2 minggu lalu · 753 view · 3 menit baca · Politik 98995_47559.jpg

Infrastruktur Tak Bisa Dimakan, Tapi Nikmat Sekali

Infrastruktur adalah sebuah kata yang memiliki ribuan makna. Infrastruktur adalah sesuatu yang bisa kita sebutkan sebagai kebutuhan dasar fisik dalam pembangunan. 

Pembangunan fisik ini bisa dilihat dari dua sektor, yakni sektor privat dan sektor publik. Pemerintah membangun infrastruktur tentu bisa disebut sebagai pembangunan fisik dari sektor publik. Karena pemerintah ada untuk melayani publik. 

Meski demikian, ada beberapa sektor privat yang juga dibangun infrastrukturnya, seperti sistem fisik yang ada di setiap perusahaan-perusahaan BUMN ataupun BUMD.

Istilah infrastruktur yang kita kenal di era Presiden Joko Widodo terkait erat dengan infrastruktur fisik seperti jalanan, rel kereta, air bersih, bandara, kanal, waduk, listrik, pelabuhan, bahkan sampai kepada konektivitas telekomunikasi.

Pembangunan fisik yang digencarkan saat ini oleh pemerintahan dilakukan untuk mengimbangi kebutuhan rakyat Indonesia. Indonesia adalah negara yang besar, dengan kepemilikan SDA atau Sumber Daya Alam yang masih perlu terus digali potensinya.

Dengan demikian, pembangunan fisik infrastruktur sudah menjadi sebuah keniscayaan. Sudah menjadi barang tentu bahwa pembangunan infrastruktur di Indonesia ini harus dilakukan dengan secepat-cepatnya. Tentu dengan pembangunan infrastruktur yang memadai akan menjadi dasar dari pembangunan aspek non-fisik. 

Apa itu? Pembangunan manusia. 

Tapi sebelum kita membahas mengenai pembangunan manusia yang akan dijanjikan Presiden untuk dikuatkan di periode keduanya, mari kita membahas terlebih dahulu infrastruktur dalam aspek fisik.


Menurut Grigg, ada enam kategori besar dari infrastruktur, antara lain kelompok jalan, transportasi, air, manajemen limbah, bangunan, dan produksi distribusi energi. Keenam aspek ini dikerjakan oleh Presiden Joko Widodo dengan panglima infrastrukturnya, Basuki Hadimuljono.

Keenam kategori infrastruktur ini tidak dikerjakan secara merata. Karena memang dari aspek kebutuhan, pembangunan jalan transportasi, air dan bangunanlah yang menjadi fokus untuk negara Indonesia, sejauh ini. 

Tapi dari porsinya masing-masing, yang mencengangkannya adalah... 

Jokowi mengerjakan semuanya. Inilah hal yang harus kita apresiasi bersama. Membangun keenam aspek besar dari infrastruktur ini berhasil dikerjakan oleh Joko Widodo.

Pembangunan jalan adalah agenda utama Presiden Joko Widodo dalam membangun konektivitas antara daerah. Pembangunan infrastruktur jalan ini saya sempitkan dalam pembangunan jalan. Pembangunan jalanan di Indonesia, sebelum pemerintahan Joko Widodo, memang begitu-begitu saja.

Harus diakui bahwa di era Jokowi, pembangunan jalan dilakukan berkali-kali lipat. Mengapa? Karena menurut pemerintah, konektivitas di Indonesia masih belum tersambung. Pemerataan pembangunan sama sekali tidak merata. Pembangunan pun dikerjakan dengan sangat rinci, cepat, dan tidak main-main.

Anggaran yang digelontorkan untuk membangun infrastruktur jalanan ini sangatlah besar. Anggaran ini harus dikeluarkan dan dikelola dengan sangat baik dan hati-hati. Karena apa? Anggaran ini dibangun dari pajak negara yang diperoleh dari setiap rakyatnya. Rakyat butuh pertanggungjawaban dalam setiap pembangunan yang dijanjikan.

Jokowi memegang amanah itu dengan teguh. Pembangunan dikerjakan dengan cepat. Tahun pertama lebaran, mungkin masih macet. Tahun kedua, macet terurai. Dan makin lama makin lancar. Bahkan di tahun ini, lebaran tidak lagi identik dengan kemacetan.

Khususnya yang ada di Jawa. Pembangunan besar-besaran dalam infrastruktur jalanan ini menjadikan Jokowi sebagai pemimpin yang paling visioner. Dia tidak hanya menjalankan roda pemerintahan yang ia lakukan saat ini. Ia melihat dengan mata yang tertuju jauh ke depan. Ia memasang tonggak-tonggak sejarah. Untuk apa? Untuk menjadikan Indonesia berdaulat.

Infrastruktur memang tidak bisa dimakan. Tidak ada yang mau ngemil aspal, semen, pasir, beton, dan baja. Tentu orang waras tidak akan memakan itu. Tapi harus diakui, infrastruktur jalanan yang tidak bisa dimakan itu sangatlah nikmat. Semua rakyat tahu bahwa infrastruktur tidak bisa dimakan oleh manusia.

Tapi semua rakyat merasakan betapa nikmatnya pembangunan infrastruktur di era Presiden Joko Widodo ini. Indonesia sangat maju. 

Lebaran kali ini, kemacetan berkurang drastis. Bahkan di H-2 Lebaran yang seharusnya pengendara memadati ruas-ruas jalan, malah tidak ada sama sekali. Kecelakaan menurun drastis. Nikmat apa lagi yang kau mau dustakan?


Indonesia seharusnya bersyukur mendapatkan Presiden Joko Widodo. Tuhan memberikan hadiah kepada rakyat Indonesia yang beberapa di antaranya masih tidak tahu terima kasih. Akan tetapi begini, Tuhan masih melihat mayoritas warga negara Indonesia, rakyat Indonesia yang perlu mendapatkan pemimpin yang baik dan amanah.

Indonesia masih membutuhkan Jokowi untuk periode keduanya. Kita nikmati sekali lagi periode keduanya dengan pembangunan manusia. Pembangunan infrastruktur sudah nyaris rampung di Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan pulau-pulau kecil di Indonesia.

Sekarang marilah kita mempersiapkan diri untuk dibangun. Karena puncak dari pembangunan infrastruktur adalah pembangunan manusia yang berkeadilan, terhormat, berdaulat, dan makmur.

Terima kasih, Presiden Joko Widodo. Marilah kita sebagai bangsa Indonesia belajar mengucapkan terima kasih kepada pemimpin kita, yang sudah susah payah banting tulang untuk membangun bangsa ini.

Selamat datang di era pembangunan manusia.

Artikel Terkait