Kita tentu sering mendengar ujaran pepatah yang menyatakan bahwa hidup itu ibarat roda yang berputar.

Perputaran roda nasib dan keadaan dalam kehidupan terkadang membawa orang ke puncak kejayaan, dan terkadang juga menjerumuskannya ke jurang kemunduran. Dan kita semua pasti pernah mengalami hal demikian, meskipun dalam skala dan bentuk yang berbeda-beda.

Ketika roda kehidupan berputar ke bawah, tak semua orang bisa menerimanya dengan lapang dada. Tak sedikit yang melampiaskan kesedihan dengan melakukan flash back atau meratapi indahnya kejayaan dan kesuksesan masa lalu. 

Tak jarang tingkah laku seperti ini malah membuat yang bersangkutan terlena dan terjebak di dalam pusaran masa lalu sehingga melupakan kehidupan nyata yang sedang dan harusnya di hadapi.

Prof. Quraish Shihab juga mengingatkan soal tingkah laku demikian dalam salah satu karyanya, "Membumikan" Al-Quran: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. Menurutnya, meratapi manisnya kesuksesan masa lalu itu ibarat orang sakit yang mengonsumsi obat bius. Tindakannya tersebut tidak dapat menyembuhkan penyakitnya, akan tetapi hanya meredakan rasa sakit yang diderita untuk sementara. 

Pun dengan tindakan meratapi manisnya pencapaian masa lalu, yang tidak dapat memberikan solusi atas kemunduran yang sedang dihadapi, akan tetapi hanya sekadar pelampiasan diri ketika tidak mampu menghadapi kenyataan pahit yang dialami.

Perilaku demikian dikenal dengan istilah inferiority complex. Dalam dunia psikologi, istilah inferiority complex ini digunakan untuk menggambarkan sebuah kondisi psikologis atau alam bawah sadar, ketika suatu pihak merasa inferior/lemah/lebih rendah dibanding pihak lain. 

Kondisi kejiwaan ini biasanya berujung kepada kompensasi atau pemujaan yang berlebihan pada suatu pencapaian atau tendensi untuk mencari pengakuan/apresiasi dari suatu pihak.

Fenomena inferiority complex juga banyak merebak di kalangan kaum muslim. Fenomena ini bisa kita deteksi ketika melihat sikap sebagian cendekiawan dan muslim kebanyakan tatkala mengetahui ada penemuan baru, mereka buru-buru menyatakan bahwa Alquran sejak dulu sudah membuktikan penemuan itu.

Dalam kasus ini, sebagian kaum muslim dinilai merasa lebih rendah ketika berhadapan dengan bangsa barat (dalam kasus ini, bangsa Barat yang dimaksud adalah non-muslim) yang banyak melahirkan inovasi dan penemuan-penemuan baru. Dan sikap kaum muslim yang mengklaim bahwa Alquran dan cendekiawan Islam dulu telah membuktikan penemuan itu jauh-jauh hari adalah kompensasi dari perasaan inferiority complex tadi.

Menurut beberapa tokoh, dalil lain yang biasa dipakai oleh oknum tertentu untuk berdalih adalah salah satu sabda Nabi Muhammad Saw. yang tertulis demikian, "Islam itu tinggi dan tiada yang dapat menandingi ketinggiannya."

Dengan bermodalkan dalil di atas disertai niat untuk menjaga image Islam agar tetap "tinggi" dan sesuai dengan perkembangan zaman, mereka selalu berusaha mencari-cari kecocokan antara Alquran dengan temuan ilmiah modern atau teori-teori ilmu pengetahuan.

Namun, dalil dan niat yang tulus tidaklah cukup jika tidak diiringi dengan pemahaman yang baik. Pemahaman yang keliru terhadap suatu dalil tentu akan membawa hasil yang keliru pula-meskipun dalilnya benar. 

Pemahaman yang keliru terhadap hadis yang disebutkan di atas tentu akan berakibat buruk bagi umat Islam sendiri jika di kemudian hari, teori atau temuan yang sebelumnya telah dicocokkan dengan Alquran tersebut ternyata salah, maka akan muncul penggiringan opini bahwa Al-Qur'an ternyata juga keliru. Na'udzubillah.

Dalam pandangan kacamata Prof. Quraish Shihab, sikap yang tepat ketika mengetahui ada temun baru dalam sains modern bukan dengan mencari-cari ayat yang dapat menguatkan dan membenarkan temuan itu. Sebab sedari awal, Alquran bukanlah buku atau kitab yang memuat tentang teori ilmiah. Selain itu, kebenaran Al-Qur'an bersifat absolut, berbeda dengan kebenaran ilmu pengetahuan yang sifatnya nisbi (relatif).

Oleh karena itu, ayat-ayat Al-Qur'an tidak dapat dijadikan alat untuk membenarkan atau menyalahkan teori-teori ilmiah. Langkah yang tepat adalah cukup meyakini bahwa al-Qur'an tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Umat Islam tidak perlu masuk terlalu jauh sampai mencoba mencari-cari ayat dan mencocokkannya dengan temuan atau teori ilmiah.

Selain itu, sebagian umat Islam juga sering dihinggapi perasaan kagum yang berlebihan kepada kesuksesan para ulama dan cendekiawan Islam masa lampau. Alih-alih mengambil pelajaran dari sana, mereka malah terjebak dan terlalu asyik di sana.

Sebagian orang barangkali akan menyangkalnya dengan dalih untuk belajar dari masa lalu. "Bukankah kita perlu belajar dari masa lalu?" Mungkin seperti itulah gambaran pertanyaan yang akan dilontarkan sebagian orang.

Untuk menjawab pertanyaan demikian, kita dapat mengutip apa yang ditulis oleh Henry Manampiring dalam bukunya Filosofi Teras, "Kita harus bisa menarik garis besar antara belajar dari masa lalu dan terobsesi terus dengan masa lalu."

Harus kita akui, para pendahulu kita adalah orang-orang yang sangat gemilang sehingga dapat mengantarkan Islam di puncak kejayaannya. Kita semua perlu mempelajari masa lalu dan mengapresiasi hasil usaha para pendahulu kita. Namun perlu kehati-hatian agar tidak terjebak di dalamnya. 

Semua sudah berlalu, masa mereka bukan untuk diratapi tapi untuk dipelajari. Kita boleh bangga dengan mereka, asal jangan lupa untuk mengambil pelajaran dari sana. Perlu direnungkan bagaimana mereka bisa seperti itu dan kenapa generasi kita sekarang masih belum bisa mencapai kejayaan layaknya mereka.

Fokuslah dengan kehidupan kita kini, ciptakanlah kreativitas dan inovasi yang dapat memajukan diri dan dapat bermanfaat untuk orang banyak. Seyogyanya, masa lalu - manis atau pahit - ditempatkan layaknya kaca spion. Sebagaimana fungsinya, kaca spion digunakan untuk melihat keadaan di belakang. Tapi bukan untuk dilihat terus menerus, karena bisa membahayakan pengendaranya yang tak melihat keadaan di depan.

Mungkin ungkapan pepatah Arab ini dapat dijadikan renungan untuk kita semua.

"Bukanlah pemuda sejati yang terbiasa berkata, 'Dahulu Ayahku (nenek moyangku)', namun pemuda sejati adalah yang berkata, 'Inilah aku' (karyaku)."

Kejayaan para pendahulu bukan untuk dibanggakan dan dipamerkan kepada orang banyak. Sebab, kebesaran para pendahulu tidak dapat dijadikan tolak ukur keberhasilan suatu bangsa/umat dikemudian hari. Keberhasilan dan kejayaan hanya bisa dicapai lewat kecerdasan dan kerja keras, bukan dengan membanggakan kejayaan para pendahulu.