Beberapa waktu yang lalu, kita kehilangan dua tokoh besar bangsa. Pertama, Bacharuddin Jusuf Habibie (25 Juni 1936-11 September 2019), presiden ketiga RI. Beliau adalah sosok yang cerdas dari segala bidang.

Yang paling kita kenal mungkin di bidang teknologi. Eyang Habibie memegang ratusan hak paten dalam penciptaan desain pesawat terbang. Dia juga dijuluki Mr Crack dri Parepare karena teorinya tentang crack dalam rancangan pesawat terbang.

Selain itu, Eyang juga turut membidani lahirnya ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia) pada 7 Desember 1990. Beliau juga menjadi ketua pertama ICMI. Begitu besar kehilangan kita terhadap sosok cerdas dan saleh tersebut.

Kedua, kita kehilangan seorang penegak keadilan dan lidah rakyat miskin. Dialah HS Dillon atau Harbrinderjit Singh Dillon (23 April 1945-16 September 2019).

Tokoh bangsa keturunan India ini begitu konsen terhadap isu-isu pangan dan kesejahteraan petani. Dillon menerima penghargaan dari Priyadarsnhi Academy India sebagai warga keturunan yang berperan aktif dan berkontribusi pada negara yang ditinggalinya.

Mari kita berdoa untuk kedua tokoh bangsa ini. Semoga mereka diberikan tempat yang layak dan diterima segala amal ibadah dan pengabdiannya untuk bangsa dan rakyat Indonesia. Semoga apa yang kedua tokoh ini torehkan bisa kita jadikan teladan. Amin.

Tak lama setelah kepergian HS Dillon, saya tak sengaja menemukan cuplikan video beliau tengah membacakan puisi berjudul "Jika Aku Cinta Bangsaku" karya Teguh Esha dalam acara peluncuran bukunya, Indosara, di Youtube. Teguh Esha sendiri merupakan penulis novel Ali Topan Anak Jalanan yang pernah booming pada era 1970-an, generasi 1990-an pasti kenal judul novel tersebut lewat filmnya.

Berikut saya kutip puisi yang dibacakan HS Dillon:

Jika aku cinta bangsaku
aku cinta orang-orang berimannya
aku cinta orang-orang muslimin dan muslimatnya
aku cinta orang-orang nasraninya
aku cinta orang-orang yahudinya
aku cinta orang-orang hindunya
aku cinta orang-orang buddhanya
aku cinta orang-orang konghucunya
aku cinta orang-orang agnostiknya
aku cinta orang-orang aliran kepercayaan dan kebatinannya
aku cinta orang-orang ateisnya


jika aku cinta bangsaku
aku cinta orang-orang nasionalisnya
aku cinta orang-orang sosialisnya
aku cinta orang-orang komunisnya
aku cinta orang-orang liberalnya
aku cinta orang-orang nonpartisannya

mereka semua saudara-saudaraku
dan saudari-saudariku sebangsa setanah air
dengan izin Allah aku panggil mereka semua kembali
ke jalan Allah yang satu yang mulia
sang pencipta semua manusia
yang mencipta aku dan mereka
jalan keselamatan yang indah dan damai
dan penuh ketenangan dan kerelaan
dan rahmat Allah sang pencipta dengan doa dan cinta
tanpa fitnah, tanpa dusta, tanpa paksa,
gratis, tanpa bayaran dari siapa pun
kecuali dari Allah, yang kaya yang terpuji.

Teguh Esha

Dari puisi tersebut, setidaknya ada tiga pesan yang bisa kita tangkap. Bahwa untuk mencintai bangsa ini, pertama, kita mesti sadar akan perbedaan, baik itu perbedaan agama maupun sudut pandang politik. Kedua, kita mesti menyadari dan sepakat bahwa persaudaraan dalam perbedaan itu bukan hal mustahil diwujudkan di bumi Indonesia. Apalagi bagi Indonesia yang penduduknya majemuk.

Ketiga, adanya semacam ungkapan bahwa mengajak ke jalan Allah yang satu hendaknya tidaklah dengan paksaan, lebih-lebih kekerasan. Di sini, ada seruan agar para pemeluk agama hendaknya bertindak moderat (tengahan) dalam mendakwahkan ajaran agamanya. Ada hal yang lebih penting untuk dijaga, yakni persaudaraan dan kebersamaan dalam hidup berbangsa.

Indonesia kini

Puisi Teguh Esha tersebut menjadi semacam sikap dan pandangan terhadap kondisi bangsa kita hari ini. Di mana perbedaan begitu kencang mengoyak sendi-sendi bangsa. Adanya gesekan antar-pemeluk agama, diskriminasi minoritas-mayoritas, perseteruan kubu politik, kekerasan dengan alasan agama, dan sebagainya.

Pilpres 2019, misalnya, yang merupakan arena pertarungan Jokowi dan Prabowo, disikapi berlebihan oleh para pendukungnya. Sehingga muncul istilah cebong dan kampret. Diskursus publik pun jadi tak sehat, penuh umpatan dan caci maki.

Kini, pertarungan tersebut telah usai. Prabowo memilih bergabung dengan pemerintahan Jokowi sebagai menteri pertahanan. Meski banyak dicibir, bahkan oleh para pendukungnya dulu, Prabowo tetap melenggang dengan alasan "mengabdi untuk bangsa". Semua masih butuh pembuktian dan peran kita untuk memastikan perjalanan bangsa ke depan dapat mencapai kemajuan.

Manusia Maju

Seperti apa sebenarnya Indonesia yang kita dambakan? Pertanyaan yang mesti segera kita jawab. Tentu saja jawabannya bukan saja dengan kata-kata, melainkan dengan tindakan nyata. Kita semua tentu mendambakan Indonesia yang maju.

Indonesia yang maju bukanlah Indonesia yang penuh sesak dengan gedung-gedung atau bangunan dan kota-kota metropolitan yang gemerlap. Indonesia yang maju adalah Indonesia yang mapan dan berdaya dalam hal ekonomi, sosial, politik, maupun budaya. Sekaligus mampu menjaga dan mengelola alam dan lingkungannya secara adil dan beradab.

Indonesia yang maju diawali dengan manusia yang berpikir maju. Manusia Indonesia yang maju seperti digambarkan Teguh Esha dalam puisinya, sudah tidak lagi berseteru atau berselisih dalam hal-hal berbau sentimen, baik itu agama, etnis, ras, maupun golongan. Manusia Indonesia yang maju adalah mereka yang berpikir bebas, lepas, kreatif, dan solutif untuk kemajuan bangsa.

Untuk mengawalinya, perlulah kiranya dibangun sendi-sendi bangsa yang kokoh. Di antaranya dengan membentuk akal dan budi generasi penerus. Generasi muda yang notabene bakal menjadi penentu masa depan bangsa. Generasi yang akan membawa peradaban kita jauh ke depan.

Sehingga, ke depan akan tercipta peradaban baru Indonesia yang pendidikannya berkualitas, pemerintahnya bersih dari korup, rakyatnya cerdas dan sejahtera, alamnya lestari, teknologinya maju, dan generasi mudanya yang tak ragu mencurahkan segala daya dan upaya untuk kepentingan bangsa ini.

Kita mendambakan banyak hal tentang Indonesia, maka kita pula yang mesti berusaha mewujudkannya. Bukankah firman Tuhan menjelaskan, tak akan berubah suatu kaum sampai kaum itu sendiri yang mengubahnya.