Mahasiswa
1 bulan lalu · 53 view · 3 min baca menit baca · Lingkungan 37481_45624.jpg
Foto: Storgram

Industri, Sudahi Konflik Manusia vs Satwa

Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu...

Asumsi saya, penggalan ayat ke-38 QS: Al-An’am di atas telah akrab di telinga para pembaca. Entah itu karena berkesempatan mencicipi lingkungan pesantren, telah terlibat di berbagai komunitas pencinta alam, atau lain sebagainya. Apa yang ayat tersebut serukan tentu sudah tidak asing lagi.

Pada prinsipnya, manusia dan satwa adalah dua di antara sekian banyak makhluk Tuhan yang memiliki kesamaan hak untuk mencari dan meneruskan kehidupan di semesta-Nya. Meskipun demikian, dalam prosesnya, hubungan mereka tidak serta-merta berjalan secara simbiosis mutualisme.

Konflik kepentingan dua penghuni bumi itu masih saja kerap terjadi, bahkan hingga hari ini. Hasilnya, sudah pasti dapat ditebak, Homo Sapiens-lah yang keluar sebagai pemenangnya.

Sekarang, bumi tempat kita berpijak tengah dihadapkan dengan situasi dan kondisi kepunahan massal, untuk ke-6 kalinya. Selain disebabkan siklus alam serta perubahan iklim (faktor alami), rupa-rupanya kepunahan tersebut juga diakibatkan oleh ulah tangan manusia (faktor non-alami).

Nahas, kemapanan manusia dalam mencarikan dalil dan membangun argumentasi, pada waktu tertentu, justru membentuk sebuah anggapan bahwa perkara itu merupakan sesuatu yang muskil dihindari. Tak ayal, spesies kita digadang-gadang sebagai dalang di balik serangkaian kepunahan tersebut.

Hasil penelitian IUCN (International Union for Conservation of Nature) menyebutkan, umat manusia memiliki kontribusi yang amat besar dalam meningkatkan lajunya pertumbuhan kepunahan berbagai spesies di dunia. Tidak tanggung-tanggung, dikatakan, lajunya hingga lebih dari 100 kali lipat.

Sebuah situs milik PBB, Worldmeters, merilis, populasi manusia saat ini telah menyentuh angka lebih dari 7 miliar jiwa. Jumlahnya diprediksi akan terus melonjak naik secara drastis. Disebutkan, pada akhir abad 21 mendatang, planet biru bakal sesak dengan hadirnya 12 miliar penduduk dunia.


Itu artinya, dalam kurun waktu tiga abad belakangan saja, lompatan pertumbuhannya telah mencapai 10 kali lipat. Temuan ini seakan memberi isyarat bahwa melonjaknya pertumbuhan populasi manusia tidak serta-merta meningkatkan rasa kepedulian terhadap satwa.

Memasuki era revolusi industri, konflik antarmanusia dan satwa kian kentara terasa. Bentang alam semesta sebagai tempat peraduan pun menjadi rebutan. Dalil kita, sebagaimana disebutkan barusan, adalah demi memunuhi segala bentuk kebutuhan, mulai dari sandang, pangan, hingga papan.

Akan tetapi, menjadi janggal kemudian, pengetahuan tentang arti penting memenuhi kebutuhan tidak berbanding lurus dengan pemahaman tentang perlunya menjaga pola konsumsi, yang tidak hanya sekadar benar, melainkan juga harus baik.

Walhasil, tidak sedikit di antara kita yang terjerumus pada prilaku gaya hidup berlebihan. Sudah menjadi rahasia umum, konsumsi 7 miliar penduduk negara-negara dunia, hari ini, telah melebihi kemampuan bumi untuk memenuhi dan menopangnya.

Bumi, terseok-seok, mengupayakan pemulihan diri secara alami agar dapat menyangga kehidupan penghuninya secara berkelanjutan.

Temuan Worldwatch Institute, sebuah Think Tank di bidang lingkungan, menjelaskan, bumi hanya mampu memberikan 1,9 hektare lahan per orang untuk keperluan makanan, tekstil, menyerap limbah, dan lain sebagainya. Sementara itu, rata-rata orang Amerika telah menggunakan lahan seluas 9,7 hektare (The Conversation).

Bagaimana dengan negara lainnya? Atau mungkin lebih elok untuk mengetahui kondisi negara kita, Indonesia? Silakan cari tahu sendiri. Jelasnya, umat manusia dewasa ini, setidaknya, butuh satu setengah bumi lagi demi memenuhi hasrat konsumsi yang sebegitu tinggi.

Akan ada banyak pihak yang dapat ditunjuk jika hanya untuk sekadar dipersalahkan. Pun demikian halnya dengan saya beserta tulisan ini. Masing-masing-masing orang tentu mampu mencarikan di mana letak kesalahan-kesalahan tersebut. Tapi, percayalah, saling tuding bukan bagian dari solusi.

Ambang batas kemampuan bumi dalam menyediakan sumber daya bagi manusia harus dijadikan patokan setiap proses pemenuhan berbagai kebutuhan. Bagaimanapun juga, semua yang telah alam berikan adalah modal bagi pertukaran yang saling menguntungkan, bukan sebaliknya, justru merugikan.


Segala bentuk degradasi lingkungan adalah konsekuensi yang harus diterima manusia, manakala hak dan akses terhadap semesta justru dipandang sebelah mata. Akan tiba masanya sifat buas dan liar tidak lagi melekat pada kawanan satwa, melainkan di diri kita, manusia.

Ungkapan tersebut bukan tanpa dasar. Negara sendiri telah mewanti-wanti potensi itu dengan memberlakukan banyak regulasi terkait pentingnya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. UU No. 5 Tahun 1990 dan UU No. 32 Tahun 2009, misalnya.

Jika menelisik isu keberlanjutan, kondisi lingkungan dan pola konsumsi tentu memiliki hubungan yang erat, mulai dari tingkat minimum hingga tingkat maksimum. Upaya penyadar-tahuan akan hal itu telah dimulai dan dilakukan banyak pihak kepada masyarakat.

Langkah selanjutnya, giliran dunia industri bekerja memengaruhi dan mentransformasi pasar. Keberlangsungan suatu industri, pulp dan kertas misalnya, tidak akan luput dari tekanan dan kekuatan konsumen dalam memilih produk yang bersahabat dengan lingkungan seperti hutan.

Bagaimanapun juga, segala produk yang dihasilkan tanpa asal-usul dan proses yang jelas, dapat dipastikan, telah turut serta memperpanjang konflik manusia dengan satwa.

Artikel Terkait