Aktivis
2 bulan lalu · 37 view · 5 min baca menit baca · Lingkungan 45324_23724.jpg

Industri dan Napas Baru Kehidupan

Seperempat abad lalu, Sungai Siak masih menjadi tumpuan kehidupan masyarakat Kecamatan Siak. Saat itu, Siak belum menjadi Kabupaten, hanya Kecamatan dibawah naungan Kabupaten Bengkalis.

Sungai memiliki peran kompleks dalam menunjang kehidupan masyarakat. Sebagai sumber Mandi Cuci Kakus (MCK), aktivitas pelabuhan untuk sarana ulang alik transportasi masyarakat dan distribusi barang dari berbagai daerah, juga sarana tumpuan mata pencaharian.

Sungai Siak sebagai sungai ter dalam di Indonesia telah menjadi penopang kehidupan masyarakat sekitarnya. Nelayan menjadi profesi mayoritas. Bukan untuk menjadi kaya, melainkan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Aktivitas penangkapan ikan telah menjadi pemandangan yang tak asing. Sungai adalah nadi kehidupan.

Ketika para ayah sibuk dengan kegiatan mencari ikan untuk disantap atau dijual. Ibu-ibu mencuci pakaian di jembatan yang terbuat dari kayu-kayu balak dan batang-batang pinang.

Anak-anak berlarian dari pangkal jembatan dan menceburkan diri ke sungai. Layaknya atlet renang kawakan. Sungai menjadi media renang paling asyik. Berenang dan mandi tanpa rasa takut.

Arus sungai menjadi sahabat, menguji adrenalin dan meningkatkan semangat penduduk Siak. Tidak peduli sudah berapa kali tenggelam. Tidak juga mau tau berapa kali kaki dan tangan berdarah disengat binatang-binatang sungai. Anak-anak hanya tau, berlari bermain, berenang dan bahagia.


Banyak nelayan memasang jala dan luka. Kala itu jala digunakan untuk menangkap ikan dan luka sebagai perangkap udang galah. Udang galah merupakan hasil sungai ternama dan paling dicari-cari di daerah Siak.

Udang galah memiliki daging tebal dan rasa lezat. Dengan aneka masakan, baik digoreng, sup, gulai, rebus atau aneka olahan apa saja, tetap saja nikmat. Belum ke Siak namanya, bila belum menyantap hidangan udang galah.

Hari minggu merupakan hari yang ditunggu. Ramai anak-anak kecil usia 5-10 tahun, ikut serta turun ke bibir sungai. Mengutip ikan dan udang hasil tangkapan nelayan. Senang hati membantu, berlari diantara lumpur dan akar-akar tanaman mangrove.

Kadang nelayan memberikan ikan dan udang yang diperoleh anak-anak untuk dibawa pulang. Sebab, aktivitas mengumpulkan hasil tangkapan biasanya diperbolehkan setelah nelayan mengumpulkan ikan-ikan yang cukup dan menjualnya. Boleh dikatakan, anak-anak mengumpulkan ikan yang lepas dari pandangan nelayan saat mengumpulkan hasil tangkapan.

Indahnya masa kecil anak-anak pinggir sungai Siak. Setiap terbangun di pagi minggu. Bermain dan berlarian di bibir sungai mencari ikan. Tertawa, penuh semangat dan kegirangan. Itulah liburan anak pinggir sungai. Liburan yang tidak butuh biaya tapi menyenangkan.

Saat ini, liburan ala anak sungai sudah sulit ditemukan. Aktivitas tersebut hanya menjadi kenangan dan cerita untuk generasi hari ini. Perubahan menjadi sebuah keharusan agar negeri ini maju. Ada hal-hal yang harus rela hilang untuk mencapai tujuan lain yang lebih relevan dengan hajat hidup orang banyak.

Mulanya Siak berada dalam naungan Kabupaten Bengkalis. Pemekaran Kabupaten terjadi pada tahun 1999 dengan luas wilayah teritorial 8.556,09 km2.

Nampaknya perkembangan Kabupaten Siak semakin hari semakin pesat, industri yang telah ada semakin meningkatkan proses produksi dan daerah yang awalnya kosong telah menjadi lahan operasional berbagai industri.

Setiap aktivitas produksi perusahaan akan menghasilkan limbah. Semakin banyak produksi, semakin meningkat limbah. Tidak bisa dinafikan, industri besar maupun kecil harus memiliki penampungan limbah. Harus memiliki gagasan pengolahan limbah menjadi produk samping.

Ketika hasil produksi meningkat, sedangkan perusahaan tidak memiliki penampungan memadai. Mau atau tidak, industri tersebut membuang limbah ke badan sungai. Aktivitas ini tentu tidak masalah bila masih di bawah ambang batas pencemaran air.

Limbah di sungai tidak hanya limbah industri, limbah domestik masyarakat pun ikut andil menyumbangkan faktor penyebab pencemaran air. Walau masyarakat beranggapan tak masalah karena sedikit. Namun seperti kata pepatah “sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit”. Sedikit-sedikit limbah dibuang ke badan air, lama-lama melewati ambang batas pencemaran.


Apabila pencemaran air terus mengalami peningkatan. Biota sungai akan ikut tercemar. Ikan yang awalnya menjadi sumber gizi akan menjadi sumber racun dan penyakit.

Sedangkan kesadaran masyarakat akan kesehatan semakin meningkat, sugesti tentang pencemaran sungai membuat sebagian masyarakat membatasi diri dengan hasil ikan tangkapan nelayan. Populasi ikan juga berkurang. Faktor ini seperti mematikan sektor pendapatan masyarakat pinggir sungai.

Waktu tidak pernah bisa dihentikan. Anak-anak nelayan dan masyarakat pinggir sungai Siak semakin memiliki wawasan dan pemikiran yang maju. Pertumbuhan industri seakan memacu keinginan masyarakat untuk menjadi karyawan.

Animo masyarakat menjadi bagian industri sangat tinggi. Mulai dari buruh pabrik sampai pada posisi-posisi strategis perusahaan. Bekerja di perusahaan menjadi target setelah menyelesaikan pendidikan. Bagaimana tidak, upah yang diperoleh sudah lebih dari cukup untuk meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat.

Dari masa ke masa terjadi pertumbuhan kawasan industri di Kabupaten Siak. Baik industri kertas, kelapa sawit dan lainnya. Semua industri tersebut membutuhkan banyak tenaga kerja. Mulai dari tenaga ahli sampai pekerja kasar.

Tidak banyak lagi pencari ikan, tidak mudah lagi melihat pemandangan orang berlarian di bibir sungai mengutip ikan. Bukan hanya karena tidak mudah lagi menemukan ikan, melainkan perubahan aktivitas manusia, dari seorang nelayan menjadi buruh pabrik.

Ketika keberadaan industri telah menghilangkan mata pencaharian mereka sebagai nelayan, di sisi lain industri justru meningkatkan taraf hidup mereka dengan diterimanya mereka bekerja di industri yang ada disekitar tempat tinggal mereka. Rezeki tak berpintu, itulah pepatah yang tepat. Ketika tidak ada rezeki sebagai nelayan diberikan kesempatan menjadi buruh.

Taraf hidup yang meningkat tidak lantas membuat perhatian terhadap pencemaran industri terabaikan begitu saja. Hidup yang berkecukupan akan terasa kurang dengan menurunnya kesehatan.

Kata industri memang selalu terdengar menyeramkan, identik dengan limbah dan kerusakan alam. Bila alam tercemar maka kualitas hidup pun menurun. Pencemaran industri tidak hanya terjadi pada udara melainkan tanah dan air.

Industri telah menyebabkan banyaknya perubahan siklus kehidupan di air, seperti sungai Siak. Secara nyata dapat dilihat, sungai Siak seperempat abad lalu tidak memiliki warna keruh. Tidak terlalu cokelat dan tidak begitu kental. Populasi ikan tidak sebanyak dulu. Indikasi kandungan logam berat menjadi bagian Sungai Siak.

Tanah disekitar industri beroperasi juga mendapatkan dampak dari proses industri. Logam-logam berat seperti timbal, mangan dan lainnya telah menjadi komposisi wajib penyusun unsur tanah tersebut.


Udara tidak ketinggalan tercemar. Akankah hanya racun yang akan menghidupi tubuh kita? Tentunya tidak ada yang menginginkan hal ini.

Industri telah mematikan sebagian mata pencaharian masyarakat. Tetapi kompensasi yang diberikan industri jauh lebih baik dengan penerimaan karyawan masyarakat tempatan.

Namun demikian, alam adalah tempat hidup makhluk hidup. Baik manusia, hewan dan tumbuhan. Kehidupan yang berkecukupan akan lebih berarti dengan tubuh yang bugar. Sudah seharusnya pengolahan limbah industri harus terus ditingkatkan. Agar industri yang telah menjadi napas kehidupan dan kelegaan dalam memperoleh finansial yang mencukupi tidak dihabiskan untuk pengobatan berbagai penyakit di masa tua.

Industri yang baik tidak hanya memberikan kebahagiaan material, melainkan juga ikut andil dalam perbaikan lingkungan. Agar industri tetap menjadi napas baru bagi kehidupan.

Artikel Terkait