Banyak hal yang dapat dibicarakan dari masa lalu. Misalnya perang, intrik politik, gejolak tumbuh tumbangnya peradaban-peradaban dunia, pergerakan kesetaraan perempuan, riwayat personal seseorang, dan lain-lain. 

Topik-topik seperti itu selalu menjadi bahan percakapan yang menarik di ruang-ruang formal semisal kelas-kelas akademik maupun ruang-ruang informal, sebut saja di kafe-kafe bahkan ada kalanya di warung-warung pinggir jalan.

Masalahnya, percakapan-percakapan tersebut berpotensi menjadi ajang adu ego dan arogansi alih-alih tukar pikiran apabila mereka yang terlibat mulai melenceng dari tata laku aktivitas diskusi sejarah yang baik, yakni berargumen berdasarkan sumber-sumber yang meyakinkan dan dapat dipercaya.

Dalam kondisi ideal, buku yang telah ditulis, disunting, maupun dikurasi oleh orang-orang yang latar belakangnya mumpuni dalam bidang sejarah seharusnya menjadi acuan utama dalam setiap perbincangan sejarah. Namun, posisi buku agaknya mulai tergeser dengan makin banyak orang yang lebih memilih mencari informasi sejarah melalui internet karena faktor kemudahan dan kecepatannya.

Faktanya, memang kian banyak orang yang mengatakan “saya baca di internet” tatkala menjelaskan dari mana sumber-sumber bacaan sejarah yang mereka peroleh alih-alih menyebut sebuah judul buku. 

Saya selaku penulis sejarah sudah cukup banyak mendengar kata-kata tersebut kala terlibat diskusi dengan banyak orang yang dalam kesehariannya memang tidak terlalu familiar dengan sejarah.

Fenomena tersebut sebenarnya cukup wajar. Tetapi opini saya terhadap sikap tersebut hanya satu: jika membicarakan sejarah, menyerap informasi dari internet saja sama sekali tidak cukup. Kita harus membaca buku.

Contohnya apabila kita ingin mengetahui sejarah seorang Sukarno. Tentu kita bisa membuka internet dan menemukan banyak hasil pencarian tentang dirinya, mulai dari riwayat hidup, pemikirannya terhadap Indonesia, bahkan sampai urusan asmaranya. 

Hasil pencarian teratas biasanya akan merujuk pada situs-situs media online yang memberikan porsi besar dalam mempublikasikan kisah-kisah sejarah, semisal Historia, Tirto, dan juga media-media berita yang lebih mainstream seperti Kompas, Detik, Tempo, dan lain-lain.

Saya menganggap media-media tersebut sudah cukup baik dalam menyajikan sejarah sebagai bacaan ringan bergaya populer (yang membedakannya dengan penulisan akademik) dan kredibilitasnya cukup terjamin. 

Setidaknya mereka memiliki struktur redaksional dan nama-nama yang jelas sehingga penulis-penulis sejarahnya dapat ditelusuri jika suatu saat kita menginginkan tanggung jawab terhadap informasi yang telah ditulisnya.

Namun, harus diingat bahwa sejarah yang ditampilkan di media-media tersebut biasanya hanyalah serpihan kisah dari buku-buku sejarah yang dikutip sehingga pembaca sebaiknya menanggapi tulisan-tulisan populer tersebut hanya sebagai pemantik, bukan sebagai sebuah pengetahuan utuh. 

Karena itu, jika pembaca ingin mempelajari lebih jauh tentang sebuah topik sejarah maka membaca buku-buku tentangnya masih merupakan langkah terbaik.

Misalnya tentang Sukarno, saya berani mengatakan bahwa saat ini Sukarno yang dapat dipahami secara lengkap adalah Sukarno yang kita temui melalui buku, bukan internet. Untuk itu tentu kita harus minimal membaca buku biografinya, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, atau buku-buku lain yang ditulis oleh sejarawan yang memiliki kepakaran dalam area tersebut, seperti Peter Kasenda dan Roso Daras.

Lantas, apakah yang saya maksud dengan buku? Tentu saja dalam pengertiannya yang tradisional: lembaran-lembaran kertas tersusun yang berisikan teks dan narasi. Dan mengapa saya menekankan pentingnya mempelajari sejarah melalui buku? Karena sejauh ini buku adalah medium paling ideal untuk menyimpan informasi secara komprehensif, awet, elegan, dan terpercaya.

Pertama, sejak kertas pertama kali ditemukan di Cina kuno dan menjadi elemen vital dalam industri percetakan buku modern di Eropa akhir abad pertengahan, buku telah bersinonim dengan intelektualitas. 

Ia dulunya adalah barang mewah yang hanya dikoleksi oleh kelompok intelektual atau orang-orang kaya. Tentu kini nilai-nilai kemewahan tersebut memudar karena buku telah menjadi produk yang umum, namun citra intelektualitasnya itu belumlah hilang.

Dengan kata lain, ada sebuah sistem kepercayaan yang melekat selama ratusan tahun terhadap buku sebagai medium pengetahuan. Melalui buku, sejarawan dapat menyampaikan hasil penelusurannya dengan lebih lengkap, sehingga sudah seharusnya membaca buku adalah sebuah hal yang alami apabila seseorang ingin mendalami tema-tema sejarah yang baru diketahuinya secara singkat melalui sumber-sumber lain.

Kedua, buku dapat lebih dipercaya karena industri perbukuan modern memiliki skema uji koreksi. Jika seorang penulis sejarah bekerja di institusi penelitian, maka penelitian sejarahnya harus melewati uji koreksi dari kolega-koleganya. 

Hal yang sama juga terjadi ketika ia menawarkannya kepada penerbit, karyanya akan diperiksa dari kesalahan-kesalahan fakta maupun teknis terlebih dahulu oleh pihak penerbit sebelum dianggap layak untuk diterbitkan.

Alur tersebut membuat nilai-nilai kebenaran informasi dari sebuah buku sejarah lebih terjamin dibandingkan di internet yang minim pengawasan. Bahkan saat ini rasanya belum ada sebuah buku sejarah yang khusus dipublikasikan secara digital. 

Buku konvensional masih menjadi penggerak roda perekonomian pelaku-pelaku industri buku sejarah di seluruh dunia, sedangkan versi-versi digitalnya masih dikategorikan sebagai sebuah alternatif cara membaca semata.

Ketiga, kondisi ekosistem kesejarahan publik Indonesia yang belum berkembang baik. Di Indonesia, ada stigma bahwa sejarah itu kontroversial, penuh ketidakjelasan, dan bahkan ditutup-tutupi sehingga publik luas jenuh untuk sekedar meliriknya. Akibat tradisi muramnya stigma publik terhadap masa lalu tersebut, akhirnya sejarah acapkali dimanfaatkan oleh sebagian orang secara sembarangan untuk memicu konflik.

Internet adalah tempat sejarah menjadi rumor, konspirasi, dan bahan pertengkaran alih-alih pengetahuan. Menemukan hoaks, disinformasi, dan tafsir-tafsir sepihak terhadap sejarah sudah menjadi barang awam bagi mereka yang terbiasa menelusuri sejarah di internet. Beruntung jika kita cukup jeli untuk dapat membedakan mana yang benar dan salah, karena lebih banyak orang yang cenderung bebal.

Contohnya saja, kasus konspirasi Illuminati di sebuah masjid yang didengungkan oleh seorang pemuka agama belum lama ini di Bandung. 

Dari peristiwa tersebut saya semakin yakin bahwa internet bukanlah tempat ideal untuk memahami sejarah karena terlalu mudahnya setiap orang untuk menyisipkan agendanya kala memahami  dan menyebarluaskan sebuah sejarah tanpa koreksi dari pihak lain. Akan semakin fatal jika sejarah itu menjadi alat untuk membakar emosi massa semata.

Karena itulah, mengingat masih pentingnya buku-buku tercetak sebagai medium pengetahuan, rasanya tidak salah untuk mengatakan bahwa industri kertas sangat berperan besar, bahkan menjadi tulang punggung, terhadap kelangsungan penulisan sejarah yang baik.

Ada sebuah sihir dalam kertas yang membuatnya sulit untuk ditinggalkan sebagai medium pengetahuan sejarah. Itu sebabnya, seseorang terkadang baru merasa layak menyebut dirinya sendiri sebagai sejarawan tulen di hadapan publik apabila ia sudah menulis sebuah buku sejarah; yang biasanya membutuhkan waktu lama, riset mendalam, dan tuntutan untuk menghadirkan suatu topik yang benar-benar baru.

Lebih jauh, hasil penelitian yang dilakukan sekelompok peneliti asal Norwegia dan Prancis pada awal 2019 lalu bahkan menyebutkan bahwa efek sampul buku yang memikat, bau kertas cetakan yang khas, dan bobot ketebalan halaman menyajikan sensasi sensorik dan motorik yang lebih memikat dan berperan menunjang aktivitas menyerap pengetahuan yang lebih baik bagi para pembaca daripada membaca secara digital. Hal itu juga berlaku untuk buku-buku sejarah.

Menulis buku memang berbeda dengan menulis artikel sejarah di media-media internet, yang penulisnya dituntut untuk meriset dan menulis cepat sehingga tulisan yang ditampilkan berbobot ringat. Dan tentu, profesi pekerjaan bidang sejarah yang cukup baru ini masih memiliki ketergantungan tinggi pada eksistensi buku-buku; karena dari membaca bukulah mereka mendapat inspirasi dan topik-topik untuk ditulis.

Tentu jika masih memungkinkan, saksi-saksi sejarah yang masih hidup akan diwawancarai. Namun, penekanan akan masih pentingnya menulis sejarah bersumberkan teks-teks tertulis merupakan bukti bahwa ketergantungan perekonomian kreatif berbasis sejarah terhadap kertas dan buku konvensional masih begitu tinggi.

Misalnya, apabila semakin banyak buku-buku sejarah dicetak, maka akan semakin beragam pula artikel-artikel sejarah yang para penulis sejarah dapat hasilkan. Situs-situs sejarah populer menjadi kian ramai dan menarik lebih banyak pembaca. 

Dan efek lebih jauhnya, mereka yang telah terbiasa membaca sejarah melalui internet pun akan terpantik untuk memperdalam pemahamannya dengan ikut membeli buku-buku sejarah; ini adalah simbiosis mutualisme.

Namun bukan berarti alur tersebut saat ini tengah berjalan baik. Masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki, salah satu yang paling penting adalah menantikan kebijaksanaan pemerintah untuk secara sungguh-sungguh melihat industri kertas dan sektor perbukuan untuk mendorong pembangunan mental dan nalar masyarakatnya. 

Karena seperti yang kita tahu, kondisi perpustakaan di Indonesia masih begitu miris, ditambah dengan rumitnya aturan-aturan pajak yang kerap membuat ciut antusiasme kalangan penerbit dan penulis buku sejarah.

Memang belakangan ini banyak seruan-seruan untuk meminimalisir penggunaan kertas atau agenda paperless society. Tujuan pokoknya adalah untuk menjaga lingkungan dan mengurangi limbah kertas yang dianggap kian mengkhawatirkan. 

Namun dalam kasus kelangsungan penulisan sejarah, rasanya kebutuhan akan kertas justru lebih banyak menghadirkan benefit daripada kerugian, jika melihat efek positifnya terhadap kelangsungan tradisi menulis dan membaca sejarah yang baik dan komprehensif di Indonesia maupun seluruh dunia.

Membaca buku sejarah berarti meningkatkan intelektualitas, pola pikir, dan daya kritis manusia terhadap masa lalu sehingga penggunaan kertas terhadapnya tidak menjadi hal yang sia-sia. Kesimpulannya, merawat industri kertas untuk melanggengkan kelangsungan sejarah  justru merupakan sebuah bentuk penghormatan terhadap lingkungan dan tradisi intelektualisme umat manusia.