Pernah Rocky Gerung mengatakan bahwa wanita itu cantik secara fiksi tetapi berbahaya secara fakta. Begitulah kira-kira bunyinya. Memang kalau kita merekontruksi kembali bagaimana cara kita memandang perempuan, kata-kata puitis mungkin akan muncul pertama. Kita mendefiniskannya sebagai buku novel bergenre romantic yang masih belum ada tulisannya. 

Setelah kita sebagai subjeknya menemukan objeknya, memahami sudut pandang kita sebagai penulisnya, mendeskripsikan setting dan menentukan alurnya, maka yang tersisa adalah buih-buih kata yang metafora.

Novel yang kosong itu kita penuhi dengan imajinasi yang heroik, melankolik dan dramatik. Cara kita dalam mendefinisikan matanya-pun bisa menghabiskan satu halaman Microsoft word. Belum lagi hidungnya, pipinya, bibirnya, dagunya, lehernya, dadanya, lekuk tubuhnya, betisnya bahkan mungkin jari kelingkingnya. 

Terkadang aku heran dengan pria yang sedang jatuh cinta terhadap wanita. Mendadak mereka belajar tentang anatomi tubuh manusia. Tragis dan miris.

Kembali lagi kepada novel yang kosong tadi. Milan kundera pernah berkata bahwa metafora itu berbahaya dan cinta biasanya-mungkin selalu- dimulai dengan metafora. Metafora ini terkadang bersifat destruktif dan terkadang bersifat konstruktif, tergantung cara kita dalam menafsirkannya. Maka berhati-hatilah kalian para wanita, jangan sampai jadi proletarnya proletar (deskripsi satire untuk kaum feminis).

Setelah kita membahas tentang shifting job, dari orang yang tidak suka pelajaran anatomi tubuh manusia ketika SMA menjadi sok puitis dengan pelajaran itu, kini orang juga akan lebih dekat dengan lingkungan. Mereka tiba-tiba belajar mengenai isu global tentang environmental ethics. Mereka mulai belajar memahami gunung karena dengan itu mereka memahami wanita. 

Mereka mencoba mengerti laut dengan ombaknya yang berderu-deru karena dengan itu mereka mengerti wanita. Mereka mengagumi pepohonan yang rindang, bunga-bunga yang bermekaran, kupu-kupu yang indah dan bahkan beruang yang lucu sehingga bisa merefleksikan kekagumannya kepada kalian, hawa.

Setelah menjadi ahli anatomi dadakan, aktivis lingkungan, kini cerita berubah menjadi tentang astronomi dan juga ramalan cuaca. Mendadak venus sebagai bintang fajar dijadikan judul, bulan purnama ke-12 ikut dimention, matahari dijinakkan, senja dikirimi permintaan pertemanan, bahkan awan colombus yang sedang santai disebut-sebut, hujan turun diratapi ketika berhenti dicaci, malam dijadikan selimut, angin-angin yang berhembus-pun dikatain angina-anginan. Resapilah hawa, resapilah.

Alur cerita novel yang kosong tersebut juga oleh penulisnya mungkin mengambil inspirasi dari cerita atau legenda tingkat nasional maupun internasional. Contohnya mungkin terinspirasi oleh cerita perang bubat yang mana peperangan hebat itu terdapat kisa romantis yang berakhir tragis antara Hayam Wuruk dengan Putri Dyah Pitaloka. 

Legenda Roro Mendut juga masuk referensi karena kedua tokoh pria dan wanita yaitu Pranacita dan Roro Mendut mati, yang pria dibunuh dan yang wanita bunuh diri di samping makam si pria. Menarik bukan untuk dijadikan cerita?

Itu tadi dalam tingkat nasional, sedangkan tingkat internasional sudah pasti Romeo dan Juliet bisa jadi referensi utama. Shakespeare memang menuliskan cerita yang melampaui zaman romatisme eropa ketika abad  ke-16 hingga ke-17. Mungkin juga edisi Disney beauty and the beast bisa juga menjadi referensi bagi orang yang mukanya dari pas-pasan condong ke jelek sangat. Orang yang dimabukkan oleh keajaiban tentunya. 

Ada juga kisah perselingkuhan antara ratu Guinevere yang berstatus istri raja Arthur dengan jendralnya Sir Lancelot. Semua cerita tadi bisa menjadi cara bagi si penulis untuk menuliskan cerita cintanya dalam novel kosongnya. Pintar-pintar memilih wahai hawa.

Pahamilah puan, kata-kata yang keluar sebagai metafora itu lebih berbahaya daripada puan sendiri yang indah secara fiksi tetapi berbahaya secara fakta. Metafora itu bisa lebih tajam daripada lidah itu sendiri karena imajinasi lebih tajam daripada pengetahuan itu sendiri. Imajinasi melihat dengan mata yang tak terbatas.

Alam semesta ini bisa diinterpretasikan melaluinya. Sesaat bulan menjelma menjadi dirimu, matahari merefleksikan dirimu, bintang-bintang menjadi cermin wajahmu, senja menjadi backroundmu, malam menjadi selimutmu dan lain sebagainya. Banyak kosakata benda di alam raya ini untuk mendefinisikanmu, puan. Kalau Descartes bilang aku berfikir maka aku ada sedangkan Karl Marx bilang aku ada maka aku berfikir maka untukmu adalah aku bermetafora maka kamu ada dan kamu ada maka aku bermetafora.

Berbahaya kalau memilih diksi dalam menyusun fiksimu. Berdusta jika berkata tanpa mempunyai makna. Bodoh jika menganggap itu hanya bualan belaka yang berbusa. Sombong jika mempelintir lidah sesuka ria tanpa berfikir kritis terhadap penafsirannya. Jenuh jika mengucap hal biasa yang disifatinya luarbiasa. 

Wahai novel tanpa nama, aku tidak ingin bercanda akan sosokmu, Berimajinasi liar akan bayangmu, atau mendalami kompleksnya pikiranmu. Hei kundera, ingatkan aku bila metaforaku mulai berbahaya.