Telah kami ciptakan bagimu pohon sawit yang tandan kosongnya dapat dimanfaatkan dalam pembuatan Pulp (bahan dasar kertas), maka pohon (hutan) mana lagikah yang akan kau tebang?

Pak Sabar terpelongoh kaget bukan kepalang pasca mendengarkan pemaparan Gubernur Riau yang mengatakan, “Kami sambut baik niatan invesntor Jepang yang ingin mengolah limbah sawit. Mengingat provinsi Riau ini memiliki sekitar 90 ribu Ha lahan kelapa sawit yang akan direplanting.” Jumat (3/10/2017).

Fantastis, pria yang dituakan karena kemiskinannya ini ternyata baru menyadari, bahwa limbah sawit memiliki banyak kegunaan, meskipun nilai jual harga sawit cendrung stagnan, kadang justru mengalami penurunan.

Pemanfaatan limbah sawit harus didukung dan mesti dikembangkan, pikirnya. Tak ingin mengalami kegalauan yang berkepanjangan, si tua bangka ini segera meminta anaknya untuk melakukan kajian serta memberi ulasan. Syukur-syukur jadi sebuah tulisan; layak berkompetisi di bidang esai yang sedang diperlombakan; masuk nominasi tulisan favorit atau terbit dan terpilih sebagi pemenang, khayalnya.

Keluh kesah diterima, si-anak menyanggupinya.

Dimulailah tulisan ini dari ironi yang terus menghantui. Secara global, Indonesia adalah negara yang dianugrahi dengan hutan terluas menduduki posisi ke-9. Anehnya, dalam kategori kerusakan hutan terluas, berdasarkan data Global Forest Resources Assessment (FRA), Indonesia ternyata nyaman bertengger di posisi runner up. Bujubuset! Katanya rumah dan persembunyian terakhir bagi kekayaan hayati.

Masih belum cukup dengan ironi yang dipaparkan, baiklah. Menurut data yang dikeluarkan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Indonesia merupakan negara yang memiliki kebun sawit terluas sekaligus produsen sawit nomor satu di dunia. Nyatanya, perluasan lahan sawit yang dilakukan suatu perusahaan, mau tidak mau harus mengorbankan lahan hutan. Owalaaaah, semoga tindakan mereka tidak didasari keserakahan.

Saya pikir anda terlalu berhasrat untuk menguak ironi berikutnya, oke. Ironi kali ini juga tak kalah menarik, luas hutan yang dimiliki Indonesia tampaknya berimbas pada statusnya sebagai negara yang berkesempatan menjadi pemain disektor industri pulp dan kertas, sebagaimana disampaikan Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI). Ah, sudahlah.

Baiknya kita sudahi dan jangan lagi menggali ragam ironi yang Indonesia hadapi, sebab saya sebagai warganya hampir-hampir tidak percaya diri. Mencari simpulan benang merahnya adalah tugas beresama. Saya akan mulai dengan tulisan ini, sembari berterimakasih dan memohon maaf kapada orang tuaku apabila nantinya tidak sesuai atau berkenan di hati.

Langkah pertama, Mengkaji keberadaan kertas di negara Indonesia. kita tahu, Indonesia merupakan negara yang berpeluang menjadi  pemain disektor industri pulp dan kertas; dilingkup dunia menduduki posisi ke-9 dan disekup Asia bertengger diposisi ke-3. Sampai saat ini, hutan adalah satu-satunya sumber utama dalam menghasilkan kertas.

Dengan demikian bukan berarti segala kerusakan akibatnya dapat dimaafkan dan di-sepele-kan. Data kemenperind menyebutkan kebutuhan kertas dunia kian meningkat, diperkirakan tahun 2020 kebutuhan kertas menembus angka 490 ton. Pemerintah harus tegas membedakan ambiguitas dalam memahami pengelolaan atau penggundulan hutan.

Sementara kita tidak dapat lepas dari belenggu kebutuhan kertas, bukan berati segala upaya (jalan pintas) dianggap pantas. Tatkala pertumbuhan kebutuhan kertas di negara maju 0,5% pertahun dan negara berkembang 4,1% pertahun, Indonesia sebagai negara berkembang tidak dapat serta merta melegalkan penggundulan hutan dalam bentuk apapun.

Langkah kedua, mencari solusi dalam menghadirkan kertas. Hemat saya para pembaca juga tahu, Indonesia memiliki perkebunan sawit terluas di dunia. Terhitung sejak sepuluh tahun terakhir (1995-2005) luas areal perkebunan sawit kian meningkat dengan kisaran 2,75 - 29,91 persen. Pohon berkebangsaan Afrika atau Amerika Selatan ini adalah penghasil minyak sawit mentah.

Dalam industri minyak sawit, limbah yang dihasilkan dapat berupa limbah padat maupun limbah cair. Tandan kosong sawit (tankos) misalnya, adalah limbah padat yang dihasilkan dari industri ini, sekonyong-konyongnya limbah yang mencapai 25% setiap tandannya ini ternyata dapat diolah menjadi bahan dasar kertas, dan jumlahnya sangat berlimpah ruah.

Potensi limbah tankos sangat besar, diperkirakan jumlah ini akan semakin meningkat dengan meningkatnya produksi kelapa sawit di Indonesia. Anda bisa membayangkan, setiap 1 Ton kelapa sawit akan menghasilkan 230 kilogram tankos. Dan saat ini, Indonesia mampu memproduksi  sekitar 35.000.000 ton tiap tahunnya. Berapa jumlah tankos yang bisa dimanfaatkan untuk pembuatan kertas? Entahlah, hitung saja sendiri.

Lebih lanjut, anda dapat mengulas penelitian yang dilakukan oleh Dian Anggraini dan Han Roliadi dengan judul “Pembuatan Pulp dari Tandan Kosong Kelapa Sawit Untuk Karton pada Usaha Skala Kecil” yang dipublikasikan Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol. 29 No. 3, September 2011.

Mengetahui pohon sawit memiliki nilai jual tinggi, mengingat bahan dasar dan limbahnya dapat diuangkan, bukan berarti kita bersepakat dengan perusahaan yang doyan melakukan kecurangan; membakar hutan secara masif ketika membuka lahan, misalnya. Bagi saya,  bersepakat pada kecurangan perusahaan sama atinya mebiarkan deforestasi berkelanjutan dan mengancam.

Bukan rahasia umum lagi perusahaan sawit juga turut berkontribusi atas rusaknya lahan dan hutan, Selain faktor iklim dan aktivitas manusia (masyarakat) tentunya.

Meskipun kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tiap tahunnya kian menurun; 2015, 2.61 juta Ha, 2016, 438.360 Ha, 2017, 124.983 Ha, bukan berarti karhutla akibat perusahaan tidak lagi menjadi kegemaran. Lihat saja baru-baru ini, 80 Ha lahan hangus akibat ulah PT WSSI siak; secara bersamaan PT SSP juga bertingkah serupa dengan mengobarkan api dilahan seluas 40 Ha.

Sentimen terhadap perusahaan sawit pun kian meningkat dimata masayarakat lokal maupun global. Pasalnya, kejadian tersebut menyebabkan hilang dan rusaknya habitat satwa liar; meningkatkan emisi gas rumah kaca; mencemari kesehatan manusia; menelan banyak anggaran dan biaya negara.

Akan tetapi, tidak ada juga baiknya jika sikap tersebut terus terpendam disanubari setiap masyarakat, terlebih industri sawit merupakan satu dari sekian penyumbang/penopang ekonomi negara, yang bercita-cita membuat masyarakat sejahtra. Masih dimungkinkan upaya perbaikan dihari mendatang bagi tiap perusahaan sawit yang kadung melakukan pelanggaran. Diantaranya,  menciptakan inovasi baru dalam mengolah limbah.

Menanggapi unggkapan Gubernur Riau diatas, tentu pemaparannya cukup untuk mendapatkan apresiasi. Akan tetapi sedangkal pemahaman dan harapan saya, akan lebih baik jika Indonesia yang mencoba untuk mengelola. Terlepas dari kesiapannya, solusi yang saya tawarkan menghendaki upaya perdamaian atas ulah perusahaan sawit yang gemar membakar lahan/ hutan dengan masyarakat yang tidak lepas dari kebutuhan kertas.

Industri sawit dan kertas dapat bersinergi dalam menggenjot pertumbuhan ekonomi, hubungan yang dijalin juga mampu mengurangi kerusakan hutan sekaligus memenuhi permintaan kertas yang kian hari kian dibutuhkan. Langkah gubernur tersebut dapat dipertimbangkan agar kedepan mendapat penanganan.

Akhirnya, Telah kami ciptakan bagimu pohon sawit yang tandan kosongnya dapat dimanfaatkan dalam pembuatan Pulp (bahan dasar kertas), maka pohon (hutan) mana lagikah yang akan kau tebang?