenek atau guru daycare atau bahkan suami yang sedang bersama anaknya. Betul apa betul?

Karir dan anak seimbang tentunya harapan semua perempuan. Di satu sisi bisa menyalurkan hasratnya bekerja, di sisi lain bisa sempurna karena mempunyai anak. Baru saja kemarin ada teman yang mengabarkan telah berhenti bekerja karena tidak ada yang mengasuh anaknya yang masih kecil.

Percayalah, kenikmatan seorang perempuan yang bisa menempuh pendidikan tinggi, lalu bekerja dan meniti karir, serta bersosialisasi baik dengan teman-teman di tempat kerja itu tak luput dari peran serta banyak orang. Harus diakui, tanpa support system ini tak akan mungkin seorang ibu bisa bekerja dengan tenang.

Siapakah para pendukung hebat dari mommy-mommy hebat ini?


1. Baby sitter & Rewang Momong

Istilah rewang momong mengacu pada pekerja yang tugasnya mengasuh anak dan biasanya tidak tinggal serumah dengan bosnya. Umumnya mereka berangkat pagi dan pulang sore atau setelah salah satu bosnya pulang ke rumah. Para rewang ini biasanya merupakan ibu yang memiliki anak yang sudah besar, karena itu rewang yang berpengalaman membesarkan anak ini juga sangat diminati oleh para Ibu di Jawa dan sekitarnya.

Baby sitter adalah pekerja yang khusus mengasuh anak 24 jam dan tinggal serumah dengan bosnya. Baby sitter biasanya sudah terlatih dalam hal kepengasuhan anak karena sebelumnya mereka belajar di semacam lembaga pelatihan atau yayasan. Jadi, tidak perlu khawatir tentang simulasi ke anak, makanan bergizi bagi anak, dll.

Meski begitu, menemukan rewang momong maupun baby sitter yang cocok dengan gaya parenting kita adalah rejeki luar biasa. Tak jarang juga para pekerja ini mengkhianati kepercayaan bosnya. Entah mencuri, memberi obat tidur ke anaknya, atau berbagai kesulitan lainnya.

Kekurangan memperkerjakan rewang momong/ baby sitter tanpa diawasi sendiri adalah keamanan anak yang dipertaruhkan. Para ayah dan ibu juga harus selektif sebelum mempercayakan anaknya kepada mereka. Memasang CCTV di rumah menjadi alternatif lainnya. Selain masalah keamanan, jika anak lebih dari satu tentu membutuhkan pengasuh lebih dari satu juga.


2. Simbah alias Kakek Nenek

Fenomena anak dititipkan ke simbahnya (kakek dan nenek) sementara ayah ibunya bekerja, sangat umum terjadi di Indonesia, terutama daerah pedesaan di Jawa. Sekedar menitipkan anaknya ketika pagi dan menjemputnya setelah pulang kerja atau memang karena tinggal serumah dengan simbahnya. Lantas pemandangan simbah menyuapi dan menemani cucunya bermain adalah hal biasa.

Yang jelas, anak bisa diperhatikan dengan baik meski stimulasi anak dianggap kurang. Anak juga lebih dimanja. Terlebih perbedaan gaya parenting karena perbedaan generasi juga kadang dijadikan alasan kenapa dititipkan ke simbah itu bukan solusi yang baik. Tetapi, bisa menjadi alternatif pengasuhan yang murah meriah ya karena biasanya nggak mau dibayar. Malah terkadang kakek nenek juga membelikan mainan atau makanan untuk cucunya.

Di Cina juga ada fenomena seperti ini. Banyak pasangan suami istri yang harus bekerja keras di kota demi mengumpulkan uang untuk sekolah dan masa depan anaknya. Sementara itu, anak-anaknya harus prihatin hidup bersama kakek neneknya di desa. Persaingan di China yang super ketat dan keinginan untuk mengubah nasib adalah alasan Bapak Ibu rela bekerja demi mengumpulkan biaya pendidikan ini.

Kalau dipikir, sebenarnya kasihan juga kakek nenek yang masih terbebani harus mengurus cucunya di usia senja. Kalau hanya bermain dan dititipin sebentar sih tentu tidak menjadi masalah. Bukankah kakek nenek juga berhak mendapatkan waktu mereka sendiri untuk menikmati masa tuanya?


3. Tempat Penitipan Anak (TPA) atau day care

Fenomena menitipkan anak di day care sangat umum di Jepang dan negara maju lainnya. Pemerintah sangat menjamin kredibilitas day care ini dengan memperketat izin dan kualitasnya. Oleh karena itu, para ibu Jepang yang bekerja diharapkan bisa tenang bekerja, sementara anaknya aman dijaga oleh day care. Ada day care yang menerima penitipan anak di bawah satu tahun atau setelah habis cuti melahirkan ibunya. Biaya bulanannya sebenarnya cukup mahal.

Di Indonesia sendiri juga semakin banyak bermunculan day care ini. Semakin bagus kualitas bangunan, guru, dan tingkat kredibilitasnya, semakin mahal pula biaya yang harus dikeluarkan. Biasanya paket yang ditawarkan adalah paket jam, termasuk juga menawarkan paket makan siang dan camilan sehat yang lengkap.

Para ibu juga bisa lebih tenang bekerja karena anaknya dijaga oleh ahlinya. Tidak hanya dijaga selama berada di day care, mereka juga diajari stimulasi sesuai usianya dengan cara bermain dan belajar. Orang tua juga akan menerima laporan perkembangan anaknya.

    Kekurangan menitipkan anak di day care ini salah satunya ya kekhawatiran kalau anaknya diberi obat tidur saat jam tidur siang atau dianiaya oleh gurunya. Hal ini pernah terjadi dan sempat viral. Makanya, pemerintah diharapkan bisa memperketat pengawasan izin dan kualitas day care ini agar tidak terjadi kejadian serupa lagi.


4. Suami

Stay-at-home-dad alias bapak rumah tangga sebenarnya masih jarang di negara mana pun karena image laki-laki harus bekerja di luar rumah, bukan mengurus anak dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Sebenarnya fenomena ini diprediksi akan meningkat, seiring berkembangnya pekerjaan freelance yang bisa dilakukan secara online. Di saat sedang tidak bekerja, suami bisa mengasuh anak-anaknya, sementara istrinya bisa menyalurkan hasratnya untuk bekerja dan berkarir di luar rumah.


Selain keempat jenis support system tersebut, sebenarnya ada satu lagi yang unik yang mungkin hanya terjadi di Indonesia, yakni sistem kombinasi, entah antara rewang momong dan simbah, atau ada juga yang simbah dan suami. Mereka bekerja sama mengasuh si anak yang ditinggal ibunya bekerja. Untuk urusan stimulasi, mereka bisa menyekolahkannya ke PAUD sejak umur 2 tahun.

 Ada juga harapan adanya day care di perusahaan sebagai wujud kepedulian perusahaan terhadap pekerja wanitanya. Jadi selama pekerja wanitanya bekerja, anak bisa dititipkan ke day care milik perusahaan. Berangkat dan pulang bisa bersama ibunya sekaligus. Atau harapan lain ya semakin banyaknya day care di Indonesia sebagai wujud dukungan pemerintah terhadap perempuan yang bekerja.

Yang jelas, tanpa support system ini, besar kemungkinan seorang ibu tidak bisa bekerja dengan fokus dan tenang. Kadang karena anak sakit saja dan si ibu pekerja terlambat masuk kantor bisa menjadi pergunjingan khayalak kantor kok.