Kertas sudah menjadi bahan pokok yang keberadaannya sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia, baik itu sebagai media tulisan maupun sebagai media pembungkus. Kebutuhan akan kertas ini tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia kendatipun saat ini sudah memasuki era revolusi industri 4.0 dimana peran kertas sebagai media tulisan perlahan mulai memudar seiring dengan perkembangan dunia digital. 

Namun alih-alih mengurangi kebutuhan akan kertas, justru memasuki era digital kebutuhan kertas semakin meningkat melalui peran barunya sebagai kertas pembungkus. Menilik peran kertas dari masa ke masa disepanjang peradaban manusia akan membuat kita sadar bahwa olahan bubur kayu tersebut telah memegang peranan penting dalam kehidupan manusia sejak mulai kertas pertama ditemukan. 

Hal ini tentunya akan menjadi pandangan tersendiri bahwa eksistensi industri kertas akan terus menjadi sebuah bisnis jangka panjang yang mampu beradaptasi sesuai perkembangan zaman.

Awal Mula Industri Kertas

Semenjak pertama kali ditemukan pada tahun 101 Masehi hingga sekarang kertas tidak pernah meninggalkan peran pentingnya dalam peradaban manusia. Adalah Ts’ai Lun yang telah menjadikan peradaban China sebagi peradaban termaju pada saat itu melalui kertas temuanya. 

Kertas pertama ini terbuat dari kulit kayu, kain, batang gandum, dan beberapa batang pohon lainnya. Generasi pertama kertas ini relatif murah, ringan, tipis, tahan lama, dan lebih cocok digunakan dengan kuas. Pada masa ini kertas mulai banyak digunakan untuk menggantikan lempengan bambu dan lembaran sutera sebagai media tulisan. Bahkan pada masa ini kertas juga sudah dijadikan sebagai  pembayaran retribusi kepada pemerintahan.

Memasuki abad pertengahan pada tahun 751 Masehi, pembuatan kertas menyebar hingga ke Jazirah Arab dibawah pemerintahan Bani Abbasiyah dimana pabrik kertas pertama mulai didirikan yang berlokasi di kota Samarkand, Uzbekistan. Masa ini juga ditandai sebagai awal dari perkembangan industri kertas dan awal dari berkembangnya ilmu pengetahuan melalui peran kertas sebagai media informasi. 

Kebutuhan kertas yang semakin meningkat tidak hanya untuk menulis ayat-ayat suci Alquran namun juga untuk menulis buku-buku ilmu pengetahuan. Pada masa ini buku adalah barang yang tidak dikenakan pajak, sehingga terdapat jutaan buku yang telah dihasilkan pada masa ini. 

Perkembangan industri kertas mulai memperlihatkan pengaruhnya dalam keberlangsungan ekonomi masyarakat. Industri kertas ini merupakan awal pemicu munculnya ratusan toko-toko buku yang didirikan di Maroko hingga tahun ke 1200 Masehi. Bentuk buku pada saat ini berupa lembaran-lembaran yang dijilid dengan cara dijahit menggunakan benang.

Pada abad ke 12 kertas mulai diperkenalkan ke Eropa. Kejayaan kertas semakin meningkat terbukti dengan banyaknya pabrik kertas didirikan di Eropa dan juga Amerika. Tidak hanya sebagai media penyampai informasi, namun kertas juga digunakan sebagai alat untuk membuat beberapa kerajinan tangan. Pada masa ini juga ditemukan mesin cetak pertama oleh Gutenberg (1400-1468). 

Dengan ditemukannya mesin cetak ini, pembuatan buku yang sebelumnya memakan waktu yang cukup lama, sekarang bisa dikerjakan hanya dalam beberapa hari saja. Masyarakat bisa dengan mudah mendapatkan buku bahkan dalam bentuk yang sudah rapi. 

Kebutuhan akan kertas yang semakin meningkat, seakan memaksa masyarakat untuk membuka ladang bisnis baru : bisnis percetakan. Melalui kertas dan penemuan mesin cetak ini peradaban di Eropa berkembang dengan cepat.

Industri Kertas di Era Revolusi 4.0

Hingga abad ke 20 kertas tetap jaya sebagai pemeran utama dalam berbagai media cetak sebagai penyampai informasi. Namun memasuki era revolusi industri 4.0, peran kertas sebagai media cetak agaknya mulai meredup. Keadaan ini diperburuk dengan adanya konsep Papperless yang disuarakan oleh para aktivis lingkungan.  

Setali tiga uang dengan era revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan menjamurnya ponsel pintar nan serba digital, konsep Papperless menekankan bahwa penggunaan kertas harus dikurangi untuk mengurangi penebangan pohon.

Belum lagi munculnya  gelar ‘e’ pada setiap peran yang sebelumnya dimainkan oleh kertas. Agaknya gelar ‘e’ ini telah menjadikan kertas benar-benar tidak digunakan lagi. Dalam dunia pendidikan misalnya, e-book telah mengurangi cetakan buku yang tebalnya bahkan bisa sampai ribuan lembar. 

Begitu juga dengan diubahnya sistem ujian dari paper based test (PBT) menjadi computer based test (CBT) alias ujian online, serta sistem pendaftaran siswa dan mahasiswa baru yang dilakukan secara online juga setidaknya telah mengurangi penggunaan kertas. Tak mau ketinggalan e-mail sebagai media untuk berkirim surat secara cepat juga beralih fungsi sebagai media untuk mengirimkan tugas kepada guru/dosen dalam dunia pendidikan.

Gelar ‘e’ juga disematkan dalam dunia perbankan sebagai tanda kemajuan di era modren. Melalui e-banking semua transaksi baik pembayaran, transfer, dan transaksi lainnya kini hanya cukup melalui genggaman tangan saja alias ponsel pintar tanpa melibatkan selembar kertaspun. Bahkan dengan adanya konsep chasless penggunaan uang kertas Rupiah juga mulai dikurangi.

Media berita juga seakan tak mau tinggal diam dan ikut ambil bagian di era digital. Akibatnya banyak muncul citizen jurnalism. Dengan berpijak pada sistem demokrasi dimana adanya perlindungan hak dalam kebebasan berpendapat, netizen beramai-ramai menulis berita versi mereka sendiri di dunia maya dan membagikannya ke seluruh dunia dalam hitungan detik. 

Penyampaian berita melalui era digital ini tentunya sangat disukai masyarakat karena mereka tidak perlu menunggu berminggu-minggu seperti koran ataupun majalah. Peran penting kertas sebagai media cetak tergantikan sudah dengan aplikasi antarmuka melalui gadget yang langsung menjamah mata dan telinga masyarakat dengan praktis.

Perkembangan era digital ini mau tak mau, suka tak suka, telah menurunkan konsumsi kertas di seluruh dunia. Data FAO memperlihatkan sejak 2006-2016 rata-rata konsumsi kertas cetak dunia menurun 4,6 %, sedangkan konsumsi kertas tulis menurun 1,3%. Selama lebih dari satu dekade, perusahaan industri kertas telah mengalami masa-masa suram. 

Namun masa-masa suram bagi industri kertas akhirnya memberikan titik terang. Fenomena gelar ‘e’ dalam dunia digital tidak sepenuhnya mematikan peran kertas. Adalah e-commerce yang menjadikan peran baru bagi kertas. Maraknya lapak-lapak digital atau online shop telah meningkatkan kebutuhan akan kertas pembungkus. 

Belum lagi permintaan akan kertas tissue sebagai bentuk peran baru kertas dalam peradaban manusia modren. Berbanding terbalik dengan konsumsi kertas, data FAO menunjukkan bahwa selama 10 tahun terakhir konsumsi tisu rata-rata meningkat sebanyak 2,8 % dan konsumsi kertas kemasan meningkat rata-rata 2,3 %.

Kertas Akan Selalu Dibutuhkan

Tentunya kita masih ingat dengan dengan berita tentang ulah hacker di Indonesia. Bahkan situs luar negeripun berhasil diretas oleh para hacker, contohnya situs milik Malaysia yang diretas oleh hacker Indonesia sebagai upaya pembalasan karena terbaliknya negara bendara Indonesia pada SEA Games. 

Belum lagi situs dalam negeri yang juga banyak diretas para hacker. Hal ini menjadi kelemahan era digital karena data-data yang tersimpan di komputer yang tersambung ke internet bisa diakses dan dirubah oleh orang lain. Begitu juga dengan situs-situs resmi terpercaya yang akhirnya diretas dan disalahgunakan untuk kepentingan pribadi. Adanya perrtasan situ-situ ini tentunya menimbulkan keraguan terhadap kredibilitas data yang ditampilkan. 

Hal yang sama juga berlaku untuk berita-berita hoax yang ditulis di dunia maya tanpa bisa pertanggungjawabkan kebenarannya. Belum lagi adanya ancaman virus yang siap menghilangkan data-data yang tersimpan di dunia digital. Pada akhirnya banyak perusahaan-perusahaan besar selain menggunakan data digital, mereka juga  menggunakan data manual kertas sebagai cadangan.  

Untuk beberapa case,  peran kertas yang begitu penting tidak akan mudah tergantikan meski kemajuan teknologi berkembang dengan sangat cepat. Kertas sebagai media konkrit, nyata, jelas, dan juga bisa dipertanggugjawabkan sangat berbeda dengan data digital yang diragukan kebenarannya.

Kertas dan kamajuan teknologi adalah dua hal yang akan bisa terus saling berdampingan. Menilik kembali dari awal mula kertas ditemukan hingga sekarang, Industri kertas terus berkembang. Meski industri kertas selalu mampu memainkan peran baru sesuai perkembangan zaman, namun yang terpenting adalah peran utama kertas itu sendiri sebagai media yang bisa dipertanggungjawabkan.