Pesta demokrasi akbar Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada)  yang akan dilaksanakan pada  tahun 2017 nanti semakin mendekat. Para calon pemimpin telah menetukan pasangan mereka dan mulai menmpersiapkan diri. Tentu bahwa semua calon yang akan bertarung dalam pemilu serentak nanti telah menyiapkan berbagai strategi mantap untuk menarik perhatian masyarakat.

Misalnya saja menyiapkan visi dan misi yang cantik dan menawan agar menarik minat masyarakat. Seperti yang dilakukan oleh salah satu pasangan dari Manggarai yang mengusung misi untuk mengatasi kelangkaan air bersih. Hal ini sunguh menjadi satu hal yang baik dan patut untuk diberi apresiasi, bahwa setiap calon sangat paham dengan apa yang sedang dirasakan oleh masyarakat atau apa yang sedang dibutuhkan oleh masyarakat.

Kita sebagai masyarkat Indoensia yang daerahnya akan mengadakan pilkada serentak patut untuk berbangga dan berbesar hati. Mengapa? Kerena dalam pilkada serentak nanti, kita bisa mendapatkan asa baru untuk memilih calon pemimpin yang pro rakyat dan memperhatikan segala kebutuhan rakyat.

Kita pun harus pesimis melihat pesta demokari itu nanti sebab banyak fakta yang menunjukkan bahwa banyak pemimpin yang dengan cepat terjerumus ke dalam lingkaran korupsi. Untuk itu, pemimpin yang dinilai akan melakukan korupsi dan melanggar tanggung jawab yang diberikan oleh rakyat sebaiknya jangan dipilih. Pemimpin yang korupsi adalah pemimpin yang merusak demokrasi bangsa kita.

Dari tindakan korupsi yang dilakukan oleh pemimpin bangsa ini menjadi contoh praktis bahwa praksis demokrasi di negeri ini masih jauh dari yang kita harapkan. Satu pertanyaan pun mengemuka, apa itu demokrasi sehingga dengan mengerti demokrasi kita dapat memilih pemimpin demokratis?

Demokrasi sesungguhnya berasal dari bahasa Yunani, demos yang berarti  rakyat (orang termiskin dalam masyarakat Yunani purba) dan kratein yang berarti memerintah. Dalam arti yang riil kata demokrasi berarti pemerintahan sendiri dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.

Aristoteles, seorang filsuf terkenal yang pernah hidup di Athena yang adalah seorang realistis, memiliki pandangan tersendiri mengenai bentuk-bentuk pemerintahan dalam satu negara. Menurut dia pemerintahan dalam satu negara ada demi tercapainya bonum commune. Sebuah negara bukan ada tanpa tujuan tetapi dengan satu tujuan mulia yaitu tercapainya kebaikan umum manusia dalam arti bahwa kepentingan umum mendapat tempat utama ketimbang kepetingan pribadi.

Dari defenisi Aristoteles kita dapat menyimpulkan bahwa demokrasi adalah satu bentuk pemerintahan yang datang dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat dengan tujuan untuk menciptakan kehidupan bersama yang baik demi tercapainya bonum commune. Bonum commune itu dapat tercipta dengan mendahulukan kepentingan bersama ketimbang kepentingan pribadi.

Indonesia telah mencicipi kemerdekaan selama 71 tahun. Namun selama itu pula bangsa Indonesia masih dibelenggu oleh banyak masalah sosial yang berakar dari tindakan korupsi. Justru para pemimpin bangsa ini yang telah mendapatkan kepercayaaan dari masyarakat yang banyak melakukan tindakan korupsi. Uang yang sebenarnya diperuntukan untuk masyarakat malah dimanipulasi untuk masuk kekantong pribadi.

Fenomena korupsi merupakan fenomena yang semakin menghancurkan arti demokrasi itu sendiri sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh dan untuk rakyat yang mana kepentingan dan tujuan utamanya adalah tercapainya kepentingan umum, bonum commune. Maka tindakan korupsi mulai dari sekarang harus dipangkas. Salah satu jalan yang dapat dipakai untuk memangkas tindakan korupsi adalah dengan memilih pemimpin yang demokrat.

Kampanye akan dimulai. Bersamaan dengan dimulainya kampanye, rentan waktu bagi masyarakat untuk lebih memikirkan secara semakin serius pilihan yang akan dijatuhkan mengambil awal. Bukan sesuatu yang janggal bahwa seiring dengan usaha membuat pilihan masyarakat akan mengalami kebimbangan dalam menetukan calon yang paling tepat dan baik untuk mendapat kepercayaan mengemban tugas kepemimpinan lima tahun kedepan.

Pasti bahwa kebingungan yang masyarakat rasakan sungguh menjadi-jadi ketika banyak mendengar janji-janji manis yang diutarakan calon-calon pemimpin. Siapakah yang harus dipilih?

Sebuah pilihan yang tepat adalah pilihan yang didasarkan pada apa yang kita perlukan dan butuhkan. Kita sebagai masyarakat memilih orang-orang yang mampu memberikan apa yang kita perlukan dan butuhkan. Memilih para calon bupati dan wakil bupati dalam pemilu adalah demi tercapainya penataan kehidupan yang demokratis.

Lantas apa yang perlu kita perhatikan untuk memilih pemimpin yang sanggup menciptakan penataan kehidupan yang demokratis?

Pertama, mempunyai ketahanan moral yang baik. Fenomena korupsi seperti yang telah saya uraikan diatas patut untuk kita cermati bersama-sama. Maka dari itu, pemimpin demokratis adalah pemimpin yang memiliki moral yang baik. Hal itu dilaksanakan dengan menahan diri dari godaan untuk melakukan tindakan korupsi. Memiliki moral yang baik juga dapat kita lihat dari kemampuan seorang pemimpin menjalankan tanggung jawab. Hal itu dapat kita ketahui dari rekam jejak calon-calon pemimpin.

Kedua, terbuka untuk memberitakan kekayaan. Seorang pemimpin yang demokratis adalah pemimpin yang terbuka untuk memberitakan kekayaan yang ia miliki. Masyarakat pun harus memiliki kejelian untuk memperkirakan gaji yang diperoleh oleh calon pemimpin yang mana gaji setiap calon pemimpin berkisar dari 3 sampai 9 juta. Hal ini akan sangat berlaku bagi pemimpin lama yang maju kembali dalam pemilu. Jika masyarakat menemukan kekayaan yang tidak sesuai maka calon pemimpin itu patut untuk dipertanyaakan kredibilitasnya.

Ketiga, mempunyai komitmen yang jelas terhadap demokrasi. Seperti yang telah saya jelaskan di atas bahwa demokrasi adalah bentuk pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat yang mempunyai kekuatan penuh untuk menetapkan seorang pemimpin.

Pemilihan yang berasal dari rakyat harus lepas dari intimidasi dan represi. Dengan demikian seorang calon yang berupaya merepresi dan mengintimidasi masyarakat dengan berbagai lembaga dan cara bukanlah pemimpin yang demokratis. Termasuk represi dan intimidasi lewat uang dan hadiah.

Bagi masyarakat yang masih kuat ditandai dengan rasa terimakasih akan direpresi untuk memilih pemimpin berdasarkan rasa terimakasih. Sebuah pemilihan yang baik sesungguhnya berdasarkan pemikiran yang rasional-kritis dimentahkan oleh perasaan tertentu orang yang telah memberikan uang atau hadiah.

Keempat, pemimpin demokratis adalah pemimpin yang memiliki kemampuan berpikir yang baik. Kemampuan berpikir yang baik mencakupi beberapa hal, yaitu mampu mendengarkan, melihat permasalahan dan mencari solusi untuk menyelesaikan permasalahan.

Seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang selalu bersedia medengarkan suara dari masyarakat. Mendengar segala keluhan dari masyarkat. Pemimpin yang baik juga adalah pemimpin yang dengan jeli melihat permasalahan yang sedang dirasakan oleh masyarakat dan mencari solusi yang terbaik untuk menyelesaikan permasalahan. Jika seorang pemimpin tidak memiliki karakter ini maka pemimpin itu bukan pemimpin yang demokratis.

Kelima, mampu membangun dialog yang baik. Seorang pemimpin demokratis adalah pemimpin yang mampu membangun dialog yang baik dengan masyarakat. Dalam dialog itu, seorang pemimpin berdialog dengan masyarakat yang sedang mengalami keterpecahan akibat masalah dalam masyarakat.

Dari hal ini pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu menjadi penengah dalam masyarakat. Salah jika seorang pemimpin lebih sibuk mengurus urusan pribadi ketimbang mengurus dan ambil bagian menyelesaikan masalah yang masyarakat hadapi.

Ketika berdialaog, seorang pemimpin juga harus memiliki bahasa yang baik agar ia mampu menjadi penengah yang baik bagi masyarakat yang sedang berkonflik. Bukan tidak mungkin ketrampilan berbahasa juga akan sangat berguna untuk lobby yang akan ia buat untuk memuluskan rencana pembangunan yang ia rencanakan agar dapat direalisasikan oleh pemerintah.

Semoga catatan-catatan di atas dapat membantu masyarakat untuk menjatuhkan pilihan pada pilihan yang tepat. Dan semoga pesta demokrasi yang akan dilangsungkan nanti pada 2017 menjadi momentum berahmat bagi kita semua masyarakat Indonesia untuk merubah kualitas politik kita.

Sebab F. Budi Hardiman pernah berujar demikian, secara manusiawi kehidupan itu ada, selama manusia mampu bertindak, dan selama manusia bertindak selama itu pula ada harapan. Harapan dapat membawa kita kepada dunia yang baru, dunia yang cerah. Semoga! 

#LombaEsaiPolitik