Feminisme adalah sebuah gerakan yang menuntut kesetaraan gender dalam hal politik, sosial, ekonomi, budaya, ruang pribadi dan ruang publik. Tokoh yang memperjuangkannya disebut feminis. 

Gerakan feminisme sendiri dimulai sejak akhir abad ke-18, dan berkembang pesat pada abad 20. Berawal dari penyuaraan hak politik bagi perempuan sampai hak mendapat pendidikan setara dengan laki-laki.

Namun apakah perjuangan sudah selesai? Tentu saja belum, karena saat ini kita masih menemukan patriarki dan konservatisme di sekitar kita. Banyak yang salah kaprah mengenai feminisme. Feminis bukan berarti membenci laki-laki, ingin di atas laki-laki, dan ateis. 

Feminisme berarti menginginkan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan atau ingin ada kesetaraan. Feminis bukan juga berarti ateis. Mungkin ada saja yang ateis, namun ideologi yang dianut tidak berkaitan dengan keyakinannya. Saat ini di Indonesia kita sudah memiliki ulama feminis. 

Permasalahan ketidakadilan terhadap perempuan masih saja ada hingga saat ini, seperti kekerasan seksual, baik verbal maupun non-verbal, diskriminasi hak kerja, sampai pembagian tugas rumah tangga. 

Bahkan masih ada saja yang merampas hak perempuan untuk mendapatkan pendidikan terutama di pedesaan. Mereka berpikir, menyekolahkan anak perempuan bukan investasi yang menguntungkan. Akhirnya mereka memilih menikahkan anak perempuan mereka di usia yang belum matang.

Menurut data dari UN Women, satu dari tiga perempuan mengalami kekerasan. Pada tahun 2016 saja, terdapat 259.150 kasus kekerasan terhadap perempuan, di mana 3.092 di antaranya terjadi di ruang publik. 

Fakta tersebut membuat perempuan dan anak perempuan merasa tidak aman saat berada di ruang publik. Ancaman kekerasan tersebut juga dinilai dapat membatasi ruang gerak perempuan dalam melakukan berbagai hal.

Kaum religius konservatif menganggap ideologi feminisme tidak sesuai dengan syariat islam. Mereka beranggapan bahwa feminis tidak bermoral dan beragama. Padahal konsep feminisme juga diajarkan di agama islam dan disiarkan oleh beberapa intelektual muslim. 

Sosialisasi feminisme dimulai sejak abad ke-19 dalam sebuah era yang disebut  nadlah, yang berarti modernisasi dan reformasi islam. Para intelektual nadhlah mempercayai bahwa perempuan bebas, terpelajar, dan mandiri adalah syarat kebangkitan utama islam. Era ini mendorong bangkitnya tokoh muslim yang feminis. 

Feminisme tidak hanya untuk perempuan, tetapi juga untuk laki-laki. Hal ini sangat penting untuk digarisbawahi, karena kita harus sama-sama memperjuangkan kesetaraan dan melawan kekerasan seksual. Banyak laki-laki yang juga merasa dirugikan karena standar-standar yang diberikan masyarakat. 

Masalah di Indonesia saat ini adalah masih tingginya patriarki dan konservatisme. Tidak hanya ketidakadilan pada perempuan yang jadi masalah, namun juga ada kelompok yang sulit menerima keberagaman dan kemajuan peradaban.

Konservatisme sendiri adalah sebuah filsafat politik yang mendukung nilai-nilai tradisional. Bahwa yang terbaik yang bisa dilakukan oleh seseorang adalah berpegang pada tradisi yang telah terbukti berhasil di masa lalu, baik itu tradisi politik, agama, dan budaya.

Beberapa tahun belakangan ini sering juga kita melihat perdebatan antara kaum konservatif dan progresif, mulai dari soal politik sampai hal remeh. Misalnya kemarin saja ramai di twitter perdebatan tentang skincare. Kaum konservatif menilai bahwa perempuan skincare tidak bisa masak. 

Tentu hal ini juga diprotes oleh kaum progresif dan feminis. Ada yang berpendapat bahwa perempuan saat ini bisa melakukan apa saja dan multitasking jadi tidak sama seperti zaman dulu. Dan ada juga yang berpendapat bahwa untuk memasak bisa menyuruh orang atau menggunakan layanan delivery seperti go-food misalnya, atau catering. Kemudahan seperti ini membuat perempuan bisa lebih produktif mengerjakan hal lain.

Contoh lain yang baru kemarin terjadi adalah mengenai kontroversi pakaian Cinta Laura pada Jember Fashion Carnaval (JFC). Salah satu ormas memprotes cara berparkaian Cinta Laura yang dinilai terlalu seksi dan vulgar. Mereka bahkan menyebut JFC adalah maksiat dan haram. 

Lagi-lagi pakaian wanita yang disalahkan karena mereka tidak dapat menjaga pandangan dan menahan nafsu.

Kostum yang dikenakan Cinta Laura adalah Hudoq. Hudoq sendiri diketahui sebagai bagian dari kebudayaan Suku Dayak. Hudoq memiliki arti menjelma. Seseorang yang mengenakan pakaian hudoq biasanya akan melakukan tarian topeng yang dipercaya mampu menjelma mengusir hama penyakit serta mara bencana. Pada gelaran miss supranational 2018 di Polandia lalu, perwakilan Indonesia juga mengenakan kostum ini. 

Ini adalah contoh kurangnya wawasan sejarah dan kebangsaan. Setidaknya browsing dulu di internet sebelum memberikan pernyataan yang menggemparkan. 

Indonesia ini terdiri dari berbagai macam suku, budaya, dan agama sehingga kita tidak bisa memaksa orang lain mengikuti salah satu budaya dan kepercayaan tertentu. Menghormati dan berpikiran terbuka terhadap pandangan lain akan menghindari perdebatan yang tak perlu. 

Data penduduk miskin di Indonesia, menurut BPS, mencapai angka 9.994 jiwa di perkotaan, dan 25.144 jiwa di pedesaan per Maret 2019 atau 35.318 jiwa total keseluruhan dari 269 juta jiwa. Menurut penelitian, kemiskinan berbanding lurus dengan masyarakat kurang terdidik dan konservatisme. Belum lagi jika ini disebarkan ke golongan menengah, apalagi sekarang informasi mudah didapat lewat internet dan media sosial.

Literasi yang rendah (Indonesia menempati peringkat dua terbawah berdasarkan hasil survei UNESCO) membuat masyarakat banyak yang percaya begitu saja, tanpa disaring terlebih dahulu. Metode pendidikan Indonesia yang konservatif di mana siswa hanya menjadi objek selama proses belajar-mengajar menjadi salah satu penyebab terjadinya hal ini. 

Kurikulum 2013 yang baru diterapkan saat ini sejak bangku sekolah dasar, diharapkan dapat mencetak generasi yang berkarakter, berpikir kritis, berwawasan global, dan dapat menaikkan peringkat literasi negara kita. Diharapkan Indonesia akan menjadi negara maju pada tahun 2045 sesuai prediksi.

Tidak cukup hanya kaum progresif saja untuk menyelesaikan permasalahan ini, namun juga dibutuhkan kaum feminis. 

Perlu saya tekankan sekali lagi, bahwa feminis bisa perempuan dan laki-laki yang memperjuangkan kesetaraan gender dan melawan kekerasan seksual. Feminis bukan berarti antinikah muda, harus jadi wanita pekerja, dan anti terhadap perempuan berjilbab atau bercadar misalnya. Ini sama sekali tidak benar, namun mengecam pernikahan dan pemakaian jilbab secara paksa bukan atas kemauan dan kesadaran sendiri, dan juga melarang wanita yang ingin bekerja.

Feminis sejati selalu menghargai dan mendukung apa yang orang lain kenakan, pilihan keyakinan, pilihan profesi dan perbedaan pendapat. Bukan yang selalu menjatuhkan jika tidak memenuhi standar mereka. 

Feminis sejati juga tidak merasa superior. Mereka cenderung membantu sesama wanita yang belum bisa keluar dari lingkaran patriarki. Feminisme seharusnya menjadi ideologi dasar yang dimiliki setiap orang. Mengapa?

Feminis dinilai progresif, sedangkan progresif belum tentu feminis. Sehingga feminis dinilai mampu menyelesaikan berbagai persoalan yang ada seperti intoleransi, melindungi korban kekerasan seksual, pengentasan kemiskinan, mengurangi jumlah anak putus sekolah, memberdayakan masyarakat dan memberikan pelatihan, memperjuangkan hak asasi manusia, suka berinovasi terutama di industri 4.0, senang belajar hal baru, membuat komunitas, meningkatkan minat baca, menyebarkan energi positif, dan masih banyak lagi.

Memang saat ini sudah banyak feminis, mulai dari kalangan public figure sampai masyarakat umum. Namun saat ini jumlah masyarakat konservatif yang menentang feminisme masih terbilang lebih banyak.

Diharapkan Indonesia ke depannya lebih banyak lagi feminis, terutama di kalangan Gen Z dan Gen Alpha. Sehingga Indonesia bisa menjadi negara maju pada tahun 2045.