Social Worker
4 bulan lalu · 75 view · 5 menit baca · Ekonomi 51007_49117.jpg
brilio.net

Industri Kreatif yang Lahir dari Kertas-Kertas Bekas

Kertas, sebuah benda yang tak bisa lepas dari kehidupan kita sehari-hari, mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali. Bagi pelajar dan mahasiswa, peran kertas sangat vital demi menunjang prestasi dengan banyak menulis keterangan dari guru atau dosen. Bagi pekerja kantoran, peran kertas pun sama vitalnya demi kelancaran sebuah proses surat-menyurat.

Hampir semua kalangan menggunakan kertas. Sangat mustahil jika ada yang bilang bahwa kertas akan mati seiring dengan pesatnya era teknologi. Justru di era teknologi, kertas semakin diperhitungkan. Bayangkan saja, ada berapa orang merasa cepat pusing ketika harus membaca buku melalui layar ponsel. Ada berapa orang yang menjadi malas mengerjakan tugas karena terlalu terlena dengan dunia maya. Ada berapa orang termakan hoaks dari genggaman tangannya.

Memang ponsel sangat berguna bagi kehidupan sehari-hari kita jika digunakan pada porsinya. Bagaimana jika ponsel dan kertas saling menguntungkan satu sama lainnya. Barangkali banyak orang akan tertarik mencobanya, apalagi revolusi industri 4.0 seperti sekarang ini turut menciptakan peluang, bukan mempersempit ruang.

Kertas di tangan orang-orang kreatif mampu disulap menjadi sesuatu yang bernilai rupiah. Tentu saja tanpa melupakan celah dimensi teknologi justru ini menjadi peluang industri. Pelaku usaha ini pun bisa mengembangkan dan turut mempromosikannya lewat dunia digital.

Action Figure yang Artistik 

Action figure Sasuke (sumber: grid.id)

Meningkatnya jumlah pecinta kartun dan anime tak hanya menguntungkan bagi perusahaan pencipta. Indonesia yang letaknya sangat jauh dari Jepang dan Amerika Serikat pun bisa ikut kecipratan untungnya. 

Banyak pecinta kartun dan anime rela menghabiskan jutaan rupiah demi membeli sesuatu yang berhubungan dengan kartun dan anime kesukaan mereka. Bahkan ada juga yang rela pergi ke Jepang atau Amerika Serikat demi membeli replika atau action figure kartun atau anime jagoan mereka yang terbatas.

Tak perlu pergi jauh ke Jepang atau Amerika Serikat. Melalui tangan-tangan kreatif anak bangsa seperti yang ada di Gorontalo misalnya. Kertas itu disulap menjadi action figure yang mempunyai nilai jual tinggi. Hasilnya pun tak kalah indah dengan action figure yang terbuat dari bahan lilin.

Kegiatan membuat action figure dari kertas ini biasa disebut dengan paper craft. Sepintas terlihat mirip dengan seni melipat kertas atau origami. Bedanya, paper craft tak hanya berkaitan dengan seni melipat namun juga mengandalkan keterampilan menggunting, menempel, dan membentuk kertas sehingga berbentuk tiga dimensi.

Paper craft pun semakin diminati kalangan milenial karena selain melatih daya kreativitas namun juga bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah. Mereka pun memanfaatkan dunia digital sebagai salah satu usaha mempromosikan karya mereka.


Dari Vas Bunga sampai Pigura Foto yang Unik

Dewasa ini, usaha menciptakan nilai efisiensi sebuah benda semakin gencar dilakukan. Teknologi informasi memudahkan mereka mencari inspirasi, bagaimana membuat benda agar seefisien mungkin. Vas bunga adalah contohnya. Benda satu ini harus dibawa secara hati-hati agar tidak pecah begitu saja. Sebagian orang tak ingin direpotkan dengan benda yang mudah pecah sehingga memilih alternatif lain.

Vas bunga dari kertas bekas memiliki nilai seni yang tinggi, tentu saja tidak mudah pecah. Bagaimana tidak, proses membuat vas bunga dari kertas membutuhkan tangan-tangan seniman terampil. Berbeda dengan vas dengan bahan kaca atau tanah liat, modal yang digunakan oleh perajin kerajinan sudah pasti lebih sedikit. Cara ini menjadi alternatif sendiri bagi mereka yang kekurangan modal usaha tapi ingin membuat inovasi usaha.

Tak hanya vas bunga, benda bernilai guna di sekitar kita bisa disulap dengan menggunakan bahan utama dari kertas. Ada pigura foto dari kertas warna-warni, hiasan dinding, dan tempat menaruh alat-alat tulis yang ciamik. Salah satu kelebihan benda-benda berbahan utama kertas tersebut adalah mudah untuk dibersihkan, harga yang tidak begitu mahal, dan memiliki keunikan tersendiri.

Kalian juga bisa membuatnya sendiri, hitung-hitung mengasah otak kanan dalam berkreasi menggunakan kertas bekas. Ada cukup banyak tutorial di internet tentang bagaimana membuat benda-benda di sekitar kita dengan menggunakan bahan utama kertas.

Seperti dari channel Youtube Cornelius Hanin yang memberikan tahap demi tahap dalam membuat vas bunga dari kertas dan channel Youtube Jurus Kesehatan yang memberikan tips cara membuat hiasan dinding bunga mawar dari kertas. Semuanya hanya berbekal bahan yang mudah ditemukan di sekitar kita seperti kertas, lem, gunting, kaleng bekas, spidol, dan cat.


Salah satu hasil tutorial vas bunga dari kertas (sumber: prelo.co.id)

Seni Patung

Jika patung identik dengan bahan tanah liat atau tembaga, maka di era percepatan informasi seperti sekarang ini, patung bisa terbuat dari apa saja. Seperti patung baru di Jakarta yang terbuat dari bambu. Mungkin patung dari bambu sudah agak lumrah namun siapa sangka jika sebuah patung terbuat dari kertas, pasti agak jarang ditemukan.

Sartono adalah salah satu seniman patung kertas yang mahir merangkai kertas menjadi patung berkelas. Anggapan bahwa difabel tidak bisa berkarya bisa ditampik oleh Sartono. Meski sejak SD sudah difabel, Sartono tidak mudah menyerah dalam berkreasi dan berinovasi.


Sartono dengan karyanya patung kertas (sumber: tempo.co)

Meski tunanetra, Sartono tetap lihai dan cermat dalam membuat patung berbahan kertas, bambu, dan lem kanji. Atas inspirasinya, Sartono pernah diundang dalam sebuah acara TV nasional. Tentu saja, makin banyak orang melirik karya dari pria berumur 55 tahun asal Klaten tersebut.

Lain Sartono, lain lagi Wolfram Kampffmeyer. Pria asal Jerman tersebut membuat patung kertas yang bisa dirakit sendiri oleh si pembeli. Banyak karyanya yang laris manis dijual di media daring. Beberapa patungnya berbentuk hewan seperti gajah, rusa, rubah, dan masih banyak lagi.

Karya Wolfram yang unik berbahan kertas (sumber: insightmac.com)

Karya Wolfram Kampffmeyer bisa juga menurunkan minat kolektor dalam mengumpulkan pajangan dinding berupa hewan buas asli. Tentu saja, karya Wolfram Kampffmeyer ini tidak menggunakan hewan sungguhan, hanya berbahan kertas khusus yang sangat mirip dengan hewan aslinya.

Jika tidak ada kertas, lalu bagaimana kesenian di atas dapat diciptakan? Dari kertas muncul UMKM-UMKM baru di Indonesia. Perekonomian dalam negeri pun siap bersaing dengan negara tetangga. Daya beli barang made in Indonesia akan semakin meningkat seiring naiknya animo industri kreatif bahkan membuka peluang di tengah pasar internasional. Akhirnya ketagihan barang impor bisa diminimalisir.

Tentu saja, industri kreatif dari kertas tak akan besar tanpa ada kehadiran teknologi informasi. Kreasi-kreasi di atas pasti akan sangat membosankan jika tak ada internet, pun hanya kreasi origami saja yang diketahui masyarakat kita akhirnya. Namun dunia digital mampu mencerahkan pelaku usaha dalam menciptakan kreasi baru dari kertas. Siapa tahu suatu saat nanti akan muncul ide membuat robot dari kertas.


Artikel Terkait