Infertilitas dapat dialami, baik oleh perempuan maupun laki-laki. Namun demikian, ketika sudah membina hubungan rumah tangga, siapa pun yang infertil, infertilitasnya tidak lagi menjadi persoalannya pribadi. Meski dampaknya tentu berbeda pada pihak yang infertil dan yang tidak. 

Yang ingin saya sampaikan di sini adalah bahwa persoalan infertilitas berdampak pada kehidupan pasangan dan karenanya menjadi persoalan bersama. Kehidupan pasangan tidak akan sama lagi ketika salah satu atau keduanya divonis punya masalah kesuburan. 

Kecuali mungkin pada pasangan yang memang sudah memutuskan untuk tidak memiliki anak atau pasangan yang sudah menyadari sejak awal bahwa kondisi salah satu pasangan memang tidak memungkinkan untuk memiliki keturunan.

Rasa terguncang, meski sebelumnya sudah menduga adanya masalah ini, menjadi reaksi awal yang umum. Bukan hanya pihak yang infertil yang akan syok dengan kabar ini, tetapi juga pasangannya. 

Pada sebagian orang, bisa jadi malah menimbulkan kelegaan karena akhirnya menjadi jelas apa yang menjadi faktor penyebab tidak kunjung hadirnya anak yang dinanti dan kemungkinan upaya yang dapat dilakukan. 

Penyangkalan (tidak mungkin, diagnosis dokter salah) atau kemarahan (mengapa harus saya) dapat pula mewarnai respons awal seseorang ketika menemukan bahwa dirinya infertil. 

Baca Juga: Ma, Aku Hamil

Perasaan bersalah turut hadir, terutama pada pihak yang dinyatakan infertil: merasa bersalah terhadap diri sendiri, pasangan, dan relasi itu sendiri, juga terhadap keluarga besar. Rasa bersalah ini sering kali memiliki sejarah pribadi sehingga berbeda pada tiap orang. 

Peristiwa traumatis ataupun peristiwa yang pernah dimaknai sebagai ‘kesalahan’ dapat menimbulkan ide-ide negatif yang membuat perempuan/laki-laki mengaitkannya dengan infertilitasnya saat ini. 

Misalnya saja perempuan yang pernah mengalami aborsi dapat mengembangkan ide-ide bahwa infertilitasnya terkait dengan aborsi, bahkan meski dokter menyatakan tidak ada kaitan antara keduanya. Hal ini dapat menguatkan rasa bersalah.

Rasa rendah diri juga akan berkembang karena merasa tidak menjadi perempuan yang utuh atau pada laki-laki karena merasa kehilangan kejantanan. Disadari atau tidak, bagi kebanyakan pria, kehamilan istri merupakan bukti kejantanannya. Diagnosis infertilitas meniadakan kemungkinannya untuk dapat menunjukkan bukti ini. 

Infertilitas juga dimaknai sebagai kegagalan: gagal memberikan keturunan yang akan melanjutkan nama keluarga, gagal memenuhi kriteria sebagai istri dan suami, sebagai anak yang berbakti, dan lain-lain.

Ketika memiliki keturunan sudah menjadi semacam norma sosial, dan pasangan tidak dapat memenuhi norma ini, muncul perasaan ‘berbeda’ dan ‘menyimpang’ dari norma. 

Merasa diri ‘tidak normal’, merasa diri gagal memenuhi harapan sosial…. perasaan-perasaan ini menekan pasangan, baik pihak yang infertil maupun tidak. 

Ketika rasa syok mulai memudar, harapan mulai muncul. Pasangan akan mencoba berbagai upaya medis atau bahkan tradisional. Di sinilah serangkaian upaya yang bersifat teknis dan repetitif untuk dapat memiliki keturunan akan membebani rutinitas kehidupan pasangan. 

Kegiatan bercinta kehilangan sisi romantisnya karena menjadi kewajiban terjadwal disertai tekanan, kecemasan, bercampur harapan bahwa kali ini akan dan harus berhasil. Keintiman pasangan tidak lagi menjadi wilayah pribadi karena mau tidak mau ada tim medis yang ikut terlibat. 

Gairah dan kepuasan seksual pasangan umumnya menurun sepanjang proses penanganan kesuburan ini. Belum lagi rasa frustrasi ketika setiap kali upaya yang dilakukan gagal. Harapan dan keputusasaan dapat muncul dan pergi silih berganti ribuan kali. 

Pada saat yang sama, rendah diri, perasaan bersalah dan gagal, tetap di sana, seperti menjadi bagian diri yang tidak akan pergi sampai upaya-upaya ini membuahkan hasil. Apalagi dalam interaksi sehari-hari, semua yang ada di sekitar seperti mengingatkan masalah ini. 

Perempuan/laki-laki dengan masalah ketidaksuburan akan mengalami selective attention, perhatiannya berpusat pada hal yang sedang jadi beban pikiran. Mereka melihat di mana-mana sepertinya hanya ada perempuan hamil atau pasangan lain dengan anak-anak. 

Mereka menjadi sensitif terhadap percakapan orang lain mengenai anak. Kadang hanya satu kalimat singkat mengenai momongan sudah melukai meski orang ybs mungkin tidak bermaksud demikian. Ungkapan perhatian mempertanyakan kemajuan program kesuburan yang sedang dijalani juga dapat dirasakan mengolok-olok. 

Dengan keseharian semacam ini, perempuan/laki-laki dengan masalah infertilitas rentan untuk jatuh dalam depresi. 

Pihak yang infertil juga sering merasakan kekosongan bahkan meskipun ia tahu bahwa suami/istrinya ada di sana, tetap mencintainya apa adanya. Ini adalah kekosongan dalam diri. Ia merasa hidup tidak lagi bermakna karena tidak akan ada anak, makna hidupnya dilekatkan kepada anak yang belum hadir dalam hidupnya. 

Pasangannya dapat merasa terabaikan, merasa dianggap tidak penting, merasa cinta dan kasih sayangnya tidak dihargai, dan akhirnya merasa tidak dicintai. Hal ini dapat menjadi lingkaran setan : pihak yang infertil akan mengembangkan perasaan yang sama. 

Ia akan merasa tidak dimengerti bahwa ia sesungguhnya mencintai pasangannya hanya saja ia merasa ada yang kurang dalam diri dan hidupnya karena tidak (dapat) memiliki anak. Sementara itu, pasangan berusaha menghibur dan menguatkan sambil ia sendiri diliputi kegelisahan dan keputusasaan. 

Tetapi berapa lama pula ia mampu bertahan menghadapi istri/suami yang : selalu murung, sedih, ataupun uring-uringan ; yang mudah marah dan satu kata yang ‘salah’ saja sudah menyinggung perasaannya; yang tidak dapat memikirkan hal lain, yang tidak dapat diajak berdiskusi tentang hal lain, yang dengannya ia tidak dapat melakukan aktivitas apapun bersama-sama karena terpaku pada persoalan ini? 

Berapa lama ia harus meyakinkan istri/suami bahwa ia mencintainya sementara yang ia cintai ini terus memintanya meninggalkan dirinya karena merasa tidak layak menjadi pasangannya? Berapa lama ia mampu menenangkan istri/suami sementara ia sendiri gelisah menghadapi tekanan keluarga seperti mengenai kapan memberi cucu pada orang tua?

Pihak yang infertil ataupun tidak, terbelenggu dalam spiral emosional : rendah diri, rasa bersalah, tertekan, cemas, gelisah, dll. Sementara itu, kesuburan terletak di bawah pengaruh bagian wilayah otak yang mengatur emosi. Kesuburan adalah fungsi biologis yang sangat peka terhadap stres dan kecemasan. 

Akibatnya lagi-lagi adalah lingkaran setan: kecil kemungkinan perawatan kesuburan dapat berhasil jika pasangan diliputi emosi-emosi negatif ini. 

Ketika upaya-upaya yang dilakukan tidak kunjung membuahkan hasil, emosi-emosi negatif semakin meningkat. Masing-masing pihak dapat mengembangkan depresi ataupun bentuk-bentuk kecanduan: kecanduan kerja, kecanduan alkohol, dll. 

‘Gila kerja’ sering kali merupakan cara menghindari konflik karena enggan pulang ke rumah untuk mendapati istri yang depresif ataupun suami yang menjadi kasar dan pemabuk, dll. 

Setiap kali upaya gagal, obsesi untuk memiliki anak juga cenderung meningkat, tekanan pun akan semakin terasa. Namun berulang kali gagal akan mengantarkan pasangan pada titik merasa tidak berdaya; merasa sudah tidak sanggup lagi, merasa sudah tidak ada harapan. 

Pada titik ini pasangan mungkin memilih untuk menghentikan upaya-upaya medis, menganggap upaya apapun yang dilakukan akan sia-sia. Namun jika mereka tidak dapat berdamai menerima ketidakhadiran si buah hati, masalah ini akan makin menggerogoti keharmonisan rumah tangga.