Dewasa ini, seruan untuk kembali pada prinsip pembangunan berkelanjutan sedang menjadi isu sentral di sektor industri pengolahan sumber daya alam (SDA).

Hal ini kembali mengemuka karena adanya kekhawatiran dari sebagian besar kalangan praktisi industri dan masyarakat dunia mengenai kemampuan daya dukung SDA yang diprediksi tak akan mampu lagi menyangga miliaran kepentingan populasi penduduk dunia dalam beberapa dekade ke depan.

Negara-negara di dunia kini tengah berupaya menyusun strategi yang tepat untuk menanggulanginya, sekaligus berusaha keras mencari cara atau menciptakan alternatif energi terbarukan agar keberlanjutan gerak aktivitas global tetap berjalan sebagaimana mestinya.

Namun, gagasan pembangunan berkelanjutan tersebut masih terganjal dalam penerapannya karena dinilai masih sangat konseptual.

Bukan hanya karena dunia belum menemukan formula atau cetak biru yang tepat untuk dijadikan standar tentang bagaimana seharusnya pembangunan berkelanjutan itu dilaksanakan, tetapi juga karena diskursus soal karakter konsumtif manusia dan hubungannya dengan SDA inilah yang juga belum selesai sepenuhnya diperbincangkan.

Industri pengolahan SDA yang cenderung direpresentasi dengan simbol konsumerisme kerap diperbandingkan secara linier dengan makin besarnya kerusakan lingkungan.

Namun, banyak yang tak menyadari bahwa pertumbuhan ekonomi yang terus ditarget tiap tahun itulah yang sejatinya sumber motivasi utama mengapa pembangunan modern, termasuk pembentukan industri SDA di dalamnya, tampak selalu tidak sejalan.

Akibatnya, muncul semacam pandangan sempit yang kemudian memukul rata seluruh industri sebagai biang kehancuran lingkungan, yang pada gilirannya membuat image perusak lingkungan pun kian tertanam kuat dalam citra industrialisasi hari ini.

Industri dan lingkungan dalam konstruksi pembangunan berkelanjutan memang sering menjadi perdebatan. Apakah mungkin menyelamatkan lingkungan sementara pembangunan industri berlangsung masif? Apakah pertumbuhan salah satunya akan menihilkan pertumbuhan yang lainnya? Manakah yang harus lebih diutamakan di antara keduanya dalam konstruksi pembangunan berkelanjutan?

Hal-hal seperti inilah yang senantiasa mewarnai perdebatan dan sering kali berakhir dengan kesimpulan-kesimpulan yang kurang memadai.

Keberlanjutan Industri Kertas

Industri kertas adalah contoh kecil dari sekian banyak industri yang bergerak di bidang pengolahan sumber daya alam. Pertumbuhannya yang cukup pesat, tanpa dibarengi dengan kebijakan konservasi yang tepat, akan menimbulkan ancaman terhadap kelestarian hutan alam.

Salah satu ancamannya muncul dari kesenjangan antara tingginya kapasitas produksi terpasang pabrik pulp dan kertas dengan rendahnya pasokan bahan baku dari HTI (Hutan Tanaman Industri) yang tidak seimbang.

Industri kertas yang sangat mengandalkan bahan baku berupa kayu ini memang sangat bergantung dengan ketersediaan pohon-pohon di hutan untuk bisa menyuplai kebutuhannya.

Ketika hutan tidak mampu menyediakan suplai kayu sesuai dengan kebutuhannya, maka industrinya pun akan mengalami perlambatan produksi.

Konsep pengelolaan industri dengan model seperti ini seharusnya ditinggalkan dan diganti dengan konsep pengelolaan yang lebih ramah lingkungan demi menunjang keberlanjutan industri yang dimaksud.

Menurut hemat penulis, ada beberapa hal yang bisa dipertimbangkan oleh industri kertas untuk dilakukan sesegera mungkin guna memperbaiki sistem manajerial dan mekanisme kelembagaannya sehingga bisa tetap survive di tengah himpitan berupa keterbatasan suplai kayu, tingginya biaya energi penggerak mesin, serta terbatasnya modal dan insentif.

Selain harus mengubah paradigma pengelolaannya dari sekadar eksploitatif menjadi berkelanjutan, industri kertas juga perlu melakukan hal-hal penting sebagai berikut.

Pertama, pengambilan segala kebijakan dalam perusahaan jangan hanya berorientasi ekonomi, tetapi juga memikirkan dampaknya terhadap lingkungan. Keputusan ekonomi yang akan diambil harus sebisa mungkin merefleksikan dampaknya terhadap keselamatan lingkungan akibat pembukaan kawasan hutan, termasuk kesehatan manusia di dalamnya.

Dan sebaliknya, inisiatif penyelamatan lingkungan juga harus mempertimbangkan konsekuensi ekonomi, sehingga tidak perlu membuat perusahaan merugi (skenario moderat).

Kedua, diperlukan standar keberlanjutan yang sifatnya tetap yang berisi panduan teknis bagi perusahaan dan pemasok bahan bakunya agar berjalan pada skenario keberlanjutan yang dikehendaki, berikut punishment yang akan dijatuhkan bila bekerja tidak sesuai dengan standar tersebut.

Ini bertujuan agar perusahaan industri kertas berikut pemasok-pemasoknya memiliki kesadaran total agar tidak hanya berpikir untung bagi generasi sekarang, tetapi juga generasi yang akan datang.

Ketiga, harus ada pembagian tanggung jawab yang jelas dan adil. Seluruh stakeholder industri kertas, mulai dari masyarakat petani hutan, pemasok kayu, pabrik pengolahan di hulu dan hilir, dan pemerintah daerah dan pusat harus bekerja bersama-sama untuk melestarikan hutan dan lingkungan tanpa mereduksi keberlanjutan industri kertas.

Dalam hal ini, peran pemerintah sangatlah sentral. Insentif dari pemerintah perlu diberikan kepada para petani hutan, pemasok, dan industri pengolahannya berupa suntikan modal (green incentive) untuk memulihkan kawasan hutan yang telah dieksploitasi, yang dibarengi dengan penurunan biaya bahan bakar mesin, serta penyiapan skenario pajak yang lebih ringan dan moderat sebagai motivasi bagi industri-industri kertas yang mampu menyeimbangkan produksinya dengan upaya pemulihan kawasan hutan yang bernilai konservasi tinggi.

Keempat, pelestarian kawasan hutan harus menjadi prioritas. Ini bermakna bahwa industri kertas harus memperlihatkan komitmennya terhadap kelestarian ekologi, keanekaragaman hayati, dan keberlanjutan sistem penyangga kehidupan.

Hal ini harus tercermin dari kepatuhan terhadap komitmen nol deforestasi serta dibarengi dengan peningkatan rehabilitasi lahan pascapanen sesegera mungkin.

Selain itu, industri kertas perlu mengembangkan penelitian dan inovasi terkait bahan pengganti (substitusi) non-kayu yang bisa digunakan sebagai bahan baku pulp, seperti jerami dan bambu, yang lebih ramah lingkungan tetapi bisa untuk memenuhi kebutuhan produksi dan permintaan dunia tanpa harus merusak kelestarian ekosistem.

Kisah Sukses

Betapapun berat tantangan yang dihadapi industri-industri kertas hari ini, selalu saja ada cerita sukses dari beberapa industri yang saat ini masih tetap eksis serta mampu bertahan di tengah gejolak ekonomi global berikut segala hambatan yang mengiringinya.

Keberlanjutan industri-industri ini tidak terlepas dari kejelian mereka dalam melihat tantangan masa depan yang makin kompetitif serta kemampuan mereka dalam menerapkan strategi pembangunan berkelanjutan.

Salah satu contoh sukses industri kertas yang masih tetap bertahan hingga hari ini adalah Asia Pulp and Paper (APP) Sinar Mas. Perusahaan ini mulai menerapkan prinsip pembangunan berkelanjutan melalui program yang disebut dengan Forest Conservation Policy atau disingkat FCP yang telah mereka mulai sejak Februari 2013 lalu.

Kini, melalui program tersebut, APP Sinar Mas telah berhasil menorehkan sejumlah narasi yang cukup positif, sekaligus menjadi contoh terkini, terkait bagaimana seharusnya industri mengambil peranan sentral dalam pembangunan yang berkelanjutan.

Program FCP yang dilandasi komitmen untuk memperbaiki operasional perusahaan dari segi keberlanjutan, lingkungan, dan sosial ini dinilai cukup berhasil dalam mencapai target yang ditetapkan dalam tiga tahun pelaksanaannya.

Dengan program ini, APP Sinar Pas berhasil membuktikan bahwa dengan penerapan praktik-praktik terbaik dalam penanganan lahan gambut, pencanangan prinsip-prinsip sosial keberlanjutan serta komitmen nyata untuk menjaga transparansi dengan berbagai pemangku kepentingan dan stakeholder terkait, kebutuhan bisnis dengan kebutuhan lingkungan alam ternyata dapat diseimbangkan secara proporsional.

Meskipun pembaruan yang dilakukan APP Sinar Mas ini masih menemui berbagai kendala di lapangan, tetapi hal ini patut diapresiasi. Sebab, di tengah maraknya pembalakan liar dan eksploitasi industrial terhadap kawasan hutan yang dilakukan oleh sebagian besar perusahaan, namun hanya sedikit saja di antara mereka yang bersedia mendengar seruan, sekaligus bertindak responsif, untuk kembali pada prinsip pembangunan keberlanjutan yang sesungguhnya. 

Dan apa yang dilakukan APP Sinar Mas ini sudah selayaknya menjadi contoh bagi industri-industri pengolahan SDA lainnya, terutama industri kertas, bila ingin tetap bertahan di era disrupsi teknologi hari ini.

Sebagai penutup tulisan ini, saya ingin mengulang pendapat dari seorang environmentalis asal Universitas Waterloo, Amerika Serikat, G. Francis, yang kurang lebih berkata bahwa keberlanjutan sesungguhnya konsep yang utopis.

Karena sejatinya, kehadiran manusia di muka bumi adalah keniscayaan bagi kemunduran lingkungan. Oleh karena itu, inisiatif untuk melestarikan SDA di tengah miliaran kepentingan dunia tentu bukan gagasan yang rasional. Sebab entitas SDA pada dasarnya tidak didesain untuk eksis secara berkelanjutan.

Sejalan dengan pendapat G. Francis di atas, saya menganggap bahwa sumber daya alam sejatinya memang tidak dapat tersedia secara terus-menerus, meskipun ide dan usaha untuk memperbaharuinya terus bermunculan. Apa yang seharusnya didorong untuk berkelanjutan adalah kapasitas manusia untuk melakukan restorasi dan evolusi.

SDA bisa saja terbatas untuk memenuhi segala kebutuhan. Namun, selalu ada cara untuk menyiasatinya. Di sinilah tugas manusia untuk terus berinovasi dan berkreativitas dalam mengelola SDA. Sehingga keseimbangan antara SDA dan kebutuhan manusia antar dan lintas generasi bisa terjaga secara berkelanjutan.