Era digital yang begitu jemawa memantik percikan api  dalam memberangus eksistensi kertas di peradaban manusia millenial. Para pelakon digitalisasi meramalkan keraiban kertas di masa mendatang yang disubtitusi kertas berwajah elektronik. Banyak pengusaha yang bergerak di industri kertas mengalami kemunduran menimbulkan tanda tanya besar terkait masa depan kertas. Salah contoh paling contoh nyatanya adalah PT Kertas Kraft Aceh (KKA) mengalami penurunan profit dari tahun ke tahun, bahkan tahun lalu (2017) mengalami kerugian besar. Perusahaan berpelat merah (BUMN) ini  yang bermarkas di Lhokseumawe, Aceh Utara memilih banting stir dan keluar dari pakem yang ada. BUMN kertas tersebut perlahan mengubah arah bisnisnya dengan menjual listrik ke PT PLN (Persero) dari pembangkit yang dimilikinya. Sehingga perlahan bisa menutup kerugian yang dialami.

Potret buram industri kertas di tanah air tak hanya itu, ditahun yang sama salah satu BUMN kertas lainnya yang mendapatkan rapor merah adalah PT Kertas Leces (Persero) yang berlokasi di Probolinggo, Jawa Timur sedang dalam kajian restrukturisasi perusahaan. Salah satu pemicu kemunduran industri  kertas adalah oplah media cetak. Bergesernya pembaca dari media cetak ke media daring.

Tercatat di awal Juli 2017 yang lalu, gelayut mendung dunia jurnalistik tanah air terjadi kala beberapa media besar mentup  bironya di daerah, sebut saja Koran Sindo.  Gelayut juga lebih berasa karena hal tersebut menggenapi sejumlah penutupan total atau parsial sejumlah media cetak nasional maupun regional dari grup besar lainnya dalam dua tahun terakhir. Contohnya edisi hari minggu Galamedia, edisi hari minggu Koran Tempo (koran Tempo Media Group)

Gempuran media berbasis online memang dahsyat. Tahun 2017 Harian Kompas melansir, bahwa ini angka terendah karena prediksi untuk media massa konvensional lainnya (majalah, radio, televisi, dan buku) juga mengalami pertumbuhan minus pada 3,4-6 persen saja. Jika kita memandang dari satu sisi, memang terjadi kausalitas antara penurunnya industri kertas dengan oplah media cetak.

Di sisi lain, kehadiran kertas masih terasa dibeberapa produk industri seperti pembungkus semen, makanan, percetakan dan buku. Jamak orang memandang digitalisasi merongrong dunia perkertasan, terutama usaha buku cetak. Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Muhammad Syarif Bando memberikan postulat bahwa sudah saatnya dunia perbukuan nasional menyesuaikan diri dengan kehadiran era digitalisasi. Nasib buku tidak akan seperti kaset yang tergantikan dengan kepingan CD atau bahkan soft copy yang dapat dengan mudah diunduh di internet (Indonesia International Book Fair,2017).

Hasil interpretsi penulis mengamini pernyataan ketua Perpusnas. Buku digital merupakan salah satu pemantik dalam menumbuhkan minat baca yang akan berkolerasi dengan meningkatnya angka penjualan buku cetak. Bagi pecinta buku, wangi kertas takkan mampu tergantikan dengan layar e-book. Suara yang tercipta saat membelai lembar demi lembar buku laksana kata rindu yang terucap dari seorang kekasih. Syahdu dan begitu menggoda.

Berdasar penelitian yang dilakukan oleh West Chester University (2015), diketahui bahwa siswa yang membaca di iPad memiliki pemahaman bacaan yang lebih rendah dibanding yang membaca buku dalam bentuk fisik. Banyak pembaca yang melompati teks ketika membaca e-book. Hal ini menyebabkan pemahaman mereka menjadi tidak utuh dan melompat-lompat. Hasil temuan itu berafiliasi dengan penelitian dan yang dilakukan di Swedia pada tahun 2005 menunjukkan bahwa membaca di layar memakan habis energi jauh lebih banyak dibanding membaca dari kertas. Sinar LED yang muncul juga dapat menganggu pola tidur dan membuat tidur menjadi tidak berkualitas.

Membaca buku elektronik masih penuh keterbatasan, seperti membutuhkan gawai, dan adanya radiasi dari gawai yang membuat orang tidak bisa terlalu lama menatap layar smartphone ataupun laptop. Memegang kertas yang berwujud buku memiliki nuansa tersendiri. Tak bisa dinafikan bahwa melalui kertaslah trah keilmuan bisa sampai saat ini. Huruf a – z mustahil eksis tanpa adanya kertas. Pemikiran arif dari Socrates mampu dipercakapkan sampai saat ini karena hasil buah tangan Plato dan Aristoteles yang digoreskan dialtar kertas.

Apa jadinya sekiranya kertas tak dapat ditemukan. Di Cina sendiri, sebelum kertas ditemukan, kebanyakan buku-buku terbuat dari bambu. Buku-buku semacam itu sangat berat dan sulit dibawa. Beberapa buku ditulis di atas sutra, tapi terlalu mahal untuk keperluan umum. Di dunia barat, sebelum kertas diperkenalkan, kebanyakan buku dituliskan diatas perkamen atau vellum, yang dibuat dari kulit domba atau sapi yang diolah secara khusus.

Alur sejarah mencatat dengan banyaknya sekelumit persoalan dalam mengkatalisasi informasi ataupun pengetahuan, Dengan segala kecintaanya Tuhan menurunkan sosok seperti nabi untuk menemukan kertas yang mentransformasi buku menjadi lembaran-lembaran kertas. Penemu kertas itu adalah Ts’ai Lun yang berasal dari cina. Namanya memang tak sefamiliar tokoh ahli strategi perang asal Cina sendiri yaitu Zun Tzu, tak sepopuler pakar ekonomi Adam Smith dan tak setenar para pejabat elit usungan partai politik yang sibuk bersolek.

Karya monumental Lun disempurnakan oleh seorang putra bungsu pedagang kelas atas yang menemukan mesin cetak kertas. Si bungsu itu bernama Johann Gutenberg, melalui tangan dinginnya menemukan mesin cetak kertas. Temuan Gutenberg menuntun Eropa ke Zaman Renaisans (Pencerahan). Guteberg boleh saja berbangga, tapi dia harus berterima kasih kepada Lun. Tanpa kertas maka tidak akan pernah ada mesin cetak kertas. Bisa jadi kita melupakan para penemu kertas dan mesin cetaknya. Akan tetapi tanpa kertas sulitnya rasanya menikmati lezatnya pengetahuan yang bersumber dari buku atau kitab.

Berdasarkan data Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) kini ada 1.317 penerbit terdaftar sebagai anggota. Di antara penerbit itu, 94% tercatat sebagai penerbit aktif. ada lebih dari 30.000 judul buku yang diterbitkan setiap tahun di Indonesia. Ada 33.199.557 eksemplar buku terjual di Indonesia sepanjang 2013 (data TB Gramedia). Data ini menujukkan pengunaan kertas masih megggeliat sejalan dengan banyaknya buku yang dicetak.

Jadi ketika ketika kembali dengan pokok masalah utama dalam tulisan ini, apakah kemunduran industri kertas dipengaruhi oleh bergesernya konsumen ke non-kertas, menurut hemat penulis itu konklusi yang kurang tepat. Sebab.kertas tidak hanya sebagai bahan buku-buku karya ilmiah, tapi juga  dibuat untuk penyampaian informasi-informasi yang penting, seperti, majalah, koran-koran, brosur, dan macam lainnya. Pada era ini kertas juga dibuat untuk benda-benda dengan kegunaan yang lain. Contohnya adalah tas dan tisu dalam industri pulp.

Industri pulp dan kertas masih menjadi industri yang menjanjikan. Semakin bertambahnya jumlah populasi dunia mengakibatkan semakin terbuka lebar pula kesempatan industri ini untuk melebarkan sayap bisnisnya. Dengan pertumbuhan ekonomi dunia sekitar 2,5-3 persen dan pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,4 persen pada tahun ini. Industri pulp (bubur kertas) dan kertas dalam negeri hingga akhir tahun diproyeksikan masih kinclong seiring dengan kenaikan harga pulp dunia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada kuartal II/2017, industri mikro dan kecil kertas dan barang dari kertas tumbuh sebesar 23,37% secara tahunan, sedangkan industri besar dan menengah kertas dan barang dari kertas turun sebesar 6,79% secara tahunan.

Sebagai konklusi penulis memandang nasib industri kertas di masa mendatang masih cemerlang. Buku tulis atau buku bacaan akan tetap digandrungi di sekolah atau dikampus-kampus. Selain itu, pelaku usaha kertas sudah melakukan inovasi dalam memanfaatkan kertas di berbagai produk, di antaranya industri kreatif membuat pelapis smartphone (papcase) berbahan kertas serta pulp yang sudah dieskpor ke luar negeri. Kertas akan tetap berdiri kokoh dihadapan era digital yang jemawa.