Hutan bagaikan harta karun yang kilauannya meluluhkan manusia untuk dapat merauknya. Hal tersebut terutama dilakukan oleh pihak-pihak yang menjadikannya sebagai buruan sumber pendapatan. Dalam hal ini hutan mempunyai fungsi sosial karena hutan memberikan manfaat bagi masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan dasar, baik terhadap masyarakat sekitar maupun berbagai industri yang memanfaatkan hasil hutan. 

Namun hutan bukanlah harta karun yang dapat terus menerus dikeruk dan tidak akan menimbulkan suatu akibat jika tanpa dibarengi pengelolaan yang berkelanjutan. Nyatanya hutan lebih berharga dari pada harta karun karena apabila sudah habis masa penggunaannya, tidak dapat diganti dengan aset yang sejenis. 

Selain itu, keberadaan hutan mempunyai peran yang lebih besar yaitu sebagai paru-paru dunia yang dapat menyerap karbondioksida dan menyediakan oksigen bagi kehidupan dimuka bumi. Ini merupakan salah satu fungsi ekologi dari hutan. Peran tersebut sangat penting untuk kelangsungan manusia, hewan dan tumbuhan. Fungsi ekologi hutan lainnya adalah sebagai penyimpan cadangan air, pencegah erosi dan banjir, habitat hewan, sumber keanekaragaman hayati dan sebagainya.

Hutan juga mempunyai fungsi produksi dalam bentuk nilai ekonomi, baik berupa hasil hutan kayu, hasil hutan bukan kayu, jasa lingkungan dan usaha pemanfaatan kawasan hutan lainnya. Posisi strategis sumberdaya hutan khususnya hutan produksi, dalam konteks pembangunan nasional memiliki dua fungsi utama yaitu pertama, peran hutan dalam pembangunan ekonomi terutama dalam menyediakan barang dan jasa yang memberikan kontribusi terhadap pembangunan perekonomian nasional, daerah dan masyarakat. 

Dalam konteks ini, maka pembangunan kehutanan, khususnya hutan produksi merupakan sub sistem dari pembangunan nasional dan pembangunan daerah; kedua, peran hutan dalam pelestarian lingkungan hidup dengan menjaga keseimbangan sistem tata air, tanah dan udara sebagai unsur utama daya dukung lingkungan dalam sistem penyangga kehidupan. Dalam konteks ini maka pembangunan kehutanan harus diarahkan untuk meningkatkan dampak positif dan meminimalkan dampak negatif dari pengelolan hutan sehingga tidak menyebabkan kerusakan ekosistem lainnya.

Salah satu produk yang dihasilkan dari pemanfaatan hutan adalah kertas. Produksi kertas ditentukan dari ketersediaan sumber bahan baku, terutama kayu yang dihasilkan dari hutan produksi yang telah memiliki Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK). Industri kertas memiliki peranan penting dalam perekonomian negara. Selain terpenuhinya kebutuhan dalam negeri akan kertas, juga sebagai tambahan devisa negara. 

Mengingat pentingnya peran kertas dalam kehidupan sehari-hari menjadikan sulitnya mengurangi penggunaan kayu sebagai bahan baku. Maka untuk menyikapi hal tersebut diperlukan sebuah bahan yang memiliki fungsi sama dan memiliki dampak yang lebih sedikit terhadap kerusakan lingkungan.Solusi atau bisa dikatakan inovasi tersebut sudah ditemukan yaitu dengan menggunakan nata de coco dari air kelapa, nata de soya dari limbah produksi tahu dari kedelai, atau nata de pina dari limbah nanas sebagai bahan baku kertas. 

Penelitian tersebut dilakukan oleh Peneliti bioteknologi Institut Pertanian Bogor. Berbicara mengenai penerapan sebuah inovasi tersebut, bisa dikatakan di Indonesia belum terealisasikan. Belum terealisasikan temuan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu kebijakan dari pemerintah dan kurang koordinasinya antara peneliti dengan pelaku industri kertas. 

Kebijakan pemerintah sangat penting dalam pelaksanaan sebuah temuan, karena dengan kebijakan pemerintah akan memberikan aturan atau batasan yang dapat mendorong pelaku industri untuk beralih dalam penggunaan bahan baku. Setelah kebijakan dari pemerintah sudah ada maka akan dengan mudah untuk merealisasikan hasil temuan tersebut. 

Sementara masalah kurangnya koordinasi antara pelaku usaha dengan peneliti dapat dijawab dengan selalu mengadakan sosialisasi oleh para peneliti sehingga pelaku industri paham betul dengan seluk beluk inovasi yang telah ditemukan. Apabila hal tersebut sudah dilakukan maka akan menghasilkan produk kertas yang ramah akan lingkungan.

Kebutuhan Kertas Dunia dan Produksi Kertas Indonesia

Sebagai catatan, kebutuhan kertas dunia mencapai 394 juta ton dan diperkirakan meningkat menjadi 490 juta ton pada tahun 2020. Ketua Umum Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) Misbahul Huda mengatakan, peluang Indonesia untuk meningkatkan dan memperluas industri pulp dan kertas dipasar ekspor masih terbuka lebar mengingat potensi hutan Indonesia masih memiliki ruang yang besar untuk dikelola dan dikembangkan.

Fenomena paperless yang saat ini sedang merebak disinyalir tidak akan berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan industri pulp dan kertas di dunia maupun di Indonesia. Permintaan akan produk kertas untuk jenis-jenis tertentu ada yang terus bertumbuh dan tidak dipengaruhi oleh pertumbuhan teknologi yang semakin berkembang. Produksi kertas ditentukan dari ketersediaan sumber bahan baku, terutama kayu yang dihasilkan dari hutan produksi yang telah memiliki Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK).

Pada 2012 Indonesia mengekspor pulp sebesar 3,2 juta ton dan kertas sebesar 4,2 juta ton. Sedangkan, sampai Oktober 2013 ekspor pulp dan kertas masing-masing mencapai 3,1 juta ton dan 3,5 juta ton. Salah satu industri kertas di Indonesia adalah PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP). Selain memproduksi kertas, RAPP juga membuat sendiri bubur kertas (pulp).

Dari 2,8 juta ton pulp yang diproduksi oleh RAPP, 20% digunakan untuk memenuhi kebutuhan pabrik kertas sendiri. Sedangkan, sisanya diekspor ke tidak kurang dari 20 negara terutama ke China. Asisten Manajer Komunikasi RAPP Budhi Firmansyah menuturkan, berdasarkan prosentase, RAPP memenuhi sekitar 7% kebutuhan pulp di seluruh dunia. Dan dengan jumlah produksi tersebut, RAPP merupakan produsen pulp terbesar kesembilan dunia.

Menurut data Kementerian Perindustrian, kapasitas terpasang industri pulp dan kertas nasional masing–masing sebesar 7,93 juta ton/tahun pulp dan 12,98 juta ton/tahun kertas dengan realisasi produksi 6,4 juta ton/tahun pulp dan 10,4 ton/tahun kertas. Capaian tersebut membuat Indonesia menjadi produsen pulp dan kertas terkemuka di dunia dimana industri pulp menempati peringkat 9 dan industri kertas peringkat 6, sementara di Asia menempati peringkat ke 3 untuk industri pulp maupun kertas.

Di ASEAN, Indonesia berada di peringkat pertama. Artinya, kebutuhan pulp dan kertas negara-negara ASEAN sangat bergantung pada Indonesia. Tahun 2013, Indonesia mengekspor pulp dan kertas ke Malaysia dengan volume 363,4 ribu ton, Vietnam 356,1 ribu ton, Filipina 163,16 ribu ton dan Thailand 125,86 ribu ton

Indonesia memiliki potensi menjadi negara produsen pulp dan kertas terbesar dunia karena memiliki sejumlah keunggulan yang tidak dimiliki negara lain. Di antaranya, lahan yang luas serta Sumber Daya Alam (SDA). Namun belakangan ini, industri kertas menghadapi persoalan mengenai isu lingkungan hidup. 

Seperti ironisnya terdapat beberapa industri kertas yang memiliki pengelolaan limbah padat, gas maupun cair yang buruk, sehingga mencemari lingkungan sekitar. Selain itu, terdapat perusahaan yang tidak memperhatikan seberapa banyak pohon yang telah ditebang tanpa melakukan reboisasi, sehingga jumlah lahan hutan semakin berkurang. 

Kemudian salah satu penyebab utama deforestasi di mana hutan hujan tropis primer diganti dengan hutan monokultur Eucalyptus dan Akasia. Perubahan besar dalam penggunaan lahan tersebut berdampak pada kondisi lingkungan dan sosial. Perkembangan perkebunan skala besar dapat berdampak pada meningkatnya emisi gas rumah kaca, hilangnya keanekaragaman hayati serta konsekuensi negatif terhadap kondisi ekonomi lokal, mata pencaharian dan budaya masyarakat yang tergantung pada hutan.

Perusahaan kertas juga merupakan salah satu penyumbang kerusakan lingkungan karena karakteristik limbahnya yang memiliki nilai BOD/ COD (kebutuhan oksigen dalam menguraikan senyawa biologi dan kimia) yang sangat tinggi. Apabila limbah cair tersebut dibuang ke perairan akan mengakibatkan kematian ikan dan biota air lainnya. 

Selain itu limbah cair industri kertas menimbulkan bau busuk, sedangkan bahan kimia yang terikut dalam limbah cair tersebut menimbulkan gangguan pernafasan bagi penduduk yang tinggal di sekitar saluran pembuangan limbah, bahkan tercium sampai beratus – ratus meter dari tempat tersebut.

Sekitar 10 juta hektar kawasan hutan di Indonesia telah dimanfaatkan untuk industri Hutan Tanaman Industri (HTI) atau Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Tanaman (IUPHHK-HT) sampai tahun 2013. Jumlah tersebut meningkat tajam dibandingkan tahun 1995 yang hanya seluas 1,13 juta hektar. Jumlah izin HTI pun bertambah dari sembilan unit pada 1995 menjadi 252 unit pada 2013. 

Pada awalnya, izin HTI diberikan memenuhi kayu terutama bagi industri pulp dan kertas untuk menggantikan pasokan kayu dari hutan alam. Namun kenyataannya, kebutuhan kayu bagi industri pulp and paper hingga saat ini masih juga bergantung pada produksi hutan alam. Praktik penggunaan kayu dari hutan alam sampai saat ini menunjukkan ketidakmampuan HTI, yang disebabkan oleh rendahnya tingkat produksi dan realisasi penanaman yang lambat.

Upaya Pelestarian Hutan yang Dilakukan Pihak Industri Kertas

Diperlukan suatu penanganan khusus untuk menjadikan hutan tetap lestari dan menciptakan lingkungan yang asri diantaranya pertama pelaku industri dapat melakukan pengendalian terhadap terjadinya pencemaran air, seperti membangun sistem pengendalian air limbah yang mampu mengurangi efek negatifnya pada lingkungan.

Kedua melakukan pengendalian terhadap pencemaran udara. Masing-masing industri pasti mempunyai cara tersendiri bagaimana mengatasi hal tersebut. Salah satu contoh pengendalian terhadap pencemaran udara yang dilakukan PT Blabak Kertas adalah melakukan pemeliharaan rutin terhadap boiler batubara. Mereka juga telah mengoptimalkan operasional pembersih debu beserta fuel buang. Tentu itu merupakan hal wajib yang perlu dilakukan guna membuat industri tersebut ramah lingkungan lagi.

Mengenai pengendalian terhadap pencemaran air, PT Blabak Kertas telah membangun IPAL pada tahun 2005 yang mana merupakan salah satu sistem pengendalian air limbah yang mampu mengurangi efek negatifnya pada lingkungan. Mengenai kapasitas yang dimiliki sistem tersebut, anda akan menjumpai jumlah kapasitas yang terpasang yaitu sebesar 5000 kubik perharinya. Ini tentu merupakan sebuah sistem yang amat diperlukan oleh semua perusahaan industri kertas untuk menanggulangi permasalahan lingkungan diluar sana.

Satu lagi yang perlu diperhatikan mengenai usaha dari bisnis industri kertas tersebut adalah mengenai bagaimana mereka melakukan pengelolaan limbah padat dalam proses produksi yang mereka punya dalam industri kertas. Mengenai apa yang PT Blabak Kertas lakukan guna menjaga lingkungan dalam aspek pengelolaan limbah padat, anda akan jumpai fakta bahwa mereka memiliki TPS didua lokasi yaitu TPS 1 dan TPS 2. 

Tentu saja hal ini merupakan sebuah hal yang wajib bagi semua pemilik industri kertas. THERAPIST Blabak Kertas tentu saja merupakan produsen yang mana memiliki perhatian lebih dalam mengelola lingkungan hidup. Tentu hal ini amat signifikan untuk dipertimbangkan.

Selain itu pelaku industri kertas perlu meningkatkan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup, dan meningkatkan taraf kesehatan masyarakat sekitar. Kini beberapa perusahaan industri kertas telah berkomitmen untuk melakukan pengelolaan hutan lestari, salah satunya Asia Pulp & Paper (APP). 

Asia Pulp & Paper (APP) salah satu anak usaha Sinar Mas Group telah menetapkan empat prioritas utama yang harus diselesaikan di 2014 oleh kalangan industri kertas terkait dengan kebijakan konservasi hutan. Managing Director Sustainability & Stakeholder Engagement APP Aida Greenbury mengatakan, empat prioritas utama tersebut untuk menghilangkan deforestasi, yaitu perizinan tumpang tindih, konflik masyarakat dan konflik lahan, manajemen lanskap dan pengakuan pasar.

Dalam melakukan kegiatan usaha, perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI) harus dapat menjalankan kegiatan usahanya, antara lain dengan menjaga keberlanjutan pengelolaan hutan dengan menerapkan prinsip-prinsip berkelanjutan (sustainability) dan upaya mitigasi perubahan iklim. Apabila hal tersebut dilakukan maka perusahaan tentunya telah ikut berkontribusi dalam menjaga kelestarian hutan sekaligus juga mengurangi dampak perubahan iklim serta dapat menjaga “image”nya sebagai pelaku kegiatan usaha yang ramah lingkungan.