Akhir-akhir ini, nama seorang sutradara sebuah film dokumenter budaya sedang naik daun. Siapa lagi kalau bukan nona cantik Livi Zheng. 

Karyanya, Bali: The Beats of Paradise (irama surga), bisa dikatakan berbicara sedikit dibandingkan sutradaranya. Ini dapat dilihat di acara talk show QnA MetroTv. 

Mbak Livi dengan bahasanya lugas dengan semacam bentuk self-centered membuat orang terpukau. Paling tidak para seniman berkumpul mengkritik seniman baru yang satu ini. 

Salah satu ucapan seorang penulis yang begitu membekas di ingatan itu adalah "katanya bukan nyatanya". Wah, ini kritik pedas di era post-truth. Namun, paling tidak acara talk show tersebut mengangkat orang-orang yang berada di balik layar.

The Birth of Tragedy, karya Nietzsche, bisa dibilang konsepnya tentang tragedi sangat kental di dalam industri perfilman di Barat sana. Konsepnya sangat sederhana ketika Nietzsche menjelaskannya dalam hal seni bahwa kepuasan kita akan keindahan tidak hanya cukup melebihi kontradiksi kata, entah itu dalam ranah moral, politik, dan keseharian kita, melainkan itu adalah hal yang tragis karena kita tak akan pernah puas. Kita pun harus menderita. 

Dalam karya Oedipus misalnya, kita melihat seorang raja menusuk matanya karena tak mampu menerima kenyataan bahwa dia telah menghamili ibunya sendiri dan bahkan dia membunuh ayahnya tanpa sepengetahuannya sendiri.

Ini pun menjadi hal tragis karena apa yang kita anggap awalnya baik ternyata itu sangat buruk pada akhirnya. Oedipus tidak mengabaikan fakta dan memilih untuk menjadi buta. 

Salah satu pahlawan tragis itu juga bisa dilihat dari kisah Prometheus. Seorang titan (penguasa) yang mencuri api Zeus demi perkembangan umat manusia walaupun pada akhirnya dia mati. Mungkin mbak Livi buat film biografi aja, buat jadi tragis. Bakalan keren.

Salah satu film tragis dari karya buatan Teddy Soeriaatmadja patut kita apresiasi. Something in the way (2013) atau sesuatu di jalan merupakan kisah heroik yang tragis tapi berlatar pada keseharian kita. 

Film yang dibintangi mas Reza bisa dibilang sangat kontroversial. Mas Reza berperan sebagai sopir taksi. Selain itu, beliau aktif di pengajian. Namun, di lain sisi, dia sering coli (atau onani) karena kebanyakan konsumsi konten dewasa, entah itu di taksinya maupun di depan televisi (sambil nonton konten tersebut). Yang tragis karena dia aktif mendengar ceramah di masjid. 

Selain kesehariannya yang tragis, ternyata dia sudah ditunangkan dengan seorang gadis bernama Raya. Tapi sayangnya malahan Ahmad (Reza) jatuh cinta terhadap gadis PSK. 

Di dalam trailernya, kita akan melihat bagaimana seorang mucikari meremehkan Ahmad karena mungkin tak sanggup membeli PSK tersebut agar dia bisa dinikahi. Perjuangan inilah menurut penulis bisa dikatakan aksi heroik sekaligus tragis.

Sayangnya, penulis belum menonton film tersebut. Namun, dari trailernya justru terlihat sangat menarik sehingga meninggalkan kesan yang mendalam. 

Film ini tidak tayang di dalam negeri, justru di luar negeri. Film ini sangat diapresiasi. Mungkin karena ada unsur kritik otomatis sehingga tak patut untuk jadi tontonan ataukah film ini hanya memang diputar demi ajang kompetisi di luar negeri waktu itu?

Selain something in the way, karya Teddy yang sangat menarik itu adalah Lovely Man (2011). Film sangat tragis tapi tidak terlihat sedari awalnya. 

Ceritanya, seorang gadis lulusan pesantren mencari ayahnya yang hilang semenjak dia masih kecil waktu itu. Kini usianya sudah 19 tahun, dan mencari ayahnya di kota Jakarta. 

Namun, setelah menemukan ayahnya, ternyata ayahnya bekerja sebagai seorang waria. Bagaimanakah reaksi dari seorang gadis lulusan pesantren itu? Fakta tragis yang sangat jarang ditemukan. 

Belum lagi, jika mereka menerimanya, maka ini akan termasuk aksi yang heroik, mengakui penderitaan masing-masing. Namun, menjalaninya adalah hal yang terparah dan tersulit.

Konsep kisah tragis sebenarnya bukan hanya dari Nietzsche saja. Aristoteles juga mengkajinya. Beliau mengungkapkan bahwa hal yang tragis itu terjadi ketika sesuatu yang ditiru (mimesis) justru tidak akan mencapai keasliannya. Kita hanya tiruan semata, tidak ada yang asli. 

Berbeda denga Hegel. Hegel lebih menyukai istilah tabrakan tragis. Ini bisa dilihat dalam konsep dialektikanya. Bagaimana sebuah penderitaan tidak kunjung habis dapat dilihat dalam keseharian kita dalam mengejar kebahagiaan. Kita yang berusaha bahagia harus menderita juga. 

Karya teddy, something in the way, mengajarkan hal tersebut. Kita akan selalu hidup dalam kontradiksi, baik secara sadar maupun tidak sadar. Orang yang tak menerima kontradiksi akan kesulitan menjalankan hidup. 

Bagaimana mungkin ingin menjalankan sebuah aturan tapi tak mau menderita? Adakah sebuah aturan yang tanpa penderitaan? Kisah ini kita bisa melihatnya dalam lovely man. 

Bagaimanakah kesiapan kita menerima fakta tragis tersebut? Apakah penderitaan seorang ayah yang menjadi waria tidak sebanding dengan seorang gadis yang lama mondok? 

Lagi-lagi film-film tersebut tidak eksis di Indonesia. Namun, jika ada yang berbaik hati untuk berbagi, silakan hubungi penulis. Kita membutuhkan film-film tragis seperti itu agar kita bisa kritis melihat kenyataan sekitar kita.