Pegawai
1 bulan lalu · 288 view · 9 min baca menit baca · Ekonomi 54605_62705.jpg
Foto: Pixabay

Industri Kertas di Antara Rasa Cemas dan Guyuran Valas

Isu lingkungan membayangi kinerja industri kertas sebagai salah satu penghasil devisa terbesar nonmigas.

Ketika berbicara mengenai industri kertas, kita seakan dihadapkan pada sebuah kotak pandora. Pada sisi gelapnya, kita mesti bergelut dengan stigma yang sudah telanjur melekat erat dalam batok kepala masyarakat: produksi kertas mengancam kelestarian lingkungan. 

Tidak bisa dianggap keliru, sebab kertas umumnya tercipta dari kayu. Menghasilkan kertas sama saja menebas pepohonan di belantara lepas.

Dalam beberapa tahun terakhir, rasa cemas masyarakat terhadap penggunaan kertas makin lepas landas. Pasalnya, Food and Agriculture of the United Nations (FAO), seperti termaktub dalam State of The Global Paper Industry 2018, menjelaskan bahwa terjadi degradasi luas lahan hutan dunia sebesar 7,6 juta hektare per tahun sepanjang 2010 - 2015 akibat deforestasi. Sebanyak 37 persen di antaranya digunakan untuk memenuhi kebutuhan industri kertas.

Lantas, bagaimana dengan kondisi di Indonesia? Jawabannya tidak jauh berbeda. Menurut catatan Forest Watch Indonesia dalam Deforestasi Tanpa Henti, laju deforestasi Indonesia berada pada angka 1,1 juta hektare per tahun sepanjang 2009 - 2013. 

Penyebab utamanya adalah pembukaan lahan sawit dan produksi kertas. Meskipun melambat dibanding periode 2001 - 2010 yang tercatat sebesar 1,5 juta hektare per tahun, kecemasan terhadap isu pemanasan global tidak seketika sirna begitu saja.

Itulah mengapa akhir-akhir ini kita makin sering mendengar istilah kertas ramah lingkungan, atau lazim disebut ecopaper. Ini adalah segelintir upaya dari perusahaan kelas kakap pengguna kertas agar produknya tetap mendapat tempat di hati para pelanggan. Kosmetik, makanan, minuman, dan percetakan adalah beberapa contoh industri yang menggunakan ecopaper.

Sayangnya, suplai ecopaper—baik kertas daur ulang maupun kertas berbahan baku selain kayu—masih sangat terbatas. Kendati pun didukung oleh beragam penelitian dan teknologi mutakhir, penggunaan ecopaper—dalam skala industri—masih terbentur oleh ongkos produksi. Dengan kata lain, biaya produksi kertas berbahan dasar kayu masih lebih murah dibandingkan dengan ecopaper. Ini yang menjadi tantangan paling besar.

Pada sisi yang lain, kita pun tidak bisa menegasikan manfaat kertas konvensional begitu saja. Sejak Cai Jingzhong—seorang abdi negara Tiongkok kuno zaman Dinasti Han—memopulerkan penggunaan kertas sebagai media tulis dan komunikasi pada abad pertama masehi, sejak itu pula kertas tidak bisa dipisahkan dari sendi-sendi kehidupan manusia.


Tidak hanya sebagai media tulis dan membaca, kertas juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan primer manusia lainnya. Industri makanan dan minuman membutuhkan kertas sebagai kemasan. 

Begitu pula dengan industri logistik, bahan bangunan, kecantikan, dan kebersihan, yang dalam proses produksinya tidak bisa dilepaskan dari sentuhan kertas. Artinya, kertas telah menjelma menjadi komoditas penting yang menopang hajat hidup orang banyak.

Industri Kertas dari Sudut Pandang Ekonomi

Ditilik dari sisi ekonomi, manfaat kertas juga tidak bisa dipandang sebelah mata. World Top Exports dalam artikelnya yang berjudul Paper Exports by Country mengestimasi total ekspor kertas dunia sepanjang 2018 mencapai 175,6 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Torehan teresebut menjadikan kertas sebagai komoditas perdagangan antarnegara dengan nilai ekspor tertinggi ke-20 di seluruh dunia.

Bagi negeri kita tercinta, kertas adalah mesin penghasil pundi-pundi devisa negara. Bank Indonesia dalam Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia memaparkan bahwa guyuran valas yang dihasilkan dari ekspor kertas sepanjang 2018 setara dengan 6,14 miliar dolar AS. 

Jumlah itu menjadikan kertas sebagai penyumbang devisa terbesar ke-7 dari sektor nonmigas. Di tingkat dunia, nilai ekspor kertas nasional berada pada posisi ke-13, dengan laju pertumbuhan ekspor paling cepat di dunia sejak 2014, yakni 19,7 persen per tahun.

Dalam struktur perekonomian terbuka, kemampuan negara untuk menghasilkan sebuah produk ekspor sangatlah memengaruhi kestabilan ekonomi. Bila aktivitas ekspor lebih besar ketimbang arus impor, surplus neraca perdagangan akan diraih. 

Pada gilirannya, kondisi ini akan memperkuat nilai tukar dan struktur perekonomian nasional. Singkat kata, makin tinggi ekspor, makin kuat dan cemerlang pula makroekonomi kita.

Masalahnya, neraca perdagangan kita defisit 8,69 miliar dolar AS sepanjang 2018. Artinya, kita lebih banyak impor ketimbang ekspor. 

Untuk membalikkan keadaan, kita perlu menggenjot produksi dan mendorong aktivitas ekspor agar defisit neraca perdagangan tidak terus membengkak. Industri kertas—di samping beberapa komoditas unggulan lainnya—adalah salah satu yang bisa menjadi andalan.

Untuk urusan produksi kertas, sekali lagi, kita memang patut berbangga. World Atlas dalam laporan bertajuk The Top Pulp and Paper Producing Countries in the World menempatkan Indonesia pada peringkat ke-10 negara penghasil kertas terbesar di dunia. 


Produksi kertas nasional mencapai angka 10,03 juta ton per tahun. Artinya, peran Indonesia dalam menggerakkan roda industri kertas dunia sangatlah nyata.

Sejalan dengan makin kinclongnya kinerja ekspor dan produksi kertas nusantara, industri kertas juga turut menghadirkan banyak lapangan pekerjaan. 

Dirjen Industri Agro Kemendag, Panggah Santoso, dilansir dari Liputan 6, menyatakan, terdapat 1,36 juta tenaga kerja—baik langsung maupun tidak langsung—yang menggantungkan rezekinya dari industri pulp dan kertas nasional. Dengan kata lain, industri kertas adalah salah satu sektor ekonomi yang tergolong padat karya.

Kembali kepada analogi semula. Industri kertas adalah sebuah kotak pandora; dilematis dan serba salah. Isu deforestasi adalah satu hal yang tidak bisa dikucilkan. Di sisi lain, posisi kuat industri kertas pada tataran ekonomi nasional juga tidak boleh diabaikan. Alhasil, kini kertas berada di persimpangan jalan: antara rasa cemas dan guyuran valas.

Oleh karena itu, ada dua pertanyaan yang perlu segera dijawab. Langkah apa yang harus diambil agar industri kertas nasional bisa terus dipacu tanpa mengabaikan isu lingkungan yang terus menderu? Apa yang harus diperhatikan agar industri kertas mampu berjalan pada sumbu roda yang lebih berimbang? Esai ini akan mencoba mengurai jawabannya.

Tiga Langkah Atasi Cemas akan Kertas

Mengurai permasalahan kertas memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun demikian, memicu industri kertas agar berjalan di trek yang benar bukan tidak mungkin dilakukan. 

Sebab pada dasarnya, kertas berasal dari bahan baku yang dapat diperbarui. Seharusnya, tantangannya akan lebih mudah ketimbang mengurai problematika komoditas lainnya seperti minyak bumi atau batubara, misalnya.

Oleh karena itu, penulis berpendapat bahwa kunci menjawab dilematika industri kertas nasional adalah keberimbangan. Industri kertas haruslah berada di tengah-tengah. Tidak boleh condong ke kiri maupun ke kanan. Sebab kedua-duanya berimbas pada kesejahteraan manusia.

Ketika kuantitas produksi yang jadi target, maka kelestarian lingkungan yang terancam. Sebaliknya pun demikian. Tatkala lingkungan yang menjadi satu-satunya perhatian, maka melorotnya kinerja ekonomi dan meningkatnya pengangguran yang akan menjadi bayang-bayang ketakutan. Maka, setidaknya ada tiga langkah yang mesti dilakukan.

Pertama, kemauan untuk berubah. Sikap ini harus dimiliki oleh seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah maupun pihak swasta. 

Kita patut bersyukur bahwa dalam tataran regulasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah menerbitkan Permen No.39/2017 tentang Perhutanan Sosial. Tujuannya agar menghindari ketimpangan pengelolaan lahan hutan antara korporasi besar dengan masyarakat lokal.

Langkah ini penting, sebab akan membatasi deforestasi yang umumnya dilakukan oleh korporasi kelas kakap yang tidak memedulikan kelestarian lingkungan. Di sisi lain, tindak-tanduk dan gerak-gerik petani lokal dalam memanfaatkan hasil hutan sosial akan makin termonitor oleh pemerintah. Alhasil, petani setempat dapat mengelola hutan secara lebih bertanggung jawab dan profesional.

Dari sisi korporasi, kita perlu mengapresiasi langkah Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas) ketika menelurkan Kebijakan Konversi Hutan APP pada 2013 lalu. 

Melalui kebijakan tersebut, ada empat hal yang menjadi komitmen APP, yakni (i) mengembangkan area yang bukan merupakan lahan hutan; (ii) mereduksi emisi dan efek gas rumah kaca; (iii) meningkatkan keterlibatan sosial dan masyarakat; serta (iv) menjalankan prinsip menajemen hutan yang lebih bertanggung jawab.

Dengan kata lain, APP hanya akan memanfaatkan lahan bukan hutan untuk menghasilkan bahan baku produksi kertasnya. Tentu saja, langkah ini patut ditiru oleh semua korporasi yang berkecimpung dalam industri kertas, khususnya yang memang mengelola lahan hutan untuk produksi kertas. 

Memicu produksi dan memacu profit memang tujuan utama. Tetapi memedulikan kelestarian lingkungan juga tidak boleh dipandang sebelah mata.

Kedua, memegang teguh prinsip keberlanjutan. 

Seperti telah disinggung di awal, kertas tercipta dari kompresi serat bubur kayu. Jenis pohon yang umum digunakan untuk bahan baku kertas pada umumnya adalah papyrus, mulberry, dan pinus. 

Ketiga-tiganya bersifat alami dan dapat diperbarui. Artinya, sebenarnya produksi kertas bisa terus digenjot tanpa takut merusak kelestarian lingkungan, asalkan memegang teguh prinsip keberlanjutan.

Untuk mencapai keberlanjutan dalam produksi kertas, kuncinya adalah penerapan metode tanam yang baik. Papyrus, misalnya, membutuhkan waktu 5—6 tahun sebelum akhirnya bisa dipanen dan diolah menjadi pulp. Memang benar, ini bukanlah waktu yang singkat. Namun demikian, dengan manajemen dan pola tanam yang teratur, maka keberlanjutan industri kertas dapat tercapai.


Dalam skala industri, korporasi kertas haruslah memiliki lahan yang cukup untuk menerapkan pola tanam yang teratur di samping menjaga kontinuitas produksi. 

Sulit, tetapi bukan tidak mungkin. Caranya adalah bersinergi dengan petani lokal, khususnya yang memiliki hak pengelolaan hutan kawasan industri yang sudah ada. Dengan demikian, pasokan kayu dapat terus terjaga tanpa melakukan deforestasi.

Terakhir, yang paling penting, terus melakukan inovasi. 

Sudah menjadi kodrat manusia untuk terus melakukan inovasi guna memecahkan setiap masalah yang datang menerpa. Begitu juga dengan industri kertas. Sudah banyak penelitian yang mencoba menemukan barang substitusi pengganti kertas. Tidak perlu jauh-jauh mencari ke luar negeri, sebab di dalam negeri pun kaya akan inovasi. Mari kita teliti.

Kepala Laboratorium Rekayasa Bioproses Institut Pertanian Bogor, Khaswar Syamsu, seperti diberitakan Kompas, mengeklaim bahwa pihaknya bisa membuat kertas ramah lingkungan dari selulosa murni limbah kelapa (nata de coco), tahu (nata de soya), dan nanas (nata de pina). 

Selulosa murni tersebut nantinya akan dicampur dengan bubur kayu untuk menghasilkan kertas. Dengan metode ini, maka bahan baku kayu untuk produksi kertas bisa dihemat hingga 75 persen.

Sedikit beranjak ke Malang. Sekumpulan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) baru-baru ini berhasil membuat kertas karton dari kotoran sapi. Dilansir dari Detik, Ketua Tim Mahasiswa UMM, Dedy Pranoto, mengungkapkan bahwa kreativitas ini dilakukan demi memanfaatkan kotoran sapi yang terbuang dan meningkatkan pendapatan peternak sapi.

Inovasi yang dilakukan Dedy mirip dengan apa yang dibuat oleh Prof. Rosdanelly dari Universitas Sumatra Utara. Pihaknya berhasil menciptakan kertas karton dari bahan baku limbah, seperti ampas tebu, pelepah sawit, daun, dan alang-alang. 

Kreasinya tidak berhenti sampai di sana. Kertas karton diolah kembali menjadi beragam produk, seperti bingkai foto, kotak pensil, dan lampion.

Ketiga temuan di atas hanyalah beberapa contoh saja. Banyak temuan serupa yang tidak akan tuntas bila dijabarkan di sini. 

Artinya, untuk urusan ide dan inovasi kertas, negara kita tidak miskin atau kering kerontang. Hanya saja, belum banyak yang berhasil menerapkannya dalam skala industri. Alasannya klasik: sumber daya atau ongkos produksinya mahal. Inilah permasalahan yang sebenarnya.

Untuk mengatasi hal ini, mau tidak mau, semua pihak harus turun tangan. Pemerintah harus mendorong dari sisi regulasi, sebagaimana pihak swasta harus mendukung dari sisi pemanfaatan inovasi. 

Apabila ini terus dilakukan, maka inovasi yang bersifat disruptif pada industri kertas akan cepat terjadi. Dengan kata lain, struktur biaya dan ongkos produksi untuk menciptakan kertas dari bahan baku nonkayu bisa lebih terjangkau.

Apabila ketiga langkah di atas dilakukan secara optimal dan berkesinambungan, maka penulis percaya, industri kertas nasional akan dapat berjalan sesuai harapan. Tidak timpang ke kanan, tidak pula limbung ke kiri. Ia berada tepat di tengah-tengah. 

Keberadaannya tidak lagi menimbulkan isu lingkungan, tetapi tidak juga mengurangi kapasitas produksinya untuk menggerakkan roda perekonomian. Alhasil, rasa cemas akan kertas akan bisa segera tuntas. Semoga.

Referensi:

  • The State of The Global Paper Industry, The Environmental Paper Network.
  • Deforestasi Tanpa Henti, Forest Watch Indonesia.
  • Paper Exports by Country, World Top Exports.
  • Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia, Bank Indonesia.
  • The Top Pulp and Paper Producing Countries, World Atlas.
  • Industri Kertas Mampu Serap Tenaga Kerja hingga 1,1 Juta Orang, Liputan 6.
  • Permen KKLH No.39/2017, KKLH.
  • Kebijakan Konservasi Hutan APP, Asia Pulp & Paper Industry.
  • Produksi Kertas Ramah Lingkungan Ditemukan, Kompas.
  • Kotoran Sapi Dimanfaatkan jadi Bahan Baku Kertas, Detik.

Artikel Terkait