SDGs atau suistenable development goals merupakan agenda yang ditetapkan oleh perserikatan bangsa-bangsa (PBB), agenda ini disahkan oleh mayoritas negara didunia salah satunya Indonesia. agenda ini bertujuan untuk pembangunan global yang berkelanjutan.

Agenda ini terdapat 17 tujuan yang harus diselesaikan selama 15 tahun yang artinya pada tahun 2030 harus selesai. Adanya agenda ini untuk mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan dan melindungi lingkungan. Dan agenda ini berlaku bagi seluruh negara yang di bumi.

Jika kita membahas SDGs secara umum maka poin yang tersampaikan akan bias karena kita tidak bisa memecahkan seluruh masalah lewat selembar tulisan dan hal ini sudah banyak dibahas oleh penulis-penulis lain.

Maka pada pembahasan ini penulis lebih menyorot pada salah satu poin yang bisa dibilang cukup urgent untuk dibahas karena dalam implementasinya belum ada program yang dapat dikatakan sebagai pembangunan berkelanjutan.

Pada tujuan SDGs poin 14 tertulis “mengonservasi dan memanfaatkan secara berkelanjutan sumber daya laut, samudra dan maritim untuk pembangunan yang berkelanjutan”. Dari redaksi poin 14 ini muncul sebuah pertanyaan “bagaimana negara dapat melaksanakan poin tersebut jika industri perikanan masih merajalela dimana-mana?”.

Poin ini secara tersirat ingin menjelaskan bahwa untuk melindungi laut yaitu dengan cara memanfaatkannya secara berkelanjutan. Nah jika teman-teman membaca poin 14.4 di situ dijelaskan bahwa mereka akan menghentikan penangkapan ikan yang berlebihan, ilegal dan yang merusak.....

Dari pernyataan ini secara ideal ini sangat tepat untuk dilakukan tapi ketika membaca redaksi selanjutnya tentu sangat kontradiksi karena bagaimana memulihkan persediaan ikan secara layak dalam waktu singkat tanpa menggunakan cara pukat harimau dan semacamnya.

Bahkan secara keilmuan belum ada cara yang efektif dan ideal untuk waktu yang singkat. Mungkin teman-teman akan mengatakan “kan ada yang namanya keramba atau kandang ikan yang nanti di bisa dibudidayakan tanpa menggunakan pukat harimau atau bisa menggunakan sistem kolaboratif antara industri dengan masyarakat”.

Tentu kedua sistem ini memiliki kekurangan yang pertama jika ikan-ikan ini ditampung di satu tempat dan padat populasinya maka itu akan merusak kualitas air laut yang disebabkan oleh kotoran atau feses yang dihasilkan dari ikan-ikan tersebu.

jika patokannya untuk mendapatkan persediaan ikan dalam waktu singkat maka dapat dikatakan cara ini kurang efektif untuk diterapkan bahkan proses penyerapan karbon dioksida akan terhambat karena ikan perlu menyelam ke dasar laut untuk melepaskan karbon yang telah dia angkut dari permukaan.

Yang kedua jika menggunakan sistem kolaboratif maka di satu sisi perusahaan harus mengambil resiko jika target pendapatan per bulan itu menurun, karena masyarakat pasti menggunakan cara tradisional untuk menangkap ikan tersebut.

Namun di sini penulis skeptis dengan sistem ini karena di mungkin perusahaan atau industri perikanan tidak melakukan cara kotor untuk mencapai targetnya. 

Dengan teknologi yang sudah berkembang tentu dapat memudahkan industri perikanan dalam melakukan eksploitasi di lautan sehingga jika dilihat secara ideal poin 14 sudah gagal secara keseluruhan.

Tidak hanya itu pada target poin 14 ini juga membahas soal mencegah secara signifikan semua jenis pencemaran laut. Tentu banyak sekali organisasi internasional maupun nasional mengancam akan adanya pencemaran di laut mulai dari sampah dan polusi nutrisi.

biasanya sampah yang disorot adalah plastik, bahkan ada beberapa gerakan atau slogan yang dipakai oleh lembaga maupun organisasi internasional seperti “kurangi sedotan plastik atau boikot sedotan plastik” harus kalian ketahui bahwa mengurangi sampah sedotan plastik atau menghentikan penggunaan sedotan plastik sama halnya dengan memboikot tusuk gigi untuk menghentikan ekspansi hutan di Amazon atau Papua. Benar merupakan hal yang sia-sia untuk dilakukan.

Dan apakah dampaknya cukup besar bagi biota laut? Iya cukup besar namun di satu sisi ada sampah yang lebih berbahaya dari plastik yaitu jaring untuk menangkap ikan.

Jaring-jaring yang sudah tidak dipakai kebanyakan dibuang di pinggiran pantai, malahan ada beberapa kasus nelayan dan industri perikanan membuang jaring-jaring bekas di laut. Mengapa ini sangat berbahaya? Karena jaring ikan di desain untuk membunuh dan jika sampah itu tersebar di lautan maka semua biota laut akan terkena dampaknya.

Dari argumentasi yang penulis sampaikan di atas tentu poin 14 dalam SDGs akan sangat sulit di indahkan karena yang pertama masyarakat dunia hari ini memiliki budaya konsumtif yang sangat tinggi, hal ini yang mengakibatkan produksi makanan instan seperti ikan kaleng serta makanan seafood di restoran meningkat.

Sehingga industri perikanan mau tidak mau harus menggunakan cara lama untuk mencapai target tangkapan dan akan sangat utopis jika mengharapkan adanya pembangunan yang berkelanjutan di sektor perikanan.

Yang kedua, sampai hari ini belum ada solusi yang efektif dan efisien untuk memecahkan masalah, pembangunan yang berkelanjutan di sektor perikanan seluruh dunia hari ini masih belum jelas arahnya.

kasarnya  para pemimpin-pemimpin dunia bahkan lembaga yang mengawasi kegiatan industri perikanan tidak dapat mengontrol mereka dengan ketat karena ketika mereka bergerak ke laut kemungkinan besar orang yang bertugas sebagai pengawas akan di berikan stimulus dari kapal.

Dan yang terakhir, penulis memandang bahwa industri perikanan hanyalah perusahaan yang berfokus bagaimana mendapatkan akumulasi kapital, atau secara sederhananya yang mereka pikirkan hanya keuntungan bagi perusahaan mereka.

Sampai hari seluruh praktek yang di lakukan oleh mereka sebetulnya merupakan hal yang bersifat eksploitasi, karena berapa banyak industri perikanan di dunia  saya yakin setiap titik di  pesisir negara pasti ada mereka dan mereka memiliki metode yang sama dalam penangkapan ikan.

hal ini yang akan memperburuk lingkungan dan meningkatkan pemanasan global karena biota laut atau ikan yang berperan penting dalam penyerapan karbon dioksida. Maka pada akhirnya kita sebagai manusia harus mengurangi konsumsi makanan laut yang dikemas dikaleng dan memilih ikan dari nelayan-nelayan kecil.