Wartawan
2 tahun lalu · 787 view · 6 menit baca · Budaya krupuk2.jpg
kaleng kerupuk

Indonesia Kekinian dan Nasionalisme Kaleng Kerupuk

Mengubah Indonesia? Apanya yang mesti diubah? Dengan segala kelebihan yang negeri ini miliki, dengan segala kemurahan tuhan menempatkan kita di bangsa yang kaya ini. Apa pula yang harus kita ubah? Barangkali pertanyaan-pertanyaan di atas yang muncul jika pernyataan “Mengubah Indonesia” ditanyakan pada para pendahulu kita.

Coba cari di buku-buku sejarah, atau biar lebih “kekinian”coba selancar di  google, apa yang dilakukan Soedirman, Sutomo, Supratman, Sjahrir sampai sang proklamator Bung Karno ketika negara ini masih sebatas cita-cita? Setelah penulis berselancar di mesin pencari kenamaan itu, yang penulis temukan adalah kata-kata patriotik semisal berjuang, berusaha ataupun membentuk. Ya, karena memang itulah yang mereka lakukan untuk bangsa ini. 

Soedirman berjuang dengan bergerilya, Sutomo berjuang dengan memimpin pertempuran pada 10 November, Supratman berusaha dengan mewujudkan organisasi budi utomonya dan Sjahrir juga Soekarno membentuk fondasi negeri lewat strategi percaturan politiknya. Tidak ada kosakata mengubah di situ.

Coba tengok negara lain, seberapa banyak negara, yang memiliki paket komplit, diwujudkan dengan sebuah negara yang memiliki sumber daya alam melimpah, sumber energi terbarukan yang kaya raya, garis pantai yang panjang, keberagaman suku budaya dan bahasa, potensi wisata kelas dunia sampai tambang emas dengan kualitas terbaik sejagat raya. Sulit menandingi kekayaan kita. Jadi, dengan segala kelebihan itu untuk apa pula kita mengubahnya? Mengapa tidak kita rawat dan berdayakan saja?

Barangkali disitu masalahnya. Merawat dan memberdayakan segaala apa-apa potensi yang sudah kita kantongi. Penulis rasa semuanya bergantung pada kepedulian segenap masyarakat Indonesia hari ini. Indonesia itu bukan sekedar merah putihnya, bukan Indonesia rayanya, bukan Pancasilanya, bukan Pemerintahnya, bukan Jakartanya apalagi pulau Jawanya. Indonesia itu semuanya.

Dari Setetes air laut di perairan paling barat Pulau Weh kemudian melewati 34 Provinsi dengan segala isinya dari mahluk hidup sampai yang pernah hidup, dari yang yang indah sampai yang paling indah juga dari yang baik hati sampai yang seenak hati. Kemudian berhenti di sebutir tanah paling timur dekat perbatasan Papua Nugini di Kabupaten Merauke. Itulah Segenap Indonesia. Utuh!

 Indonesia Kekinian

Akhir-akhir ini kata “kekinian” sedang digandrungi oleh warga Indonesia, khususnya kalangan remaja. Keikinian sedikit menggeser istilah ngetrend pada tempatnya. Dari dunia nyata sampai dunia maya istilah kekinian sedang jadi primadona. Lalu apa kabar Indonesia kekinian?

Jika melihat gaya hidup orang Indonesia pada umumnya hari ini, penulis rasa Indonesia kekinian sedikit menggeser kaidah kebersahajaan serta kearifan Indonesia yang sudah melekat. Orang Indonesia khususnya kalangan muda lebih suka menyisipkan kata-kata bahasa Inggris dalam obrolan bersama koleganya ketimbang mengeluarkan istilah-istilah daerah sebagai bentuk identitas asal masing-masing individu.

Jangankan istilah, logat kedaerahan saja sudah banyak  terhapus dari lidah orang muda Indonesia kekinian. Mengapa begitu? Masalahnya seperti ada sebuah ketentuan tidak tertulis yang menyebutkan jika mereka yang berbahasa dengan istilah atau logat kedaerahan yang kental, disebut kampungan atau mungkin dijadikan lelucon. Jika memang demikian, timbul sebuah pertanyaan dari penulis, kalau merawat logat daerah saja tidak bisa, bagaimana mau merawat segala potensi sumber daya yang kita miliki?

Lalu coba kita lihat selera pasar kita. Orang Indonesia kekinian cenderung menyukai produk yang notabenenya dibuat di luar Indonesia. Produk-produk yang sekiranya punya merek kenamaan. Kalau pun ada dua merek dengan kegunaan sama, dengan kualitas yang sama, orang Indonesia kekinian cenderung memilih produk yang dibuat oleh luar negeri. Gengsi, barangkali itu kata ajaib yang mengakibatkan tersingkirnya produk-produk dalam negeri.

Padahal, kalau saja kita mau bermurah hati megedepankan produk dalam negeri, penulis rasa hal itu akan berdampak baik pada pertumbuhan perekonomian kita. Setidaknya angka pendapatan nasional Indonesia akan meningkat. Apalagi Indonesia menurut data United Nation of Environment Program (UNEP) tahun 2012 menyebutkan jika negara ini adalah negara ke empat paling konsumtif se-Asia Pasifik.

Dengan segala catatan di atas, biarkan penulis bertanya, kalau untuk memberdayakan produk dalam negeri saja kita ogah, bagaimana mungkin kita berdayakan segala kekayaan yang secara baik tuhan beri cuma-cuma untuk negara kita ini? Orang Indonesia kekinian barangkali sudah kadung lupa, kalau setiap hari yang ia pijaki adalah tanah gembur yang diperjuangkan dengan seluruh tumpah darah. Lupa kalau setiap hari yang diminum adalah rembesan air yang berasal dari sumur-sumur garapan dalam negeri. Lupa jika yang setiap hari dimakan adalah nasi dari olahan padi terbaik khas produk khatulistiwa.

Nasionalisme Kaleng Kerupuk

Bagai kerupuk lupa kalengnya, barangkali boleh penulis sedikit geser adagium “bagai kacang lupa kulitnya” dalam perspektif tulisan penulis kali ini. Kenapa harus kaleng kerupuk? Karena begini, menurut penulis nasionalisme kita hari ini, terutama orang muda, sudah seperti kerupuk yang kalengnya lupa ditutup. Artinya jika kaleng kerupuk tidak ditutup, kerupuk pasti akan melepes.

Nah, nasionalisme kita pun tidak jauh berbeda. Ketika kita sudah sulit untuk membendung laju globalisasi yang suka tidak suka masuk dan mengubek-ubek kearifan kita, maka para masyarakat, terutama pemuda sangat terkena imbasnya. Penulis tidak begitu mempersoalkan bagaimana globalisasi tanpa filter bisa masuk dan menyalin kearifan kita. Tapi, lebih ke bagaimana ketahanan kita selaku pewaris negeri yang dengan mudah terpengaruh dan melepes karena efek globalisasi tadi.

Berapa banyak dari kita yang hafal lagu rayuan pulau kepala ketimbang lagu all of me nya john legend? Atau berapa banyak dari kita yang lebih suka lagu sepasang mata bola ketimbang lagu shake it off nya Taylor Swift? Soal ini mungkin menyangkut selera. Tapi, bagaimana mungkin selera bisa menggeser kepayahan Ismail Marzuki saat menciptakan rayuan pulau kelapa dan sepasang mata bola sebagai hadiah untuk negeri ini? lalu kita lupa?

Celakanya terjadi beberapa saat lalu. Saat Indonesia sedang dirundung hegemoni konferensi tingkat tinggi Asia Afrika. Presiden kita justru lupa akan pakaian identitas negara. Peci hitam. Padahal peci hitam adalah penutup kepala khas yang kita miliki.

Dari Soekarno sampai Yudhoyono, peci hitam seakan tak pernah lepas dari kepala Presiden Indonesia kecuali Megawati dalam forum internasional. Jika orang nomer satu di negeri ini saja tak mengindahkan perlunya menonjolkan ke khasan yang sudah turun temurun terwarisi, pada siapa lagi kita percaya bahwa ke elokan ragam budaya ini akan terus terjamin?

Pidi Baiq dalam Al-Asbunya menulis bahwa  “Seandainya engkau adalah seekor kucing, jangan disebabkan karena menggonggong sedang menjadi tren di masyarakat, maka hal itu menyebabkan engkau pergi kursus belajar menggonggong. Mungkin pada akhirnya engkau bisa. Tetapi apa kata orang jika ada kucing yang menggonggong, padahal sesungguhnya kucing itu mengeong karena itulah jati dirinya yang asli.”

Lalu berapa banyak dari kita yang mengetahui bagaimana pancasila bisa disebut ideologi Indonesia? Mengapa ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan menjadi lima dasar yang harus menjadi fondasi negara ini? Atau berapa banyak dari kita yang mahfum kenapa nama negara ini harus Indonesia? Mengapa harus merah putih yang jadi panji keramat kita. Bagaimana asal usulnya?

Adakah dari kita yang sengaja browsing hanya untuk mencari tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas? Kalau jawabanya masih belum. Ya sudah, sulit untuk kita membendung laju globalisasi ini. Kemudian bagaimana bisa kita kelola negeri kita jika latar belakang negeri ini yang paling dasar saja tidak pernah terpikirkan di benak kita?! 

Senang atau tidak negeri kita sudah terbuka. Seperti kaleng kerupuk yang lupa ditutup. Globalisasi sudah tidak bisa tidak lagi untuk ditolak. Bahkan Masyarakat Ekonomi Asean sudah berjalan. Tinggal bagaimana kita menjadi kuat dan bangga akan segala bentuk kearifan yang secara harfiah kita miliki.

Kalau bukan saya, anda, teman anda, temanya teman anda, temanya temanya teman anda dan terus hingga kata teman membentang dari Anyer sampai Panarukan, lalu siapa lagi yang peduli? Ini Indonesia dengan segala kehebatan alam dan kebrengsekan para kebanyakan pengambil kebijakannya. Di tangan kita lah sekarang semua bergantung, mau meninggalkan segala kebajikan negeri ini atau turun langsung mengurus, merupa dan merawat Indonesia? Terserah anda, yang jelas negeri ini harus diperbaiki bukan diubah.

Artikel Terkait