Medio 2010-2017, saya banyak didapuk mengajar, terutama dalam hal pengetahuan umum, sejarah, peningkatan minat baca-tulis, dan mengisi diklat vokasi pada beberapa komunitas atau lembaga pendidikan untuk mereka yang putus sekolah.

Tanggal-tanggal sekitar 30 September, seperti sekarang ini, adalah tanggal-tanggal permulaan musim ajaran, ketika saya mengajar.

Saya biasanya suka menyisipkan tentang peristiwa yang selalu saja tak bosan-bosannya dibahas di sekitaran tanggal-tanggal ini. Peristiwa apa? Peringatan Hari Kopi Internasional? Tentu saja bukan. Ya, bahas apalagi yang ramai di tanah air setiap tanggal segitu selain membahas tentang peristiwa Gerakan 30 September.

Kalau saya dapat bagian mengajar yang umuran ibu-ibu dan bapak-bapak, mereka sendiri yang inisiatif minta saya membahas peristiwa tersebut. Apalagi jika malamnya televisi nasional ada yang memutar lagi film Pengkhianatan G 30 S/PKI.

Usai menyimak film yang meraih Piala Antemas, penghargaan untuk kategori film terlaris dalam perhelatan Festival Film Indonesia tahun 1985, para warga belajar itu rupanya banyak yang inisiatif menyiapkan pertanyaan, untuk dibahas di kelas keesokan harinya.

Jika saya dapat jadwal mengajar yang umuran remaja ke bawah, justru saya yang memulai inisiatif untuk membahas masalah tersebut. Warga belajar seumuran itu tampaknya tidak begitu mengenal peristiwa yang sangat populer di kalangan murid-murid lulusan era Orde Baru seperti saya ini.

Suasana kelas kadang ramai, bukan sebab antusiasme anak-anak tanggung itu, melainkan karena kegelian saya sendiri. Saya suka tak tahan ingin tertawa mendengar jawaban dan penjelasan para peserta kelas seputar apa itu PKI.

Saya selalu memulai pelajaran dengan menanyakan pada peserta didik dan warga belajar, apa yang kalian ketahui tentang G 30 S? Apa itu PKI? Apa itu Komunis?

Jawabannya tidak pernah sekalipun ada yang benar. Satu-satunya jawaban yang sedikit mengarah adalah: PKI itu partai politik ya, Pak. Wah, ada yang tahu juga nih, batin saya. Tapi lanjutan penjelasan sang murid bikin saya kecele: "...ketuanya Gus Dur atau SBY kalau tidak salah ya, Pak". Ancur, cetus saya geli.

Tentang apa itu kepanjangan dari G 30 S, pernah ada warga belajar yang jawab : semacam gerakan hidup sehat, gerakan menggalakkan kebersihan, bahkan ada yang menjawab jenis pelayanan di Puskesmas.

Saya tahu, Pak Guru. Nenek saya juga suka ikut itu. Yang senam tiap hari itu, bukan?" jawab seorang warga belajar dengan mata berbinar, ketika saya bertanya, "Ayo...ada yang tahu lagi tidak, apa itu G 30 S?"

Alkisah, suatu hari saya penasaran juga, ingin tahu, sejauh mana pengetahuan tentang G 30 S/PKI ini, kepada adik-adik mahasiswa. Kebetulan, saya juga rutin ditunjuk sebagai pembimbing mahasiswa-mahasiswi yang praktik di lembaga tempat saya bekerja. Maka di sela-sela kegiatan, bertanyalah saya kepada mereka.

"Sol, kamu tahu apa itu PKI?" tanya saya kepada salah seorang mahasiswa tercerdas yang pernah saya bimbing, yang akrab dipanggir Soleh oleh kawan-kawannya.

"Tahu, Pak, Partai Komunis Indonesia!" jawabnya mantap.

"Kamu tahu apa G 30 S?"

"Itu kan PKI itu yang memberontak?"

"Memberontak bagaimana?"

"Jenderal-jenderal diculik dan dibunuh. Sadis kata kakek saya mah. Wah kejam, Pak!"

Wuih, ada juga nih generasi muda yang tahu sejarah bangsa, pekik batin ini girang.

"Siapa saja, Sol, yang diculik dan dibunuh itu?" korek saya lagi dengan antusias.

"Banyak, Pak...euhhh, ituuu, Jenderal Sudirman. Terus jenderal siapa lagi ya? Oh iyaaa, Jenderal Nasution... atau siapa itu ya namanya kan jadi nama jalan...." katanya dengan mimik berpikir keras.

"Kalau Aidit pernah dengar, siapa dia?" tanya saya mulai sedikit curiga.

"Naah, itu satu lagi, Beh, dia diculik juga. Dimakamkan di Lubang Buaya kan yah..." jawabnya yakin.

Melihat saya menggeleng, kawannya, Usman, menepuk Soleh lalu berusaha menjawab pertanyaan saya," Bukan, Sol. Aidit mah bekas Menteri ya, Pak?"

"Ancurrrr, Sol..." gerutu saya.

Tapi jawaban tergila tentang Aidit bukan itu saja. Nadine, seorang mahasiswi seni rupa, model juga malahan, yang juga pernah saya bimbing, saat ditanya dengan pertanyaan serupa menjawab, "Aidit itu fotografer ya, Pak..."

Mungkin, anda mengira cerita saya mengada-ada. Tapi begitulah pengetahuan sejarah anak-anak kita. Kalau tidak percaya, coba iseng-iseng tanya secara spontan anak anda, keponakan anda, yang SD atau yang ABG, tentang apa itu G 30 S? Apa itu PKI? Mungkin jawabannya seajaib anak-anak tanggung yang pernah saya bina itu.

Saya merasa bukan pendidik yang baik, tapi kepsek dan kolega selalu bilang saya ini pendidik yang selalu dikelilingi peristiwa-peristiwa lucu, bak dalam film komedi.

Ketika saya berpesan, "Ingattt, Jas Merah"- jangan sampai melupakan sejarah, maksud saya-kepada Soler dan Usman, saat selesai meluruskan sejarah bangsa kita seputar tanggal-tanggal ini, besoknya Soler dan kawan-kawan datang dengan jas warna merah, jas almamaternya.

"Anak-anak praktik hari ini, Kang ?" tanya kepsek, yang sebelumnya berpapasan dengan Soler dan kawan-kawan.

"Enggak, Pak. Hari ini bantu-bantu saya lokakarya."

"Wah, coba samperin dulu. Salah kostum mereka. Harusnya pakai batik."

Saat saya tegur, Soler menjawab sambil mengeluh," kan bapak yang bilang sama saya, ingatttt, jas merah, gitu..."