Bagi Indonesia, AS dan China perlu diajak bekerja sama dalam kerangka regional di ASEAN. Indonesia benar-benar memanfaatkan setiap momentum untuk berdiplomasi secara aktif untuk tujuan itu.

Pada ASEAN-US Ministerial Meeting secara virtual (10/9/2020), Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi mengajak ke-10 negara anggota ASEAN dan Amerika Serikat (AS) meningkatkan kerja sama dalam mengembangkan vaksin Covid-19. Diplomasi Indonesia tampak sekali secara konsisten memandang vaksin sebagai game-changer dan harapan masyarakat dalam hubungan internasional di era Covid-19 ini.

Ajakan Indonesia ini tentu saja sangat menarik berkaitan dengan rivalitas AS dan China di dua isu besar, yaitu pandemi-vaksin Covid-19 dan Laut China Selatan (LCS).

Di kedua krisis besar itu, ASEAN benar-benar merasakan konsekuensi yang sangat merugikannya. Kebersatuan ASEAN berada di ujung tanduk. Negara-negara anggota ASEAN lebih memikirkan kepentingan nasionalnya. Ini berakibat kepada perbedaan dukungan mereka terhadap rivalitas AS dan China pada kedua isu besar itu. 

Dalam situasi itu, ASEAN tidak bisa berbuat banyak, kecuali menarik ke-10 negara anggota ASEAN itu ke tingkat regional demi menjadi kebersatuan mereka. Namun, saya perhatikan, setelah pertemuan di forum-forum regional ASEAN itu, ke-10 negara ASEAN menampakkan perbedaan sikapnya terhadap AS dan China, baik pada isu Covid-19 dan LCS.

Bagi ASEAN, isu sentralitas selalu menjadi perhatian utama. Sentralitas berkaitan dengan kemampuan negara-negara anggota ASEAN untuk bersatu dalam menghadapi persoalan-persoalan regional di kawasan Asia Tenggara. Sentralitas dalam tata kelola berbagai isu ekonomi, sosial-budaya, dan politik-pertahanan terkait dengan cita-cita regional mewujudkan komunitas ASEAN. Oleh karena itu, isu sentralitas harus didukung dengan kebersatuan (unity) negara-negara anggota ASEAN dalam merespon berbagai isu regional.

Dengan sentralitas itu, kebersatuan ASEAN dapat dirawat dan dipertahankan negara-negara angotanya. Sentralitas ini menjadi semacam daya tarik bagi negara-negara lain (yang disebut sebagai mitra strategis) untuk selalu memberikan perhatian kepada dinamika ASEAN. 

Secara konkret, percatan berbagai negara itu tampak pada pertemuan-pertemuan tingkat menteri dan kepala negara/pemerintahan, seperti East Asia Summit (EAS), Asia Regional Forum (ARF), termasuk beberapa pertemuan regional yang diadakan bersamaan dengan KTT ASEAN, seperti KTT ASEAN-AS, KTT ASEAN-China, dan seterusnya.

Meningkatkan Kemitraan dengan AS

Upaya ASEAN melalui diplomasi Indonesia untuk mengajak AS itu ternyata tidak bisa dilakukan begitu saja, tanpa mempertimbangkan sikap dan perilaku AS sendiri dan China dalam melihat perdamaian regional di kawasan Asia (Tenggara).

Fakta pertama adalah bahwa sejak Presiden Donald Trump berkuasa, publik global sangat paham bahwa AS memiliki kecenderungan kuat untuk menarik diri dari berbagai kerjasama atau inisiatif multilateral yang merugikan kepentingan nasionalnya. 

AS tidak mengambil peran kepemimpinan globalnya dalam beberapa persoalan internasional. AS justru memperkuat sikap kerasnya ketika hubungannya dengan negara lain justru merugikan kepentingan domestiknya. Akibatnya, kepentingan global AS di berbagai kawasan dan persoalan internasional/regional telah banyak berkurang. 

Fakta kedua adalah situasi di lapangan juga menunjukkan sebuah perkecualian bahwa AS masih tetap mempertahankan kehadirannya di Laut China Selatan (LCS). Kenyataan itu dimanfaatkan secara optimal oleh Indonesia melalui pertemuan regional ASEAN itu. 

Komitmen diplomasi Indonesia sangat kuat dalam menjaga kebersatuan ASEAN. Indonesia mendorong AS memperkokoh kemitraan dengan ASEAN. Satu prinsip yang ditekankan dalam diplomasi Indonesia ini adalah kemitraan yang setara, stabil dan membawa keuntungan bagi rakyat AS dan ASEAN.

ASEAN-AS memiliki peluang kemitraan sangat strategis dalam jangka panjang untuk mengembangkan ketahanan kesehatan regional, melalui jaringan-jaringan di antara berbagai Centers for Disease Control and Prevention. Upaya itu bisa dipandang sebagai kelanjutan dari bantuan AS kepada negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia selama masa pandemi. AS telah membantu Indonesia melalui pemberian ratusan ventilator kesehatan.

Mengajak daripada Menolak China

Selain mengajak AS, Indonesia dan ASEAN juga perlu mempertimbangkan kecenderungan perilaku regional China di Asia. 

Fakta ketiga, yaitu situasi geopolitik regional di Asia yang tidak dapat disangkal memperlihatkan bahwa peningkatan kehadiran ekonomi dan militer China di Asia (Tenggara) telah memecah-belah negara-negara anggota ASEAN, baik dalam isu pandemi-vaksin Covid-19 dan konflik klaim LCS. Di satu sisi, kondisi ini sangat menguntungkan China. Namun di sisi lain, kondisi ini tentu saja sangat merugikan ASEAN yang selalu berusaha mendorong sentralitas organisasi regional itu di kawasan ini.

Rivalitas kedua negara dianggap sebagai representasi dari ambisi mereka untuk memperebutkan hegemoni global. Hegemoni yang mulai ditinggalkan AS, namun hendak direbut China. Masalahnya adalah bahwa pemerintah China tidak mengakuinya secara terus-terang. 

Secara diplomatis, China membantah memiliki ambisi hegemoni sebagai negara kuat, namun menggunakan cara berbeda dari AS untuk mendapatkan hegemon global itu. Ini tampak pada isu vaksin Covid-19 ketika China berjanji memberikan akses global yang setara dan terjangkau kepada berbagai negara, sedangkan AS lebih memikirkan kepentingan domestiknya.

Yang menjadi persoalan adalah bahwa, pada saat yang sama, hegemoni yang akan dibangun China ternyata mengirimkan sinyal berbahaya bagi perdamaian. Berbeda dengan komitmen China pada akses global vaksin Covid-19, pada isu LCS China justru menimbulkan konflik dengan negara-negara lain.

Peningkatan kekuatan ekonomi dan militer China memang membuat berbagai negara terpaksa menerima tawaran kerjasama. Mereka menganggap situasi ini terlalu riskan untuk ditolak dan bersikap bermusuhan dengan China. Meskipun negara-negara itu mengeluh dan marah dengan perilaku militeristik China di LCS, negara-negara itu terpaksa menerima tawaran kerjasama ekonomi dan militer dengan China, baik melalui Belt and Road Inisiative (BRI) maupun Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB).

Bagi ASEAN, perilaku China juga tidak bisa ditolak begitu saja. Kalkulasi regional ASEAN mengharuskannya mengajak China demi menciptakan inisiatif kerjasama dalam mengelola konflik di LCS dan pengembangan vaksin Covid-19. Demi kebersatuan dan sentralitasnya, ASEAN mendorong keseimbangan strategis (strategic equillibrium) di antara AS dan China di Asia. 

Dalam situasi rivalitas di antara dua negara besar itu, Menlu Retno Marsudi tetap memperingatkan Amerika Serikat dan China agar tidak melibatkan negara-negara ASEAN dalam pertempuran geopolitik mereka. Diplomasi Indonesia juga menegaskan bahwa ASEAN tidak ingin terjebak di dalam militerisasi jalur air yang semakin "mengkhawatirkan". 

Peringatan tersebut tetap perlu disampaikan sebagai bagian dari diplomasi, walaupun realitas berbicara lain. Dalam konteks itu pula, sebagai sebuah organisasi regional, ASEAN ---melalui diplomasi Indonesia ini--- tetap harus menunjukkan posisinya, yaitu bersikap mempertahankan  keseimbangan strategisnya dalam merespon rivalitas AS dan China di kawasan Asia Tenggara ini.