Monolog ini ditulis dalam kondisi bingung dan penuh dengan kegelisahan luar biasa di tengah situasi ekonomi juga politik yang membingungkan.

***

Bapak Presiden Republik Indonesia yang saya hormati,

Saya ini cuma anak-anak yang mungkin di ruang-ruang politik di mana Anda hidup, mereka (komunitas politik elite itu) memberikan saya sebutan bocah kemarin sore. Jangan lagi saya, pak presiden, seorang muda yang sukses dengan platform pendidikan berbasis digital yang kemudian anda rekrut sebagai staf, juga mereka sebut dengan bocah, bukan?

Lepas dari blunder politik, konflik kepentingan, kekeliruan administrasi, bahkan potensi korupsi yang ia lakukan, ia dihujat tanpa diperkuat komunitas politik mana pun. Sebab kejadian itulah, bapak presiden, saya percaya bahwa generasi muda belum benar-benar punya pengaruh. Sebagian besar kami adalah komoditas politik di 2019 kemarin.

Jadi izinkan bocah ini berkhotbah di hadapan bapak presiden yang terhormat. Singkat saja, tak begitu lama-lama.

Beberapa pekan ke belakang, saya telah menulis sebuah artikel yang disarikan dari dua artikel yang sungguh bagus sekali. Masing-masing milik Thomas Poeyo dan Yuval Noah Harari.

Tentu artikel yang saya tulis amat jauh dari kata bagus (saya sangat menyadarinya), tapi apa yang ingin saya sampaikan dalam artikel itu, bahwa pasca-corona, kita harus lebih kuat sebagai bangsa. Kita harus bangkit dengan menjalankan segenap mandat yang tertera pada pembukaan UUD 1945 itu.

Santai saja, bapak presiden. Kami tidak akan membebankan seluruh mandat itu kepada Anda dan aparatur negara yang Anda miliki. Kenapa? Karena di dalam pikiran kami, jauh lebih baik agar kita dapat bekerja sama di masa-masa krisis semacam ini.

Alih-alih harapan tentang pembentukan kultur politik baru di masa depan, saya hanya berharap di masa-masa krisis ini kita semua dapat memastikan kecukupan bagi segenap masyarakat. Saya ingin mengulangnya, “Kecukupan” bukan lagi kesejahteraan.

Seorang kritikus Anda yang sungguh terkenal mengatakan sesuatu yang jujur; bahwa new normal yang akan Anda terapkan terkesan aneh karena kita belum benar-benar dapat memastikan apakah kita sudah terbebas dari Corona atau belum.

Hari ini, informasi kecil penanganan corona pun telah menjadi komoditas politik internasional. Terbukti Cina yang adidaya itu menolak membuka informasi penanganannya secara penuh dan transparan.

Jadi di tengah situasi nasional juga internasional yang semacam ini, apakah kita bisa benar-benar menerapkan new normal itu? Tidak seperti kritikus Anda, saya percaya bahwa kita harus segera normal.

Saya dengar Anda juga telah meminta keterlibatan TNI-POLRI dalam kebijakan new normal ini. Saya ingin bertanya (tanpa pretensi apa pun), apakah keterlibatan beliau-beliau yang berseragam itu sudah tepat? Kenapa bukan melibatkan saintis dan tenaga kesehatan?

Kalau jawabannya adalah tentang kedisiplinan, apakah bapak presiden tidak percaya kepada kami bahwa kami mungkin bisa lebih disiplin dari sebelumnya?

Mungkin selama PSBB Anda telah melihat segenap tindakan tidak disiplin dari warga, khususnya saat-saat menjelang lebaran. Apakah itu sepenuhnya kesalahan kami bapak presiden? Kenapa tidak menurunkan TNI-POLRI ke mall-mall itu agar para pengelola pusat perbelanjaan yang telah menyusahkan pedagang kecil itu mau lebih berdisiplin dan konsekuen?

Ada sedikit saran kecil dari Harari dalam The World After Corona Virus untuk Presiden Republik tercinta ini. Bahwa jauh lebih baik bagi negara-negara di dunia untuk melakukan pemberdayaan sipil dan tak sepenuhnya mengambil otoritasnya dalam penanganan corona ini.

Bukankah ini masalah bangsa dan bukannya masalah presiden juga jajarannya semata? Bukankah kami juga harus diberi kepercayaan sebagaimana gugus-gugus tugas itu diberi? Kami tidak meminta imbalan dan gaji, wahai bapak presiden. Yang kami minta adalah kepercayaan kecil dari Anda, agar kami bisa ikut mengelola situasi ini.

Bukankah kami telah memberikan kepercayaan besar kepada anda di pemilu kemarin? Sekarang ini, kami hanya meminta kecil. Jadi, tolong kabulkan dan tarik seluruh pasukan berseragam itu.

Saya menyuarakan ini kepada Anda, karena mengkhawatirkan hal-hal buruk lain yang mungkin mengikuti kebijakan ini. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi psikologis orang tua saya, sahabat dekat saya, karib dan kerabat yang sudah sangat susah dengan kondisi ekonomi juga ketakutan akan corona harus lagi dibayang-bayangi oleh seragam aparatur Anda yang terhormat itu.

Sungguh, monolog ini bukan ditulis untuk menghambat kebijakan new normal yang telah Anda suarakan melalui pidato Anda yang sangat terkenal itu; bahwa kita harus berdamai dengan corona. Tapi malah untuk memperkuatnya dengan memeriksa kembali tiap detail yang terlibat dalam new normal ini.

Bagi kami, new normal adalah kondisi di mana pembicaraan para politisi seiring dengan apa yang ia buat. Bagi kami, new normal adalah saat-saat tak lagi ada orang yang kelaparan. Bagi kami, new normal adalah situasi kebahagiaan kolektif tanpa pikiran-pikiran menakutkan tentang tagihan BPJS atau UKT bagi yang masih kuliah.

Dengan melibatkan kami masyarakat, Anda yang telah menang telak dalam pemilu jangan pernah takut kehilangan dukungan. Kami orang Indonesia tak cepat berubah dalam prinsip. Kami konsekuen dengan apa yang telah kami pilih.

Bapak presiden, pernahkah Anda mendengar bahwa Pancasila itu abadi? Saya yakin Anda pernah. Tapi apakah Anda pernah dengar bahwa Indonesia abadi? Saya pun belum pernah, bapak presiden.

Jadi mari kita perkuat negara ini dengan melibatkan segenap kami masyarakat yang tak berseragam, dan meminimalisasi keterlibatan mereka yang berseragam. Demi Indonesia yang kuat seluruh masyarakatnya dengan kemandirian dan ketangguhan sejati.

Hormat saya untuk bapak presiden.

Bandung, 29 Mei 2020. Sehari setelah hari kelahiran saya.