Hidup kita sehari-hari selalu berhubungan dengan media sosial, mulai dari bangun tidur sampai ketika mau tidur.  Padahal, media sosial (medsos) juga memberikan banyak pengaruh, baik pengaruh positif dan negatif. Contoh pengaruh negatif yaitu, dengan adanya pengaruh radikal, ujaran kebencian dan sebagainya.

“Sehingga dari medsos kita melihat adanya serangan pada moderasi beragama. Ada banyak serbuan paham-paham yang tidak sesuai dengan keindonesian dan kebersamaan kita di Idonesia. Salah satu altrenatif yang bisa kita tempuh adalah dengan mengembangkan paham moderasi beragama.” Ujar Rohim Ghazaly, direktur eksekutif Maarif Institut. 

Hal ini diungkapkan dalam sambutannya pada kajian pemikiran Islam kontemporer dalam serial kegiatan tadarus online Ramadan 1442 Hijriah dengan tajuk Moderasi beragama dan tantangan radikalisme di media sosial, Kamis 29 April 2021 yang dihelat oleh Maarif  Institut via zoom.

Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber yang tepat di bidangnya. Mereka adalah Dr. Haryatmoko, dosen universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan Indah Fajar Rosalina yang merupakan alumni sekolah kemanusiaan dan kebudayaan buya Ahmad Syafi Maarif (SKK ASM) angkatan II.  Dan dimoderatori oleh Iis Mirani Usman yang merupakan alumni dari SKK-ASM III.

Indah Fajar Rosalina sebagai pembicara pertama membahas tentang berbagai macam riset yang dilakukan oleh akademisi atau lembaga sosial masyarakat melaporkan jika peta opini radikalisme pelajar yang sangat memprihatinkan di Indonesia. Dari penelitian PPM UIN Syarif Hidayatullah melaporkan bahwa banyak garis merah yang menggambarkan ketidaktolerannya pelajar di Indonesia.    

Lanjut Indah, dari Setara Institut sejak bulan Februari hingga April 2019, ternyata ada sepuluh (10) kampus yang terpapar radikalisme. Termasuk perguruan-perguruan tinggi besar seperti UI, ITB, dan lain sebagainya. Biasanya mereka cenderung memegang kepada Al quran dan hadis tanpa memiliki pemahaman secara komperehensif itu merupakan indikator yang pertama. 

Indikator kedua, mereka juga beranggapan agama Islam dalam kondisi tertekan sebagai penyebab faktor utama mengapa radikalisme itu bisa muncul. Dan yang ketiga mereka cenderung membenci individu dan kelompok yang berbeda pandangan dengannya, sehingga mereka dengan mudah sekali mengkafir-kafirkan orang yang berbeda pandangan. 

Sehingga, kata Indah, kalau kita lihat dari terminologi radikalisme itu sendiri yang dikonsepsikan sebagai akar, dasar, fundamentalis. Sehingga radikalisme berhubungan dengan cita-cita yang diperjuangkannya sampai ke akar-akarnya karena “aliran” ini ingin sekali mengubah sesuatu yang kadang sampai melakukan tindakan kekerasan.

Gerakan ini (baca radikalisme) jika diibaratkan gerakan agama, maka ketika kita melawannya berarti kita melawan agama. Juga termasuk melawan ketaatan mereka  kepada "pemimpin" agamanya. Sehingga, kita juga diibaratkan melawan Tuhan.

Indah menambahkan bahwa mereka cenderung menganggap ideologi mereka sebagai ideologi yang tunggal, ideologi mereka yang paling benar sehingga pada ideologi yang lain dianggap sebagai kesesatan atau kafir.

Media semakin memacu bentuk-bentuk radikalisme

Bagi Romo Moko yang menjadi narasumber kedua mengatakan, bahwa informasi itu selalu interpretasi dan informasi itu tidak pernah netral. Seperti ketika kita belajar critical thinking analysis (CDA) bahwa bahasa bukan hanya sebagai alat komunikasi tapi bahasa adalah instrumen kekuasaan. 

Maka, kaitannya dengan radikalisme, bahasa inilah yang  banyak digunakan sebagai strategi dan instrumen kekuasaan. Sehingga kita dengan mudahnya menjadi orang mendapat indoktrinasi, mudahnya orang menjadi patuh.

Sehingga, orang – orang mengatakan inilah kebebasan berekspresi (dalam media sosial) akan tetapi kita sekaligus diarahkan pada visi tertentu tentang realitas. Di sini, maka tanggung jawab itu sebagai penyeimbang. 

Padahal, tugas dari etika komunikasi adalah untuk menciptakan agar masyarakat melek berita, tercerahkan, membantu pengguna untuk mendapatkan pertimbangan yang diperlukan agar menciptakan komunitas yang harmoni dan mendorong komunikasi yang terbuka, transparansi, akuntabilitas.

Lanjut Romo, tetapi post truth ini justru menjauhkan kita dari semua tujuan etika komunikasi. Jika kita melihat paradigma lama dengan paradigma baru yang sering kita tidak sadari dalam media. Bahwa, pada paradigma lama adalah cetakan fisik dan ada kontrol karena ada praktisi. Sedangkan pada paradigma baru produknya virtual dan dinamis selalu berkembang dan selalu ada koreksi tanpa memberi tahu karena semua kendali ada di pengguna.

Contohnya, jika dikaitkan dengan radikalisme di media sosial dengan banyaknya tokoh agama yang baru belajar agama beberapa bulan tetapi langsung terkenal karena kemampuan mereka untuk membuat viral, sensasional.

Jika dilihat dari media sosial itu sendiri, media digital kendalinya ada pada pengguna yang tidak harus profesional malah banyak yang tidak profesional. Sehingga sulit untuk menjamin verifikasi, independensi, dan akuntabilitas semua itu diragukan.

Media sosial itu mengembangkan banyak simbol, banyak tanda, banyak visual, dan sebagainya yang dapat menarik kelompok milenial sehingga mudah ditarik pada suatu kelompok. Dan acuannya model digital ini adalah virtual dan selalu iklan. Kemudian, ada algoritma itu selalu mengarahkan pada situs sejenis yang telah kita sukai, dari pencarian kita.

Pada digital, hoaks pada pembaca atau pemirsa lebih mengutamakan pada keyakinan, hasrat, atau ideologinya. Sehingga sulit untuk mengajak untuk chek and richek pada suatu konten. Media digital dibuat seakan-akan dialogis atau semi dialogis padahal dialog satu arah.

Lalu audience merasa terkoneksi, terpakai. Sehingga user interface yang memungkinkan interaksi membuat orang terpacu sekaligus diarahkan yang tida disadari oleh audiensinya. Sehingga, indoktrinasi dengan media sosial ini lebih efektif daripada indoktorin langsung.

Sehingga, bagaiman jurnalisme media ini leih kepada jurnalisme (bakar nafsu) dan intoleransi yang meningkat. Semua orang menjadi pencipta isi membagi medsos, tidak lagi memverikiasi kredibilitasnya. Prioritasnya menyebarkan headline, bahkan kalau anda melihat ada jam-jam tertentu di mana ketika anda mengunggah suatu konten akan ada yang menjadi penyokong radikalisme agar berita itu terangkat dan dibuka oleh kelompok-kelompok yang menjadi targetnya seperti portal palsu dan sebagainya.

Dampak psikologis sehingga gagasan radikal gampang tersampaikan karena orang menjadi lebih bebas di media sosial, tanpa hambatan, ruang tanpa otoritas, lalu FOMO, kita takut ketinggalan, kita takut sendirian sehingga kita mudah menerima semua berita. Terutama jika sesuai dengan keyakinannya, ideologinya.

Sehingga motivasinya viral, bukan konten, bukan etika. Pencitraan menjadi utama, lalu kebohongan menjadi biasa. Karena selalu ingin tampil yang terbaik unggahan yang remeh-temeh harus selalu viral tanpa melihat waktu.

Yang paling berbahaya adalah learning intuision atau intusi kewaspadaan. Ini menjadi lemah di media sosial karena kita mengira virtual terlihat, dikira realitas. Apalagi, tanda dianggap makna itu sendiri (dunia hyperrealitas).

Banyak manipulatif dalam media sosial, misalnya tokoh agama menakuti-nakuti jamaahnya jika yang dilakukan adalah dosa. 

Sehingga, harapan Romo Moko, sejak SMP ada pembelajaran digital media literasi. Untuk melawan bahayanya media sosial apalagi ketika ada radikalisme di media sosial. 

Apalagi di era post truth ini yang penting adalah emosi dan hasrat daripada objektifitas. Bahasa tidak lagi mengandung kebenaran, fakta atau realitas mereka tidak mengatakan kebohongan . mereka akan mengatakan fakta alternatif  atau kebenaran alternatif  sehingga kita tidak bisa membedakan antara fakta dan opini. Yah, narasi mengalahkan data.