Melihat kondisi negara kita (Indonesia), yang sampai saat ini masih harus berhadapan secara langsung dengan penyerangan partikel kecil tak kasat mata. 

 World Health Organization (WHO) menyebutnya sebagai Severa acute respiratory syndrome coronavirus-2 (SARS-CoV-2). Dalam tulisan ini saya singkat saja dengan sebutan corona.

Bahkan dengan melihat angka positif tertular corona di Indonesia yang sampai saat proses penulisan tulisan ini sudah mencapai nominal 45.029 kasus. 

Data itu  sudah bisa menjadi afirmasi bagi saya dan mungkin saja juga bagi kalian semua untuk tidak yakin sekaligus tidak sepakat dengan yang dikatakan Presiden Jokowi dalam pemberitaan di beberapa media bahwa virus corona akan hilang di akhir tahun 2020.

Angka positif yang kian hari terus meningkat disebabkan oleh berbagai hal, salah satunya yang sangat memberikan dampak besar ialah kegagalan pemerintah dalam memberikan jaminan keberlanjutan hidup bagi masyarakat miskin sebagai upaya pemenuhan kebutuhan hidupnya.

Ini terjadi karena masyarakat miskin harus terpaksa keluar rumah agar dapat bekerja, atau bahkan masih mencari pekerjaan akibat terkena PHK (pemutusan hubungan kerja) ataupun karena dirumahkan. 

Data terbaru dari Kemenaker per 27 Mei 2020, dilansir dari CNBC- memberikan angka yang tinggi yaitu 1.058,284 pekerja sektor formal dirumahkan, dan angka PHK mencapai 380.221 pekerja.

Hal itulah yang membut mereka harus tetap meninggalkan rumah lalu mengumpulkan sedikit uang agar memastikan nyala api di kompor rumah tetap terus menyala. Kita semua tahu kalau akibat langsung yang mereka dapatkan ialah terpapar virus corona.

Ini terbukti dengan angka yang dikeluarkan oleh Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi), dilanser dari Detikfinance-melaporkan adanya penambahan 128 kasus pedangan pasar postif Corona dari sebelumnya sebanyak 573 orang menjad9 701 orang.

Sedangkan kasus pedagang pasar yang meninggal karena Corona tidak mengalami penambahan tetap pada angka 31 orang. Ikappi menghimpun data ini yang didapatkan dari 129 pasar di seluruh Indonesia. 

Tentunya sebab ini tidak bisa dilepaskan dengan corak produksi sistem kapiitalisme yang dianut pemerintah Indonesia sebagai akar permasalahan struktural.

Selain karena persoalan kegagalan pemerintah, satu sebab lain yang juga patut dibicarakan yakni fenomena kondisi hari ini.

Faktanya masih banyak dari masyarakat di sekitar kita yang hanya dengan alasan bosan untuk terus tetap tinggal dirumah menyebabkan mereka untuk pergi ke tempat-tempat yang membuat prestise mereka terlegitimasi. kafe, bar, juga tempat bermain golf adalah beberapa contoh tempat mereka.

Bagian dari masyarakat kecil itu biasanya digolongkan sebagai kelas orang kaya atau bisa dimaknai sebagai kelas atas, tentunya pengelompokan ini didapatkan dari tingkat pendapatan.

 Bank Dunia dilansir dari Katadata.com menyebutkan penduduk Indonesia juga dibagi ke dalam kelompok miskin (pengeluaran kurang dari Rp 354 ribu per kapita per bulan) dan rentan (Rp 354-532 ribu). Lalu, setelah masyarakat kelas menengah, ada kelas menengah (Rp 532 ribu sampai Rp 1,2 juta) dan kelas atas (lebih dari Rp 6 juta).

Dalam tulisan ini saya merujuk pada kelas atas. Biasanya mereka inilah yang mempunyai kepemilikan akan sarana produksi dan bertahan hidup dari hasil curahan kerja orang lain. Penting jadi catatan bahwa mereka jugalah yang tanpa bekerja pun akumulasi kekayaannya akan terus menerus bertambah.

Mereka mungkin luput ataupun tidak peduli akan satu hal, yakni virus corona ini tidak seperti mereka sebagai seorang manusia yang punya rasa bosan sehingga harus meluapkan kebosanan untuk keluar rumah berkumpul bersama sambil mennikmatnya enaknya rasa kopi espresso.

Dalam penjelasan ilmiah terkait dengan hadirnya rasa bosan, dilansir dari Warstek.com-  ada satu penelitian yang diterbitkan oleh Association for Psychological Science pada jurnal Perspectives on Physchological Science edisi September 2012.

 Dalam penelitian itu didapatkan suatu fakta bahwa kebosanan adalah kombinasi dari kurangnya hormon kegembiraan dan adanya kondisi ketidakpuasan, frustasi, atau tidak tertarik akan suatu hal, yang semuanya disebabkan oleh kurangnya sesuatu yang dapat menghibur diri.

Dalam konteks saat ini, pastinya bisa terungkap bahwa faktor kebosanan yang dialami karena terlalu lamanya waktu dirumah akibat serangan virus corona. Tetapi perlu diketahui virus corona itu tidak seperti manusia, ia tidak punya rasa dan juga pengetahuan akan apa yang dimaknai sebagai kebosanan.

Seperti yang dikatakan Slavoj Zizek dalam bukunya “Pandemik Covid019 Menguncang Dunia, ia mengatakan bahwa virus tidak berada dalam domain pengetahuan, virus bukan musuh yang mencoba untuk menghancurkan kita- ia hanya mereproduksi dirinya dengan otomatisme buta.

Melihat fakta penting diatas, sudah selayaknya tindakan yang paling bisa dilakukan yakni menghilangkan segala potensi besar yang bisa menularkan virus corona, dan tetap dirumah adalah pilihan yang masuk akal. 

Berpergian keluar rumah hanya karena kebosanan menurut saya adalah suatu penghinaan bagi kemanusiaan, khususnya bagi mereka semua yang harus berpergian keluar rumah karena suatu kondisi keterpaksaan.

Fakta ini juga tidak terlepas dari kebijakan pemerintah Indonesia dengan melonggarkan tempat-tempat yang punya potensi besar penyebaran virus corona. 

Mengedepankan ekonomi dibanding kesehatan adalah kalimat yang bisa merepresentasikan fakta objektif yang coba dipertontonkan oleh pemerintah kita saat ini.

Kebijakan pemerintah yang abai dengan kondisi di lapangan, juga kalian para orang kaya yang menolak fakta objektif yang kita alami, dimana virus corona ini dari waktu ke waktu bisa menyebar kapan saja tanpa mempedulikan kekayaan, golongan, stratfifikasi sosial, ras, agama, atau apapun identitasnya.

Terakhir menjadi catatan penting, bahwa virus corona ini bukan seperti kita umat manusia, ia tidak punya pengetahuan, perasaan, apalagi rasa bosan, mereka tidak mengenal waktu, mereka menyerang kapanpun mereka mau.

Kitalah sebenarnya sebagai yang punya seluruh potensi yang tidak dimiliki oleh virus itu, punya kewajiban yang harus ditunaikan pemutusan penyebaran virus corona ini dengan menutup segala potensi tertular adalah hal yang paling realitis untuk dilakukan.

Dan untuk pemerintah Indonesia berhenti untuk mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang salah arah dan cenderung punya keberpihakan pada elit oligarki dan para kapitalis. 

Sudah saatnya untuk melihat dan punya keberpihakan pada masyarakat miskin yang saat ini harus bersusah payah bekerja dan di saat bersamaan bertaruh nyawa.