I am Malaysian, I don't see as a Chinese. - Lim Guan Eng

Akhir-akhir ini masyarakat dihebohkan dengan kemunculan film Ahok di bioskop yang berjudul A Man Called Ahok. Film ini menggambarkan bagaimana seorang Ahok kecil berada di kalangan keluarganya. 

Berlatar belakang di rumah yang sederhana, di kampung Belitung, Ahok kecil hidup dengan masyarakat sekitar yang berbeda etnis dengan dirinya. Sejak kecil Ahok banyak belajar tentang keberagaman.

Ahok sendiri memang tidaklah sempurna sejak mulanya. Ahok kecil dan Ahok muda sempat "memberontak" terhadap diri dan statusnya sendiri. Ia sempat bertanya kepada ayahnya, "Sebenarnya aku ini orang apa?" 

Dalam pandangan filsafat eksistensialisme, pertanyaan itu merupakan pertanyaan yang sangat mendasar, menyangkut asal-usul hidup seseorang. Bagaimana tidak, ia seorang yang dianggap "asing" di negerinya sendiri maupun di negara tempat leluhurnya, (dalam hal ini adalah Republik Rakyat China (RRC)). 

Kim Nam, ayah Ahok, dalam sebuah cuplikannya menanggapi, "Jangan pernah lelah untuk mencintai Indonesia". Sungguh, kalimat ini merupakan kalimat yang sangat bernas dari seorang bijak yang mana sebagian banyak hidupnya mengalami diskriminasi namun tetap memberikan cinta kasihnya pada negeri Indonesia ini.

Berangkat dari kisah Ahok di atas, ternyata saya menemukan hal kemiripan dengan hidup Lim Guan Eng, salah seorang tokoh Tionghoa-Malaysia. Lim Guan Eng kini dikenal sebagai Menteri Keuangan Malaysia yang membantu Tun Dr. Mahathir dalam menyelamatkan Malaysia dari keterpurukan ekonomi akibat korupsi besar-besaran pada pemerintahan sebelumnya. 

Menurut hemat saya, Guan Eng (demikian panggilan akrab Lim Guan Eng) telah mengalami kisah hidup yang lebih "memilukan" daripada seorang Ahok.

Biografi Singkat

Lim Guan Eng lahir pada tanggal 8 Desember 1960. Guan Eng sendiri merupakan anak dari Lim Kit Siang, pemimpin Partai Aksi Demokratik Malaysia (atau dikenal sebagai Democratic Action Party (DAP)

Sejak kecil Guan Eng sudah bersekolah di sekolah berbasis bahasa Inggris sehingga kemampuannya berbahasa asing (selain berbahasa Melayu) tidak diragukan lagi. Guan Eng pernah mengambil kuliah di Universitas Monash (Monash University) Australia jurusan ekonomi-akuntansi dan kembali lagi ke Malaysia menjadi seorang akuntan yang terhormat dan berkualitas. Guan Eng menikahi Betty Chew Gek Cheng dan memiliki 4 orang anak.

Karier Politik

Sebelum memasuki dunia politik, Guan Eng sempat bekerja di dunia perbankan. Namun pada akhirnya Guan Eng muda lebih memilih untuk mengikuti jejak ayahnya yang seorang pemimpin partai berhaluan oposisi (lawan) dari Barisan Nasional-UMNO yang merupakan partai besar dan berkuasa di Malaysia kala itu. 

Peranan Guan Eng sejak muda di partai politik DAP juga tidak diragukan lagi. Guan Eng pertama kali memasuki dunia politik secara riil sekitar tahun 1987 ketika dirinya bertanding dalam merebutkan kursi kota Melaka. Di partai DAP, karier politiknya terus naik, mulai dari ketua pemuda dua periode (1989 dan 1982), wakil sekretaris jenderal (1995), dan sekretaris jenderal (2004). Pahit dan panasnya kehidupan politik di Malaysia membuat Guan Eng untuk tetap setia pada panggilan politiknya.

Karier politik Guan Eng terus naik dan justru menarik perhatian publik. Pada tahun 2008, Guan Eng memenangkan pemilihan umum untuk menjadi seorang Ketua Menteri (setara Gubernur dalam pemerintahan Indonesia) untuk Pulau Penang mengalahkan partai yang berkuasa kala itu Barisan Nasional-UMNO. Bersama dengan para partai opisisi yang lain, Guan Eng memerintah Pulau Penang dengan berbagai prestasi gemilang. 

Pulau Penang pun mengalami kemajuan yang sangat pesat. Beberapa kebijakan yang semula dijalankan oleh para pendahulunya yang berhaluan "satu suara" dengan partai penguasa kala itu, Guan Eng melakukan berbagai terobosan ala oposisi. 

Berkat keberhasilannya memerintah Pulau Penang, ia dicintai oleh rakyatnya. Kecintaan rakyat terhadap dirinya membuat dirinya lolos kembali menjadi seorang Ketua Menteri (setingkat Gubernur) di Pulau Penang untuk periode kedua.

Kemenangan oposisi pada pemilihan umum terakhir kemarin membawa karier politik Guan Eng semakin naik. Bersama dengan partai-partai oposisi, kini Guan Eng memenangkan pemilihan umum yang membawa dirinya menjadi seorang Menteri Keuangan Malaysia membantu Perdana Menteri yang baru, yaitu Tun Dr. Mahathir Mohammad. 

Tentunya hal ini merupakan suatu pencapaian yang sangat menarik dan menginspirasi sebab seorang Tionghoa (yang tentunya minoritas) dapat dipercaya terus untuk berkarier politik di Malaysia yang mayoritas adalah orang Melayu-Muslim.

Pernah Masuk Penjara Dua Kali

Sebagai seorang yang terjun di dunia politik, tentunya kehidupan Guan Eng tidak selamanya berjalan mulus. Berbagai cobaan dan jatuh-bangun dalam dunia politik Malaysia sudah Guan Eng lewati dengan seksama. Salah satunya adalah menjadi tahanan politik di salah satu penjara yang ada di Malaysia. Guan Eng menjalani semua itu dengan kesabaran. 

Seorang Guan Eng pernah masuk penjara setidaknya dua kali. Pertama, Guan Eng telah dituduh menjadi salah satu provokator atau dalang di balik kerusuhan untuk menjatuhkan Tun Dr. Mahathir yang kala itu masih berhaluan "pemerintah". 

Kedua, Guan Eng berjuang membela gadis Melayu yang masih di bawah umur yang telah menjadi korban perkosaan oleh Ketua Menteri Melaka pada tahun 1997 yang menyebabkan dirinya harus mendekam di penjara lagi selama 18 bulan. Guan Eng telah dituduh menyebarkan berita bohong terhadap berita namun kini ternyata semua itu adalah suatu kebenaran.

Bagi Guan Eng, masuk dan keluar penjara bukanlah sebuah hal yang harus disesali. Justru dengan keluar dan masuknya penjara, Guan Eng menjadi semakin mantap dengan perjuangan idealisnya selama ini. Dengan kata lain bahwa memang ada yang sesuatu yang tidak beres pada negerinya yang mana kalau ia turut campur berarti ada sebagian orang yang "tidak nyaman" dengan kehadirannya. 

Bahkan untuk kasus perkosaan tersebut, bagi Guan Eng, merupakan suatu ujian bersama apakah seseorang itu mau menyejahterakan rakyatnya, apakah harus satu suku atau satu agama terlebih dahulu. Guan Eng dengan tegas bahwa apa yang ia bela adalah untuk kepentingan rakyat, siapa pun itu, tidak lebih.

Selain mengalami persekusi fisik, Guan Eng juga sering kali menerima persekusi secara lisan. Isu-isu bahwa dirinya adalah seorang Tionghoa juga ternyata sering digunakan oleh lawan politiknya sendiri. Tuduhan apabila orang-orang Tionghoa adalah "pewaris" dari komunisme RRC juga disematkan bagi orang-orang Tionghoa di Malaysia. 

Akan tetapi, sedikit perbedaan dengan sistem politik di Indonesia. Di Malaysia, partai dapat didirikan dengan corak kesukuan sebab partai DAP memang didominasi oleh orang-orang Tionghoa. Partai DAP adalah partai oposisi. Untuk menandinginya, maka Barisan Nasional-UMNO mengajak partai Malaysian Chinese Association (MCA) sebagai partai Tionghoa yang selalu beriringan dengan Barisan Nasional-UMNO.

Tetap Nasionalis

Sejak Guan Eng menjabat menjadi Ketua Menteri Pulau Penang hingga Menteri Keuangan sekarang, berbagai isu-isu rasialis juga dituduhkan padanya. Di atas sudah kita lihat apabila ia dituduh sebagai "pewaris" komunisme RRC, namun ia bantah dengan cara yang sangat bijak.

Di sela-sela menjawab tuduhan itu, Guan Eng setidaknya pernah menjawab apabila ia tetap setia pada Malaysia. Dengan kata lain, ia tetap seorang nasionalis yang mencintai negaranya, yaitu Malaysia.

Setidaknya ada dua kalimat yang terkenal dari Guan Eng. Pertama, "Saya adalah seorang warga negara Malaysia, saya tidak melihatnya sebagai seorang warga negara RRC." Kalimat kedua, "Saya seorang Malaysia, namun di saat yang bersamaan saya juga seorang Tionghoa. Bagi saya, ini sendiri tidak terlalu tepat." 

Berdasarkan dari kedua kalimat di atas, tampak sekali bahwa Guan Eng tetap bersikukuh untuk memertahankan ke-Malaysia-annya ketimbang harus dipusingkan tentang identitasnya. Bahwa ia adalah orang Malaysia, yang mencintai negaranya dan berjuang bagi rakyatnya.

Yang Dapat Kita Pelajari

Kisah hidup Lim Guan Eng memiliki kemiripan dengan Ahok. Bagaimanapun juga Ahok adalah gambaran (tokoh) Tionghoa Indonesia yang ingin membantu Indonesia agar lebih maju, bersih dari korupsi, dan lain-lain. Tentunya hal ini sama dengan Guan Eng yang ingin berbuat sesuatu yang positif bagi negaranya. 

Namun memang dalam kehidupan politik tidaklah semulus dalam kehidupan yang lain. Isu-isu yang sering digunakan oleh lawan-lawan politik sering kali bisa jadi memengaruhi kondisi pribadi maupun keluarga dari sang politikus tersebut. Oleh karenanya, kesiapan diri, mental, dan roh seorang politikus untuk tetap setia pada idealismenya dalam dunia politik tentunya membawa dampak positif bagi negaranya masing-masing.

Dari Guan Eng kita belajar bahwa kesetiaan pada idealisme politik yang baik dan benar tentunya merupakan hal yang sangat langka bagi politikus Indonesia di zaman ini. Berbagai ancaman, iming-iming harta, bagi-bagi jatah turut mewarnai merah rapor dari para politikus Indonesia sekarang ini. 

Memang tiap-tiap negara memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing yang dipengaruhi oleh lingkungan dan situasi masing-masing negara, namun dari Guan Eng kita bisa belajar pula sikap menerima dan semakin kuat dalam panggilan menjadi seorang politikus yang benar-benar mencintai rakyatnya tanpa pandang bulu. Ini merupakan suatu pelajaran yang sangat sulit, yaitu untuk tetap setia dan menerima keadaan apa pun. Sebab memang tidak dapat dimungkiri banyak orang yang cenderung suka untuk "cari aman".

Ahok adalah harapan Indonesia sebagai tokoh Guan Eng di Indonesia. Saya secara pribadi berharap agar setelah keluar dari penjara, karier politik Ahok seperti Guan Eng yang tetap konsisten terhadap politik bagi rakyat Indonesia. 

Saya cukup bersyukur apabila ada beberapa calon-calon legislatif yang ingin maju dalam pemilihan umum 2019 ada yang berasal dari suku Tionghoa. Ini merupakan suatu terobosan dan dampak positif dari tokoh Ahok di Indonesia yang menginsspirasi banyak Tionghoa untuk masuk ke dunia politik dan melakukan perubahan. 

Hal ini juga merupakan pendidikan politik kontemporer Indonesia bahwa setiap warga negara Indonesia, apa pun sukunya, dapat membantu Indonesia untuk selalu menuju ke arah yang lebih baik. Semoga masyarakat Indonesia dapat selalu terinspirasi dari kehidupan Ahok dan Lim Guan Eng demi kemajuan Indonesia yang lebih baik dan maju.