Ekonomi global dewasa ini tengah mengalami perlambatan pertumbuhan yang cukup serius. Perlambatan ini berdampak pula pada banyaknya industri di beberapa negara maju seperti Jerman, Inggris, Turki, dan beberapa negara eropa lainnya ikut mengalami fase stagnan. 

Fenomena retardasi ekonomi ini segaris dengan prediksi lembaga keuangan dunia, International Monetary Fund atau IMF, yang memperkirakan bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi global hanya berkisar 3,5 % di tahun 2019.  Hal ini sebenarnya sinyal yang cukup berbahaya bagi seluruh dunia, terutama bagi negara berkembang seperti Indonesia.

Betapa tidak, gejala ini merupakan tanda bahwa dunia tengah mengalami apa yang disebut dengan fenomena depresiasi di mana sebagian besar ekonomi global sedang berjalan dalam skenario pesimis sebagai dampak lanjutan akibat perang dagang antara dua raksasa ekonomi Amerika Serikat melawan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) yang sampai hari ini belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. 

Banyak sektor potensial ikut lesu akibat kedua negara menerapkan tarif masuk yang terlalu tinggi untuk produk ekspor dari masing-masing negara. Industri yang ikutan tergerek tersebut mulai dari industri besi, industri logam, industri mesin, dan beragam jenis industri berat lainnya yang banyak menjadi bahan baku utama dalam sektor manufaktur di kedua negara.  

Jika perang dagang masih terus berlanjut antara AS dan Tiongkok, maka bisa dipastikan bahwa ekonomi Indonesia, dimana dinamika ekonominya secara eksternal sangat terpengaruh oleh kebijakan ekonomi dua raksana ekonomi tersebut, akan ikut terpuruk dalam beberapa tahun kedepan.

Sebenarnya Indonesia sendiri memilki sumber-sumber pendapatan ekspor yang mampu menopang cadangan devisa yang dinilai bisa menyelamatkan Indonesia dari ancaman resesi ekonomi dunia. Salah satunya adalah dari sektor industri kertas yang saat ini bisa dibilang aman dari gejolak perang dagang AS-Tiongkok. 

Bahkan melalui industri kertas ini, Indonesia bisa mencuri peluang emas dengan menjadi pemasok besar bahan baku kertas di seluruh dunia karena memiliki keunggulan komparatif mutlak yang tidak dimiliki oleh negara-negara lain, diantaranya ketersediaan bahan baku kayu dengan kualitas yang baik, tingkat pertumbuhan tanaman bahan baku kertas yang lebih cepat berkembang karena iklim tropis yang sangat mendukung, serta kemampuan industri kertas dalam negeri yang sangat produktif dan mumpuni.

Sehingga dengan adanya keunggulan-keunggulan komparatif ini, maka boleh dikatakan bahwa ketika negara lain sedang sibuk memikirkan tergereknya sektor bisnis dan perdagangan mereka di tengah seretnya ekonomi dunia, Indonesia justru mampu selamat (andai) hanya dengan mengandalkan industri kertas dalam negeri sebagai jaring penyelamatnya. Saya menyebutnya sebagai “sebuah jalan memutar yang unik."

Industri kertas Sebagai Ceruk Penyelamat

Sebagaimana diketahui bahwa kondisi ekonomi suatu negara dikatakan sehat apabila arus perdagangannya lancar dan investasi dalam negerinya kuat.  Dua hal inilah yang sebenarnya dianggap paling vital untuk menjaga cadangan keuangan negara agar tetap sehat dan mampu menopang keberlangsungan sebuah negara. 

Indonesia sendiri saat ini tengah berupaya menyehatkan perdagangannya dengan banyak menjalin kerjasama ekonomi dengan negara-negara berkembang yang tersebar di Asia dan Afrika.  Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian Dan Perdagangan nampaknya sangat getol memperjuangkan terciptanya jaringan hubungan dagang baru dengan negara-negara yang berada dalam dua kawasan tersebut. 

Langkah ini tentu sangat strategis mengingat ekspor Indonesia dalam  kuartal terakhir tahun 2018 masih sangat rendah sementara sirkulasi impor lumayan tinggi, terutama pada jenis bahan makanan pokok dan bahan penolong untuk industri.  Oleh karena itu, meretas jalur-jalur perdagangan baru adalah strategi yang tepat untuk memperkuat cadangan fiskal sehingga jangkar ekonomi Indonesia tetap kokoh di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Industri kertas, sebagaimana yang sudah disebutkan di atas, adalah sektor industri yang sangat potensial untuk dikembangkan dalam jalur-jalur perdagangan baru tersebut.  Kontestasi dalam merebut pasar-pasar potensial untuk industri kertas pun saat ini tidak terlampau sulit.  

Pasalnya, produktivitas negara-negara produsen bubur kertas yang selama ini menjadi saingan Indonesia seperti Amerika Utara dan negara-negara Scandinavia sudah berkurang kapasitas produksinya lantaran masifnya isu perubahan iklim di negara itu yang menghasilkan kebijakan dalam negeri mereka yang berimbas pada tertekannya sektor-sektor industri berbasis kayu dalam negeri serta ditambah dengan adanya faktor-faktor internal lainnya yang juga ikut berpengaruh.   

Dengan demikian, penurunan siginifikan atas produktivitas industri bubur kertas Amerika Utara dan negara-negara Scandinavia ini menyebabkan posisi mereka sebagai pemasok besar pulp dan kertas dunia menjadi tergeser sehingga kantong-kantong bubur kertas dunia pun ikutan beralih posisinya ke negara-negara Amerika Latin dan Asia Tenggara. 

Ini kemudian menjadi peluang yang sangat bagus untuk Indonesia mengambil peran signifikan dalam industri ini. Mengingat di satu sisi, keunggulan komparatif yang dimiliki Indonesia tidak sebanding atau di atas rata-rata produktivitas negara-negara Asia Tenggara lainnya; sementara di sisi lainnya, Indonesia dinilai mampu meng-counter ekspansi bisnis kertas Amerika Latin di level internasional sehingga dengan demikian, tidak berlebihan bilamana kita katakan bahwa Indonesia (kemungkinan besar) bisa memimpin perdagangan kertas dan pulp di seluruh dunia dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Hal ini menjadi rasional karena eksistensi industri kertas Indonesia di tingkat dunia bisa dibilang merupakan pemain papan atas. Industri kertas Indonesia sendiri menduduki peringkat ke-6 dunia; sementara industri bubur kertasnya berada pada peringkat ke-10 dunia.

Bila ditilik dari kapasitas ekspornya, industri kertas Indonesia memiliki narasi sukses tersendiri dalam kerangka ekspor produk kehutanan selama rentang tahun 2011 sampai 2017. Industri kertas yang terbagi menjadi dua sub industri yaitu industri bubur kertas (pulp) dan produk kertas bahkan mampu menyumbang devisa secara signifikan.

Kedua industri tersebut memberikan kontribusi terhadap devisa negara sebesar US$ 5,8 miliar pada tahun 2017, yang berasal dari kegiatan ekspor pulp sebesar US$ 2,2 miliar ke beberapa negara tujuan utama, yaitu China, Korea, India, Bangladesh, dan Jepang serta ekspor kertas sebesar US$ 3,6 miliar ke negara Jepang, Amerika Serikat, Malaysia, Vietnam, dan China.

Dengan adanya trend kemunduran Amerika Utara dan Scandinavia dalam perannya sebagai pemasok dalam industri kertas dunia, maka bisa diprediksi bahwa Indonesia bisa menjadi calon terkuat yang (akan) mampu menggantikan posisi mereka sebagai pemasok utama dan terbesar di industri kertas dunia. Tentunya cita-cita ini bisa terwujud (hanya) bila korporasi kertas tidak mengabaikan prinsip nol deforestasi sebagai fondasi moralnya dan harus melibatkan prakarsa lokal sebagai basisnya agar tetap sustain di masa depan.

Kreasi Kertas dan Bangkitnya Ekonomi Lokal 

 Kita ketahui bersama bahwa sektor UMKM adalah lokomotif penggerak ekonomi lokal.  Harus diakui bahwa sektor UMKM inilah yang merupakan jangkar terkuat di jantung ekonomi Indonesia yang mampu membuat eksistensi fundamental ekonomi nusantara tetap kokoh ketika di terpa krisis ekonomi di tahun 1998. 

Ditengah gejolak perekonomian global saat ini, UMKM harus (kembali) dipersiapkan sedari awal sebagai langkah antisipatif dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi dalam beberapa tahun ke depan andai situasi global masih cenderung stagnan dan tidak menunjukkan skenario optimis.

Industri rumahan berbasis kreasi kertas adalah salah satu usaha yang harus dicoba sebagai alternatif bisnis UMKM yang anti mainstream untuk diintroduksi kepada publik, terutama kepada kelompok milenial yang mengisi porsi terbesar demografi penduduk Indonesia dewasa ini.

Industri rumahan yang memanfaatkan kertas ataupun limbah kertas sebagai bahan baku produksinya ini ternyata memiliki potensi ekonomi yang cukup menggiurkan andai dikelola dengan dukungan kebijakan yang tepat dan usaha yang serius dari para pelaku bisnis ini, terutama dari pemerintah dan seluruh stakeholder terkait.

Salah satu contoh narasi sukses dari industri rumahan berbasis kertas ini bisa kita temukan pada kasus di Kecamatan Bogor Utara, dimana terdapat sekelompok Ibu-Ibu yang tergabung dalam satu home industry mampu mengolah limbah kertas koran menjadi barang-barang yang unik dan fungsional sehingga memiliki nilai jual yang tinggi. Peminatnya pun tidak hanya dari pasar domestik, tetapi juga dari pasar luar negeri seperti Amerika Serikat, Kanada, dan Jepang.  Omzetnya pun tidak main-main. Berjumlah Rp. 500 Juta Rupiah setiap tahunnya.  

Lain lagi kisah dari dua pengusaha kreasi kertas dari Yogyakarta, Diana Herawanti dan Dicka Armitasari. Sebagaimana dilansir pada laman bisnis kompas pada medio 2011, dikisahkan bahwa hanya dengan memanfaatkan bubur kertas dan limbah kertas serta mengkreasikannya menjadi barang-barang fungsional, mereka berhasil meraup untung Rp 5 Juta sampai Rp 15 Juta per bulannya. 

Dua contoh kasus di atas ini menunjukkan bahwa ternyata industri kreatif Indonesia tidak pernah sepi dari keuntungan, dan ini merupakan modal yang sangat besar untuk memulai bisnis seperti ini (tentunya) bila dibarengi dengan mekanisme dan treatment yang lebih serius. 

Dengan ketersediaan bahan baku kertas dan pulp yang cukup melimpah di Indonesia, dan didukung dengan kebijakan pemerintah yang sangat support atas hadirnya beragam industri kreatif, maka tahun-tahun ini merupakan periode emas untuk memulai bisnis berbasis kertas dan turunannya sebagai upaya menghadirkan spirit wirausaha demi menggenjot perekonomian negara dari level yang paling bawah.

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa gejolak ekonomi global adalah satu tantangan serius yang harus di hadapi di masa depan.  ketidakpastian ekonomi dunia ini menuntut kita untuk bersikap lebih kreatif dalam menghadapinya. Semua sumber-sumber kekuatan yang potensial dan masih tersimpan harus dimaksimalkan sedemikian rupa.  Dan industri kertas berikut UMKM berbasis kertas adalah salah satu dari sekian banyak strategi yang bisa dilakukan untuk menahan pukulan krisis yang (kemungkinan) akan terjadi sewaktu-waktu di masa yang akan datang.

Akhir kata, semoga Indonesia mampu bertahan hadapi krisis (yang akan datang) melalui industri kertas yang mumpuni dan melalui penguatan UMKM berbasis kertas yang teruji. Ayo optimis!